RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 53 MENJELANG SERANGAN


__ADS_3

MENJELANG SERANGAN


PEDALAMAN PEGUNUNGAN SAYAN. RUSIA. 13 FEBRUARI 2020.



Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas bertahtakan berlian. Pantas diperebutkan dengan keringat, darah dan air mata.


Ketiadaan dua pilot Rusia, Kapten Vladimir Kasparov yang ditangkap karena dituduh membunuh mantan anak buahnya sendiri Letnan Viktor Rumanov, serta kemampian pilot-pilot jet tempur TPM yang masih minim kualitasa, membuat keberadaan Pranaja dan Miracle semakin dianggap penting. Apalagi kemampuan mereka mengendalikan berbagai macam pesawat tempur dari berbagai negara semakin menumbuhkan decak kagum.


Hal ini menjadi perhatian pemimpin tertinggi Tentara Pembebasan Mongolia, Jenderal Xialuai Khan. Suatu pagi dia meminta Pranaja dan Miracle untuk hadir ke istanaya, Orang-orang menyebutnya sebagai istana batu di pusat bumi, karena letaknya memang jauh di bawah tanah. Jenderal Xiaulai benar-benar menjaga keamanannya. Di setiap lorong menuju istananya banyak perangkap dan senjata terembunyi yang sangat berbahaya.


Pranaja dibawa ke ruang bawah tanah dengan sebuah kereta bertenaga listrik. Ruangan di bawah tanah itu terang benderang seperti bumi disiang hari. Mereka menyerap sinar matahari dan memancarkannya kembali di dalam tanah. Sebuah air mancur setinggi tugu tiang listrik ditengah-tengah sebuah kolam air yang sangat luas seperti danau. Dan dibelakang danau itu menjulang sebuah istana megah yang berkilau.


Setelah itu Kolonel mempersilahkan sang pilot tempur kepercayannya itu untuk memasuki balairung istana. Pranaja berdiri di tengah ruang istana menikmati keindahan bangunannya. Bangunan yang sangat kuat dan di buat dengan tekhnologi yang sangat canggih. Megah, kuat, kokoh dan mewah. Karena semua bahannya terbuat dari besi, nikel dan platina.


“Darimana kalian mendapatkan bahan-bahan logam sebanyak itu Kolonel?”


“Itu berasal dari batu-batu meteorid di angkasa dan batu meteorit yang banyak jatuh di padang sabana,” jawab Kolonel.



“Meteorid dan Meteorit?” tanya Toti lagi.


“Batu angkasa itu namanya meteorid, tapi kalau sudah menembus atmosfer dan sampai di permukaan bumi itu namanya meteorit. Batu meteor itu mengandung banyak besi, nikel dan platina kapten,” sahut Miracle.



“Aku tahu. Maksudku ini berbeda dengan meteorit. Batu-batu angkasa ini adalah pecahan asteroid yang tertabrak komet sehingga hancur berantakan dan tertarik oleh gravitasi bumi” kata Pranaja menyimpulkan.


“Darimana kamu tahu?”tanya Miracle.

__ADS_1


“Hanya asteroid yang memiliki kandungan besi, dan nikel begini banyak,” jawab Pranaja.


Kolonel Kurk tersenyum. Dalam hati dia terus memuji Pranaja sebagai anak muda yang sangat cerdas. Betapa luasnya wawasan pengetahuan pemuda itu. Komposisi batu luar angkasa saja di tahu, seolah-olah sudah pernah pergi ke luar angksa. Padahal dia kan hanya pilot pesawat tempur, bukan astronot?


Pandangan Pranaja menyapu seluruh ruangan. Ada jalan berundak dan diatas sana ada singgasana raja, mungkin singgasana Xialuai Khan, yang nampaknya sudah lama tidak diduduki.


“Apakah itu singgasana Pemimpin Tertinggi?” tanya Pranaja.


Kolonel Jzadi Kurk menggelengkan kepalanya.


“Itu adalah singgasana Kaisar Agung Mongolia, Kaisar Jenghis Khan.”


Wow, Pranaja terhenyak.


“Apakah itu asli? Kenapa tidak disimpan di Museum Nasional?”


“Kau benar Kapten. Tadinya benda itu tersimpan di Musium Nasional Mongolia. Beberapa prajurit yang setia kepada Pemimpin Tertinggi berhasil menyelamatkannya.”



“Mengapa Pemimpin Tertinggi tidak duduk disana, dia kan kaisar disini?”



Kolonel menggelengkan kepalanya.


