RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 77 REKAYASA GENETIKA


__ADS_3

EPS 77 REKAYASA GENETIKA


Seperti sebuah buku ensiklopedia yang terbuka untuk dibaca siapapun, Pranaja mulai membuka selubung yang menunjukkan siapa dirinya. Setelah Kakek Ziyed mempertanyakan level keilmuannya yang tinggi di usia yang masih sangat muda. Kini Alisher pun mempertanyakan level kedigdayaan pemuda cungkring itu. Banyak hal yang dilakukannya tidak masuk dalam akal pikiran , karena melebihi standar kemampuan manusia umumnya.


Dan kini dia bersiap membuka jati dirinya yang sebenarnya, yang telah menumbuhkan rasa penasaram di hati Alisher. Hmm, Pranaja memang seperti malam yang selalu menghadirkan misteri. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di dalam kegelapannya.


“Bersiaplah Alisher! Suruh anak buahmu menyalakan paritnya!” seru Pranaja.


Alisher berpaling ke arah anak buahnya.


“Nyalakan obor kalian. Dalam hitungan ketiga, lemparkan bersama ke dalam parit.”


Adam dan kawan-kawannya segera menyalakan obor yang telah dipersiapkan sejak sore. Setelah itu menunggu aba-aba dari Alisher.


“Siap!”


Begitu melihat gundukan pasir itu mendekati parit, dia mulai memberikan aba-aba. Nampak kilatan-kilatan listrik berdaya tinggi keluar dari dalam pasir, tapi tidak dapat menjangkau mereka, karena Pranaja meminta mereka berdiri merapat di tengah hamparan batu.


“Satu!” Alisher mulai menghitung. “Dua!”


Begitu dia melihat monster-monster keluar dari dalam pasir, dia segera memberikan aba-aba pada hitungan ketiga.


“Tiga!”


Para pengawalnya langsung melemparkan obornya ke dalam parit. Seketika api berkobar tinggi ke udara. Tumpukan kayu akasia kering itu sangat mudah terbakar. Puluhan Cacing Maut Gurun Gobi yang masih melayang di udara itu langsung terbakar.



“Kiyeeeeeek! Kiyeeeek!”



Mereka menjerit keras. Suara beresonansi tinggi itu langsung menyerang sistem pendengaran mereka. Untung Alisher, Pranaja dan yang lainnya telah menutup telinga mereka. Sesaat kemudian tubuh-tubuh monster itu jatuh berdebum ke bumi, bergelimpangan kesana kemari.



“Tembak!” teriak Alsher lagi.



Mereka langsung memberondong dengan senjata AK 47-nya.



“Tatatatatatatata…!”


__ADS_1


Tubuh monster yang sedang sekarat itu langsung hancur berantakan. Puluhan monster lainnya yang selamat, langsung masuk kembali ke dalam pasir. Tapi Pranaja tidak tinggal diam. Tubuh cungkringnya melompat tinggi melewati kobaran api tinggi yang mengelilingi hamparan batu. Lalu melesat mengejar monster-monster itu. Pendengarannya yang tajam dapat mendeteksi ke arah mana monster-monster itu melarikan diri walau di dalam pasir.



Setelah jaraknya jauh dari hamparan batu, Pranaja mendaratkan tubuhnya. Tangannya diangkat ke udara. Begitu kakinya mendarat, tangannya diayunkan cepat menyentuh bumi.



“Kekuatan Tirtanala!” teriaknya.



Begitu tangannya menyentuh tanah, hawa dingin yang membekukan dan menghancurkan langsung meresap. Benda-benda pada jarak seratus meter pergi langsung membeku, termasuk monster-monster Cacing Maut Gurun Gobi. Pergerakan mereka langsung terhenti. Tubuhnya membeku di dalam padang pasir. Setelah itu tangannya diangkat lagi ke udara.



“Heya!”



Segala benda yang membeku termasuk bebatuan besar, dan makhluk hidup yang berada dalam jarak seratus meter persegi langsung hancur seperti patung kaca yang dihancurkan. Berubah menjadi serpihan-serpihan.



“Prang! Pyar!”


“Kiyeeeeek!”


“Kiyeeeeek!”



Pranaja terkesiap kaget. Terdengar teriakan yang lebih keras lagi. Lalu pendengarannya yang tajam menangkap pergerakan dua ekor Cacing Maut di dalam pasir. Kali ini terasa lebih kuat dan lebih menggetarkan. Belum lagi sadar dari rasa terkejutnya, tiba-tiba dua ekor monster mengerikan itu muncul di hadapannya.



‘Byur!



