
EPS 67 PERTARUNGAN AIR DAN API
Kematian merupakan kritik terhadap kehidupan dan mengingat mati adalah sebuah inspirasi.
Pasukan yang dibawa Pranaja berjalan dalam barisan yang rapi dan teratur, layaknya barisan prajurit kerajaan. Langkah mereka tegap dan rampak, matanya menatap tajam lurus ke depan. Di depan lantai berundak di bawah singgasana, mereka berhenti dan memberi hormat pada sang Dewi Salju yang duduk anggun di atas mahligai kekuasaannya.
“Berhenti gerak! “ kata komandan barisan. “Beri hormat!...Tegak gerak!”
Seperti biasa, wajah sang Dewi begitu dingin dan datar, tanpa ekspresi. Menciptakan aura mistis tersendiri, membuat siapapun bergetar hatinya saat menatap wajahnya. Ditambah lagi hawa dingin yang langsung menyergap, seperti membekukan tulang dan aliran darah. Menimbulkan rasa ngilu di sekujur tubuh dan kesulitan bergerak bebas. Diam tetapi terasa menyakitkan.
“Darimana saja kalian?” tanya sang Dewi.
“Kami tersesat saat melakukan penyerangan ke sebuah desa. Butuh waktu untuk menemukan jalan pulang, Dewi,” sahut sang komandan.
Hrrrggh..
Mulut Dewi Salju menggeram lirih. Ada nada kemarahan di dalamnya. Dia tahu bekas sang komandan barisan telah berbohong kepadanya.
“Dusta!” ucapnya dingin. “Katakan siapa malaikat penolong kalian!”
Komandan dan anak buahnya terkesiap kaget. Untuk sejenak mereka terdiam dan saling berpandangan. Lalu secara serentak mereka mencabut pedangnya. Sadar Dewi Salju telah mengetahui sandiwara mereka dan siap melampiaskan kemarahannya.
“Tidak ada malaikat penolong Dewi Salju. Dia adalah manusia berhati malaikat yang layak menjadi sesembahan kami!” seru sang komandan.
Slap! Slap! Slap!
Tiba-tiba ada tiga dinding es muncul dari belakang, samping kanan dan samping kiri mereka. Sempat terperanjat kaget, mereka langsung waspada. Tubuhnya berubah dalam posisi siap tempur. Kakinya merancang kuda-kuda dan senjatanya digenggam kuat, siap untuk berperang. Mereka yakin dengan kekuatan Pranaja, siap mengalahkan kekuatan sang Dewi.
__ADS_1
“Dasar pengkhianat tak berguna! Pergilah kalian ke neraka!”
Dewi Salju menggerakkan tangan kanannya. Tiba-tiba dari telapak tangannya melesat sebuah rantai yang terbuat dari es yang ujungnya lancip bak ujung mata tombak. Benda itu melesat ke arah tubuh sang komandan. Di saat yang genting itu tubuh Pranaja keluar dari persembunyiannya. Melesat cepat dengan kekuatan Gajah Godam di kedua telapak tangannya yang digenggam bersama.
“Pukulan Gajah Godham!”
Blar!
Dinding es itu hancur seketika. Luluh lantak jatuh menjadi butiran-butiran es ke tanah.
Slap!
Mendadak ada dinding es baru yang muncul dari dalam tanah. Pranaja tersentak kaget, dan mudur ke belakang. Waktu setengah detik yang sangat berharga, karena dia gagal menyelamatkan nyawa sang komandan.
Ujung mata tombak itu menembus tepat ke dalam jantungnya. Tidak adak ada darah yang keluar dan muncrat karena darah sang komandan langsung membeku di dalam tubuhnya. Dia tewas dalam keadaan kaku seperti patung.
Slap! Slap! Slap! Slap! Slap! Slap!
Mendadak dinding-dinding es baru bermunculan melapis dinding es yang lama. Pasukannya terperangkap dalam tembok es yang berlapis-lapis. Dan tembok es itu bukan tembok es biasa, karena kekuatannya sama dengan tembok beton setebal limapuluh sentimeter!
“Kekuatan Geni Sawiji!”
Pranaja tidak mau bermain dengan resiko. Dia langsung menghantam dengan kekuatan tingkat tertinggi dari ajian Geni Sawiji. Kekuatan inti api yang telah berproses dengan baju pelindung T-Shield 313216 nya membuat tubuhnya diselimuti api biru yang sangat panas. Kakuatan api itu langsung melebar memenuhi seluruh ruang balairung istana. Dengan kekuatan panas lebih dari tigaratus derajat ruangan yang terbuat dari es itu seketika mencair.
__ADS_1
Rantai es berujung mata tombak yang sedang menyasar anak buahnya pun langsung lenyap berubah menjadi air.
