
EPS 72 ZYED UTSMANOV
Hari berganti malam. Suasana begitu damai. Hanya desir angin membelai daun-daun Akasia. Menimbulkan suara berbisik yang terdengar begitu lirih. Akasia adalah tanaman langka yang hanya ada di gurun pasir. Pohon yang bisa berusia sampai tigaratus tahun ini memiliki kandungan air yang cukup tinggi.
Akar-akarnya menembus jauh ke dalam untuk menemukan kelembaban didalamnya. Akar Acacia Aneura juga merupakan pelabuhan bakteri yang mengfiksasi nitrogen
atmosfer dan dengan demikian membantu menangani permasalahan tanah yang miskin zat hara di gurun. Bijinya juga sangat keras sehingga pohon ini mampu bertahan dari kepunahan walaupun seringkali mengalamai kebakaran karena panasnya suhu di gurun pasir.
“Apa kakek merasa lapar?” tanya Pranaja.
Kakek itu hanya tersenyum, tapi terdengar suara kriyuk dari dalam perutnya. Mungkin dia sungkan untuk berterus terang kalau dia merasa sangat lapar.
“Sudah berapa hari kakek tergeletak di jalan tadi?”
“Dua hari yang lalu, nak.”
Pranaja menganggukkan kepalanya. Lalu dengan sigap dia memanjat tanaman semak raksasa itu. Mengambil beberapa daun muda dan bunga yang berada di pucuk pohon. Daun muda semak Akasia cukup enak untuk dimakan. Daun-daun itu biasa dijadikan makanan oleh orang-orang yang kehabisan bekal di tengah gurun pasir. Kandungan gizinya mengandung dua belas persen protein kasar.
“Hisaplah bunga ini kek. Didalamnya mengandung sedikit madu yang bisa mengembalikan tenagamu,” kata Pranaja sambil memberikan setangkai bunga.
Kakek itu menerimanya dan mengisap bunga itu. Terasa ada cairan madu yang masuk ke dalam mulutnya. Mengalir ke dalam tenggorokan dan perutnya. Perlahan mengembalikan kembali kekuatannya.
Ternyata benar apa kata Pranaja, bunga itu mengandung cairan madu yang lezat dan sangat berkhasiat.
“Madunya enak sekali Naja.Tenagaku sudah mulai pulih,” kata kakek itu.
“Tentu kek, itu adalah madu padang pasir. Tentu rasanya lebih enak daripada madu hutan biasa,” sahut Pranaja.
Kakek itu benar-benar kagum dengan malaikat penolongnya itu. Luar biasa, katanya dalam hati. Walaupun masih sangat muda, tapi pemuda itu memiliki pengetahuan yang cukup tentang tanaman dan pepohonan yang tumbuh di padang pasir. Itu adalah hal yang sangat penting untuk bisa betahan hidup.
“Aku akan membuat api unggun, biar hangat dan nyamuk pergi,” ujar Pranaja.
__ADS_1
Pemuda itu mengambil dua buah batu api dan dipukulkan satu sama lain. Benturan yang cukup keras membuat kedua batu itu mengeluarkan lidah api. Dia mengarahkan nyala api itu kepada ranting-ranting semak akasia yang sudah ditumpuknya. Apipun menyambar tumbukan daun dan ranting kering itu dan langsung menyala seperti api unggun.
Lalu Pranaja menyandarkan akar berisi air itu di dekat api unggun. Panas dari api akan membuat air di dalam akar mendidih. Pada saat itulah, Pranaja memasukkan daun-daun muda semak akasia ke dalamnya. Hanya sekitar lima menit daun-daun itu direbusnya. lalu dikeluarkan kembali dalam keadaan setengah matang.
“Makan malam kita sudah siap kek,” kata Pranaja.
Disajikannya daun semak akasia yang sudah matang itu diatas batang kaktus yang pipih. Lalu di taburi garam, bubuk lada hitam. Dia juga memasak bebarapa irisan batang kaktus. Lalu mereka pun makan dengan lahapnya. Hm, enak sekali.
“Enak sekali rasa daun ini. Naja. Aku belum pernah merasakan makanan selezat ini,” puji sang kakek.
Kakek itu menggelengkan kepalanya.
“Karena kakek lapar setelah dua hari tidak makan,” jawab Naja sambil tertawa.
