
KITAB IRODARSULASIKIN
Suasana sunyi dan sepi. Udara terasa sangat dingin menusuk kulit. Panembahan Mbah Iro terbangun dari tidurnya di tengah malam buta. Pemimpin Dukuh Somawangi itu meraih kitab Primbon Kejawen Irodarsulasikin yang ada di atas meja kemudian diciumnya. Wajahnya nampak berbinar karena bahagia.
Malam ini Panembahan mendapatkan wangsit, akan kedatangan tamu istimewa, yaitu keturunan Panembahan Somawangi yang akan mewarisi kekuatan putera sulungnya Pangeran Haryo Ranggawiyana Kertanaki. Dia memiliki kekuatan bumi dan langit, meliputi elemen angin, air dan api serta Anugerah Mata Dewa dan kekuatan batu Mustikaning Jagad. Bahkan batu itu sudah melebur ke dalam dirinya saat digunakan untuk memotong tali pusarnya. Kekuatan itu dinamakan Tirtanala Sejati yang jauh lebih dahsyat daripada Tirtanala warisan Panembahan Somawangi.
Dan sesuai dengan siklus yang di rancang Dewi Pengetahuan Roro Lawe, kekuatan itu akan selalu muncul seratus tahun sekali saat turun tahun kembar. Pewarisnya adalah salah satu keturunan Panembahan Somawangi Yang Terpilih.
“Sudah puluhan tahun aku menunggu wangsit ini, sampai tubuhku renta, tulang-tulangku keropos, baru aku mendapatkannya,” batinnya.
Bibirnya tersenyum tipis. Akhirnya dia dapat melaksanakan kewajiban yang dipikulnya sebelum malaikat maut mencabut nyawanya. Sebagai pemimpin Trah Somawangi, dia memang mendapatkan tugas untuk membimbing “Yang Terpilih” menjalani berbagai macam ritual agar mendapatkan kekuatan Tirtanala Sejati. Tepat saat hari mengawali tahun 2020.
“Eyang Penatus dan Mas Parto, masuklah kalian berdua!” katanya memanggil dua orang kepercayaannya.“Siapkan makanan dan minuman untuk jamuan makan hari ini.”
Kedua orang pembantunya itu saling berpandangan.
“Apakah kita akan kedatangan tamu penting atau kau mengundang seseorang wahai Panembahan?” tanya Eyang Penatus.
Panembahan menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Sesungguhnya aku mendapat pesan dalam mimpiku. Aku melihat seorang anak yang suci dan agung datang kemari ingin bertemu para leluhur kita” jelasnya.
“Maksudmu para peziarah yang akan datang mengunjungi makam Panembahan Somawangi?” tanya Mas Parto.
Panembahan menggelengkan kepalanya kembali.
“Tidak. Kali ini wangsit yang datang padaku adalah tentang Satriya Piningit, keturunan Panembahan Somawangi Yang Terpilih.”
__ADS_1
Wajah Eyang Penatus dan Mas Parto langsung berubah. Rona kegembiraan nampak jelas tergambar di raut mukanya.
“Baik Panembahan, kami akan mempersiapkan jamuan itu sebaik-baiknya,” kata mereka.
Mbah Iro adalah pemimpin Dukuh Somawangi yang sangat dihormati di antara keturunan Panembahan Somawangi. Dia merupakan kiblat bagi keluarga besar Somawangi karena dianggap paling tahu isi daripada kitab Irodarsulasikin, ciptaan Endang Darsulasikin, satu-satunya anak perempuan Panembahan Somawangi dan Riyani. Dia berguru kepada uwaknya, si Dewi Pengetahuan atau si Segala Tahu atau juga yang dikenal Roro Lawe.
Kitab yang berisi tuntunan-tuntunan hidup keturunan Panembhan Somawangi itu mengandung nilai-nilai yang sangat luhur. Kitab itu mengatur tata cara hidup yang terus diterapkan di Dukuh Somawangi. Tentang keseimbangan alam untuk ketentraman hidup, Hutan harus dijaga agar air selalu ada. Bumi harus diberdayakan agar cukup sandang pangan. Rumah-rumah di bangun sama, agar terjadi keselarasan masyarakat. Tidak ada orang kaya dan orang miskin. Dan itu terbukti dengan masyarakat Somawangi sekarang.
Karena itulah, setiap kata-kata Mbah Iro sangat dipercaya dan diyakini kebenarannya oleh pengikutnya, keturunan Panembahan Somawangi yang sudah tersebar dimana-mana. Pada hari-hari tertentu mereka datang berbondong-bondong ke Dukuh Somawangi untuk mendengarkan nasehat-nasehat dari sang penerus pemimpin trah Somawangi itu. Mbah Iro juga yang menyelubungi dukuh Somawangi dengan kekuatan Ghoib agar tak terpengaruh oleh budaya luar yang dapat merusak tatanan masyarakat dukuh Somawangi.
