RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 129 BIDADARI DI PAGI HARI


__ADS_3

EPS 129 BIDADARI DI PAGI HARI


'Dan malam pun menidurkannya dalam damai. Setelah semua hal melelahkan yang dialaminya sepanjang siang ini. Tidak ada lagi rasa yang berkecamuk dalam hatinya. Semua sudah selesai. Ya, semua sudah selesai. Setelah dia menemukan cahaya itu bersemayam di dalam bintang. Dan menerangi kembali malam-malamnya yang sebelumnya temaram.'



Tangan Pranaja menyeka keringat yang menetes di dahi Anastassya yang tengah tertidur lelap. Mobil taksi yang mereka naiki melaju cepat menembus jalan layang yang lengang di sepertiga malam terakhir. Udara memang terasa gerah. Pendingin ruangan di dalam mobil tak mampu mengalahkan panasnya ibukota.


Setelah berjalan-jalan seharian akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah Pranaja.


“Beneran kamu mau ikut mampir ke rumahku?” tanya Pranaja.


Padahal dia tadinya hanya basa-basi saja menawarkan gadis itu main ke rumahnya. Eh, ternyata Ana menerima tawarannya dengan senang hati.


“Iya bener. Kok malah kamu yang jadi ragu. Kamu tidak sungguh-sungguh kan menawari aku mampir?” ujar Ana dengan wajah merajuk.


“Eh, apa? Ehm,..tentu saja aku sungguh-sungguh. Aku hanya tidak menyangka saja kamu mau menerimanya. Aku pikir kamu lebih suka menginap di hotel mewah daripada menginap di rumahku.”



Ana malah tertawa.


“Aku malah lebih suka tidur di dalam hutan daripada tidur di tempat seperti itu. Ruangannya terlalu nyaman. Malah aku tidak bisa tidur.”



Pranaja memencet hidung mungil milik Ana. Tentu saja gadis itu jadi gelagapan, sakuran nafasnya yang kecil langsung tertutup rapat, membuatnya tidak bisa bernafas.



“Dasar perempuan aneh. Masa ada anak perawan lebih suka tidur di hutan daripada di kamar hotel,” katanya. “Memangnya kamu tidak takut?”


“Tentu saja tidak. Ayah akan menyuruh para pengawalnya untuk menjaga setiap sudut hutan dari bahaya yang mengancamku.”



Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tertawa.


“Pantas saja kau berani. Eh, apa mereka tahu kalau kau pergi bersamaku?”


Ana menganggukkan kepalanya.


“Tentu saja. Apa kau tidak heran mengapa jalan layang ini begitu lengang, sehingga taksi kita bisa melenggang mulus tanpa ada gangguan?”



Pranaja mengernyitkan keningnya. Lalu kepalanya berputar ke samping kanan, kiri dan belakang. Memang jalan layang yang mereka lewati sangat sepi. Tidak ada satupun kendaraan lainnya yang lewat. Wajahnya langsung terkesiap. Hal yang sangat langka untuk jalanan ibukota yang selalu macet.



“Maksudmu, ini semua hasil pekerjaan anak buah ayahmu?”


Ana menganggukkan kepalanya. Pranaja memandangnya takjub. Betapa besarnya pengaruh seorang Pramono Sutejo di negeri ini. Dari aparat hukum dalam dan luar negeri hingga preman jalanan pun bisa diaturnya. Ini pasti karena kekuatan uang dan campur tangan Subrata. Luar biasa!



“Lalu bagaimana mereka bisa tahu jalan ke rumahku?” tanya Pranaja.


Ana malah tertawa.


“Kau kan pesan taksi online. Tentu saja mereka tahu kemana tujuan kita.”

__ADS_1



Pranaja langsung menepuk jidat. Untuk hal seperti itu saja dia tidak paham, mungkin karena saking takjubnya dengan apa yang di alaminya malam ini. Heh, Pranaja menarik nafas panjang merutuki kebodohannya sendiri.



“Eh, kenapa kau terlihat kesal Pranaja?”


“Tentu saja aku kesal karena tidak bisa bermesraan denganmu,” kilahnya.



Plak!



Sepatu kulit buaya itu kembali mendarat di kepala Pranaja. Benjolan kedua pun langsung tumbuh.


“Dasar otak mesum!”


Gumam Ana sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Pranaja, lalu memejamkan matanya. Membiarkan Pranaja yang mengomel kesana kemari sambil mengelus-elus jidatnya yang benjol (lagi).



“Dasar otak sotoy, gak ada romantis-romantisnya!”



