
EPS 68 KERINGATMU BIKIN HALU
Suasana begitu hening dan beku. Kesunyian merayapi hati Pranaja, dia merasa inilah saat-saat akhir hidupnya. Dia sudah tidak mampu merasakan tubuhnya sendiri. Rasa dingin ini begitu membelenggu, bahkan untuk menarik nafas saja sudah terasa sesak. Hanya matanya yang masih berputar-putar, juga pikirannya. Ingatannya melakukan flashback, teringat semua orang-orang yang mencintainya. Ibu, Ayah, kakak Keysa. mas Iben, Panembahan Mbah Iro, Kitab Irodarsulasikin…
Tiba-tiba ada sinar biru muda yang muncul dari dalam tubuhnya. Muncul dari butir-butir darahnya yang unik dan telah termodfikasi untuk keadaan yang paling genting sekalipun. Sinar biru muda itu perlahan merambat ke atas, dan berhilir di kedua matanya yang terpejam. Dan kekuatan hitam yang menguasai tubuh Dewi Salju ikut merasakannya. Kekuatan para dewa yang tak mungkin dilawannya. Ketika kekuatan itu terkumpul maksimal, Pranaja langsung membuka matanya.
“Anugerah Mata Dewa!” teriaknya.
Dari kedua matanya melesat cahaya putih keperakan yang mengandung kekuatan cahaya langit. Kekuatan hitam yang menghuni tubuh Dewi Salju langsung kabur sebelum Pranaja membuka matanya. Namun terlambat. Cahaya putih keperakan itu melesat dengan kecepatan cahaya di atas cahaya. Bahkan sebuah bayanganpun tidak mampu menghindarinya. Dengan telak bayangan hitam jahat itu dihantam cahaya putih yang keluar dari mata Pranaja. Bayangan hitam itu langsung lenyap tak berbekas.
“Arrgghh! Ampuun!”
Tubuh penyihir Sarju mendadak terbakar hebat. Tubunya terjatuh ke bumi dan bergulung-gulung kesana kemari. Tapi nyala api itu semakin membesar dan menghanguskan tubuh penyihir tua itu. Segala kekuatan sihirnya tak mampu menahan rasa panas yang berasal dari kekuatan cahaya para dewata. Dia tewas dengan segala ambisi yang begitu membuncah di dalam hatinya. Satu lagi korban ambisi harus menemui ajalnya dengan cara yang mengenaskan.
“Arrrgghh!”
Pranaja hanya memandangnya dari jauh. Tubuhnya tergeletak kaku di atas lantai istana yang dingin dan basah. Tidak ada siapapun yang ada disitu. Hanya ada tubuhnya dan tubuh Dewi Salju bersama mayat-mayat yang bergelimpangan.
Pranaja merebahkan tubuhnya dengan posisi tangan dan kaki diluruskan. Matanya di pejamkan, lalu mengeluarkan kekuatan Tirtanala, yang menyejukkan sekaligus menyembuhkan. Perlahan ada hawa sejuk yang merasuki pori-pori kulitnya. Diserap butiran darah sampai ke dalam sum-sum tulangnya. Terasa begitu nyaman, menghilangkan semua rasa dari luka yang menyakitkan. Memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak dan mengembalikan kekuatannya.
Beberapa saat kemudian, tubuhnya sudah kembali seperti semula. Sembuh total, Suhu tubuhnya sudah kembali normal. Rasa dingin akibat kekuatan Hati Seputih Salju pun sudah hilang.
Aakh!
Pranaja duduk dan meregangkan semua otot-ototnya. Tangannya dibentangkan ke kanan dan ke kiri.Terus di putar setengah lingkaran bolak-balik. Demikian juga kepalanya. Diputar-putaer lalu di gelengkan ke kanan dan ke kiri.
Krek! Krek! Krek!
Ah, enak sekali. Alkhamdulillah, sekarang aliran darahnya sudah kembali lancar.Lalu dia berdiri, menggerak-gerakkan kedua kakinya. Setelah itu dia berlari-lari mengitari singgasana yang cukup besar. Sampai peluh membasahi tubuh dan wajahnya, barulah dia berhenti. Melakukan push up seratus kali, dan sit up tigaratus kali. Lalu menebarkan pandangannya. Melihat mayat prajurit-prajuritnya yang tergeletak dimana-mana.
Pranaja mengangkat kedua tangannya keatas kepalanya. Lalu dengan sekuat tenaganya di ayunkan ke bawah menghantam lantai istana.
__ADS_1
“Pukulan Gajah Godam!”
Brak!
