
EPS 134 TUGAS BARU
Alam semesta memang telah sejak lama memukau manusia dengan keindahannya dan juga misteri di dalamnya. Dan perjalanan sejarah manusia membuktikan kalau keingintahuan untuk menyingkap misteri di alam semesta telah membawa manusia dalam perjalanan panjang penelitian dan penjelajahan untuk mengungkap satu demi satu misteri yang menyelimuti alam yang maha luas.
Gugusan asteroid yang telah dihancurkan menjadi serpihan-serpihan batu angkasa itu langsung tersedot masuk ke dalam atmosfir Bumi. Mereka tertarik oleh gaya gravitasi planet yang paling dekat. Begitu masuk dalam atmosfer, bebatuan angkasa itu langsung melesat turun ke bumi dengan kecepatan lima belas kilometer per detik. Menggesek lapisan atmosfir paling atas sehingga memunculkan cahaya. Orang-orang menyebutnya sebagai bintang jatuh.
Tubuh Pranaja kembali diselubungi api biru. Setelah itu melesat turun dengan kecepatan cahaya mendahului kecepatan batu-batu meteor tadi. Tidak sampai lima menit dia sudah mendarat kembali di tengah lembah Kedung Tangkil dimana Panembahan Mbah Iro masih bersamadi sambil menunggu kedatangannya.
“Aku kembali kakek!” teriaknya.
Panembahan Mbah Iro membuka matanya. Memandang tubuh Pranaja dengan tatapan takjub. Walaupun hanya melihat dengan mata batin, tetapi dia dapat merasakan kedahsyatan kekuatan baru yang dikuasai Pranaja. Dan dia belum pernah menyaksikan kekuatan pukulan sedahsyat itu.
“Tunggu sebentar kakek,” ucapnya sambil berlari ke tepi pertemuan sungai Serayu dan sungai Tambra tersebut. “Sebentar lagi ada bintang jatuh. Aku ingin berdoa sebanyak-banyaknya di atas sini,”
Lalu dia mengambil air wudhlu untuk melaksanakan sholat sunat. Kata orang-orang, berdoalah saat melihat bintang jatuh, maka doamu akan dikabulkan Tuhan. Walaupun hanya mitos belaka tetapi Pranaja ingin melakukannya. Selesai wudhlu dia naik ke atas batu besar yang berada di tengah lembah, untuk melaksanakan sholat sunat.
Panembahan Mbah Iro hanya melihatnya sekilas sambil tersenyum tipis, lalu membiarkan Pranaja melaksanakan keyakinannya.
“Berdoalah dengan sungguh-sungguh. Pasti Dewata akan mengabulkannya,” pesan Panembahan.
Pranaja mengangguk mantap. Lalu dia memejamkan matanya.
“Allohu Akbar,” Pranaja mengangkat kedua tangannya.
Panembahan Mbah Iro kembali memejamkan matanya, meneruskan samadinya. Dia juga membaca doa-doa dari kitab Irodarsulasikin. Perlahan jutaan meteor itu mulai nampak berjatuhan. Sinarnya mewarnai langit pada malam itu. Indah sekali. Seperti jutaan burung ababil melemparkan batu-batu bercahaya ke bumi. Seketika langit menjadi terang, mengguyur tubuh Pranaja yang sedang bersujud dan Panembahan yang sedang larut dalam pertapaannya.
__ADS_1
“Sring!”
Batu-batu meteor itu bersinar karena bergesekan dengan lapisan atmosfer bumi. Efek panasnya menghasilkan cahaya yang membakar serpihan batu meteor itu sampai habis. Yang tidak habis akan terus meluncur ke bumi menjadi batu meteorit.
Selesai sholat, Pranaja berdoa dengan khusyuk. Apalagi yang dimintanya kecuali ketetapan hati untuk memilih gadis-gadis yang terlanjur sayang kepadanya. Satu per satu wajah gadis-gadis cantik itu terpampang di layar imajinya. Miracle, Xenara, Edelweis, Ren. dan Anastassya.
Lalu muncul juga wajah gadis-gadis cantik yang belum dikenalnya. Eh, siapa mereka? Apa mereka juga akan terlibat cinta dengannya? Wadduh, bakalan tambah pusing nih.
“Stop! Stop! Kok jadi tambah banyak sih,” batin Pranaja sedikit panik.
Selesai berdoa dia tersenyum membuka matanya. Menikmati cahaya jutaan meteor di angkasa raya. Wow! Sungguh pemandangan yang sangat indah. Senyumnya pun semakin lebar menandakan hatinya yang sedang bahagia. Rasanya dia telah menumpahkan semua yang diinginkannya. Dan membuktikan kekuatannya kepada Panembahan Mbah Iro.
