
PEKERJA BARU PERKEBUNAN
Meskipun tidak mudah, tapi obat terbaik bagi luka patah hati adalah jatuh cinta lagi. Menemukan cinta sejati yang tidak mengenal takdir kematian, karena cinta sejati akan dibawa sampai ke syurga.
Sejak hari pertama bekerja di perkebunan, mandor Balun selalu memperhatikan Somawangi. Hati kecilnya selalu mengatakan ada sesuatu yang aneh dengan pekerja barunya itu. Kulitnya terlalu halus untuk ukuran orang miskin seperti dirinya, dan wajahnya terlalu bersih untuk bekerja di perkebunan. Bagaikan mutiara di tengah batu hitam, Somawangi menjadi pusat perhatian pekerja-pekerja lainnya.
Selain bersih dan gagah. Somawangi juga baik dan memiliki tenaga yang sangat besar. Dia mampu mengangkat empat karung mrica dengan sekali angkat, dan memindah gerobak yang terperosok lumpur dengan kedua tangannya. Badannya yang tinggi menjulang juga membuat dia lebih menonjol di banding rekan-rekannya saat berkumpul. Hanya saja dia tak banyak berbicara.
Yang ada di fikirannya hanya bekerja dan bekerja. Sesekali dia tersenyum saat ada temannya yang bercanda atau menyapanya. Selain itu jarang sekali dia terdengar suaranya, kecuali saat mandor Balun memgajaknya berbicara.
“Soma, kau sudah makan pagi?” tanya mandor Balun.
Somawangi menganggukkan kepalanya.
“Sudah kang.”
“In ada sedikit makanan dari isteriku kau makanlah.”
“Terimakasih, kang.”
Somawangi menerima kantong penuh makanan itu lalu kembali kepada teman-temannya. Mereka saling berpandangan tak mengerti, sekian lama mereka bekerja, mandor Balun tidak pernah membagi makanannya.
“Mandor kok baik banget ya sama si Soma?” tanya salah satu dari mereka.
“Soma kan rajin kerjanya. Lihat tuh sekarang perkebunan terlihat lebih bersih dan rapi daripada sebelumnya,” jawab temannya.
Teman-teman lainnya menganggukkan kepalanya. Lingkungan perkebunan seluas lima hektar itu sekarang lebih rapi dan bersih. Bahkan di tepiannya di beri pagar pembatas oleh Somawangi. Pagar itu dicat pakai batu kapur terbaik, lalu ada tumbuhan waluh yang merambat dengan bunganya berwarna kuning yang bermekaran.
“Ayo kang kita makan bersama,” kata Soma sambil menggelar makanan pemberian mandor Balun saat istirahat.
Mereka segera duduk melingkari Soma sambil menikmati jajanan yang gurih dan lezat yang tidak mesti mereka dapatkan seminggu sekali.
“Eh, kamu nggak ikut makan Soma?”
“Sudah kang, tadi aku makan sepotong.”
“Jarang-jarang lo kita dapat makanan enak.”
Somawangi tersenyum. Sekarang dia merasakan nikmatnya menjadi orang kecil, bisa merasakan makanan enak. Padahal biasanya dia sampai bosan melihat banyak makanan yang disiapkan para abdi dalemnya di tanah Perdikan.
***
Sore itu Somawangi masih sibuk membersihkan rumput, sementara sebagian teman-temannya sudah berkemas untu pulang. Sudah tujuh hari dia bekerja disini, dan dia selalu pulang paling akhir. Sambil membersihkan sampah dedaunan dan merapikan peralatan, dia juga akan merawat tanaman waluhnya agar tumbuh subur.
Dia bahkan tidak sadar kalau puteri pemilik perkebunan sedang berkunjung kesitu sampai dia dipanggil olehnya.
__ADS_1
“Kang! Tolong bawakan keranjang ini ke dalam gerobak,” ujar gadis itu.
Soma segera bangkit dan menghampiri puteri ki Demang. Tapi di luar dugaannya, gadis itu tiba-tiba melotot begitu melihat wajahnya.
“Kau!” kata gadis itu sambil menunjuk wajahnya. “Ke..kenapa kau disini?”
Suara gadis itu terdengar ketus. Somawangi terlihat bingung, tapi dia diam menunduk. Lalu perempuan tua dibelakang gadis itu memegang tangannya.
“Ada apa Den Ayu. Kenapa kau marah-marah dengannya? Apa dia berbuat kesalahan?”
