
EPS 132 KEMBALI KE SOMAWANGI
Pranaja dan Anastassya masih saling pandang di depan para pengawalnya yang berdiri mematung. Mereka hanya bisa berteriak dalam hati memanggil nama kedua sejoli yang sedang larut dalam perasaan masing-masing. Seolah tidak mengindahkan keberadaan mereka di sana.
“Hem!” tiba-tiba terdengar suara batuk ayah dari ruang dalam.
Pranaja dan Anastassya langsung tersadar. Dengan wajah tersipu mereka memalingkan wajahnya ke arah pintu masuk, tapi tidak ada siapapun disitu. Ayah pasti melihat saat dia sedang berpandangan dengan Ana, batin Pranaja. Sementara Ana hanya menggelengkan kepala saja. Dasar keluarga yang aneh, batinnya.
“Eh..mm lalu bagaimana caranya agar para pengawalku bisa bergerak lagi Pranaja?”
“Suruh saja anak buahmu minta maaf, pasti ayah maafkan.”
“Bagaimana caranya? Mulut mereka kan terkunci.”
“Minta maaf saja dalam hati. Ayah mendengarnya kok.”
Ana memandang wajah Pranaja penuh rasa tak percaya. Tapi dia lalu melangkah menghampiri para pengawalnya dan meminta mereka mengucapkan maaf kepada ayah Pranaja walau dalam hati. Perintah itu segera dilaksanakan. Mereka meminta maaf dalam hati, tak lama kemudian tubuh mereka langsung bisa bergerak kembali.
“Huhuhu…” suara tangis mereka yang sejak tadi tertahan tiba-tiba keluar serentak.
Pranaja dan Ana malah terkekeh melihat polah manusia-manusia keras dan kejam itu. Seperti anak kecil lagi, tubuh mereka menggelosoh lemas ke lantai dan beruarai air mata. Ana segera menghardik mereka.
“Hai sudah diam pak Firman, Doyo, Opi, Kebo! Apa kalian tidak malu menangis sesenggukkan begitu? Kaya anak kecil!”
“Hah?”
__ADS_1
Mendengar bentakan Ana, mereka langsung terdiam dan saling berpandangan. Perlahan mereka baru menyadari bahwa tubuh mereka sudah bisa bergerak lagi. Wajah mereka jadi tersipu malu. Mereka langsung berdiri tegak lagi di depan Ana dan Pranaja.
“Makanya kalau bertamu itu yang sopan, pakai tata karma! Lagian ini kan rumah temanku, kenapa kalian bertingkah sok jagoan? Dibikin jadi patung malah menangis! Sekarang kalian yang malu kan?” Ana ngedumel panjang lebar menyeramahi mereka. “Awas ya! Aku akan mengadu pada ayah, biar kalian dihukum!”
Mendengar ancaman majikan mudanya, wajah mereka langsung memucat. Jangankan manusia, setan saja takut kalau melihat Pramono sedang marah.
“Sudah Ana, jangan kau turuti kemarahanmu. Tanpa kau hukum mereka juga sudah mendapatkan hukuman dari ayah, iya kan?” ucap Pranaja sambil menggenggam tangan Ana.
Ana mendengus kesal.
“Huh! Untung ada Pranaja! Baiklah, untuk kali ini aku akan mengampuni kalian!” sungutnya.
Pranaja mengajak gadis itu masuk kembali ke dalam rumah untuk menemui ayah dan ibu Pranaja, sekalian pamitan karena dia sudah ditunggu ayahnya, Pramono, di rumah.
“Om, maafkan aku dan para pengawal ayahku ya?” kata Ana.
Lagi-lagi Ana tersipu malu.
“Eh, iya Ayah.”
Lalu dia juga berpamitan kepada ibu. Perempuan cantik itu memeluk tubuh Ana erat sekali. Lalu dia berbisik di telinga Ana.
“Terimakasih Ana, kau sudah membuat puteraku berbunga-bunga. Baru kali ini lho, Pranaja membawa pulang teman gadisnya. Biasanya dia paling takut sama perempuan.”
Wajah Pranaja langsung memerah karena malu.
“Ah, ibu masa membongkar aib putera sendiri,” ujarnya.
__ADS_1
Ibu dan Ana malah terkekeh melihat wajah merah Pranaja yang mirip udang direbus.
“Terimakasih Ibu. Ana pasti akan sering mampir kesini, kalau ada acara di Jakarta.”
