
EPS 130 TAK BISA BERGERAK
Pagi itu sangat cerah. Matahari bersinar terang meebarkan kehangatan di muka bumi. Seterang dan sehangat hati Pranaja yang sedang berbunga-bunga. Menatap keindahan alami gadis ayu yang masih begitu polos belum tersentuh tekhnologi produk kecantikan apapun. Dia adalah mawar liar yang tumbuh di tepi hutan. Membekali dirinya dengan duri-duri tajam untuk menghalau kumbang-kumbang yang berhasrat menghisap madunya.
“Rumahmu begitu besar dan hangat Pranaja,” ujar Ana.
Mereka berjalan berdua mengitari bangunan rumah berlantai tiga itu. Sebagian besar interior rumah Pranaja berbahan kayu, dari tangga, lantai dan atap. Sedangkan dindingnya banyak ditempel dengan batu-batu alam dan batu marmer di sebagian ruangannya. Ada beberapa gazebo yang didirikan di beberapa sudut ruangan. Rasanya enak sekali untuk beristirahat.
Di halaman depan ada Gazebo besar dan cukup luas dengan bantal-bantal empuknya. Ada pula gazebo yang didirikan di pinggir kolam renang. Di dalamnya ada sebuah kasur gantung di atas sebuah ayunan besar yang bisa digunakan untuk tiduran tiga orang. Kolam renangnya sendiri cukup luas dikelilingi pepohonan hutan yang tinggi dan teduh. Ada juga Gazebo kecil di tengah taman anggrek, tempat ayah seringkali bermeditasi dan berolahraga.
“Rumah ini begitu nyaman, membuatku betah berlama-lama disini,” sambung Ana. “Kau tidak keberatan kan?”
Pranaja menggelengkan kepalanya.
“Tentu saja tidak. Tapi, apa ayahmu tidak akan mencarimu?” sahut Pranaja.
Ana tersenyum.
“Ayahku sudah memperccayakan keselamatanku kepada pengawal-pengawalnya. Baginya itu sudah cukup,” katanya dengan tatapan kosong. “Ayahku sangat menyayangiku, tapi pekerjaannya ada di atas segala-galanya. Aku jarang bertemu dengannya.”
Wajah Ana terlihat sedih. Pranaja hanya diam gelisah. Ingin rasanya memeluk tubuh gadis itu, agar dia bisa ikut merasakan kesedihannya. Serta membagi kebahagiannya.
“Kau beruntung memiliki ayah yang sayang padamu Ana. Melindungimu dengan sepenuh hati, memberimu rumah yang indah dan sangat megah. Bahkan rumahku tidak ada seperempatnya luas rumahmu,” hibur Pranaja.
“Tapi rumahku sepi Pranaja, tidak seperti rumahmu. Ada kehangatan yang selalu menaungi rumah ini. Keramahan ibumu, kebijaksanaan ayahmu, kasih sayang yang terjalin indah yang tidak pernah aku temui di dalam hidupku.”
Pranaja terdiam, melirik wajah Ana. Nampak kedua matanya sedkit berembun. Pandangannya dilempar jauh ke depan, tapi begitu kosong. Seolah kehampaan yang menuai sepi selalu menghiasi hari-harinya.
__ADS_1
“Aku juga jarang memiliki teman yang bisa aku ajak bicara. Makanya aku lebih suka memelihara binatang-binatang liar yang senang menggeram dan mengaum dengan suara kerasnya. Dan aku merubah bagian belakang rumahku serta hutan dibelakangnya menjadi kebun binatang kecil tempat hunian binatang-binatang aneh milikku.”
Pranaja malah tertawa mendengar kata-kata Ana. Dia menggamit tangan Ana untuk masuk ke dalam rumahnya.
“Ayo masuk ke dalam Ana,” katanya.
Mereka memasuki ruang tamu berbentuk joglo itu. Di ruang pringgitan, Ana nampak tertarik melihat beberapa lukisan besar yang terpampang di dinding ruangan. Lukisan beberapa sosok jadul dengan karakternya masing-masing. Namun satu lukisan hanya menggambarkan cahaya putih dan letaknya paling atas.
“Siapa mereka Pranaja?”
“Oh, ini adalah para leluhurku. Yang paling atas berbentuk cahaya adalah Begawan Wanayasa, dan yang dibawahnya adalah ketiga putra-puterinya.”
“Betapa mereka adalah orang-orang yang kuat. Terihat dari sorot matanya.”
“Yang paling sulung adalah Roro Lawe, yang nomor dua Panembahan Somawangi dan yang terakhir Eyang Karangkobar. Mereka adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yang paling ditakuti pada zamannya. Bahkan Panembahan Somawangi sempat menjadi salah satu panglima andalan Kanjeng Sultan Panembahan Senapati Ing Ngalaga, Penguasa Mataram.”
