RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 124 YA DAN TIDAK


__ADS_3

EPS 124 YA DAN TIDAK


Pranaja termenung sendiri memikirkan ‘mimpi’ yang baru dialaminya. Mimpi? Ah dia sama sekali tidak mau mempercayainya. Tapi apa yang terjadi membuatnya terus berpikir. Bagaimana mungkin hal yang sangat jelas dia lakukan selama berhari-hari ternyata terjadi hanya dalam waktu satu malam saja. Dia teringat terakhir kali duduk membaca kitab Irodarsulasikin di samping tubuh Miracle yang telah terlelap.



Tapi setelah berhari-hari berpetualang di jaman es, di malah mendapati dirinya tidur bersama Miracle juga? Bahkan peraduannya masih terasa hangat. Hm, aneh. Lagian kalau apa yang terjadi ini memang mimpi, dimana keberadaan Spot? Naga itu benar-benar ada, bukan ilusi atau halunisasi, karena Tong Pi dan Miracle juga melihatnya di Socrota.



Tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya.


“Hai! Pagi-pagi sudah melamun saja.”


Spontan Pranaja menoleh.


“Tong Pi?” ucapnya.


Nada suaranya terdengar aneh. Tong Pi sampai mengernyitkan dahinya.



“Kenapa kau memandangku seolah kau sedang melihat hantu?”


“Kenapa kau tidak menanyakan kemana perginya Spot? Apa kau tidak merasakan keanehan?”



Tong Pi terdiam sambil menatap dalam-dalam wajah Pranaja. Kenapa sepulang dari Socrota sahabatnya jadi seperti orang ling lung? Apa dia sedang kerasukan hantu Socrota?



“Apanya yang aneh sobat?”


“Apa? Spot hilang dan kau tidak merasa kehilangan?”


Tong Pi semakin tidak mengerti.


“Hilang? Kata siapa Spot hilang?”


Pranaja malah terkesiap kaget bukan kepalang.



“Maksudmu Spot tidak hilang?”


Tong Pi menggelengkan kepalanya.


“Tidak. Waktu aku memindahkan tubuhmu dan Miracle dari Socrota, Spot ada di depanmu. Tapi dia masih tidur.”



Apa? Batin Pranaja langsung bergejolak hebat. Kalau begitu Spot dan Wyona masih hidup? Pranaja langsung bangkit dan memburu Tong Pi. Di cengkeramnya kedua bahu Tong Pi dengan kuat.


“Tong Pi! Ayo kita kembali ke Socrota!”


“Aduh! Sakit! Lepaskan Pranaja! Kau menyakiti kedua lenganku tahu!”



Pranaja melepaskan pegangannya.

__ADS_1


“Eh, maaf teman, aku terlalu bersemangat.”


Huh! Tong Pi menatap wajah Pranaja kesal.


“Kamu itu kenapa sih? Kok sikapmu aneh begitu? Kau tidak sedang kesurupan kan?”


Pranaja menggeleng cepat.



“Sudah, ngomongnya nanti saja. Sekarang cepat pindahkan kita ke Socrota kembali.”


Giliran Tong Pi yang menggeleng cepat.


“Tidak bisa.”


“Kenapa?”


“Kita membutuhkan pintu portal untuk masuk ke sana. Karena Socrota ada di dimensi lain dunia kita.”



Pranaja tercenung mendengar kata-kata Tong Pi. Benar, mereka bisa masuk ke Socrota melalui pintu portal yang menghubungkan mereka dengan dimensi dunia lainnya. Tanpa pintu portal yang terbuka, mustahil mereka bisa kembali ke pulau misterius itu. Pranaja langsung terduduk lemas menyadari situasinya. Tong Pi mengeluarkan sesuatu dari dalam tas buluknya.



“Ini bukumu. Aku menemukannya dalam keadaan terbuka saat terakhir kali kita di Socrota. Pasti kau sedang membacanya saat kau tertidur kemudian.”



Kitab Irodarsulasikin? Oh, Pranaja hampir saja melupakannya. Dia ingat terakhir kali melihat Spot saat sedang membaca kitab itu. Untung Tong Pi sempat mengambilnya, kalau tidak kitab itu selamanya tertinggal di Socrota.



Di peluknya sahabat kecilnya itu. Tong Pi membalas pelukan Pranaja.


“Kau adalah pelindung kita Pranaja, tetaplah seperti itu,” bisiknya.


“Apa maksudmu?”


“Jagalah hati Miracle, jangan kau menyakitinya.”



Pranaja menatap wajah Tong Pi dalam-dalam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Yang dia tahu, di dalam hatinya dia tidak menyimpan rasa cinta kepada Miracle. Karena dia sudah punya pilihan hati sendiri, Ryung Nae.


