RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 44 TPM


__ADS_3

TPM


PEDALAMAN PEGUNUNGAN SAYAN, RUSIA.


Tidak ada yang tahu siapa dan apa yang menjadikanmu berharga karena nilai-nilai bukanlah hal yang harus diperdebatkan secara terbuka. Hanya kinerja dan kebaikan yang kita tampilkan, akan memberi rasa hormat dan penghargaan tanpa kita minta.


Hamparan permadani hijau seperti menutupi bentang alam di daerah pegunungan yang menjadi batas negara Rusia dan Mongolia. Suasana padang sabana yang di huni kelompok-kelompok kuda liar itu begitu damai dan menyenangkan. Hampir tidak ada predator yang mengancam kehidupan mereka disini.


Beberapa ekor harimau yang lewat pun seringkali mengabaikan keberadaan mereka, karena mereka lebih suka berburu hewan yang lebih kecil dan larinya lamban. Seperti banteng, kelinci atau kambing gunung.


Satu-satunya predator yang mereka takuti hanyalah manusia. Sebab sekali menangkap bukan cuma satu atau dua yang ditangkap. Mereka akan memilih kuda-kuda terbaik dari kelompoknya untuk dibawa pergi. Apalagi alat transportasi di daerah pegunungan sabana yang paling murah adalah menunggang kuda. Kebiasaan masyarakat yang mendiami daerah padang rumput adalah menggunakan kuda untuk berbagai keperluan.



Padang sabana adalah juga panggung para pengembara. Mayoritas penghuni padang rumput adalah nomaden, alias pengembara. Mereka selalu berpindah-pindah tempat sambil membawa domba-domba peliharaan mereka kemanapun. Domba-domba itulah yang menyediakan daging, susu, serta pakaian buat mereka.


Saat malam mereka akan berkumpul mengelilingi api unggun. Lalu seorang penyair berdiri di atas panggung. Melantunkan syair-syair serupa nyanyian jiwa. Menggambarkan kegelisahan yang tak kunjung lekang, karena malam tak juga berganti siang.


Merasakan malam yang terlalu panjang dan berharap segera berganti siang, walau siang belum tentu memberinya kebaikan. Suaranya melengking membelah langit malam


Seorang pujangga tiba (dengan kebaikan) di tanah yang penuh berkerikil.


Keluar menghampiri liang lahat tanpa meninggalkan kata yang jelas,


Kematian mengundangnya dan dia menyambutnya


: Maut tak pernah mendapatkan orang seperti pujangga


Saat orang memikul keranda kematiannya, para pemujanya datang menangisinya.


Namun kedamaian padang Sabana itu tiba-tiba dirusak oleh suara gemuruh mesin jet tempur yang sangat menakutkan.

__ADS_1



Wrrrggghhh….wuuuzzzhhh…!!!



Dari balik awan kedua jet tempur SU 29 buatan Rusia muncul dari balik awan, dan terbang rendah menuju pegunungan Sayan. Menimbukan suara gemuruh seperti hendak memecahkan gendang telinga. Getaran dan hempasan anginnya, membuat domba-domba berlarian ketakutan.


Kedua jet tempur itu terbang dengan kecepatan tinggi menuju sebuah tebing tinggi. Semua orang yang masih terjaga di padang Sabana menyaksikan langsung kejadian tersebut. Mereka menyangka kedua pesawat tempur kebanggan Rusia itu akan meledak menabrak dinding tebing yang cukup tersembunyi dan tertutup kabut tebal itu. Namun tiba-tiba dindng tebing itu membuka sebelum pesawat-pesawat itu menabraknya.


“Lihat! Gunung itu memakan kedua pesawat!” teriak salah satu pengembara.


“Iya! Aku juga melihatnya,” sahut yang lainnya.


“Ayo sekarang juga kita pindahkan domba-domba kita dari sini, sebelum dia melihat kita,” sambung orang lainnya.


Bergegas mereka mengumpulkan kembali domba-dombanya yang tercerai berai. Lalu menggiringnya ke tempat jauh yang lebih aman.



“Uhui!” teriak Victor salah satu pilot pesawat tempur itu. “Bravo Kapten!”


“Ok. Thank you!” teriak Vladimir komandan pesawat tempur gugus tugas 9 AU Rusia.



“Siap-siap Kapten! Kita akan menukik!”