Gadis itu terdiam, tapi masih memandangnya tajam. Perempuan tua itu mengajak Den Ayunya untuk pergi dari tempat itu. Di dalam kereta, gadis itu masih terus memandangnya. Wajahnya tidak berubah terlihat marah dan galak.
“Apa yang kau lakukan Soma, kenapa Den Ayu Riyani marah kepadamu?”
Somawangi terkesiap kaget. Riyani? Owh, pantas Karangkobar ingin menjdohkannya dengan gadis itu. Cantik si, tapi galaknya minta ampun, batinnya.
“Tidak tau kang. Tiba-tiba dia memanggilku dan marah-marah,” sahut Soma.
Mandor Balun menganggukkan kepalanya. Dia juga melihat kejadiannya, Soma sedang sibuk bekerja saat Riyani memanggilnya. Aneh, ada apa dengan Den Ayu? batinnya.
Somawangi menatap wajah mandor Balun dengan pandangan aneh.
“Aku mengenal dia? Tentu saja tidak.”
Mandor Balun malah tertawa.
“Eh, maaf salah nanya. Orang kecil kaya kita mana kenal sama puteri ki Demang.”
Mandor masih tertawa, sementara Somawangi terus memandang kepergian Riyani.
***
Di dalam kereta, Riyani masih saja marah-marah. maksud hati pergi ke perkebunan untuk melupakan mimpi yang menghantuinya, eh malah disana ketemu laangsung sama orangnya.
“Pokoknya mbok Dal harus bilang pada mandor Balun untuk memecat orang itu!” katanya ketus.
Mbok Dal kelihatan bingung, melihat junjungannya tambah uring-uringan. Sementara kang Diro diam saja, asyik mengendalikan keretanya.
“Lho Den Ayu kenapa sih? Memang kenal sama pekerja barunya kang Balun?”
__ADS_1
“Kenal?” bibir Riyani jadi manyun. “Tentu saja tidak. Ih. amit-amit.”
“Terus kenapa harus memecatnya?”
“Soalnya dia yang selalu mengganggu tidurku setiap malam.”
Hah? Mbok Dal tersentak kaget. Kang Diro bahkan menghentikan keretanya seketika.
“Apa? Kalau begitu akan simbok laporkan pada ki Demang untuk menangkapnya,” ujarnya.
“Biar aku hajar orang baru itu,” kata kang Diro.
“Berani mengganggu Den Ayu.”
Rupanya sekarang mbok Dal dan Kang Diro ikutan marah. Riyani menepuk dahinya.
“Ditangkap bagaimana mbok. Wong dia itu datangnya ke mimpi aku,” ujarnya. “Huh! Kaya begitu saja pada nggak nyambung!”
Hah? Mimpi? Untuk kedua kalinya Simbok terkesiap kaget, sementara kang Diro hanya menggelengkan kepalanya. Waduh, kalau sudah sampai ke mimpi, ini pasti urusan hati. Dasar anak muda, batinnya.
“Jadi maksud Den Ayu, orang yang selama tujuh malam ini datang ke mimpi Den Ayu orang itu?” tanya mbok Dal sambil menahan senyum. “Dan Den Ayu sama sekali belum pernah bertemu dengannya?”
Riyani menganggukkan kepalanya. Mbok Dal menutup mulutnya karena tidak bisa menahan tawa. Kang Diro melajukan keretanya kembali, tapi mulutnya ikut tersenyum. Sementara Riyani membuang pandangannya keluar lewat jendela kereta. Wajahnya masih kesal. Ada ya orang yang di dunia mimpi dan dunia nyata sama nyebelinnya.
Mbok Dal mendekatkan wajahnya ke telinga Riyani.
“Tapi Den Ayu, ngomong-ngomong, pekerja baru mandor Balun ganteng banget lo?” katanya dengan suara genit.
Riyani langsung menengok ke arah mbok Dal dengan wajah semakin kesal.
“Pokoknya dia harus dipecat. Titik!” katanya.
“Alasannya apa Den Ayu?”
“Tidak pake alasan!”
“Karena dia sering datang dalam mimpi?”
“Tidak pake alasan!! Titik!!!”
Suara Riyani semakin ketus.
“Baik Den Ayu. Nanti aku akan menyampaikannya kepada mandor Balun,” sahut kang Diro.
__ADS_1
Mbok Dal terdiam, tapi bibirnya masih berusaha menahan tawa. Riyani membuang pandangannya keluar jendela kembali. Mengabarkan kekesalannya pada angin senja yang bertiup gelisah mengantar sang raja surya menuju peraduannya.