
TANGAN KURUS BERTENAGA BESAR
Detik-detik suara jam dinding begitu jelas terdengar di telinga. Seperti detak jantung yang bergerak dengan ritme yang terjaga. Hanya desah nafas yang meninggalkan jejak
kegelisahan. Apalagi suasana ruangan besar itu cukup sepi. Meninggalkan tanda kebekuan dan kekakuan yang belum terjamah basa basi.
Hanya M yang duduk menghadap layar-layar hologram yang tersambung dengan berbagai macam operasi intelijen dari seluruh dunia. Wajahnya begitu serius menanggapi setiap laporan peristiwa yang terjadi. Membiarkan Pranaja diam menunggu. Dan kegelisahan itu seperti tak ada ujungnya, menanti waktu yang tak jelas kapan berakhirnya.
“Selamat pagi Pranaja,” sapa Bos M16 itu pada akhirnya.
Pranaja menarik nafas lega. Tersiksa rasanya berada di depan kebisuan dan kekakuan perempuan tangguh itu.
“Selamat pagi M,” jawabnya.
“Ada faksimil dari Sekretaris Kementrian Pertahanan Indonesia,” ujar M sambil menatap tajam wajah agen M16 paling imut itu.
Pranaja menganggukkan kepalanya.
“Kau mendapat libur tahun baru selama dua minggu. Atau setelah misi terakhirmu selesai. Apa kau paham?” tanya M.
“Iya. Aku paham.”
“Kau boleh pulang ke Indonesia atau kemanapun kau suka untuk menghabiskan liburanmu. Setelah itu kau membantu tugas Agen 004 menangkap buronan pemerintah Inggris Blade Muller, di Indonesia.”
“Oke. Aku siap melaksanakan misi, M.”
“Bagus.”
Kemudian M memutar balik kursinya, menghidupkan layar monitor besar di belakang mejanya. Gambar asteroid raksasa yang melayang cepat tertarik gravitasi bumi semakin cepat dan semakin dekat dengan bumi.
“Asteroid ini keluar dari garis orbitnya karena tertarik oleh gravitasi bumi. Makanya semakin mendekati bumi, kecepatannya pun semakin bertambah,” sambung M.
Pranaja menatap layar monitor tanpa berkedip. Benda angkasa yang siap menghancurkan bumi itu seperti menghipnotis hatinya, membuatnya begitu terpesona.
“Persiapkan fisik dan mentalmu, lima hari lagi kau akan berangkat ke angkasa luar untuk menghancurkan Asteroid itu,” kata M. “Berlatihlah memasang bom waktu dengan Q.
“Baik M.”
“Sekarang kau boleh pergi.”
***
Kembali ke gedung biru, tempat tinggal rahasia para agen-agen muda rekrutan baru M16, suasana semakin sepi. Rupanya Tong Pi sudah dipindahkan ke gedung lainnya. Hanya Miracle yang terlihat menyendiri, duduk terpekur di atas tempat tidurnya. Matanya tajam dan wajahnya begitu tegang, Mungkin dia sedang bermain dengan pikirannya sendiri.
Pranaja sudah hafal perilakunya.
“Hai, Miracle!” sapanya dari balik pintu.
Gadis cantik berambut pirang itu membuka matanya sebentar. Kemudian menutupnya kembali, seperti mengabaikan Pranaja. Hanya bibirnya yang bergerak-gerak.
“Masuklah,” jawabnya.
Pranaja langsung masuk. Duduk di kursi belajar, lalu tangannya lincah memutar tutup toples berisi cemilan. Dia ambil lima butir coklat lalu dimasukkan ke mulutnya sekaligus.
__ADS_1
Miracle membuka matanya, lalu tertawa melihat wajah Pranaja yang mejadi lucu. Bibirnya monyong kayak Dono Warkop, hehehe..
“Kamu baru dari ruangan bos?”
Pranaja hanya mengangguk-angguk, masih sibuk berjuang menaklukkan lima butir coklat yang memenuhi mulutnya.
“Bos cerita tentang Tong Pi?”
Kali ini pemuda cungkring itu menggelengkan kepalanya.
“Terus, ada perintah apa?”
Pranaja malah melotot, tubuhnya di tegakkan. Miracle bangkit, mengambil segelas air dan diberikan kepada rekannya itu. Pranaja langsung meneguknya, mengakhiri perjuangan para coklat yang tidak mau masuk ke dalam perutnya. Hehh, lega rasanya, katanya sambil mengurut leher dan dadanya.
“Aku mendapat libur dua minggu setelah misiku selesai.”
Miracle mengernyitkan keningnya.
“Boleh aku tahu?”
Pranaja menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Ini misi rahasia.”
Miracle paham, dia tidak mendesak lagi. Pranaja memandangnya, dia agak curiga dengan sikap Miracle. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu.
“Kau sendiri sedang apa? Boleh aku tahu?”
Miracle menganggukkan kepalanya.
Wajah Pranaja penuh tanya.
“Aku sedang melacak keberadaan Tong Pi.”
“Apa! Melacak keberadaan Tong Pi?” Pranaja terperanjat. “Kau tahu kan, dia dipindahkan atas perintah M?"
Miracle menganggukkan kepalanya.
“Tindakanmu bisa diartikan kalau kau tidak percaya dengan M. Kau melampaui batas Miracle,” ujar Pranaja dengan wajah serius.
Miracle menggelengkan kepalanya.
“Selain M dan Q, aku tidak bisa mempercayai siapapun di M16.”
Pranaja terhenyak, menatap wajah Miracle dalam-dalam.
“Apa? Kau juga tidak percaya padaku?” ucapnya dengan mata melebar.
Miracle tidak menjawab, malah berjalan keluar kamar. Saat melewati Pranaja, bibirnya tersenyum menggoda, sambil mengedipkan salah satu matanya.
Ting!
Pranaja melongo kaya terhipnotis, menatap pinggul Miracle yang bergoyang-goyang keluar kamar. Tapi kepala Miracle nongol lagi di pintu.
__ADS_1
“Tentu saja aku percaya padamu, cintaaaa..!”
Lalu terdengar kakinya berlari cepat sambil berteriak.
“Kabuurrr!!! Hahaha…!!”
Pranaja masih melongo. lalu jari telunjuknya disilangkan di depan keningnya.
“Dasar bule sinting!”
Setelah itu bangkit berdiri dan berlari mengejar Miracle.
***
Hujan baru saja berhenti. Titik-titik air yang tersisa bergulir melewati tulang daun, lalu jatuh menetes membasahi wajah Pranaja dan Miracle yang bersembunyi diantara kerimbunan pohon. Di depan mereka, pada jarak tujuh puluh lima meter, ada bangunan kecil berwarna kuning. Beberapa orang bersenjata lengkap sedang melakukan penjagaan.
“Kau yakin Tong Pi ada di dalam gedung itu Miracle?” bisiknya.
Miracle menganggukkan kepalanya. Lewat kemampuan telehipnotiknya, dia dapat menengarai keberadaan sahabatnya, Tong Pi di dalam gedung kecil itu.
“Apa perlu aku hubungi M”tanya Pranaja.
Miracle menggelengkan kepalanya.
“Jangan. Kita belum tahu siapa kawan dan lawan kita.”
Pranaja mengamati gedung paling kecil di kompleks markas M16 ini.
‘Hm, cocok sekali menjadi tempat persembunyian,’ batinnya.
Mendadak ada sebuah mobil masuk ke halaman gedung. Seorang wanita paruh baya, turun dari mobil. Dengan wajah dingin dan langkah tenang dia berjalan menuju pintu masuk. Pranaja dan Miracle sangat mengenalnya.
“M!" kata mereka berbarengan. “Dia ikut dalam komplotan penculik Tong Pi?”
Lalu keduanya dikejutkan lagi dengan kemunculan seorang wanita yang berjalan persis di belakang M. Nampak dia menodongkan pistolnya ke kepala bos M16 itu.
“Agen 009? Kim Bryner?” bisik Miracle. “Rupanya dialah penghianat M.”
“Mari kita bergerak Miraccle. Kita bebaskan bos.”
Pranaja berlari cepat, kemudian melompat ke arah gedung itu. Para pengkhianat itu terkejut. Sebelum bergerak lebih jauh, Pranaja menghantam dengan jurus Dinding Bayangan
.
“Dinding Bayangan!”
Dinding angin setebal satu meter yang tak terlihat bergerak menyapu kedepan. Para pengkhianat yang mencoba menghalangi Pranaja, tersapu habis, mental kemana-mana. Ada yang menabrak tembok, ada yang terguling-guling ada juga yang terlempar sampai ke dalam rumah.
Brak!
Tapi mereka adalah agen-agen terlatih. Mereka segera bangkit lagi dan bergerak mengepung Pranaja. Pemuda itu mengaktifkan T-Shield 313216. Tenaganya menjadi jauh lebih kuat, gerakannya pun menjadi lebih cepat. Lalu pukulan, hantaman.sikut dan tendangan terus berkelebat. Musuh-musuh Pranaja berterbaran kesana kemari. Mereka tak menyangka dengan tungan kurus tapi bertenaga besar itu.
“Pukulan Gajah Godham!!”
__ADS_1
Teriaknya mengakihri perlawanan agen 009 Kim Bryner dan kawan-kawannya.
.