Ternyata lorong itu sangat panjang dan dalam. Bentuk awalnya lurus sepanjang lima kilometer, setelah itu menurun tiga puluh derajat, sepanjang lima kilometer lagi. Tapi begitu sampai pintu kedua, lorong itu menukik tegak lurus ke dalam tanah hampir dua kilometer.


“Hmm..pantas saja hanya pasukan Xialuai Khan yang bisa keluar dari tempat ini,” kata Vladimir dalam hati. Ini adalah pengalaman pertamakalinya masuk ke tempat ini.

__ADS_1



Kapten Vladimir Kasparov dan Letnan Viktor Romanov adalah dua perwira angkatan udara Rusia terbaik yang membelot dan dibayar mahal untuk melatih para pemberontak Mongolia pimpinan Xialuai Khan. Viktor lah yang menawari komandannya itu untuk bergabung, karena Xialuai Khan berani membayar sepuluh kali lipat gajinya sebagai perwira Angkatan Udara negaranya sendiri.


Mereka akan melatih para kadet angkatan udara menerbangkan pesawat tempur hasil ‘curian’ atau membeli di pasar gelap.


Setelah terjun bebas di dalam tanah, terowongan itu lalu mendatar lagi menuju pintu ketiga. Begitu pintu ketiga dibuka, nampak ribuan sinar laser memenuhi lorong sepanjang tiga kilometer. Siapapun yang lewat tempat ini tanpa izin pasti akan terbakar sampai ke tulang-tulangnya. Namun sebelum kedua peswat itu lewat, tiba-tiba seluruh sinar laser tadi mati. Pesawat Vladimir dan Viktor pun terus melesat masuk ke lorong berikutnya.



“Cepat Kapten! Kita hanya punya waktu sepuluh detik hingga seluruh sinar laser ini akan menyala kembali,” ujar Viktor.



Vladimir langsung melesat dengan kecepatan super diikuti Viktor dibelakangnya. Sampailah mereka di pintu keempat. Gerbangnya setinggi tigaratus meter dan lebarnya sepanjang enamratus meter. Begitu pintu ini terbuka penuh, Vladimir langsung terperanjat. Rupanya pintu keempat adalah ujung lorong. Karena setelah pintu ini adalah ruang terbuka yang sangat luas. Inilah Markas Tentara Pembebasan Mongolia atau TPM pimpinan Jenderal Xialuai Khan.



Anehnya di tempat ini langit terlihat lagi. Kedua pesawat itu melambatkan kecepatannya lalu berhenti di udara. Vladimir berdecak semakin kagum. Didepannya terbentang sebuah jalan lebar, halus, keras dan gemerlap.. Terbuat dari bahan yang lebih kuat daripada aspal, mungkin logam yang dihancurkan kemudian dicetak kembali menjadi jalan beton. Dan jalan inilah yang menjadi landasan pesawat tempur yang akan tinggal landas.



“Kita turun disini Kapten,” kata Victor.



Vladimir mengacungkan jempolnya lewat kaca cockpit. Lalu kedua pesawat itu menurun perlahan tanpa suara dan mendarat dengan mulus di jalan tadi. Pesawat tempur SU 29 adalah pesawat super canggih yang mampu bermanuver dan berhenti di udara, lalu turun perlahan dalam keadaan mesi mati. Hampir tidak ada sudut lancip di badan pesawatnya, sehingga pesawat ini sulit dideteksi keberadaannya oleh radar musuh. Juga di sebut pesawat siluman karena dapat berhenti mendadak lalu bersembunyi di balik awan untuk operasi penyergapan.



“Selamat datang di Markas kami kapten Vladimir,” sambut Kolonel Jzadi Kurk, Komandan Angkatan Udara TPM.

__ADS_1


Ratusan orang berseragam prajurit Tentara Pembebasan Mogolia nampak sedang berlatih keras. Sebagian besar adalah orang-orang Mongolia yang telah membelot. Ruangan di bawah tanah itu terang benderang seperti bumi disiang hari. Mereka menyerap sinar matahari dan memancarkannya kembali di dalam tanah. Sebuah air mancur setinggi tugu Monas ditengah-tengah sebuah lingkaran yang sangat luas seperti danau. Dan dibelakang danau itu menjulang sebuah istana megah yang berkilau.


__ADS_2