
EPS 82 SERANGAN BRUTAL
Pranaja masih duduk terdiam di pinggir jendela kamar hotelnya yang terbuka. Otaknya masih berputar menganalisis siapa kira-kira orang yang telah berani mengancam dirinya. Kalau menengar nada bicaranya, dia dapat menangkap kalau yang mengancamnya bukan sembarang orang. Kalimatnya begitu efektif, singkat tetapi pesannya jelas. Dia membawa kebencian dan dendam yang terpendam.
“Hm, ini pasti kelompok yang merasa kepentingan mereka terganggu oleh ulahku,” batinnya. “Bagaimana mereka bisa menyadap nomor telpon rahasia milikku? Itu menunjukkan kelas mereka bukan preman jalanan.”
Miracle bercerita, apa yang dilakukan Pranaja memilki pengaruh besar. Bahkan Dinas Intelijen Rahasia Inggris sampai melakukan perubahan kebijakan dan melakukan pergantian pejabat-pejabat tingginya. Ada kemungkinan mereka terlibat suatu sindikat kejahatan internasional, setelah keberhasilan Pranaja membongkar bisnis illegal senjata biologis dan penyelundupan batu kristal lintas negara terbesar di dunia.
“Ada banyak kelompok mafia dan sindikat kejahatan internasional yang marah kepadamu Cula. Makanya kau harus berhati-hati, seberapa tinggipun kemampuanmu,” pesan Miracle kepadanya.
Nampak jelas ada kecemasan yang terdengar dari nada suaranya.
“Thanks for your support, Miracle. I’ll be more careful,:” sahut Pranaja.
“Jangan pernah berhenti menghubungiku Cula. I’ll come soon to help,” kata Miracle.
Dan mafia terbesar yang sedang dia hadapi adalah kelompok besar yang saat ini menguasai dunia. Sindikat kejahatan terorganisir yang menjalankan bsnisnya dengan memanipulasi berbagai aturan-aturan di berbagai negara yang menguntungkan mereka. Dengan dukungan dana yang besar, mereka menempatkan orang-orangnya untuk duduk di lembaga-lembaga leglislatif dan eksekutif bahkan juga yudikatif.
Pranaja membuka kembali memorinya satu persatu, menganalisis siapa kira-kira sindikat yang paling memiliki dendam saat ini. Mulai dari Mongolia, Dataran Tinggi Allbush, Cacing Maut Gurun Gobi, serta penyelundupan batu Kristal terbesar di dunia. Tiba-tiba di teringat satu nama yang jelas terlibat dalan kegiatan di pabrik Biokmia illegal: SUBRATA.
“Mungkinkah Subrata merupakan salah satu otak di belakang ini semua?” batinnya.
Subrata adalah Taipan asal Indonesia yang saat ini tinggal di Amerika. Menjalankan bisnisnya senilai tigapuluh milyar dolar. Kekayaannya diyakini senilai seratus milyar dollar. Masuk dalam sepuluh tokoh tekaya di dunia. Dan helicopter yang mengirim suplai makanan dan logistic ke pabrik Biokimia illegal bertuliskan Subrata’s Holding company.
Dia menghubungi Miracle kembali.
“Oahm..ada apa Cula? Kau mengganggu tidurku saja,” katanya.
“Hm, malah enak-enakan tidur. Aku pikir kau benar-benar mencemaskan aku,” ujar Pranaja.
Ups! Wajah Miracle memerah malu.
“Memang bener aku mencemaskan kamu. Aku ketiduran tadi,” ujarnya seperti merasa bersalah. “Okay Cula, apa yang kau butuhkan sekarang?”
“Aku butuh dirimu,” sahut Pranaja cepat.
Miracle langsung terhenyak mendengar kata-kata dari bibir imut Pranaja. Wajahnya seperti tak percaya. Ow, betapa romantisnya Pranaja. Menembakku tengah malam begini?
“Eh, Bunting! Kenapa malah terdiam?”
“Ups!” Miracle tergagap. “Emh..eh..oh anu Cula, aku cuman sedang berpikir kok?”
“Berpikir apa,” tanya Pranaja heran.
__ADS_1
“Kalau mau menembakku, kenapa kau tidak mengirimi aku sekuntum bunga? Diiringi music klasik sambil makan malam di sebuah restoran di tepi pantai,” sahut Miracle.
Pranaja menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya jadi gemas.
“Eh bangun Bunting! Ngimpi mulu! Siapa yang mau menembakmu. Aku hanya butuh dirimu untuk menghubungkan aku dengan Q. Aku membutuhkan Shield saat ini!”
Lagi-lagi wajah Miracle memerah karena malu. Ups! Lagi-lagi dia salah sangka dengan maksud pemuda yang sudah menguasai hatinya itu.
