
EPS128 JANGAN PERCAYA KEPADAKU
Kata orang bijak, dunia hanyalah sebuah tipuan. Segala sesuatu yang nampak oleh mata seringkali tidak sesuai kenyataan. Namun hati selalu mengatakan kebenaran. Maka jangan pernah menyembunyikan kebohongan karena kebenaran akan selalu menemukan jalannya. Seperti bayangan yang selalu menemukan pemiliknya saat mendung beranjak pergi.
Mata Pranaja terlihat berbinar mendengar kata-kata Anastassya Pramono.
“Serius? Kau akan mempromosikan aku kepada ayahmu?”
Ana menganggukkan kepalanya penuh semangat.
“Apa kualifikasimu?”
“Aku? Ijazah cuman SMA, kuliah belum kelar. Tapi aku bersedia bekerja apa saja.”
Ana malah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.
“Kuliah belum kelar sudah pusing cari kerja. Yang sudah lulus saja banyak yang masih belum dapat pekerjaan. Huh, memang manusia aneh.”
“Justru itu, aku ingin mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di dunia kerja. Biar saat lulus nanti aku sudah siap mental menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.”
Kata-kata Pranaja cukup membuat hati Ana menjadi takjub. Dia tak menyangka pemikiran pemuda itu begitu dewasa. Padahal biasanya anak seusia mereka sedang getol-getolnya memanfaatkan berbagai macam fasilitas yang di berikan orang tuanya. Termasuk dirinya.
“Lalu apa yang harus aku promosikan?” kata gadis itu kemudian.
Pranaja merenung sejenak. Kemudian menggelengkan kepalanya.
“Kalau hal itu merepotkanmu, kau tidak perlu melakukannya,” ucapnya. “Lagian aku juga tidak suka mendapatkan pekerjaan karena unsur pertemanan. Aku ingin dinilai karena kemampuanku, bukan karena kedekatan kita.”
“Kenapa?”
“Aku tidak akan pernah punya kebanggan. Dan itu juga tidak adil buat orang-orang yang lebih baik dariku.”
Ana tersenyum lebar.
“Wah, hebat! Cocok nih jadi calon suami,” ujarnya dengan wajah menggoda.
Tangan Pranaja bergerak cepat, menjitak kepala gadis jutek itu.
‘Pletak!’
“Adduh!” Ana meringis kesakitan. “Kenapa kau menjitak kepalaku?”
“Gantian,” jawab Pranaja santai.
“Kamu balas dendam?”
__ADS_1
“Nggak sih. Lagian kamu masih kecil sudah mikirin suami.”
“Kamu juga begitu.”
Pranaja mengernyitkan dahinya.
“Masih kuliah sudah mikir kerja,” sambung Ana.
Pranaja tersenyum, sedikit malu. Ditatapnya wajah mungil dan lucu itu. Rambutnya yang dikepang dua, pakai poni kuda dan pakaian kebesarannya yang aneh, tidak seperti gadis-gadis pada umumnya.
“Kenapa kau melihatku sambil senyum begitu. Jangan berpikir jorok ya, awas kamu!”
Senyum Pranaja malah semakin lebar.
“Aku lagi berpikir, kenapa kau suka banget berpakaian seperti itu. Celana pendek, kaos oblong, ditutup rompi dari kulit harimau dan sepatu dari kulit buaya, ckckck,” katanya. “Ana, memangnya kamu habis dari mana?”
Ana tersenyum tanpa merasa risih dengan penilaian Pranaja.
“Aku baru saja menjemput pesananku.”
“Pesananmu? Hm, coba aku tebak. Pesananmu kalau bukan binatang buas pasti binatang liar. Ya kan?”
“Tebakanmu benar, tapi tidak sepenuhnya tepat.”
“Maksudmu?”
“Aku baru saja menjemput bayi hibrida Gajah Mammooth dari Laboratorium Kloning di pulau Arkik, Rusia.”
Ana menganggukkan kepalanya.
“Mammoth adalah gajah purba yang punah di zaman es terakhir ribuan tahun lalu. Awalnya diperkirakan punah oleh perburuan, tapi secara lebih akurat diperkirakan binatang ini punah karena pemanasan global yang menyebabkan kepunahan periode kuarter.”
“Terus gajah purba ini dihidupkan kembali dengan metode kloning begitu?”
Kloning merupakan langkah penggandaan (pembuatan tiruan yang sama persis) dari suatu makhluk hidup dengan menggunakan kode DNA makhluk tersebut. Kloning hewan dapat dilakukan dengan teknik embryo splitting, blastomere dispersal, dan somatic cell nuclear transfer (SCNT).
“Para arkeolog Rusia banyak menemukan fosil-fosil mammoth di Arktik, dan penemuan ini membuat para ilmuwan sangat tertarik untuk menciptakan hibrida gajah mammoth.”
“Hibrida Gajah Mammooth? Bagaimana caranya?”
