
EPS 146 SELICIN BLADE MULLER
Malam itu Lucra mengumpulkan Pranaja dan agen-agen M16 lainnya ruang tertutup. Mereka sedang menysun rencana dan strategi untuk menangkap buronan utama kerajaan Inggris, Blade Muller. Agen cantik itu akan menyusup masuk dengan memakai pakaian Cat Woman. Membalut tubuh seksinya dengan pakaian berbahan sintetis berwarna hitam, yang ketat membentuk lekuk tubuhnya, dia akan mebawa senapan serbu dan senjata utamanya, cemeti.
“Silahkan kalian pilih senjata kalian masing-masing,” ujar Lucra.
Pranaja hanya mengambil sebuah revolver dan sebuah pedang. Dia teringat dengan pedang naga yang pernah diberikan oleh Shamtek Yang Agung. Diamatinya pedang itu dalam-dalam. Diam-diam dia teringat peri Wyona dan Amita, dua gadis cantik yang rela mempertaruhkan nyawa untuknya, Lucra memperhatikan wajahnya yang mendadak berkabut.
“Hm, ada yang lagi rindu nih keliatannya,” celetuk Lucra.
Pranaja melirik Lucra sepintas, wajahnya nampak merona merah. Agen-agen lainnya hanya tersenyum melihatnya. Mereka semua telah melengkapi diri dengan berbagai macam persenjataan maut. Menghadapi seorang Blade Muller memang dibutuhkan keamanan ekstra.
“Darimana kita akan mulai bergerak Lucra?” tanya salah satu agen.
Lucra langsung menjelaskan rencana dan strateginya. Tak perlu banyak kata, mereka semua langsung memahami apa yang harus mereka lakukan.
“Aku sendiri yang akan langsung menangkap Blade. Kalian harus bersiap memback up setiap gerakanku,” katanya.
Tengah malam mereka mulai bergerak. Memasuki wilayah Megapolitan melalui akses Laura Crown. Rupanya dia sudah berhasil mempengaruhi Pramono sehingga perempuan seksi itu memiliki keleluasaan yang lebih banyak.
***
Tengah malam ada truk besar yang memasuki area titik koordinat sepuluh. Semua langsung mengalihkan perhatiannya. Lucra dan yang lainnya segera mempersiapkan dirinya. Mereka sama sekali tida menyangka kalau malam itu mereka akan kedatangan tamu lainnya yang sangat penting. Ivan Draco, pentolan kartel narkoba, Club Dark-O. Bos Blade Muller dalm perdagangan narkoba jenis baru Exqua Y-Blue, narkoba berbentuk gel pertama di Indonesia.
“Crop!” mendadak pesan masuk.
“313216” Pranaja menjawab.
“Ivan Draco masuk perangkap. Bersiaplah untuk pertunjukkan yang lebih seru!”
Ivan masuk menaiki truk pengangkut bahan material bersama supir yang bernama Bawor. Truk beroda sepuluh itu melaju pelan melewati deretan gedung perkantoran Megapolitan, lalu berhenti disebuah tanah lapang yang cukup gelap. Begitu kendaraan berhenti, Ivan memukul tengkuk Bawor sampai pingsan. Di rebahkannya tubuh Bawor diatas jok, lalu dia turun. Berjalan mengendap ke kantor Pramono. Sepertinya dia sudah hafal letak kantor bos Megapolitan itu.
Dua orang penjaga pintu dilumpuhkannya dengan mudah. Lalu dia masuk ke dalam. Sepi, tidak ada seorang pegawaipun di dalam. Mungkin karena sudah larut malam. Langkah kakinya berhenti di depan pintu ruangan paling besar di kantor direktur Megapolitan ini. Mata Ivan berputar, memasikan keadaan aman sebelum masuk ke dalam ruangan.
Sepi sekali, batinnya, bahkan terlalu sepi. Setahunya Pramono selalu di jaga oleh banyak pengawal prbadi. Apa dia sedang pergi? batinnya. Di putarnya pegangan pintu masuk dengan hati-hati, lalu diputar pelan-pelan.
Ceklek!
Perlahan tubuh Ivan masuk ke dalam ruangan dan hilang dari pandangan.
“Apa yang harus kita lakukan Lucra? Apa kita akan ikut masuk?”
“Tunggu dulu. Target besar kita malam ini tetap Blade Muller. Tapi kita juga harus bisa menangkap keduanya. Sekali mendayung dua gembong terlampaui,” ujar Lucra.
Pranaja tersenyum. Dia dan kawan lainnya yang bertugas membackup pergerakan Lucra hanya bisa menahan diri, menunggu kemunculan ikan besar incaran mereka Blade Muller.
“Crop!”pesan masuk lagi.
“313216.”
“Ikan besar sudah mulai keluar dari sarang.”
Lucra langsung menghubungi yang lainnya untuk mempersiapkan diri. Lalu tiba-tiba terdengar kegaduhan dari ruang presiden Direktur dimana biasanya Pramono berkantor. Pranaja mengernyitkan keningnya.
“Siapa yang ribut? Bukankah Pramono masih di Australia?” gumamnya.
__ADS_1
Tap! Tap! Tap!
Terdengar langkah kaki berlari cepat menuju ruangan Pramono. Blade Muller! Dia masuk ke dalam ruangan itu. Terdengar suara semakin gaduh. Juga teriakan-teriakan kesakitan yang kedengarannya adalah suara Ivan Draco. Lucra dan lainnya baru akan bergerak masuk ketika mereka mendengar bunyi tembakan dua kali dari dalam ruang Presdir Megapolitan City.