Hahaha, mereka pun tertawa bersama. Kakek itu nampaknya senang sekali. Hilang sudah rasa sakit yang dideritanya selama di gurun pasir ini. Ternyata Pranaja juga teman bicara sangat menyeangkan. Suka melucu dengan candaan-candaannya, tapi wawasannya sangat luas. Kakek itu terus dibuatnya terkagum-kagum dengan sikapnya.
“Terimakasih sekali lagi Pranaja. Ini adalah malam yang luar biasa. Malam dimana Tuhan telah mempertemukan kita,” ujar sang kakek.
Pranaja terdiam sejenak, menatap wajah si kakek, lalu menganggukkan kepalanya.
“Sama-sama kek. Aku juga ingin mengucapkan terimah kasih. Kalau tidak ada kakek disini, aku akan sendirian malam ini tanpa ada seseorang yang menemaniku,” ucapnya.
__ADS_1
Dan malam itu mereka menginap di bawah pohon Akasia. Hampir sepanjang malam kakek itu bercerita tentang dirinya. Dia adalah pedagang emas dari Samarkannd, Uzbekistan. Namanya Zyed Utsmanov. Dalam perjalanan ke Bator, Mongolia, dia dikhianati oleh para pengawalnya sendiri. Mereka membawa lari seluruh barang dagangannya.
***
Kakek Zyed Utsmanov adalah pedagang musiman. Dia sering bepergian ke berbagai pasar untuk berjualan. Bila tiba bulan-bulan besar, kadang dia tinggal di kota Bator Mongol dengan keluarganya dan tidak melakukan aktifitas apapun. Kadang dia mengajak keluarganya berdagang ke pasar-pasar yang berdekatan seperti pasar pasar ‘Ukaz, Majanna dan Dhu’l-Majaz.. Pasar-pasar itu hanya buka pada saat ada hari-hari besar atau bulan-bulan suci yaitu mendekati musim paskah sampai musim natal selesai .
Mereka biasanya berangkat ke pasar-pasar itu malam sebelumnya sambil membawa barang dagangan yang banyak. Barang-barang yang dijual berupa kain sutera, minyak, parfum, kemenyan maupun bebatuan bernilai tinggi, hasil-hasil tambang seperti emas dan berlian. Semua itu dikemas terpisah dan dimasukkan kedalam kotak-kotak yang terbuat dari kayu akasia. Kadang mereka juga membawa hasil bumi seperti sayuran dan buah-buahan, anggur, kurma, bunga dan buah tin serta buah zaitun.
‘Heya! Heya! Heya!’
Terdengar teriakan dan derap kaki langkah kuda yang dipacu kencang. Pranaja berdiri dengan sigap. Telinganya yang tajam menangkap ada suara teriakan-teriakan dari kejauhan. Lalu mengaktifkan baju pelindung T-Shield 313216 untuk meningkatkan kekuatan indra penglihatannya Perlahan dia berjalan berjingkat menuju celah batu diatas gundukan pasir.. Dari situ dia bisa mengamati keadaan sekitarnya sampai jarak dua kilometer.
Tampak ada beberapa titik putih yang berjalan lambat. Titik-titik putih itu adalah nyala api yang dibawa oleh serombongan manusia. Dan Pranaja bisa memastikan manusia-manusia yang berani melintasi padang pasir di malam hari, pastilah manusia-manusia yang tangguh dan pemberani. Kalau bukan tentara bayaran pastilah mereka adalah gerombolan perampok!
Pranaja segera kembali ke tempatnya semula. Dipadamkannya api unggun yang masih menyala itu. Lalu dengan perlahan dia membangunkan kakek Zyed. Setelah itu diangkatnya tubuh kakek itu dan disembunyikan di balik batu besar.
“Ada apa Pranaja?” tanya kakek Zyed.
“Ada serombongan orang sedang menuju tempat kita kek,” sahut Pranaja. “Aku khawatir mereka adalah gerombolan perampok yang ingin mencelakaimu.”
Kakek Zyed menganggukkan kepalanya tanda mengerti.Tubuhnya semakin dalam meringkuk di balik batu besar sehingga tidak mungkin kelihatan dari luar. Sementara Pranaja kembali ke celah batu diatas gundukan pasir. Dilihatnya orang-orang yang membawa obor itu semakin dekat. Mereka berhenti dan memeriksa bekas api unggun, dan sisa makanan tadi. Teriakan mereka pun semakin jelas memecah kegelapan malam di padang pasir.
“Kakek! Kakek Zyed!” teriak salah satu dari mereka. “Apakah kau ada disini?”
__ADS_1