“Owh, maksudmu kau ingin berbicara dengan Q. Okay Cula, besok aku akan berbicara dengannya. Kebetulan dia juga menanyakanmu kemarin. Banyak orang di M16 yang merindukanmu Cula,” ujar Miracle.
Pranaja menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia juga rindu dengan suasana dan orang-orang di M16.
“Terimakasih ya,” sahut Pranaja sambil menutup ponselnya.
Mendadak insting Pranaja menangkap sebuah ancaman. Kekuatan panca inderanya menangkap gerakan berbahaya dari arah gedung tinggi yang bersebelahan dengan kamar hotelnya. Sinar purnama yang cukup terang memantulkan benda logam dari atap gedung itu. Penembak jitu? Pikirnya.
‘Dlep!’
Suara peluru meletus dari senjata berperedam tinggi tertangkap pendengarannya. Pranaja langsung melompat ke atas.
‘Prang!’
Peluru itu mengenai kaca jendela dan memecahkannya. Begitu gagal mengenai sasarannya, penembak jitu itu terlihat melarikan diri. Dengan sigap Pranaja segera melompat untuk mengejarnya. Mendadak gerakannya dihentikan oleh suara tembakan di lantai bawah hotelnya. Dan juga teriakan orang-orang.
“Tatatatata!”
“Adduh!”
Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!
Terdengar langkah kaki beberapa orang yang berlari menaiki tangga menuju kamarnya di lantai enam. Dengan ilmu meringankan tubuh yang tinggi, Pranaja menempelkan dirinya dilangit-langit kamar setelah mematikan seluruh lampu kamarnya.
“Brak! Bum!”
Pintunya di dobrak paksa hingga jatuh berdebum!
Tatatatatatatata!
Berondingan peluru dari senjata serbu AK 47 langsung menghujai kamarnya.
Prak! Prank! Bum!
Suara benda-benda yang hancur dan pecah serta jatuh berdebum ketika ratusan peluru berat itu meluluhlantakkan seluruh isi kamarnya. Beberapa saat rentetan tembakan itu terdengar memecahkan suasana malam yang begitu sunyi. Lalu mendadak berhenti. Meninggalkan asap mengepul dan serpihan-serpihan yang tersebar memenuhi lantai kamarnya.
“Masuk dan periksa kamarnya. Jika tubuhnya masih bergerak, tembak saja!”
Beberapa orang berpakaian hitam-hitam ala ninja Jepang, masuk ke dalam kamar Pranaja. Dengan cepat mereka memeriksa seluruh sudut kamar. Namun mereka tak menemukan tubuh Pranaja.
__ADS_1
“Kemana perginya?” tanya sang komandan. “Apa dia melompat lewat jendela?”
Pranaja langsung turun dari langit-langit kamar dan berdiri di belakang mereka.
“Kalian mencariku?” katanya.
Mereka berbalik dan langsung menembakkan senjatanya.
“Tatatatatata!”
Adduh! Auwh!
Korban berjatuhan tewas terkena peluru rekannya sendiri.
“Aku disini!” teriak Pranaja dari sudut gelap.
“Jangan tembak!” perintah sang komandan. “Gunakan samurai kalian!”
Srek! Srek! Srek! Srek!
Empat orang penyerang yang masih hidup mengeluarkan samurainya. Nampak logam baja asli itu mampu mengeluarkan cahaya dalam gelap sehingga suasana kamar menjadi sedikit terang. Salah satu melihat kelebat tubuh Pranaja.
“Itu dia! Serang!”
Heya! Heya! Heya! Heya!
Slap! Slap! Slap! Slap!
Bak! Buk! Bak! Buk!
Aduh!
Awh!
Arrgh!
Hek!
Pertempuran berakhir cukup singkat. Sosok tubuh cungkring masih berdiri tegak dalam gelap. Sementara yang empat sudah tergeletak di lantai. Pranaja berjalan keluar kamar untuk menolong orang-orang yang menjadi korban serangan mendadak itu. Baru saja dia keluar kamar, mendadak ada bom yang meluncur ke kamarnya.
Bum!
Kamar hotel dimana dia menginap tadi langsung hancur bersama para penyerang di dalamnya. Tubuh Pranaja terpental beberapa meter karena terdorong dan menabrak tembok di depannya.
Adduh! Teriaknya.
Tapi daya tahan tubuhnya sangat bagus. Dia segera berdiri kembali dan turun ke lantai bawah. Nampak gadis resepsionis dan roomboy yang mengatarnya tadi sore sudah terlentang di lantai bersimbah darah. Pranaja memeriksa denyut nadi dan nafasnya. Lalu menarik nafas panjang.
__ADS_1
“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.”