“Aaakh” Dewi Salju terloncat ke belakang.
Dia sama sekali tak menduga pemuda ingusan itu memiliki kekuatan yang begitu dahsyat. Sehingga mampu melumerkan dinding es istananya.
Gulungan manusia berapi biru itu melayang di udara, mendekati tubuh sang Dewi. Namun wajah cantik itu hanya tersenyum datar. Seolah meremehkan kekuatan Geni Sawiji.
“Pantas kau punya nyali anak muda. Rupanya kau punya sedikit kemampuan. Kikikiki..”
Tubuh Pranaja mengapung di udara.
“Hentikan ambisimu penyihir Sarju. Atau kau akan terbakar menjadi debu!” katanya tak kalah menggetarkan.
“Sok pamer kekuatan di hadapanku. Terimalah kekuatan Hati Seputih Salju!”
Dewi Salju menghentakkan kedua tangannya ke depan. Guyuran salju putih yang sangat dingin menyerang tubuh Pranaja. Pemuda itu langsung membentengi dirinya dengan ajian Lembu Sekilan. Ada selubung tak terlihat yang menyelubungi seluruh tubuhnya. Dengan demikian guyuran salju itu tidak mampu menyentuh tubuhnya. Dalam jarak limabelas sentimeter atau sekilan, salju-salju itu akan rontok ke bumi.
Pranaja berjalan tenang mendekati tubuh Dewi Salju. Kekuatan Hati Seputih Salju andalan sang Dewi sama sekali tak menyentuh tubuhnya. Apalagi dengan ajian Geni Sawiji yang terpancar dari tubuhnya. Dinginnya Guyuran Salju itu tidak akan mampu membekukan tubuhnya. Begitu berhasil mendekati tubuh perempuan itu, diluar perhitungannya, tangan sang Dewi bergerak cepat menangkap kedua tangannya dengan erat.
Heya! Teriak Dewi Salju.
Wajahnya sebening air. Senyumnya begitu sinis. Kedua tangannya yang memegang tangan Pranaja mengalirkan hawa yang sangat dingin. Pertarungan sesungguhnya antara kekuatan salju dan kekuatan api terjadi. Pranaja juga menyalurkan kekuatan panasnya.
Heya! Teriak Pranaja tak kalah garang.
Pertarungan kekuatan hawa panas dan dingin berlangsung beberapa saat. Semua mata yang melihatnya terbelenggu ketegangan. Mereka tidak bisa menebak siapa yang lebih kuat.
Namun beberapa saat terlihat kekuatan api biru itu semakin lama semakin redup.
Kikikiki!
Tawa sang Dewi terdengar lagi. Begitu dingin dan penuh keangkuhan.
Aakh!
Pranaja berusaha mempertahankan kekuatan panasnya. Namun kekuatan dingin sang Dewi secara perlahan mulai merambat lewat kedua tangannya. Api di tubuhnya perlahan menjadi merah, kekuatan panasnya menurun drastis.
Bahkan saat akan menjadi padam, tubuh Pranaja sudah menapak di tanah. Kekuatan dingin itu terus merasuki tubuhnya, hingga akhirnya api di tubuhnya benar-benar padam.
“Kekuatan Tirtanala!”
Pranaja merubah strateginya. Dari dalam tubuhnya keluar hawa dingin yang membekukan dan menghancurkan. Kekuatan dingin Tirtanala berusaha melawan kekuatan dingin Hati Seputih Salju. Sang Dewi Salju malah terkekeh.
“Kikiki..Kekuatan dinginmu tidak akan mampu menandingi kekuatan dingin saljuku anak ingusan. Sebentar lagi tubuhmu akan membeku dan remuk bagaikan serpihan kaca. Kikiki…”
Suara tawanya menggema memenuhi langit-langit istana. Perlahan bangunan istana yang tadinya lumer kembali terbentuk lagi. Rantai es yang berujung mata tombak itu terbentuk lagi. Bahkan rantai panjang itu sekarang bergerak sendiri menyasar anak buah Pranaja. Satu persatu mereka jatuh tertembus dan tewas dalam keadaan tubuh membeku.
Arrgh! Arrgh! Arrggh!
__ADS_1
Dalam keadaan tak berdaya Pranaja melihat seluruh anak buahnya dibantai oleh rantai es Dewi Salju. Pranaja merasakan jaringan darah dan urat-uratnya telah membeku. Dia tidak bisa lagi merasakan dan menggerakkan bagian-bagian tubuhnya. Hanya dalam waktu beberapa detik tubuhnya sudah kaku dan siap di hancurkan oleh Dewi Salju.
Kikikikiki…