***
Tiga hari kemudian, Pranaja dan ayah sudah kembali ke Jakarta. Seperti pakaian yang habis dicuci, Pranaja merasakan jiwanya mejadi bersih. Kedewasaannya semakin bertambah setelah menyerap nilai-nilai kebijaksanaan yang diajarkan para tetua di Padukuhan Somawangi.
Ayah menganggukkan kepalanya.
“Benar. Nama aslinya memang Rana Sentika. Tetapi karena beliau di anggap paling tahu isi kitab Irodarsulasikin, maka orang-orang memangglnya Mbah Iro, artinya orang yang menguasai isi kitab leluhur Trah Somawangi itu. Sedangkan nama Panembahan adalah sebutan atau gelar yang disandang siapapun yang menjadi pemimpin Trah Somawangi.”
“Maksud ayah, kalau besok aku menjadi pemimpin Trah Somawangi, namaku berganti menjadi Panembahan Rich Pranaja, gitu?”
Ayah mengangguk lagi sambil tertawa.
Sementara Pranaja hanya terdiam dalam pikirnya. Panembahan Rich Pranaja? Rasanya kok aneh ya? Batinnya. Apalagi kalau orang-orang tahu sesungguhnya dia adalah agen rahasia dinas intelijen Inggris 009. Pasti namanya jadi bertambah panjang. Panembahan Rich Pranaja 009. Hehehe…Pranaja malah geli sendiri.
__ADS_1
Drrrttt..drrttt..!
?
Ponselnya berbunyi. Buruan Pranaja mengambilnya, ada gambar M di layarnya.
“M? Kenapa menelponku? Aku kan sedang llibur?”
“Liburmu dipersingkat, dikurangi satu hari. Ada hal penting yang harus segera kau lakukan untuk membantu agen 004 Lucra Venzi yang sudah ada di Jakarta dua bulan yang lalu. Dan minggu depan Lucra sudah akan melaksanakan tugasnya di luar Jakarta. Yaitu menyelusup ke dalam wilayah proyek Megapolitan City,” ujar M panjang lebar.
Wajah Pranaja berubah serius. Dia begitu fokus mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir bosnya di M16 itu.
“Oke. Jadi apa yang harus aku lakukan M?” tanya Pranaja.
“Kau temui penghubungmu di sektor limapuluh Megapolitan. Nama sandinya Crop, dengan nomer pin 476503. Ingat nomer pin ini baik-baik. Dalam lima detik nomer pin itu akan hilang dari layar ponselmu,” ujar M.
Setelah itu M langsung menutup sambungan teleponnya. Pranaja langsung menyimpan nomer Pin itu dalam memori otaknya. Lima detik kemudian semua informasi yang dikirimkan M ke dalam ponselnya terhapus dengan sendirinya.
“Megapolitan? Tampaknya aku harus kembali pulang kampung nih,” batinnya.
Pranaja membuka kembali laptopnya. Mempelajari kembali wilayah Megapolitan, calon hunian super elite seluas sepuluh ribu hektar yang terbentang sepanjang pulau Jawa bagian Selatan. Ada dua buah bukit yang mengapit wilayah itu yaitu perbukitan Kethileng dan perbukitan Grilangan. Juga di belah sebuah sungai besar, orang menyebutnya sungai Tambra dan di sisi utaranya dibatasi sungai Serayu.
Megapolitan adalah proyek ambisius taipan Amerika asal Indonesia, Subrata yang memiliki perusahaan property terbesar di dunia Subrata’s Holding Company. Satu persatu halaman profil perusahaan raksasa itu dia kuliti dan analisis sendiri. Memang ada yang aneh dengan proyek Megapolitan ini. Karena dari lahan sepuluh ribu hektar itu yang diperuntukkan untuk hunian hanya dua ribu hektar saja. Sisanya untuk apa?
“Hm, nampaknya aku harus melakukan pemetaan wilayah,” batinnya.
__ADS_1
Homebase mereka ada di titik koordinat sepuluh Megapolitan, tidak jauh dari perbukitan Kethileng yang dibiarkan tetap berdiri kokoh. Alasannya adalah untuk sabuk hijau menjaga tata guna air daerah dibawahnya. Tapi kenapa perusahaan sebesar mereka sampai menyewa tentara bayaran sekelas Blade Muller untuk menjaga situasi disana. Sesungguhnya siapa ‘musuh’ yang sedang mereka perangi?