Hrrr…



Terdengar dengkuran keras dari gadis cantik yang tertidur lelap dengan mulut terbuka. Dan Pranaja hanya tersenyum, menatap wajah polos yang sedang merajut asa di dalam mimpinya. Kemudian dia mengecup dahinya dengan lembut.


Pagi baru menjelang. Ana membuka jendela, memberi jalan udara pagi mengalir ke dalam kamarnya. Hmm..terasa sejuk dan segar. Dinikmatinya pemandangan di pagi hari, ketika matahari baru menampakkan sinarnya. Semarak warna jingga terpancar dari kerlip embun yang menempel diatas dedaunan.



Dari kamarnya di lantai tiga rumah Pranaja yang besar, dia bisa melihat pemandangan luar biasa di bawahnya. Sebuah taman anggrek yang begitu indah dan terawat dengan baik. Terlihat seorang perempuan cantik menyiram bunga itu satu persatu. Jemari lentiknya menyentuh setiap daun dan bunga, seolah memberikan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.



“Itu pasti mamanya Pranaja,” batinnya. “Aku mau turun ah.”



Ana masuk ke kamar mandi untuk cuci muka dan menyikat giginya. Rambutnya yang biasanya dikepang dua, dibiarkannya tergerai menutupi pundaknya. Setelah itu dia keluar kamar dan berlari turun ke taman. Ibunya Pranaja langsung tersenyum begitu melihatnya.



“Selamat pagi tante,” sapa gadis itu ramah.


Ibu Pranaja meletakkan peralatan kebunnya, lalu memeluk Ana. Dipegangnya wajah gadis itu dengan kedua tangannya.


“Selamat pagi. Kamu temannya Pranaja? Cantik sekali.”


Ana langsung tersipu malu mendengarnya.


“Ah biasa saja tante.”


__ADS_1


Perempuan setengah baya yang masih tetap cantik itu mengajak Ana duduk di sebuah bangku di sudut taman.


“Siapa namamu?”


“Namaku Ana, tante. Anastassya.”



Tiba-tiba Pranaja datang sambil menguap. Matanya masih setengah tertutup karena rasa kantuk.



“Ibu lagi ngobrol sama siapa sih?”


Ibu memandang Pranaja dengan wajah heran.


“Pertanyaanmu kok aneh, ibu kan sedang berbicara dengan temanmu.”


Pranaja melihat Ana sekilas. Mendadak matanya melotot, seperti mendengar petir di siang bolong, tubuhnya langsung terloncat ke belakang.



“Astaganaga!” ucapnya.



Lalu mengucek-ngucek matanya seolah tidak percaya dengan pandangannya. Dengan rambut yang dibiarkan tergerai, wajah Ana mirip banget Maudi Ayunda, artis Indonesia pujaanya.


“Maudy..ups! Ana? …” mendadak mulut Pranaja jadi gagu.


Ana tersenyum, melepaskan panah dewa Amor ke hatinya.



Proll!



Lagi-lagi jantung Pranaja ambrol entah untuk ke berapa kalinya.


“Kenapa?” tanya Ana dengan wajah heran.


“Ana..kau can..cantik sekali,” desisnya tanpa sadar.


“Hah?”


Ana malah bingung dengan reaksi Pranaja. Sejak kemarin Pranaja tidak pernah memujinya. Kenapa sekarang dia seperti orang kesurupan dewa cinta? Apa ada yang berubah dengan dirinya.


“Bangun woi! Jangan jalan sambil tidur, nanti kesambet!” ujarnya sambil tertawa.


Ibu juga ikut tertawa melihat reaksi puteranya. Sepertinya Pranaja baru pernah melihat Ana bangun tidur. Apa mungkin gadis ini lebih cantik saat bangun tidur. Hehehe..aneh, batin ibu.


“Ini memang temanmu, Naja. Dia habis membantu ibu merawat taman anggrek kita.”


Pranaja menyalami ibu dan menciumnya. Lalu tersenyum malu.


“Maaf ibu, tadi aku kaget melihat ada bidadari di depan ibu,” kilahnya.


Bibir Ana langsung manyun. Bisa-bisanya Pranaja merayunya di depan mamanya. Perasaan kemaren adem-adem wae, tidak memujinya sama sekali.


“Ya sudah, sana ajak bidadarimu jalan-jalan. Ibu akan menyiapkan sarapan pagi buat kalian.”

__ADS_1


Ibu beranjak masuk ke dalam rumah, membiarkan puteranya yang masih belum sepenuhnya sadar karena terbius kecantikan bidadari yang baru turun dari kahyangan di pagi itu.


__ADS_2