Butiran pasir terlempar tinggi ke udara, begitu makhluk-makhluk itu muncul di depan Pranaja. Kali ini jauh lebih besar dan lebih brutal. Lingkar tubuhnya sebesar gajah dan panjangnya mencapai sepuluh meter. Tubuh mereka menjulang tinggi, sedang kedua mulutunya menunduk ke arah Pranja. Layaknya dua ekor ular Kobra yang siap mematuk dirinya.



“Kiyeek! Kiyeeek!”


__ADS_1


Mereka menyerang dengan suaranya yang beresonansi sangat tinggi. Untunglah Pranaja sudah menutup pendengarannya, kalau tidak, gendang telinganya akan pecah menerima frekwensi suara itu.



“Hap!”


Tubuh Pranaja melompat ke belakang. Saat mulut monster-monster itu terbuka, gumpalan cahaya listrik berdaya sangat tinggi langsung menyerangnya. Dia menyambutnya.


“Pukulan Dinding Bayangan!”


Dinding angin setebal satu meter bergerak ke atas. Namun sinar listrik itu berhasil membuyarkan konsentrasinya. Sinar itu terus melesat langsung tepat mengenai ulu hatinya.


“Slap!”


“Ugh!”


Tubuh pemuda cungkring itu terlampar jauh ke belakang. Untunglah tubuhnya dilindungi baju T-Shield 313216 dan kekuatan Lembu Sekilan yang menyelubungi seluruh tubuhnya. Sinar listrik itu tidak benar-benar mengenai tubuhnya. Hanya kekuatan daya dorongnya yang membuatnya terpental.


Pranaja langsung bangkit berdiri.


“Kekuatan Geni Sawiji!”


Seketika seluruh tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki diselubungi api berwarna biru yang kekuatan panasnya tiga kali lipat api biasa. Kemudian gumpalan api itu melesat ke udara. Membuat gerakan melingkar, seperti sebuah atraksi pesawat tempur! Dan melesat kembali turun ke arah tubuh kedua monster itu.


‘Uhuiii’


Nampaknya Pranaja ingin bersenang-senang dahulu untk menghilangkan ketegangan. Kedua tangan dan kakinya diluruskan. Ketika salah satu mulut monster itu terbuka, tubuhnya langsung melesak masuk ke dalamnya.


“Slap!”


Di dalam mulut makhluk itu tubuhnya berputar, meninggalkan jejak api yang sangat panas. Mulut makhluk raksasa itu langsung terbakar habis. Lalu tubuhnya terus melayang, menembus tubuh mahluk mengerikan itu sampai ekornya. Terus keluar menembus kulitnya yang sangat tebal dan berlendir. Makhluk itu pun tewas dengan luka dalam yang sangat mengerikan. Seluruh tubuh bagian dalamnya langsung terbakar dan darahnya ikut mendidih.


“Heya!”


Bum!


Tubuh makhluk raksasa itu jatuh berdebum ke bumi. Menerbangkan debu dan butiran pasir ke udara. Menebarkan aroma gosong bau daging matang kemana-mana.


Melihat pasangannya tewas mengenaskan, monster yang satunya dengan cepat masuk kembali ke dalam pasir dan kabur dari tempat itu. Gumpalan api biru itu terbang di udara mengikuti pergerakan makhluk itu. Rupanya Pranaja ingin mengetahui sarang dari Cacing-Cacing Maut Gurun Gobi yang tiba-tiba bermunculan.


Makhluk itu terus bergerak melintasai Gurun Gobi yang luasnya hampir sama dengan luas bumi Nusantara. Pranaja terus mengikutinya dari udara. Dari kejauhan dia melihat bangunan-bangunan besar di tengah gurun yang sangat tersembunyi. Dan pergerakan makhluk itu jelas mengarah ke sana! Pranaja menyembunyikan tubuhnya di balik awan.


“Hah? Bangunan apa itu? Kenapa letaknya di tengah gurun yang mustahil dilewati manusia? Dan Cacing Maut Gurun Gobi bersarang di sana?” beribu pertanyaan muncul dalam benaknya.


Nalurinya sebagai agen rahasia langsung muncul. Diamatinya dengan seksama lokasi tempat itu. Jelas bukan jalur yang biasa dilewati para pedagang. Terdapat tiga bangunan besar berbentuk limas dan satu berbentuk silinder bertuliskan LABORATORY.


. Di samping itu ada bangunan-bangunan kecil lainnya, termasuk pos pemeriksaan keamanan di pintu masuk dan gudang limbah kimia. Tidak ada identitas apapun atau papan nama yang tertera di sekitarnya.

__ADS_1


“Hm, Cacing Maut Gurun Gobi dan limbah zat Kimia? Apa mungkin monster-monster itu merupakan makhluk-makhluk hasil Rekayasa Genetika?”


__ADS_2