
EPS 107 SHAMTEK YANG AGUNG
Tubuh Shamtek terus melayang ringan dan mendarat di atas punggung Spot yang mirip gundukan bukit kecil.
“Selamat datang di Socrota Shamtek Yang Agung,” sapa peri Wyona.
Pranaja menangkupkan kedua telapak tagannya di depan dada sambil menundukkan kepalanya.
“Salam Kakek,” sapanya.
Shamtek tersenyum. Penyihir tua itu kemudian duduk diatas punggung Spot dan mengusap kepalanya dengan lembut.
“Spot adalah Naga Terakhir yang dilahirkan untuk melindungi kerajaan Bumi. Dia memiliki kekuatan yang terpendam di dalam tubuhnya, dan hanya bisa dibangkitkan oleh manusia yang memiliki kekutan Darah Naga. Kau mengerti apa maksudku Pranaja?”
Pranaja menganggukkan kepalanya.
“Setiap Naga membutuhkan pengendalinya. Dia membutuhkan kekuatanmu untuk membangkitkan kekuatannya. Dan kekuatan kalian dibutuhkan untuk mencairkan lapisan es yang menyelubungi permukaan matahari,” sambung Shamtek. “Maka satukan hati dan jiwamu ke dalam tubuh Spot. Kau adalah Spot dan Spot adalah kau.”
“Baik kakek, aku mengerti.”
“Bersiaplah Pranaja. Kau harus secepatnya membuka pintu portal menuju lorong waktu untuk menyelamatkan penduduk kerajaan Bumi yang terperangkap lapisan es.”
Shamtek menyentuh ujung kepala Spot dengan tongkatnya. Nampak ada sinar terpancar dari tongkat itu, lalu merasuk dalam tubuh sang Naga. Perlahan terlihat perubahan pada tubuh Spot. Sisik-sisiknya yang berwarna hitam berubah menjadi hijau lumut metalik yang memantulkan cahaya. Surai-surai di atas mulutnya bertambah panjang dan berubah menjadi warna merah api.
Di sekitar matanya timbul lapisan warna merah yang melingkar, membuat tatapannya semakin tajam. Tanduk di atas kepalanya juga berkembang seperti tanduk rusa yang teranyam dengan rapi. Gigi taringnya yang seperti gading gajah semakin tajam dengan warna emas diujungnya. Wajah Spot yang imut dan lucu berubah menjadi gahar dan menggetarkan hati siapapun yang melihatnya.
Aark! Aark! Aark!
Suara Spot terdengar mengguntur menggetarkan tanah di mana dia berpijak. Saat dia berdiri dan mengepakkan sayapnya, terdengar deru angin seperti suara ribuan lebah sedang berebut madunya. Tulang kakinya begitu kokoh dan cakarnya melesak dalam mencengkeram bumi. Pranaja saja sampai takjub melihatnya.
“Ayo Spot kita berlomba. Siapa yang duluan sampai di danau Abita,”teriak Pranaja.
“Aark!” sambut Spot sambil menganggukkan kepalanya.
Mereka pun mempersiapkan dirinya, berlomba menuju danau Abita yang terletak di dasar lembah. Wyona menjadi wasitnya, saat dia melambaikan tangannya mereka pun langsung melesat. Spot terbang sedangkan Pranaja berlari.
__ADS_1
“Semangat!” teriak Wyona.
Pranaja berlari cepat sekali. Tubuhnya melesat bagaikan anak panah menembus pepohonan di Socotra. Kakinya lincah melompat diantara dahan-dahan dan ranting. Sampai di ujung tebing tubuhnya melenting ke atas, tangannya di bentangkan ke kanan dan kekiri, kakiknya di tarik lurus ke belakang. Bagaikan seekor elang dia terbang ke udara. Kemudian menjatuhkan dirinya ke dalam danau di bawah tebing.
Byurrr!
Lalu terdengar kepak sayap sang naga hijau hinggap di atas batu besar.
“Hahaha…kau kalah cepat Spot!. Aku sampai duluan di danau ini,” seru Pranaja sambil tertawa.
Aark! Spot mengangguk-anggukkan kepalanya, mengaku kalah.
“Ayo sekarang kita mulai lagi!” kata pemuda tampan itu sambil melenting tinggi. “Kejar aku Spot!”
“Aark! Aark! Aark!”
Spot meliuk mengejar tubuh Pranaja. Pemuda itu melakukan maneuver, terbang memutar ke atas, lalu mendarat duduk di punggung Spot.
“Kekuatan Geni Sawiji,” ujar Pranaja sambil melingkarkan tangannya ke leher Spot.
