RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 119 SEPERTI BURUNG ABABIL


__ADS_3

EPS 119 SEPERTI BURUNG ABABIL


Sementara derap langkah pasukan darat Abroha sampailah diatas kawah beku yang tertutup lapisan es. Tetapi sesungguhnya jauh di dalamnya ada hawa panas yang tersimpan selama puluhan tahun. Mereka terus mendesak keluar seiring cahaya matahari yang mulai melelehkan lapisan es di permukaannya.


Pasukan kavaleri kerajaan Merkurius itu terus melangkah jumawa sambil menghancurkan setiap benda yang menghalangi laju pasukan itu. Mereka terus meneriakkan yel-yel dan lagu-lagu penyemangat saat dalam situasi perang. Tanpa mereka sadari lapisan es yang mereka injak meleleh lebih cepat karena hawa panas yang terus bergolak.


“Ledakkan sekarang Amita!” teriak Pranaja.


Pesawat Amita meluncurkan puluhan bom penghancur yang diarahkan ke beberapa titik strategis.


Suit! Suit! Suit!


Bum! Bum! Bum!


Lapisan es itu pecah, puluhan kendaraan lapis baja berbentuk gajah android yang berjalan di barisan depan terjun bebas ke dalam kawah dan hilang tak berbekas. Keadaan menjadi kacau, pasukan gajah Abroha yang berjalan di belakangnya menjadi panik. Mereka segera menghentikan langkahnya. Dalam keadaan begitu pesawat Amita muncul lagi dari balik bukit dan langsung menghujani mereka roket anti tank..


Blar! Blar! Blar!


Abroha menjadi gusar.


“Alahab, bukankah itu pesawat tempur milik puteriku?”


Alahab menganggukkan kepalanya. Dia memperbesar tangkapan layar pesawat yang menghjani mereka dengan roket penghancur tank tersebut.


“Benar yang mulia. Saya pastikan itu pesawat milik Amita.”


“Mengapa dia malah menembaki kita?”


“Hamba belum tahu paduka. Tapi dugaanku, yang mengendalikan pesawat itu pasti bukan Amita. Berarti benar, puteri paduka ada bersama mereka.”


Wajah Abroha langsung mengeras karena marah. Tangannya mengepal kencang.


“Balas serangannya Alahab. Hancurkan pesawat itu tanpa ampun!”


Alahab langsung merespon perintah bosnya. Dia menyuruh pasukan gajahnya untuk menghancurkan pesawat itu. Mereka langsung mempersiapkan diri. Belalai mereka yang tadinya lemas, tiba-tiba menjadi kaku dan menghadap ke atas, menyasar pada pesawat Amita yang terus melakukan manuver di udara.


“Tembak!” teriak Alahab.


Ribuan peluru kendali darat ke udara meluncur cepat mengejar pesawat Amita. Dengan tenang gadis cantik itu terus mengendalikan pesawatnya, menghindar dari kejaran rudal-rudal itu. Namun jumlah rudal itu terlalu banyak. Gerakan pesawatnya bahkan sudah terkunci oleh gerakan mereka. Dalam waktu beberapa detik lagi, ribuan peluru itu akan menghancurkan pesawat Amita menjadi butiran debu.


Namun selalu datang keajaiban di saat-saat genting. Tiba-tiba Spot dan Pranaja muncul dari dalam tanah dan berdiri kokoh menghadang mereka. Spot menyemburkan gumpalan api sebesar bukit ke arah rudal-rudal itu. Akibatnya mereka meledak sebelum mengenai sasarannya.


Bum! Bum! Bum! Bum! Bum! Bum! Bum!

__ADS_1


Gumpalan api dan asap memenuhi angkasa. Serpihan-serpihan logamnya berjatuhan kembali ke bumi. Menyebabkan hujan butiran logam yang cukup menakjubkan. Suaranya menggema menggetarkan saat serpihan-serpihan itu menghantam permukaan bumi.


Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang!


Setelah itu Pranaja mengarahkan Spot untuk turun di depan pasukan gajah.


“Hahaha..ternyata kau cukup pemberani menghadapi aku dan anak buahku. Kau tidak akan mampu melawan ribuan pasukan gajahku sendirian,” tawa Abroha terdengar getir.


“Raja kerajaan Bumi tidak sendirian, aku ada bersamanya,” balas seseorang dari atas.


Semua terkejut. Mereka menoleh keatas. Seorang gadis cantik duduk di dalam kokpit pesawatnya yang berhenti mengapung di udara. Ya, ternyata suara itu milik puteri Abroha yang membelot, puteri Amita.