“Para ilmuwan Rusia gencar untuk melakukan restrukturisasi genom dengan menggabungkan DNA gajah Asia dengan DNA mammoth. Dan percobaan gila ini berhasil menciptakan makhluk baru, bayi hibrida gajah Sumatera dengan gajah Mammooth dalam rahim gajah buatan.”
“Dan disebut Gajah Mammooth Hybrid?”
“Tepat.”
Mulut Pranaja hanya terbuka lebar tanpa berkata-kata.
“Kau pasti belum percaya kan? Lihat ini,” kata Ana sambil menunjukkan layar ponselnya.
Pranaja langsung fokus menatap ponsel Ana. Nampak seekor hewan aneh yang sedang makan daun kelapa muda. Bentuknya seperti gajah, tapi sekujur tubuhnya di penuhi bulu yang tumbuh dengan lebat. Dan binatang itu benar-benar hidup. Pranaja memandang begitu takjub. Inikah yang disebut Gajah Mammooth Hybrid?
“Wow! It’s obviously incredible!” serunya tanpa sadar.
__ADS_1
“Kamu sekarang sudah yakin kan?”
Pranaja menggelengkan kepalanya.
“Belum sepenuhnya juga.”
“Kenapa?”
“Aku belum melihatnya langsung.”
Anastassya menggeser duduknya. Wajahnya dihadapkan persis ke wajah Pranaja.
“Kalau begitu tataplah mataku dalam-dalam Pranaja. Biar tumbuh keyakinan di dalam hatimu. Karena aku sudah melihatnya. Maksudku aku sudah melihat makhluk baru itu langsung dengan mataku sendiri.”
Pranaja menatap langsung ke dalam mata jernih itu. Terasa kesejukan yang membias di relung hatinya. Walaupun terihat jutek dan galak, Ana adalah gadis yang polos dan tulus. Beberapa saat mata mereka bertatapan. Tanpa sadar ada sesuatu yang bergetar lembut. Terasa ada sinyal yang tersambung diantara keduanya. Dan wajah mereka berubah menjadi merah jambu.
“Eh, oh, anu..emmh..sekarang kau yakin kan?” tanya Ana yang tersadar terlebih dulu dengan suara tergagap.
“Ups! Ya Ana, tentu saja aku yakin kepadamu, eh salah..maksudku aku yakin kalau Gajah Mammooth itu benar-benar ada,” katanya terbata-bata.
Mereka lalu terdiam, suasana menjadi kaku. Sejenak Pranaja membuang pandangan ke atas, melihat pesawat yang baru tinggal landas. Sedangkan Ana membuang pandangan ke bawah, melihat pesawat yang baru saja mendarat. Mereka berusaha mengendalikan degup jantungnya yang berdenyut-denyut tak terkendali. Setelah itu bibir mereka tersenyum sendiri-sendiri.
“Hem!” Pranaja pura-pura batuk, untuk mencairkan suasana. “Eh, Ana memangnya aku tidak boleh melihatnya langsung?”
Ana menggeleng cepat.
“Ayahku melarang keras aku menceriterakan hal ini kepada siapapun, apalagi melihatnya. Gajah Mammooth ini belum mendapakan seritifkasi dari otoritas dunia. Maksudnya ini adalah binatang illegal, yang memiliki konsekuensi hukum bila bocor ke publik.”
Pranaja menggeleng kagum.
“Ayahmu hebat sekali Ana. Pasti dia memiliki koneksi dimana-mana, sehingga paket seperti ini bisa lolos di imigrasi dan bea cukai bandara Soetta.”
“Kau benar Pranaja. Ayahku memang hebat, walaupun aku sering mencemaskannya.”
“Kenapa?”
“Karena aku tahu, tindakannya seringkali melanggar hukum dan peraturan yang ada. Dia berani bertindak begitu karena selama ini berlindung dibalik pengaruh big bosnya Subrata.”
Pranaja tercenung. Orang seperti Subrata pasti punya kepanjangan tangan di seluruh lembaga-lembaga penting di negeri ini. Dari eksekutif, legislative dan yudikatif.
“Lalu kenapa kau menceritakan ini semua kepadaku Ana?”
Ana kembali menatap wajah Pranaja dalam-dalam.
“Karena aku ingin membagi kisahku dengan seseorang yang aku percaya.”
Kata-kata Ana seperti menohok ulu hati Pranaja. Tiba-tiba dia merasa bersalah dengan gadis polos di depannya ini.
‘Kau tidak boleh percaya kepadaku Ana,’ batinnya. ‘Aku adalah agen rahasia, hidupku dipenuhi dengan rekayasa, tipuan, kepalsuan, kebohongan, kelicikan yang sudah disusun secara rapi dan sitematis oleh Dinas Intlijen terbaik di dunia.’
“Maafkan aku,” ucapnya tiba-tiba.
Dan Anastassya Pramono menatapnya dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1