“Kau salah memahami pemimpin kami anak muda. Pemimpin Tertinggi tidak pernah menganggap dirinya sebagai kaisar atau raja. Dia hanya mau duduk di atas snggasana itu bila perjuangan rakyat Mongolia membebaskan diri dari imperialism dan kolonialisme berhasil. Itu pun tetap harus lewat persetujuan rakyat melalui pemilihan umum.”



Pranaja tercenung mendengar kata-kata itu. Ternyata ada banyak sisi baik dari Jemderal Xialuai Khan. Pantas dia begitu dicintai pengikut-pengikutnya. Bahkan untuk duduk di atas singgasana saja dia memiliki idealismenya sendiri. Tetap mengikuti tradisi dan kebiasaan leluhur bangsa Mongolia.

__ADS_1


Mungkin, Jenderal Xialuai Khan hanya dianggap sebagai pecundang oleh musuh-musuhnya. Namun di hati pendukung-pendukungnya dia adalah seorang legenda Setiap legenda pasti memilki kisahnya sendiri yang berbeda dengan kebanyakan manusia yang hanya mengulang kisah yang selalu sama dalam setiap siklus kehidupan.


‘Zreek!


Terdengar suara benda berat yang bergeser. Ternyata pintu batu dibelakang Singgasana terbuka lebar. Orang-orang yang ada di balairung istana langsung berdiri. Beberapa prajurit bertubuh raksasa masuk ke dalam ruangan. Mereka langsung membentuk formasi setengah melingkar di depan Singgasana. Satu regu pasukan pengawal berdiri berjajar berhadap-hadapan. Beberapa saat kemudian barulah Pemimpin Tertinggi Tentara Pebebasan Mongolia masuk ke dalam ruangan.


Pranaja dan Miracle terkesiap waktu melihat tampang Pemimpin Tertinggi. Tubuhnya betul-betul seperti raksasa. Kalau rata-rata pengawalnya bertinggi badan sekitar seratus sembilan puluh sampai dua ratus sentimeter, tinggi Xialuai Khan lebih dari dua meter!


“Inikah Pasukan Mawar Hitam?” bisik Miracle.


Pranaja hanya menganggukkan kepalanya. Rupanya dia masih terpesona dengan penampilan pemimpin pemberontak Mongolia itu. Hampir satu bulan dia tinggal di dalam perut bumi, baru kali ini dia bertemu langsung dengan sosok angker Jenderal Xialuai Khan.


Otot-ototnya yang kekar bertonjolan dari dalam jaringan urat syarafnya. Tatapannya sangat tajam dan lurus ke depan, pertanda dia adalah orang yang cerdas dan menguasai lapangan. Sikapnya tenang, seperti tidak takut menghadapi apapun, menumbuhkan karisma tersendiri. Siapapun musuh yang berhadapan satu lawan satu dengannya pasti bergetar hatinya.


Lalu tangan kanannya diangkat sambil berteriak menggunakan bahasa Mongolia.


“Bid Yalna!”


Artinya ‘kita pasti menang’. Teriakan itu di sambut teriakan serentak setiap prajurit dan orag Mongol yang hadir di tempat itu.


“Yalna! Jayaa! Khogjino! Delkhiin Terguulegch!”


Artinya Menang! Jaya! Sejahtera! Memimpin Dunia!


Suara itu mengguntur memenuh langit-langit istana. Mereka begitu bersemangat dan percaya diri dibawah pimpinan Xiaulai Khan mereka akan berhasil mencapai cita-cita mereka, Kekaisaran Agung Mongolia Penguasa Dunia!


Pranaja terhenyak. Ternyata cita-cita mereka bukan hanya merebut kekuasaan pemerintahan demokratis Mongolia, tapi mereka akan melakukan ekspansi ke seluruh dunia. Rupanya mereka terispirasi oleh kejayaan kekaisaran Mongolia saat dipimpin Jenghis Khan dan puteranya Khubilai Khan.


‘Hm, inilah yang harus di hentikan. Tidak boleh ada bangsa yang merasa lebih hebat dari bangsa lainnya. Kemudian melakukan unjuk kekuatan untuk menguasai bangsa lainnya. Kalau ini dibiarkan pasti akan pecah Perang Dunia Ketiga,’ batinnya.


Setelah berorasi dengan penuh semangat, diguyur api ambisi kekuasaan, bergemuruh dalam keangkuhan patriotisme semu, Jenderal Xiaulai Khan turun dari podium. Lalu berkeliling menyalami dan memeluk para petinggi dan loyalis-loyalisnya sambil meyakinkan akan datangnya kemenangan dan kejayaan kembali Kekaisaran Mongolia Yang Agung.

__ADS_1


Begitu juga saat beradu tatap dengan Pranaja, pemuda itu dipeluknya erat sebagai bentuk kepercayaannya yang tinggi kepadanya.


__ADS_2