RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 118 MEMANCING DI AIR KERUH


__ADS_3

EPS 118 MEMANCING DI AIR KERUH


Jagad raya dalam skala luas merupakan ruang kosong dan dingin yang ditaburi obyek-obyek panas dan berpijar, bintang-bintang. Adanya siang yang terang menandakan manusia hidup di bagian yang tidak biasa di alam semesta. Tepatnya manusia hidup di dekat bintang paling terang yaitu Matahari, yang merupakan sumber energi yang mengalir dan menembus ruang angkasa menuju bumi dan planet-planet di dalam tata surya.


Memberikan cahaya kehidupan sekaligus melepaskannya dari pekat malam yang penuh misteri. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam kegelapannya. Namun kegelapan langit di atas kerajaan Bumi mendadak menjadi terang benderang, bukan karena pancaran energi matahari, tetapi karena efek cahaya dari bom-bom plasma yang meledak di ujung lorong waktu.


Cahaya putih menyilaukan yang kemudian berpendar menjadi sebaran pita warna-warni yang teratur. Yaitu merah, oranye, kuning, hijau, biru, ungu. Kelihatan indah tapi sesungguhnya mematikan. Setiap benda yang terkena akan meledak dan hancur tak bersisa. Ledakan bom-bom itu juga menimbulkan gelombang elektromagnetik yang menggetarkan angkasa.


“Pranaja getaran apa ini?” tanya Wyona.


“Ini hantaman gelombang elektromagnetik dari bom-bom plasma milik pasukan Merkurius,” sahut Amita.


“Mereka sengaja meledakkan bom itu di pintu keluar untuk melancarkan pergerakan pasukan di dalam lorong waktu,” sahut Pranaja.


Tak lama kemudian ratusan pesawat tempur keluar dari lorong waktu untuk mendahului serangan. Merela siap menjatuhkan ribuan bom plasma untuk meratakan kerajaan Bumi.


Aark!


Terlihat Spot sudah tidak sabar menunggu perintah Pranaja untuk menyerang musuhnya. Sementara Shamtek berdiri di atas gundukan batu besar. Mulutnya bergerak-gerak membaca doa. Jubah putihnya terlihat berkibar-kibar di hembus angin yang tiba-tiba bertiup cukup kencang. Seperti sebuah tarian yang penuh kekuatan mistis, kedua tangan dan kakinya bergerak-gerak ke delapan arah, menghimpun kekuatan segenap elemen bumi.


“Ongkutremalkbasrofjugtimpregbacilaslukingtretambra!”


Suaranya mengguntur di tengah deru angin yang menyelubungi tubuhnya. Entah apa yang diucapkannya, tidak ada yang tahu kecuali Shamtek sendiri. Tongkatnya berputar cepat, menciptakan suara mendengung yang menyakitkan telinga. Putaran tongkat itu menciptakan putaran angin yang semakin lama semakin meluas dan menguat. Seketika tanah bergetar, kemudian retak di mana-mana. Semakin lama retakan itu berubah menjadi rekahan.


“Berokarloytranza Terrakotara!”


Sekali lagi teriakannya mengguntur. Mendadak dari dalam rekahan tanah itu bermunculan makhluk-makhluk bersayap. Muncul satu persatu terbang di udara lalu menata diri dalam barisan yang rapi. Pranaja dan yang lainnya hanya memperhatikan tanpa berkedip. Semakin lama jumlah makhluk bersayap itu semakin banyak.


“Pasukan Terrakotara,” gumam Wyona.


Pranaja dan Amita yang baru pertama melihat mereka hanya terpaku dengan mata terbelalak. Makhluk-makhluk bersayap itu memakai baju zirah prajurit yang terbuat dari logam pilihan. Di atas kepalanya bertengger helm bertanduk sedangkan dikedua tangan mereka memegang tombak dan perisai. Tubuh mereka begitu tegap, kuat dan tinggi menjulang.


***


“Tingkatkan kekuatan lapisan pelindung kapal kita Alahab. Kita harus secepatnya menembus lorong waktu dan mencapai atmosfer Bumi !”


Alahab segera melaksanakan perintah Abroha. Perlahan ujung kapal induk itu sudah mulai kelihatan keluar dari lorong waktu. Pesawat-pesawat tempur canggih milik Angkatan Udara Merkurius terus berputar dan bermanuver di udara untuk melindungi keberadaan kapal induk itu.

__ADS_1


Aark!


Begitu haluan kapal induk raksasa itu mulai keluar dari lorong waktu, Spot dan Pranaja segera terbang menyambutnya. Pesawat-pesawat tempur Abroha berusaha menghadang pergerakan mereka. Pesawat-pesawat itu mengepung dan menembaki Spot,


Tatatatatata..!!


Suiit!


Bum!


Bom-bom itu meledak di sekitar tubuh Spot yang meliuk liuk di angkasa. Pranaja membalasnya, dia mengibaskan pedang naga miliknya. Larikan sinar berwarna biru melesat kesana kemari menghancurkan pesawat-pesawat itu satu persatu. Di tambah lagi kobaran api dari mulut Spot yang memutar kepalanya dari kanan ke kiri. Gumpalan api raksasa menggulung pesawat-pesawat itu dan menghancurkannya satu persatu.


Hoya! Hoya! Hoya!


Terdengar teriakan-teriakan bergemuruh dari bawah. Ratusan pasukan Terrakotara berteriak bersama sambil menyerbu kapal induk milik Abroha. Tombak-tombak mereka mengeluarkan sinar yang sangat mematikan juga. Makhluk-makhluk bersayap itu terbang melakukan serangan dari berbagai sudut.


Pergerakan mereka begitu rapi dan terkoordinir.


“Pasukan Shamtek dari kerajaan Bumi siap menyerbu kapal kita Yang Mulia,” ucap Alahab. “Hamba akan menurunkan pasukan infanteri untuk menghadapinya.”


“Ya. Lakukan saja Alahab,” sahut Abroha.


Woouu! Woouu!


Dengan tak kalah garah pasukan infanteri Abroha, berupa manusia-manusia android segera bergerak ke haluan kapal, kemudian terjun untuk bertempur. Satu batalyon tempur pasukan infanteri Merkurius yang kuat melawan pasukan Terrakotara milik kerajaan Bumi yang gagah. Mereka mulai terlibat dalam pertempuran satu melawan satu.


Hoya! Hoya! Hoya!


Woouu! Woouu!


Trang! Trang! Trang!


Terlihat percikan api yang cukup besar setiap kali kulit mereka bergesekan. Namun melalui pertarungan hidup mati akhirnya makhluk-makhluk android itu bisa dikalahkan. Sebagian mereka dapat dimusnahkan, sebagian lainnya melarikan diri kembali ke lorong waktu. