RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 62 PETUALANGAN DI NEGERI PERDU


__ADS_3

PETUALANGAN DI NEGERI PERDU


Pranaja memulai petualangannya. Dari pegunungan Sayan dia terus berjalan ke arah selatan menuju bumi Nusantara. Melewati lembah, pegunungan dan ngarai yang penuh dengan panorama yang baru pernah dilihatnya. Kadang dia juga menggunakan kemampuannya untuk terbang jika medannya sulit, tapi dia lebih suka berjalan kaki. Melewati desa-desa, kota demi kota dari satu negeri ke negeri lainnya.



Saat sedang memanggang seekor kambing muda yang banyak bertebaran di pegunungan Allbush, dia dikejutkan dengan kedatangan sekelompok orang yang berjalan dengan tergesa-gesa. Tubuh mereka penuh darah dan luka. Wajah-wajah mereka terlihat ketakutan Sesekali mereka menoleh ke belakang, seolah-olah ada makhluk menakutkan yang sedang mengejar mereka.



Merka terus berjalan melewati Pranaja, dengan wajah cemas. Sesekali pandangan mereka juga tertuju kearah kambing guling yang sedang dipanggang Pranaja.



“Hai! Kenapa kalian terlihat ketakutan?” tanya Pranaja sambil berjalan mendekat.


Tubuh mereka langsung meringkuk dan berkumpul menjadi satu. Pranaja mencongkel salah satu paha kambing, lalu diulurkan kepada mereka.


“Hai! Aku bukan orang jahat. Kalau kalian lapar, duduk dan makanlah,” katanya sambil tersenyum ramah.



Orang-orang itu saling berpandangan. Diantara rasa takut, rupanya mereka tergoda dengan aroma kambing guling yang sedang di bakar Pranaja. Sudah dua hari mereka berlari tanpa sempat mengisi perut dengan makanan. Aroma kambing guling membuat mereka semakin lapar.



“Duduklah. Aku pikir kalian butuh istirahat dan makan,” ujar Pranaja lagi. “Tenanglah, aku akan melindungi kalian.”



Orang-orang itu kembali menatap Pranaja. Pemuda itu menganggukkan kepalanya, meyakinkan mereka bahwa mereka akan aman bersamanya.



“Tapi nak, kami harus terus berlari kalau tidak…” ujar orang yang paling tua diantara mereka, sambil menengok ke belakang kembali.


“Kenapa? Kan aku sudah bilang, aku akan melindungi kalian dari siapapun yang mengganggu atau mengancam nyawa kalian semua,” potong Pranaja.



Akhirnya orang-orang itu duduk mengelilingi kambing guling dan ikut makan bersama Pranaja.


“Siapa yang mengejar kalian?” tanya Pranaja.


“Mereka adalah makhluk-makhluk yang datang dari dalam kabut. Menunggang kuda berwarna hitam, kepala mereka bertanduk seperti banteng, tetapi mereka memakai baju yang terbuat dari kulit beruang kutub.”



Pranaja mengernyitkan dahinya. Makhluk bertanduk tapi berkulit beruang kutub? Makhluk apa itu?



“Apa yang mereka inginkan?”


“Mereka menculik para pemuda dan gadis-gadis serta anak-anak. Katanya untuk dipekerjakan sebagai budak di negeri Dewi Salju yang sedang membangun istana megah. Sedangkan orang-orang tua macam kami langsung dibunuh tanpa ampun,” kata warga lainnya.



“Mereka menyerang pada pagi dan sore hari saat kabut turun. Makhluk-makhluk itu bergerak sangat cepat. Menyerang setiap desa yang ada di sepanjang pegunungan Allbush,” sambung orang lainnya.

__ADS_1



Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Kami hendak pergi ke desa Okunumenda, untuk memberitahu mereka agar mempersiapkan diri sebelum makhluk-makhluk itu sampai disana.”



Pranaja berdiri tegak, memandnag orang-orang itu satu persatu.


“Kalau begitu aku akan ikut kalian ke Okunumenda.”



Orang-orang itu nampak terkejut.


“Kenapa anak muda?”


“Aku juga perlu menyelamatkan diri kan? Jadi aku akan ikut kalian,” ujarnya, “Paling tidak aku bias membantu kalian menyiapkan masakan yang lezat.”



Wajah Pranaja terlihat serius. Orang-orang itu saling berpandangan kembali. Memang benar, kambing guling masakan Pranaja benar-benar enak. Entah apa bumbu yang dipakainya. Setelah berbisik-bisik sebentar, akhirnya orang yang paling tua tadi kembali berbicara.