Lantai istana es itu langsung melesak ke bawah. Membentuk lubang yang cukup besar. Satu persatu dia mengangkat mayat-mayat itu. Dibaringkan satu persatu dengan rapi. Setelah itu dia membaca doa sebelum menutupnya kembali dengan bongkahan-bongkahan dan serpihan es beku yang bertumpuk disitu.
“Selamat jalan sahabat-sahabatku. Semoga kalian semua mendapatkan tempat yang layak disisiNya,” doanya dalam hati.
***
Beberapa lama dia duduk terpekur di lantai istana, menatap wajah-wajah sahabatnya yang terkubur di bawah lantai es yang bening. Kemudian menebarkan pandangannya, menatap tubuh Dewi Salju yang masih diam membeku di lantai. Setelah itu barulah dia berdiri dan berjalan menghampirinya.
Pranaja duduk bersimpuh di samping tubuh gadis itu. Kepalanya menunduk diatas wajahnya. Nampak begitu polos. Pranaja tahu semua tindakan brutalnya karena tubuhnya dikendalikan oleh kekuatan hitam penyihir Sarju. Cukup lama di memandangi wajah gadis itu. Tanpa sadar ada keringat yang menetes dari jidatnya dan jatuh persis ke mulut Dewi Salju. Sesaat kemudian, nampak wajah gadis itu menyeringai, menggeleng-geleng. Lalu bangkit duduk dan membuang ludahnya.
“Cuh! Cuh! Kurang ajar! Asin tahu!” umpatnya.
“Uweek!”
Pranaja hanya diam melongo menyaksikan pemandangan di depannya. Makhluk cantik yang tiba-tiba bangun dan mengomel tak karuan. Apa maksudnya?
Gadis itu memandang wajah Pranaja dengan kesal.
“Ngomong sembarangan! Iya aku kesurupan! Kesurupan air keringatmu yang masuk ke dalam mulutku!” umpatnya lagi.
“Apa?” Pranaja balik bertanya, rupanya dia belum menyadari apa yang terjadi.
“Iya, peluh di jidatmu itu menetes jatuh dan masuk ke dalam mulutku!”
Pranaja malah tertawa terpingkal-pingkal mendengar kata-kata Dewi Salju.
“Hahaha!”
__ADS_1
Dewi Salju semakin sebal melihat ekspresi wajah pemuda yang tidak dikenalnya itu.
“Tahu begitu, aku lebih baik bangun dari tadi,” sungutnya.
Pranaja masih tergelak. Dia begitu menikmati kejengkelan Dewi Salju. Wajahnya yang bening sempurna nampak memerah karena marah. Dewi Salju hanya terdiam. Pandangannya dibuang ke arah lain. Pranaja jadi tak enak hati.
“Eh, tadi kamu bilang apa? Lebih baik bangun dari tadi?” tanya Pranaja. “Maksudnya, kamu sudah sadar dari tadi? Kenapa nggak langsung bangun?”
Dewi Salju masih terdiam.
“Hai! Kau dengar pertanyaanku kan?”
Akhirnya kepala gadis itu menganggukkan kepalanya.
“Iya. Tapi aku menunggu ada pengeran yang membangunkanku dengan tetesan air matanya. Eh, bukannya pangeran, yang datang malah tikus hutan yang meneteskan air keringatnya ke dalam mulutku,” katanya marah-marah lagi.
Hahaha..Pranaja tergelak lagi.
“Memangnya kamu frozen apa snow white? Halumu itu sudah tingkat dewa, tahu!”
Dewi Salju jadi tersenyum malu. Wajahnya ditundukkan.
“Dan kau bilang aku tikus hutan?” tanya Pranaja.
Lalu dia berdiri, menunjukkan tubuhnya yang tinggi menjulang. Lalu berjalan bolak-balik dengan gaya peragawan berjalan di atas catwalk. Dewi Salju hanya memandangnya dengan tatapan aneh. Setelah itu, Prnaja merunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Dewi Salju.
“Dan lihat baik-baik. Memang ada wajah tikus hutan sekeren aku?” ucapnya.
Pranaja memasang wajah imutnya. Dewi Salju nampak terpana. Perlahan tangan kanannya diangkat dan jari telunjuknya di silangkan di jidatnya.
“Kamu tuh bukan keren, tapi koplak,”
__ADS_1
Gantian Dewi Salju yang tertawa terkekeh. Pranaja hanya melongo, tapi kemudian ikut tertawa tergelak-gelak. Koplak? Hahaha..
Angin sore berhembus semilir. Mengusir segala kabut yang menyelubungi wajah Pranaja dan Dewi Salju. Kalau tadinya mereka hampir saling bunuh, kini mereka malah akrab. Berkali-kali tawa ngakak keluar dari bibir ranum Dewi Salju saat melihat tingkah koplak Pranaja.