Ibu memeluk kembali tubuh gadis itu lama sekali, layaknya memeluk tubuh puterinya sendiri. Nampak ada titik air di kedua sudut matanya.
“Ibu pasti lagi kangen sama kak Keysa. Anak ibu yang cantik itu,” goda Pranaja.
Kali ini ibu yang nampak tersipu malu. Memeluk Ana membuatnya merasa rindu pada puteri sulungnya yang menjadi dokter ahli bedah plastik di Korea. Setelah beberapa saat akhirnya dia melepaskan pelukannya, dan merelakan kepergian Ana.
***
Akhirnya sendiri lagi. Mengabiskan waktu liburnya dengan mengarungi dunia maya dan dunia nyata, Pranaja menyempatkan diri menemui para leluhurnya di dukuh Somawangi. Rupanya dia sudah merasa rindu pada seluruh kerabatnya trah Somawangi, terutama kepada Panembahan Mbah Iro. Kali ini dia datang bersama ayahnya.
Kampung gaib yang hanya bisa dikunjungi keturunan Begawan Wanayasa itu, masih seperti dulu saat dia datang pertama kali. Melewati jalan setapak yang terbentang lurus dan berakhir di sebuah gundukan tanah menyerupai bukit kecil. Anehnya jalan setapak dan bukit itu seperti berada di dalam gelembung air raksasa. Mungkin gelembung inilah yang dimaksud sebagai selubung ghaib yang menutup dukuh Somawangi dari pandangan mata manusia.
Pranaja dan ayahnya lalu menembus selubung gaib itu. Melangkahkan kakinya masuk ke dalam gelembung udara. Mendadak bentang alam di depannya tiba-tiba seperti berputar cepat dan kemudian berhenti. Menyuguhkan pemandangan baru yang sama sekali berbeda dengan saat dia masuk tadi.
Di depannya kini terbentang jalan yang cukup lebar dan terawat. Belum beraspal tapi tersusun dari batu keras yang dibentuk seperti batu bata, kemudian ditata rapi sepanjang jalan, dengan permukaan yang cukup lebar. Hampir menyerupai aspal, tetapi jauh lebih kuat. Di kanan-kirinya di beri pagar kayu yang diberi warna putih, dan ditanami pohon Waluh. Bunga-bunganya yang berwarna kuning nampak indah menghiasai jalan utama di dukuh Somawangi ini.
Dukuh Somawangi begitu rapi dan teratur. Setelah melewai persawahan dan perkebunan, mereka pun masuk ke perkampungan. Deretan rumah-rumah kayu yang tertata rapi dengan desain dan arah yang sama, seperti huruf L. Semua rumah terlihat menghadap ke arah jalan utama. Rumah-rumah itu hanya memiliki dua pintu yang tidak sejajar. Satu pintu masuk ruang depan, dan satu pintu keluar di ruang belakang. Tidak ada dua pintu yang berlawanan arah atau lurus.
Atapnya bukan dari gendeng atau seng, tapi dari ijuk, alang-alang dan daun nipah. Dengan kondisi hutan dan pepohonan yang terjaga, air pun mengalir ke setiap rumah. Mengisi kolam-kolam ikan di belakang, dan tempat cuci tangan dan bersuci di depan rumah. Airnya nampak bening dan sehat, sehingga anak-anak merasa aman mandi di dengan air itu.
Penduduk Somawangi yang sudah mengetahui rencana kedatangannya sudah berkumpul di tepi jalan. Mereka menyambut kedatangan calon pemimpin mereka, keturunan Trah Somawangi Yang Terpilih, Rich Pranaja. Begitu masuk perkampungan mereka langsung menyambutnya dengan senyum yang ramah. Tidak ada sorak sorai atau perayaan yang gegap gempita. Sambutan yang sederhana tapi penuh dengan rasa persaudaraan.
“Selamat datang kembali saudaraku,” sapa mereka.
Satu persatu mereka menyalami dan memeluk tubuh ayah dan Pranaja.
“Terimakasih atas sambutan kalian,” kata Ayah penuh rasa haru.
__ADS_1
Jalan utama yang dilewati mereka berhenti pada sebuah pohon beringin yang sangat besar. Bergitu besarnya beringin itu hingga seperti gundukan bukit kecil. Dan di belakang pohon raksasa itu, berdiri kokoh rumah adat Jawa yang sangat luas dan sangat besar.
Itulah rumah pemimpin Padukuhan Somawangi Panembahan Mbah Iro.