Menyalurkan hawa panas ke dalam tenggorokan Spot. Semakin lama semakin panas. Darah naga dalam tubuh Spot menyerap hawa panas itu ke dalam butir-butir darahnya hingga warnanya menjadi menghitam. Udara yang terhirup lewat pernapasan pun mengalami peningkatan suhu di dalam tubuhnya, menjadi sangat panas.
Spot menarik nafas panjang. Menarik ratusan kubik udara ke dalam perutnya. Setelah itu dia menghempasnya sekuat tenaga sembari memuka mulutnya.
Wrrrr,,,rrr..!
Hawa panas seperti gas tersembur kuat dari mulutnya. Pada saat yang hamper bersamaan Pranaja melemparkan bola api menyambut hawa panas.
Burrrr…
Seketika bola api itu berubah menjadi kobaran api biru yang sangat besar dan sangat panas. Kobaran apai itu bahkan masuk ke dalam mulut Spot. Memancing kekuatan apinya muncul dari dalam tenggorokannya.
“Bagus! Lakukan sekali lagi Spot!” teriak Pranaja.
Spot kembali menarik nafas dalam-dalam. Menghimpun ratusan kubik udara di dalam perutnya. Pada saat yang sama mengalirkan hawa panas ke arah tenggorkannya. Begitu udara yang sudah berubah menjadi zat asam itu dihembuskan lewat tenggorokannya, saat itu langsung terbakar. Api super besar menyala-nyala keluar dari mulut Spot.
“Heyaa!” Pranaja berteriak puas.
“Berhasil!” teriak Wyona sambil melompat-lompat kegirangan.
Menciptakan senyum simpul di sudut bibir Shamtek, sang Penyihir Agung.
***
“Aark!”
__ADS_1
Spot mendarat mulus di depan Shamtek. Pranaja langsung turun dari punggungnya.
“Berhasil kakek!” teriaknya.
Wyona langsug menyambutnya. Berlari dan melompat memeluk tubuh Pranaja. Pemuda yang sedang dilanda rasa senang itupun menyambut pelukannya.
“Ugh!”
Pranaja baru sadar saat dia merasa ada dua benda kenyal dan hangat menyentuh bulu dadanya. Begitu lembut dan menimbulkan sensasi luar biasa. Mata Pranaja langsung merem melek, serasa jiwanya dibawa terbang ke angkasa. Apalagi di bagian bawahnya bulu-bulu lembut menempel di celana kulitnya. Terasa hawa panas menghangatkan tubuhnya di bagian bawah.
“Wow! Kau berhasil membuat Spot mengeluarkan kekuatan apinya Pranaja,” ujarnya.
Seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan, Wyona terus melompat-lompat dalam pelukan Pranaja. Menimbulkan gesekan-gesekan fungsional, merubah energi kinetik menjadi energi listrik yang menyetrum syaraf-syaraf kelelakian Pranaja. Hampir saja dia lupa diri, kalau tidak melihat bayangan ayahnya seperti melintas di depannya.
“Adduuh..Ka..kek tol..loong,” ucapnya tersendat-sendat.
Shamtek turun tangan, menyentuh tubuh peri Wyona dan menjauhkannya dari tubuh Pranaja. Pemuda itu langsung menggelosoh jatuh terlentang di tanah,
Huft! Hampir saja.
Lalu pemuda itu duduk bersila, mengatur kembali nafasnya yang tersengal. Menata lagi jiwanya yang terguncang, khusyuk bertafakur dalam pertapaan segala jiwa.
“Bersiaplah Pranaja, lepaskan segala beban di dalam hatimu,” kata Shamtek.
Pranaja terus memusatkan pikirannya, menempatkan kesadarannya pada puncak tertinggi. Lalu Shamtek menyentuh ujung kepala pemuda itu dengan tongkatnya. Ada sinar yang mengalir dari tongkat itu ke dalam tubuh Pranaja. Menyalaurkan hawa sejuk yang semakin melipatgandakan kekuatannya.
Perlahan tubuhnya berubah. Otot-otot di tubuhnya perlahan mengeras dan bertonjolan. Penampang perutnya pun menampilkan lempengan-lempengan segitiga yang sekeras baja. Tubuh cungkring Pranaja berubah menjadi tubuh lelaki yang atletis, berotot, kuat dan gagah.
Wyona memandang takjub tubuh pemuda itu saat dia berdiri. Ada baju zirah yang menutupi tubuh bagian bawah sampai ke lutut. Tangan kiri Pranaja memegang sebuah perisai bergambar kepala Naga. Sedangkan tangan kanannya memegang sebilah pedang berukir motif naga yang sangat rumit.l
“I love you.”
Peri Wyona sampai tak sadar mengungkapkan kata-kata cinta kepada pemuda berwajah imut itu.
__ADS_1