
EPS 114 GENG NYA AMITA
Pranaja bergerak cepat masuk ke dalam atmosfer Bumi. Melihat makhluk buruannya lari meteka segera keluar dari persembunyiannya. Begitu keluar dari batu-batu angkasa itu, barulah semua jelas terlihat. Ternyata mereka diserang oleh pasukan khusus dengan menggunakan senjata sinar laser dan bom plasma.
“Itu mereka. Wyona, kau harus menghindari sinar-sinar itu!” seru Pranaja
Wyona nampak kesal.
“Pasti itu gerombolan gengnya Amita.”
Ini adalah pengalaman pertama dia dibawa bertempur oleh Pranaja. Tubuhnya dilempar kesana kemari, kemudian di putar dan ditekuk untuk menghindari sebaran sinar warna-warni yang dating dari berbagai arah. Bila ada orang yang melihatnya, pasti merasa ngeri. Tapi Wyona malah menikmatnya.
“Panggil Spot Pranaja. Kendalikan Nagamu dengan perintahmu. Pikiran Spot adalah pikiranmu!” seru Wyona di tengah serangan pasukan tak dikenal itu.
Pranaja menenangkan dirinya. Lalu dia mulai berpikir jernih.
“Spot kemarilah! Kita balas serangan mereka!”
Pranaja mengeluarkan pedang Naga dari sarungnya. Sinar biru langsung terpancar dari senjata sacral itu. Diangkatnya pedang itu. Lalu dia berbalik arah. Dengan kecepatan tinggi dia meliuk diantara sinar-sinar merah itu dan mendekati mereka. Dengan sekali tebas, tiga orang pasukan tak dikenal itu langsung terpotong menjadi dua!
Drrrt! Drrrt! Drrrt!
Begitu terbelah, percikan-percikan api listrik langsung keluar dari tubuh mereka. Pranaja terkesiap kaget bukan kepalang. Bukan darah yang terpancar dari tubuh mereka. Tetapi kabel-kebel dan lempengan logam yang muncul tak karuan. Beberapa saat kemudian tubuh mereka terbakar dan meledak karena mengalami korsleting listrik.
‘What! Mereka bukan manusia? Tapi robot?’ batin Pranaja.
“Mereka memang bukan manusia Pranaja, tetapi manusia Android. Wujudnya manusia tapi organ-organ tubuhnya adalah robot,” ujar Wyona.
Suasana langsung lengang. Wajah Pranaja dan Wyona nampak tegang. Mereka tidak boleh kehilangan kewaspadaan. Mendadak ada bola api melesat sangat cepat ke arah mereka. Begitu cepatnya, sehingga Pranaja tidak mungkin bisa menghindarinya. Setengah detik lagi bola api itu akan meledak menghancurkan tubuh Pranaja! Wyona memejamkan matanya.
Wush!
__ADS_1
Aark!
Mendadak dia seperti mendengar suara angin menderu disekelilingnya. Lalu sebuah bayangan besar melayang diatas tubuh mereka dan mengapung tepat didepannya. Spot datang pada saat yang paling tepat. Dia langsung membungkus dua sejoli itu dengan sayapnya.
Bum!
Bom plasma itu meledak dahsyat. Sebaran sinar seperti pita berwarna-warni terpancar ke mana-mana. Setiap benda yang tersentuh sinar itu langsung hancur menjadi debu. Tapi saat menyentuh sayap Spot yang sekuat baja, sinar-sinar itu tidak mempan. Naga itu langsung mencengkeram tubuh Pranaja dan melemparkannya ke udara. Sementara tubuh Wyona berubah menjadi uap air dan masuk ke dalam sisik permata biru.
“Uhuuuiiii!” teriak Pranaja.
Pemuda itu bermanuver meliuk-liuk di lapisan atmosfir paling atas. Begitu turun, Spot langsung menyambutnya. Setelah dekat, Pranaja langsung mendaratkan kakinya di atas punggung Spot. Seperti penunggang mengedalikan hewan tumpakannya.
Dengan gagah dia berdiri. Kedua tangannya memegang tanduk yang menghiasi kepala Spot. Sekarang naga itu bergerak sesuai perintah dari otak Pranaja.
Heyaa!
Aark!
Pranaja membawa Spot kembali ke luar angkasa, menyambut kedatangan manusia-manusia android itu. Puluhan manusia android berdiri di atas papan seluncur menyambut mereka. Ditangan mereka ada senjata sinar yang sangat menakutkan.
“Siapkan kekuatan apimu Spot!” teriak Pranaja.