***


Malam sudah begitu larut, saat Pranaja kembali membuka kitab Irodarsulasikin. Rupanya dia masih penasaran dengan legenda naga. Terakhir kali dia membaca kitab itu, tubuhnya langsung terlibat dalam petualangan seru di jaman es. Siapa tahu dengan membacanya kembali, dia akan kembali berpetualang untuk menuntaskan rasa penasarannya.



“Aku hanya ingin memastikan, apa yang aku alami kemarin betul-betul nyata, bukan cuma mimpi,” batinnya.



Saat dia membuka halaman terakhir bab tentang legenda Naga, ada cerita menarik yang membuatnya terhenyak. Kedatangannya bahkan sudah diramalkan dalam kitab yang ditulis limaratus tahun sebelumnya.



“Tanhonojanma kangtekraning mbasukamrubuwo Nogopercolo rehkapingmunjulkrak sombateha tuwuhjeng janmanusya kreknaningprak tiwindarprokombartang kenatiniro.”

__ADS_1


“Akan ada satria penyelamat bumi penunggang Naga Suci yang terakhir, muncul karena panggilan hati untuk menegakkan kebaikan dan menyingkirkan kebatilan tanpa batas.”



Pranaja membaca kalimat penutup pada bab naga itu berkali-kali. Wajahnya nampak lega, sekarang dia yakin apa yang dialaminya bukanlah mimpi. Tapi peristiwa nyata melalui proses gaib yang dia sendiri belum mampu untuk mencernanya. Lalu di tutupnya kitab itu dan disimpan dalam tempatnya kembali. Saat dia memasukkan kotak yang terbungkus kain sutera merah bersulam benang emas itu ke dalam almari, tiba-tiba ada benda yang terjatuh.



“Ting”



Benda itu seperti mengeluarkan warna biru yang mengerjap. Pranaja mengambilnya dengan hati-hati, lalu di amatinya dengan cermat. Dan sekali lagi dia terkesiap kaget dengan tatapan yang tidak percaya.



“Sisik Permata Biru?”



Ya, benda yang jatuh itu adalah sisik permata biru, pemberian terakhir kakek Shamtek, Penyhir Yang Agung. Bibir pemuda berwajah imut itu tersenyum tipis, matanya nampak berbinar dan wajahnya terlihat begitu bersemangat. Disimpannya sisik peninggalan Spot itu di dalam kotak yang sama dengan Irodarsulasikin.


***


Pagi-pagi sekali, Pranaja sudah duduk di ruangannya M. Dia memang mendapat panggilan darurat untuk menemui bosnya itu pagi ini. Dan Pranaja adalah pemuda yang selalu tepat waktu. Prinsipnya semakin awal dia mendapatkan informasi penting, semakin matang langkah yang akan diambil.



“Selamat pagi agen 009!” sapa M.


“Selamat pagi M,” balasnya. “Apakah ada tugas baru untukku?”


“Ya dan Tidak,” icapnya ambigu.



Pranaja menatap penuh tanda tanya. Kadang M memang seperti malam yang menghadirkan misteri. Kita tidak pernah tahu bahaya apa yang menghadang dalam kegelapannya.



“Apa maksudmu M?”


“Kau akan aku tugaskan ke Indonesia membantu agen 004, Lucra Venzi. Dia sedang memburu buronan pemerintah kerajaan Inggris yang bernama Blade Muller.”



M memencet tombol hujau untuk menyalakan moniror besar di belakang tubuhnya. Muncullah wajah seorang tentara degnan seragam tentara pasukan khusus militer kerajaan Ingris atau SAS.



“Kolonel Blade Muller adalah pelatih terbaik pasukan khusus Inggris yang telah mengundurkan diri. Dia lalu membangun akademi semi militer sendiri dengan merekrut pemuda-pemuda terbaik dari negara-negara yang dilanda konflik untuk dijadikan tentara professional. Saat ini dia berada di Indonesia dan di duga membangun kartel narkoba baru bersama rekannya Ivan Draco.”



Pranaja mengangguk-angukkan kepalanya.


“Oke M, lalu kenapa kau mengatakan Ya dan Tidak?”


M tersenyum.


“Karena sebelum kau melaksanakan tugasmu aku memberimu waktu libur selama tujuh hari di Indonesia. Pilihlah tempat yang kau mau untuk menghabiskan liburanmu.”

__ADS_1



Pranaja tersenyum tipis, tapi matanya menatap tajam wajah Blade Muller yang masih terpampang jelas di layar monitor milik M.


__ADS_2