“Baiklah! Kau boleh ikut bersama kami. Mungkin di desa Okunumenda butuh seorang Chef atau tukang masak,” kata orang tua tadi.



Setelah merasa kenyang, mereka segera melanjutkan perjalanan.Sisa daging kambing mereka bungkus dan dimasukkan ke dalam perbekalan. Pranaja mengikuti mereka dari belakang. Setelah mendaki bukit batu yang licin dan cukup tinggi, sampailah mereka di tempat yang dituju.




“Kita akan mempersiapkan pertahanan yang kuat untu menghadang mereka,” kata kepala Desa Okunumenda.



Para wanita, gadis-gadis muda dan anak-anak di tempatkan dalam ruang tersembunyi di dalam perbukitan. Sedang semua orang laki-laki bahu membahu mempersiapkan diri untuk berperang melawan musuh yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya.



“Siapa pemuda itu?” tanya kepala desa saat melihat Pranaja.


“Dia adalah pemuda yang kami di temukan dalam perjalanan. Dia memaksa ikut karena merasa takut dengan kedatangan makhluk-makhluk itu.”



“Oh ya kepala desa, pemuda itu pintar sekali memasak. Mungkin dia bias menyiapkan makanan untuk kita, sambil membuat persiapan menyambut kedatangan musuh kita.”



Akhirnya kepala desa mengizinkan Pranaja untuk tinggal, dan memintanya untuk mengurusi dapur dan menyediakan makanan bagi mereka. Rupanya dia juga meragukan kekuatan pemuda yang bertubuh tinggi kurus itu.



“Pergilah ke dapur dan persiapkan makanan yang lezat untuk kami.”

__ADS_1



Pranaja menganggukkan kepalanya. Dan segera beranjak pergi ke dapur. Sambil berjalan dia mengamati keadaan sekitar. Rupanya wilayah desa Okunumenda banyak ditumbuhi tanaman perdu, hampir tidak ada pohon besar yang tumbuh di tanah berbatu itu.



“Aku akan berjalan-jalan keluar desa,” batinnya.


Lalu dia mengajak seorang laki-laki kurus yang sedang membersihkan peralatan makan.



“Hai! Kau juga bertugas dapur?”


Orang itu tersenyum ramah.


“Iya. Karena aku lebih suka mengolah makanan daripada berperang. Lagipula aku tak mahir menggunakan senjata. Kau orang baru ya? Namaku Ox, kamu siapa?”



Pranaja menganggukkan kepalanya.


“Aku Pranaja. Ayo temani aku berjalan-jalan ke sekitar perbukitan sambil ngobrol.”



Pemuda itu mengangguk. Lalu dia mengajak Ox menyusuri jalan dan bukit yang banyak terdapat pohon perdu dan semak-semak. Beberapa kali dia jongkok untuk memetik beberapa tanaman atau buah kecil diantara pohon perdu. Sementara Ox hanya melihatnya penuh tanda tanya.



“Lihatlah. Ini adalah sejenis daun pegagan. Daun ini enak sekali dimakan mentah ataupun dicampur masakan berkuah,”katanya menerangkan.



Ox menyimaknya dengan seksama. Itu kan cuma semak-semak? batinnya.



Lain waktu Pranaja kembali mencabut sebuah tanaman.


“Ini adalah sejenis asparagus, enak dimakan dengan daging panggang. Ada juga jamur dan daun mint. Sedangkan itu adalah buah-buah yang banyak tumbuh diantara semak-semak. Ada bluberry, raspberry, redberry, canberry dan lainnya. Buah ini sangat sehat dan dibutuhkan tubuh kita.”



Ox terkesima. Dia sama sekali tak menyangka teman barunya itu begitu pandai.



“Dan yang ini adalah sejenis pohon talas. Kita dapat menggalinya untuk mendapatkan ubinya. Ubi itu bisa menjadi makanan pokok. Cuma hati-hati saat mengolahnya, bisa gatal-gatal.”


“Wow! Kau pandai sekali Naja,” katanya kagum.



Pranaja tersenyum. Lalu dia mengajak Ox kembali ke desa karena hari sudah sore. Sesampainya kembali di desa, Chef Rich Pranaja menggelar hasil pecariannya dengan Ox. Ternyata banyak juga. Ada talas, jamur, pegagan, ceremai, bayam berduri, asparagus, daun mint, kemangi, tomat, raspberry, blueberry, greenberry dan redberry. Kemudian dia pun langsung mengolahnya. Ox dan beberapa orang yang bekerja di dapur mengamatinya dengan seksama.



“Hah? Ini semua bisa dimakan?”

__ADS_1


__ADS_2