***
Sepanjang hari Mbah Iro duduk di teras depan pendopo seperti menantikan seseorang Di dalam hatinya yakin betul mimpinya akan menjadi kenyataan. Dia hampir tidak pernah menerima wangsit yang salah.
“Apakah kalian melihat tamuku datang pagi ini?” ujarnya saat melihat beberapa petani yang sedang berteduh dibawah pohon besar, di depan Rumah Joglo.
“Tak seorang pun dari kami melihatnya, Panembahan,” sahut mereka dengan penuh hormat.
“Adakah kalian bertemu dengan tamuku di dalam perjalanan?”
Mereka juga mengatakan tidak mengetahuinya. Namun dia tidak putus harapan.
“Hyang Jagad Dewa Batara! Jika aku tidak melihat dengan dalam mimpiku sendiri, mungkin aku tidak akan mempercayainya,” katanya dalam hati.
Segera dia menuruni tangga pendopo dan memanggil pelayannya.
“Ajaklah setiap orang yang lewat untuk masuk ke Rumah Joglo, katakana aku ingin menjamu mereka.”
__ADS_1
Si pelayan segera mempersilahkan setiap orang yang lewat dan rombongan peiarah dari sekitar Somawangi itu untuk masuk ke dalam Rumah Joglo.
“Gusti Panembahan Mbah Iro ingin menjamu kalian semua,” kata si pelayan.
Orang-orang yang lewat dan rombongan lainnya saling berpandang-pandangan tak percaya. Tidak biasanya Panembahan Mbah Iro mau menyapa dan menjamu rombongan peziarah dari manapun. Dengan rasa penasaran mereka segera memasuki Rumah Joglo dan masuk ke ruang makan.
Setelah berada di dalam ruang makan mereka dipersilahkan duduk. Sesaat kemudian para pelayan Rumah Joglo segera menghidangkan makanan dan minuman yang lezat kepada mereka, Setelah menikmati hidangan yang disuguhkan, salah satu peziarah bertanya kepada Mas Parto.
“Mas Parto, apa hari ini Panembahan sedang memiliki hajat sehingga menjamu kami?”
“Benar, aku memang sedang berhajat kepada Sang Hyang Widhi. Kalian semua adalah tamuku dan aku ingin menjamu kalian. Silahkan dinikmati sekedar makanan dan minuman ini” jawab Panembahan yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka..
Jamuan itupun diterima dengan senang hati. Lalu Panembahan melihat satu persatu orang-orang yang hadir dalam jamuan itu, Dia heran karena dia tidak menemukan orang dengan ciri-ciri yang ada dalam mimpinya. Apakah ada yang salah dengan mimpinya?
Sampai matahari tergelincir, tidak ada tanda-tanda mimpi Panembahan Mbah Iro akan menjadi kenyataan. Akhirnya dia masuk ke dalam sanggar Pamujan, untuk berdoa dan memohon petunjuk dari sang Dewata. Beberapa saat dia tenggelam dalam semidinya, khusyuk dalam doanya. Saat telinganya menangkap keributan tidak jauh dari Rumah Joglo.
Terdengar bunyi kentongan dan suara teriakan bersahut-sahutan. Lalu diikuti suara orang berkelahi.
“Ada keributan apa ini? Penyelundup? Kalau ada orang luar berhasil menyelundup kemari, dia pasti bukan orang sembarangan, batinnya.
Dia segera melompat keluar. Tubuhnya nampak ringan melayang ke tengah-tengah pertempuran. Dia melihat seorang pemuda yang sedang di gempur oleh lawan-lawannya. Lucunya mereka menggunakan jurus yang sama, Dinding Bayangan dan Gajah Ghodam.
“Berhenti! Hentikan serangan kalian!”
Lalu tubuhnya mendarat di samping pemuda itu. Orang-orang segera mundur begitu melihat kehadirannya.
Mbah Iro menatap wajah Pranaja dalam-dalam. Nampak jelas ada sinar kemuliaan di wajah pemuda itu. Dengan langkah perlahan dia mendekati tubuh Pranaja. Di telitinya tubuh Pranaja dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dan dia yakin dia telah menemukan ciri-ciri khusus pada diri Pranaja, seperti yang dia lihat dalam mimpinya tadi malam.
__ADS_1
“Kau adalah Yang terpilih” katanya kepada pemuda itu.
Lalu Tubuhnya bergetar, dan airmatanya perlahan menetes penuh rasa haru…