Tentu saja Abroha dan anak buahnya terkejut bukan kepalang. Ternyata orang yang berada di dalam pesawat Amita bukan orang lain. Tapi Amita sendiri. Tapi, kenapa gadis itu berbalik melawan ayahnya?


***


Sementara di atas sebuah bukit kecil, Shamtek masih melakukan gerakan-gerakan aneh, sambil terus mengucapkan sesuatu yang sulit dicerna maknanya. Penyihir Yang Agung itu menghimpun kekuatan-kekuatan dari elemen-elemen bumi yang bersifat metafisis dan mistis.



“Terapangkalimaredagaumakianghyunawreh!” teriaknya membelah angkasa.




Kilat bersahut-sahutan diiringi hujan badai yang dahsyat. Tapi anehnya tubuh Shantek sama sekali tak tersentuh air. Jubahnya yang berkibar-kibar tetap kering dan bersih. Tidak terlihat basah sama sekali. Dan akhirnya pada puncak ritualnya, tongkatnya dia hunjamkan dengan keras ke dalam tanah.



“Hyumkalbajtyakrah Halimut!” teriaknya kembali.



Bumi bergetar hebat. Langit kembali menghitam. Lalu dari balik bukit, membelakangi tubuhnya muncullah ribuan burung berbulu hitam pekat. Bentuk tubuhnya seperti burung gagak, tetapi besarnya seukuran rajawali. Dari paruh, kaki dan cakarnya terbuat dari logam yang paling keras di bumi, Lonsdaleite, logam yang terbentuk saat meteorit yang mengandung grafit jatuh menghujam ke bumi. Logam ini hanya meleleh pada suhu lebih dari 3400 derajat celcius.



Awk! Awk! Awk! Awk! Awk! Awk! Awk!


__ADS_1


Ratusan burung metafisik berwarna hitam itu melayang tinggi ke udara. Lalu terbang menuju lokasi pertempuran antara Pranaja dan Abroha. Raja Merkurius yang masih berdiri terpaku itu seperti tak percaya dengan apa yang diucapkan Amita, puteri kesayangannya.



“Am..Amita, a..apa yang kau ucapkan?” tanya Abroha. “Apa yang mereka lakukan padamu, hingga kau ingin mengkhianati ayahmu sendiri?”


Mendengar kata-kata ayahnya, Amita malah semakin marah.


“Tidak perlu lagi berbohong Abroha. Kau bukan ayahku, tapi pembunuh ayahku. Shamtek sudah menceritakan semuanya!” teriak Amita dengan nada penuh kemarahan.



Tapi kedua matanya meneteskan air mata. Bagimanapun dia sangat menyayangi Abroha, tidak mudah baginya mengubah rasa sayang itu menjadi rasa benci.



Abroha menundukkan kepalanya. Darahnya benar-benar mendidih.


“Shamtek! Keluar kau! Hadapi aku!” teriaknya.



Tiba-tiba ratusan burung mirip gagak hitam raksasa meliuk turun dari langit. Mereka langsung masuk ke dalam kawah panas di belakang Pranaja. Beberapa saat kemudian, burung-burung aneh itu muncul lagi dari dalam kawah tanpa luka bakar sedikitpun. Bahkan di dalam cakar mereka, menggenggam batu-batu api dari dalam kawah yang sangat panas.



Awk! Awk! Awk! Awk! Awk! Awk! Awk!



Dari ketinggian mereka menembakkan batu-batu panas itu ke arah pasukan gajah android Abroha. Dengan kecepatan tinggi batu-batu itu menghantam pasukan gajah yang masih terpaku. Batuan nikel lebih kuat dari pada baja, pada kecepatan dan suhu tinggi mampu menembus kulit logam pasukan gajah setebal limabelas sentimeter. Akibatnya sangat mengerikan, tubuh robot robot gajah itu langsung meledak hancur berkeping-keping.



Blar! Blar! Blar! Blar! Blar! Blar! Blar!



Pranaja terkesiap melihatnya. Selama hidupnya yang penuh dengan hal yang tidak masuk akal, baru kali ini dia melihat burung gagak hitam raksasa berbondong-bondong menyerang pasukan gajah. Pikirannya langsung teringat dengan kisah burung ababil dalam kitab suci. Hm, benar-benar menakjubkan, walaupun jelas mereka bukan burung ababil.



Sedangkan Abroha yang baru menyadari keadaan yang terjadi langsung memberi perintah untuk membalas serangan. Terjadilan pertempuran antara pasukan gajah android dan pasukan burung gagak ajaib. Tapi burung-burung itu jelas lebih unggul. Mereka akan terbang tinggi menghindari serangan pasukan gajah, lalu menyerang kembali dengan batu-batu panas yang di ambil dari dalam kawah.

__ADS_1


Aek! Aek! Aek!


__ADS_2