“Somawangi?” Ana mengernyitkan keningnya, seperti mengingat sesuatu. “Seperti nama kampung gaib yang letaknya tidak jauh dari wilayah proyek Megapolitan yang dikelola ayahku.”
“Aku juga tidak tahu pasti. Kata orang-orang sih karena kampung itu tidak pernah diketahui letaknya, tapi penduduknya ada.”
Pranaja menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku semakin tidak paham. Maksudmu penduduk desa Somawangi itu ada tapi desanya tidak pernah diketahui?”
“Kata orang-orang sih begitu. Makanya disebut kampung gaib.”
“Pranaja! Ana! Makan pagi sudah siap! Ayo kalian masuk ruang makan, sudah ditunggu ayah,” seru ibu dari dapur.
Pranaja segera menggandeng tangan gadis ayu itu masuk ke dalam. Ketika masuk ruangan, Ibu langsung mengajak mereka makan.
Dihidangkannya kuah hitam diatas mangkuk besar. Makanan yang belum pernah dilihat oleh Ana. Pengasuhnya pun tidak pernah memberikan itu sebelumnya.
“Apa ini, Tante?” tanya Ana dengan wajah penasaran.
Ibu tersenyum, lalu dengan suara pelan menjelaskan masakan yang baru dibuatnya.
__ADS_1
“Ini rawon, Ana. Makanan kesukaan ayah waktu Pranaja masih kecil,” jawab ibu sambil tersenyum sambil menunjukkan gumpalan-gumpalan daging di dalam mangkuk itu.
“Sampai sekarang pun ayah masih suka kok Bu. Hanya saja ibu sekarang jarang masak rawon, seringnya ya ayam goreng,” sela ayah sambil tertawa.
“Sudah, sudah! Ayo, kita mulai saja sarapan pagi ini, pasti kalian lapar dari tadi belum ada makanan yang masuk ke perut kalian,” kata Ayah.
Setelah memimpin doa, ayah yang pertama kali mengambil nasi dari periuknya. Disusl ibu, Pranaja dan Ana. Ternyata masakan rawon ibu benar-benar enak. Ayah hampir memakan seetengah bagian makanan kesukaannya itu. Pranaja sampai nambah dua kali, sedangkan Ana terlihat lahap menghabiskan makanannya.
“Hm, ini lapar apa doyan?” sindir Pranaja.
Ana jadi malu. Kakinya reflek menendang kaki Pranaja.
Duk!
“Aduh!” teriak ayah. “Siapa yang menendang kakiku?”
Ana langsung terkesiap. Wajahnya nampak memerah. Tapi Pranaja tanggap dengan situasinya.
“Eh, maaf ayah. Aku sedang menendang semut yang menggigit kakiku, malah kena kaki ayah,” ujarnya.
Ayah mengangguk-angukkan kepalanya walaupun merasa aneh. Memang ada semut di tendang, biasanya di injek?
Pranaja dan Ana langsung pamitan pergi ke belakang sambil membawa piring kotor masing-masing. Tangan kanan memegang piring sedangkan tangan kiri menutup mulut dengan kencang. Rupanya mereka sedang berusaha keras menahan tawa yang sudah mendesak untuk keluar.
Begitu sampai di dapur, mereka pun tertawa bersama.
“Hahaha…!”
Ayah dan ibu yang masih di ruang makan hanya tersenyum-senyum mendengar suara tawa mereka. Dasar anak muda jaman sekarang! Ketawa berdua saja begitu riuhnya.
Tiba-tiba ada suara orang mengetuk pintu. Ayah segera beranjak dari ruang makan dan pergi ke ruang pendopo. Di depan ruang nampak ada empat orang laki-laki berdiri kaku memandang yang punya rumah. Memakai setelan jas warna hitam, berkacamata gelap. Tubuh mereka terlihat tegap, kuat dan terlatih. Wajah mereka nampak dingin dengan ekspresi penjahat yang siap menyerang seperti di dalam film-film action.
“Waalaikum salam!” jawab ayah walaupun mereka tidak mengucapkan salam. “Silahkan masuk!”
Keempat orang itu hanya tegak berdiri tanpa menghiraukan kata-kata ayah.
“Kami mendapat perintah dari bos Pramono untuk menjemput nona Ana,” ucap salah satu pengawalnya.
“Kalau begitu sampaikan pada bos mu bahwa putrinya baik-baik saja,” jawab Ayah.
__ADS_1
Keempat pengawal Pramono menggukkan kepalanya. Mereka tetap berdiri dengan tegak gerak
Bukan karna disiplin, teapi karena tiba-tiba tubuh mereka tidak bisa digerakkan sama sekali.