Dor! Dor!
***
Blade keluar ruangan untuk mencari Pramono. Tapi bos Megapolitan itu sudah tak Nampak batang hidungnya. Bahkan pengawal-pengawalnya juga tidak kelihatan. Suasana kantor sangat senyap. Hanya ada dia dan mayat Ivan disitu.
“Kemana semua orang perginya? Apa mereka sudah pada tidur?” batinnya.
Blade berjalan menyusuri lorong, menengok setiap ruangan dan gedung yang ada di Megapolitan. Tapi tetap saja dia tak menemukan satu manusia pun. Dia langsung kembali ke kantor Pramono. Mengangkat koper-koper berisi uang milik Paul, Ivan dan teman-temannya.
“Mau dibawa kemana koper-koper itu Blade?” satu suara tiba terdengar dari langit-langit.
Blade terkesiap kaget. Dia langsung menaruh koper-koper itu dilantai dan menyiapkan senapan serbu AK47 nya. Lalu menengok ke atas, mencari sumber suara. Di salah satu sudut dia melihat seorang perempuan memakai baju dan topeng serba hitam.
“Catwoman?” ujar Blade. “Tak kira siapa yang datang. Ternyata badut bertopeng.”
Catwoman turun dari langit-langit dan berdiri di depan Blade.
“Apa kau sudah tahu semua?” tanya Blade.
“Tentu saja, semua kata-katamu sudah aku rekam semuanya disini,” kata wanita kucing itu sambil menunjukkan ponselnya. Lalu dia menekan layarnya.
Klik!
“Kau lihat tujuh koper berisi uang itu Van. Itulah uang pembayaran untuk Paul dan keenam anak buahnya, termasuk kau,” kata Blade. “Aku menginginkan semua itu menjadi milikku.”
Ivan menatap tajam wajah Blade.
“Artinya kau tahu siapa yang mengirim roket untuk menghancurkan pesawat kami?”
“Tentu saja. Karena akulah pelakunya, tidak ada orang lainnya. Hahaha…”
Klik!
Perempuan itu mematikan ponselnya kembali.
“Kau di dakwa melakukan pembunuhan berencana terhadap Paul dan kawan-kawannya serta perampasan. Sekarang menyerahlah tanpa perlawanan.”
Blade termangu, lalu tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
“Memangnya kau siapa?”
“Aku Lucra Venzi agen 004 M16 dari Dinas Intelijen Rahasia Inggris. Dan kau adalah tahanan pihak keamanan kerajaan Inggris saat ini.”
Bibir Blade tertawa semakin lebar.
“Pantas kau punya nyali menghadapiku.”
Tiba-tiba Blade mengarahkan senjatanya ke arah Lucra. Tapi gerakannya kalah cepat. Lucra yang sudah waspada, mengayunkan cemetinya ke arah tangan Blade.
__ADS_1
Tar!
Blade terkejut. Senapannya terlepas dan melayang di udara. Dengan cemetinya Lucra mengait senjata itu dan mengambilnya. Lalu menodongkannya ke arah Blade.
“Tidak usah banyak tingkah Blade. Menyerahlah!” kata Lucra.
Tiba-tiba kain gordin yang menutup ruang berkaca itu terbuka. Nampak Pranaja dan beberapa agen M16 lainnya berdiri mengepung ruangan itu.
“Tidak ada jalan keluar untuk lolos,” sambung Lucra.
Blade memegang kepala dengan kedua tangannya. Tidak mungkin, ini tidak mungkin, batinnya sambil melihat tujuh koper uang yang hampir menjadi miliknya itu. Tapi bukan Blade namanya kalau mudah menyerah. Tiba-tiba tangannya mengambil bom asap yang terselip di pinggangnya. Bom berbentuk kaleng itu di banting ke lantai.
Bum!
Seketika asap memenuhi ruanga itu. Blade bergerak cepat. Menerjang kaca pembatas, hingga hancur berkeping-keping. Pranaja baru pernah melihat manusia selicin Blade Muller.
Prang!!
Pranaja dan agen-agen lainnya yang tidak menyangka serangan Blade langsung melompat. Kesempatan ini digunakan Blade untuk meloloskan diri.
Tatatata!!!
Lucra menembakkan senjata AK47-nya ke udara. Blade terus berlari cepat ke arah kegelapan hutan. Pranaja dan agen-agen lainnya langsung bergerak memburunya. Tiba-tiba Blade berbalik dan melemparkan dua buah pisau belati ke arah mereka.
“Argh!”
Dua orang agen tumbang setelah dua belati tadi menembus pahanya. Tinggal Lucra dan Pranaja yang mengejarnya. Dua agen yang lainnya mengurus rekannya yang terluka.
“Berhenti!” teriak Pranaja sambil mengeluarkan pedangnya.
Tubuhnya bergerak sangat ringan menyusul Blade yang berlari ke arah tebing. Tapi Pranaja berhasil menyusulnya. Melihat pemuda belia itu persis di belakangnya, Blade mengeluarkan pisau terakhir. Tapi gerakan Pranaja sangat cepat, menotok ujung tangan Blade dengan sarung pedangnya.
Tak!
Seketika tangan Blade langsung kaku tak bisa di gerakkan. Pisau belatinya terlepas, tubuhnya terdorong masuk ke dalam jurang yang sangat dalam.
“Aargh!!!”
__ADS_1
Teriaknya sebelum tubuhnya hilang di kerimbunan bayang pepohonan yang memenuhi dasar jurang di malam itu.