Spot menarik nafas dalam-dalam. Ratusan kubik zat oksigen deserap paru-parunya kemudian di simpan di dalam perut dan diubah menjadi zat asam arang atau zat karbon yang mudah terbakar. Pranaja menyalurkan hawa panas geni sawiji ke dalam tenggorokannya. Begitu naga itu mendorong zat karbon dari dalam perutnya, lalu melewati tenggorokan yang sangat panas. Begitu mulutnya terbuka, zat karbon itu berubah menjadi lidah api berwarna biru yang sangat dahsyat.
Aark!
“Gelengkan kepalamu dari kanan dan ke kiri,” teriak Pranaja lagi.
__ADS_1
Spot menyapu para penyerangnya dengan kekuatan Lidah Api Naga. Puluhan manusia-manusia android langsung jejeritan terbakar lidah api yang sangat panas. Ada beberapa yang selamat, tapi mereka bukanlah lawan yang berat bagi Pranaja. Sekali dia menyapukan pedang Naga miliknya, tubuh-tubuh manusia itupun langsung ambruk ke tanah dengan kondisi mengerikan.
Drrt! Drrt! Drrt!
Percikan-percikan api listrik keluar dari tubuh-tubuh mereka . Rupanya makhluk asteroid itumlangsung mengalami korsleting lalu meledak.
Bum! Bum! Bum!
Asap tebal kembali mengepung mereka. Spot dan Pranaja, dalam jarak dua meter, tidak dapat melihat apa-apa. Namun mereka harus tetap waspada, dalam situasi seperti itu, potensi bahaya sangatlah besar. Karena musuh bias melakukan serangan mendadak. Bisa-bisa mereka menjadi korban karena kecerobohan mereka sendiri. Kemudian Spot menggoyangkan kedua sayapnya.
Wrrr..wrrr…wrrrr…
Asap tebal itu langsung terdorong kekuatan angin dari sayap Spot. Beberapa saat kemudian asap itu menghilang. Pranaja dan Spot dapat melihat dengan leluasa kembali. Namun rupanya ada satu makhluk android yang benar-benar hancur. Tiba salah satu kerangka manusia android itu bergerak. Tangannya yang tinggal kerangka besi itu meraik senjatanya, lalu mengarahkannya ke tubuh Pranaja.
Duar!
Sebuah bom plasma melesat langsung ke tubuh Pranaja dengan sangat cepat. Dengan jarak yang dekat, pasti bom itu tak akan meleset melukai tubuh pemuda imut itu dan meledakkannya. Wyona menjerit. Sementara Pranaja dan Spot tidak pernah tahu ada serangan yang mengancam jiwa mareka.
“Awas Pranajaaa!”
***
Wyona langsung memejamkan matanya. Rasanya tak tega membiarkan tubuh Pranaja meledak terkena bom roket tersebut. Pranaja pun hanya melongo, menatap setengah tak percaya. Sama sekali tak mengira salah satu manusia android itu masih hidup dan menyerangnya. Pada titik waktu yang begitu genting tiba-tiba ada sesuatu yang mendorong tubuh Pranaja. Dan detik berikutnya bom roketnya pun meledak.
Blar!
“Pranajaaaa!” teriak Wyona.
Tubuh Pranaja bergulung di angkasa. Setelah berhenti, barulah pemuda itu membuka matanya, lalu melihat sekelilingnya. Rasanya ada yang aneh. Hah? Pranaja masih berdiri tegak. Dia juga tidak tahu apa yang terjadi. Tapi pemuda itu berpikir cepat. Dia tahu ada sesuatu atau seseorang yang menyelamatkan nyawanya.
“Wyona! Tolong cari tahu siapa yang menyelamatkan aku,” seru Pranaja.
Wyona melemguh. Huft! Tatapannya begitu dingin.
“Tuh di bawah kaki Spot,” ucapnya malas.
Pranaja langsung menengok ke arah kaki Spot. Nampak tubuh seseorang tertelungkup lemah tak berdaya. Tubuhnya meringkuk dan tak bergerak sama sekali. Pranaja langsung turun menghampirinya. Direngkuhnya tubuh yang tergeletak itu, lalu dibaliknya. Seketika dia terkejut bukan kepalang, karena mengenali wajah gadis itu.
“Amita?”
__ADS_1
Suara Pranaja seperti tercekat di tenggorokan. Gadis itu terluka parah. Separuh tubuhnya hancur terkena serpihan bom roket yang meledak. Rupanya bom itu menghunjam dengan sangat telak ke tubuhnya. Dan Pranaja masih belum percaya dengan penglihatannya. Benarkah Amita yang menolong dirinya?