RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 32 YANG TERPILIH


__ADS_3

YANG TERPILIH


Pranaja terperanjat. Tanda panah ini menunjukkan jalan ke arah dukuh Somawangi. Jalan setapak yang tidak dapat dilewati kendaraan ini terbentang lurus dan berakhir di sebuah gundukan tanah menyerupai bukit kecil.


Anehnya jalan setapak dan bukit itu seperti berada di dalam gelembung air raksasa.


Mungkin gelembung inilah yang dimaksud sebagai selubung ghaib yang menutup dukuh Somawangi dari pandangan mata manusia.


Pranaja mengulurkan tangannya perlahan, menembus gelembung air itu, dan dia terkesiap, separuh tangannya yang masuk ke dalam gelembung tidak kelihatan. Secara reflek dia menarik tangannya kembali, dan diperiksanya. Tidak ada masalah, tangannya baik-baik saja.



“Hm, rupanya aku harus masuk ke dalam selubung itu,” batinnya.



Lalu dia menengok ke belakang.


“Shield, aku akan masuk ke dalam, kau tetap disini. Cepat bergerak kalau aku menekan tombol darurat,” katanya.


Shield mendengung, seolah mengerti apa yang diperintahkan Pranaja.


Lalu Pranaja memasukkan kepalanya, menembus selubung seperti gelembung air itu. Melihat keadaan sekitar di dalam selubung. Hm, tidak ada yang aneh, batinnya, jalan setapak menuju bukit kecil itu masih sama.


Perlahan kaki dan seluruh tubuhnya ikut masuk, lalu berjalan perlahan. Pandangannya penuh waspada. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang janggal terjadi di sekelilingnya.


Ternyata benar, pada langkah kakinya yang ke sepuluh, kembali dia terkesiap kaget. Bentang alam di depannya tiba-tiba seperti berputar cepat dan kemudian berhenti.


“Apa!?”


Pranaja terpaku seperti tak percaya. Di depannya kini terbentang jalan yang cukup lebar dan terawat. Belum beraspal tapi tersusun dari batu keras yang dibentuk seperti batu bata, kemudian ditata rapi sepanjang jalan, dengan permukaan lebarnya diatas. Hampir menyerupai aspal, tetapi jauh lebih kuat. Di kanan-kirinya di beri pagar kayu yang diberi warna putih, dan ditanami pohon Waluh. Bunga-bunganya yang berwarna kuning nampak indah menghiasai jalan utama di dukuh Somawangi ini.


Di kanan dan kiri jalan adalah saluran irigasi untuk mengairi lahan persawahan dan perkebunan sejauh mata memandang. Hamparan padi hijau dan kuning sungguh sangat memanjakan mata. Diselingi tanah perkebunan yang ditanami pohon merica, pala, kemiri, kapulaga, dan tanaman rempon-rempon lainnya.

__ADS_1


Para penduduk nampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sebagian laki-laki, memakai kain yang diikatkan ke punggungnya, untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Sementara bagian atasnya bertelanjang dada. Mereka menggarap sawah dan kebun mereka dengan gembira. Nampak dari senyum yang selalu menghias bibir mereka.


Saat Pranaja lewat, senyum ramah juga tak lepas dari wajah mereka, meskipun tatapannya terlihat aneh. Mungkin karena pakaian Pranaja yang sangat berbeda dengan penduduk dukuh ini. Tubuhnya yang terbalut baju pelindung lengan panjang berwarna hitam, sangat berbeda dengan pakian adat mereka.


“Selamat datang di kampung kami, Raden,” sapa mereka ramah.


Pranaja ikut mengangguk sambil tersenyum.


“Terimakasih.”


Dia terus berjalan diiringi tatapan aneh para petani yang melihatnya.


Dukuh Somawangi begitu rapi dan teratur. Setelah melewai persawahan dan perkebunan, dia pun masuk ke perkampungan. Deretan rumah-rumah kayu yang tertata rapi dengan desain dan arah yang sama, seperti huruf L. Semua rumah terlihat menghadap ke arah jalan utama. Rumah-rumah itu hanya memiliki dua pintu yang tidak sejajar. Satu pintu masuk ruang depan, dan satu pintu lagi di ruang belakang. Tidak ada dua pintu yang berlawanan arah.


Atapnya bukan dari gendeng atau seng, tapi dari ijuk, alang-alang dan daun nipah. Dengan kondisi hutan dan pepohonan yang terjaga, air pun mengalir ke setiap rumah. Mengisi kolam-kolam ikan di belakang, dan tempat cuci tangan dan bersuci di depan rumah. Airnya nampak bening dan sehat, sehingga anak-anak merasa aman mandi di dengan air itu.


Jalan utama yang dilewati Pranaja berhenti pada sebuah pohon beringin yang sangat besar. Bergitu besarnya beringin itu hingga seperti gundukan bukit kecil. Dan di belakang pohon raksasa itu, berdiri kokoh rumah adat Jawa yang sangat luas dan sangat nesar.


Pranaja berhenti sejenak, lalu menghampiri seorang perempuan separuh baya yang sedang duduk menganyam bambu.


Perempuan itu malah berdiri dan memandang Pranaja penuh selidik. Air mukanya jelas berubah, dari yang tadinya ramah menjadi marah.


“Siapa kau?”


Pranaja terhenyak. Tak menyangka kalau pertanyannya yang sederhana membuat perempuan itu terlihat marah.


“Aku Pranaja. Aku datang dari kota untuk…”


Tiba-tiba perempuan itu berlari lalu memukul kentongan yang tergantung di samping pintu masuk. Dipukulnya kentongan itu keras-keras sambil berteriak.


“Tong! Tong! Tong! Penyelundup!”


Teriakannya memancing orang-orang berada di dalam rumah untuk keluar. Lalu memukul kentongan keras-keras sambil berteriak.

__ADS_1


“Tong! Tong! Tong! Penyelundup!”


“Penyelundup!”


“Penyelundup!”


Suara teriakan itu terdengar bersahut-sahutan, menggemparkan seluruh warga desa, Para lelaki yang ada di sawah langsung berlarian ke tempat itu dan mengepung Pranaja. Pemuda itu mengaktifkan baju pelindung T-Shield 313216 nya. Mendadak penduduk yang mengepungnya itu melakukan gerakan yang sama.


“Dinding Bayangan!”


Dinding angin setebal satu meter itu menerjang berbarengan dan mengepung tubuh Pranaja dari berbagai arah! Pranaja yang sempat terkaget-kaget, ikut melindungi tubuhnya dengan jurus yang sama. Tangannya diputar dari belakang ke depan dengan sepenuh tenaganya yang menjadi berlipat karena pengaruh baju pelindungnya.


“Dinding Bayangan!”


Dinding angin setebal satu meter juga menyelubung dan melindunginya dari serangan dinding angin lawan-lawanya. Terjadi benturan yang sama kuatnya! Walaupun lawan-lawannya melakukan serangan bersama, tetap saja mereka tidak mampu meringkus Pranaja.


Tiba-tiba dari arah belakang lawan-lawannya itu, bermunculan puluhan laki-laki yang melompat tinggi dengan kedua tangan ditautkan dan diangkat diatas kepalnya. Rupanya mereka akan menyerang Pranaja dari atas. Kemudian tangan-tangan itu terayun kebawah bersamaan mengarah ke tubuh Pranaja.


“Pukulan Gajah Godham!”


Wud!


Pranaja memukulkan kedua tangannya ke atas untuk melindungi dirinya dengan pukulan yang sama.


“Pukulan Gajah Godham!”


Pukulan lawan-lawanya yang bertubi-tubi seperti membentur tembok yang sangat kuat. Mereka tidak mampu melumpuhkan Pranaja walaupun di serang puluhan kekuatan Gajah Godham bersama-sama.


“Berhenti! Hentikan serangan kalian!”


Satu teriakan keras dari arah pendopo rumah joglo menghentikan serangan mereka. Sesosok tubuh memakai jubah putih melayang ringan dan mendarat di samping tubuh Pranaja.


Begitu melihat sosok berjubah putih itu, para penyerangnya langsung mundur dan berjongkok. Tangan mereka ditangkupkan di depan dada, menyembah junjungannya. Suasana menjadi hening, tidak ada yang berani bersuara.

__ADS_1


Lelaki berjubah putih berdiri menatap tajam Pranaja dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia juga berjalan berputar seperti memeriksa bagian belakang tubuhnya. Setelah itu dia seperti terpana menatap wajah Pranaja kembali, Tubuhnya bergetar hebat, dan air matanya terihat menetes. Ada rona bahagia yang tak terlukiskan. Dengan bibir bergetar dia mengucapkan sesuatu kepada anak muda di depannya itu.


“Kau adalah Yang Terpilih…”


__ADS_2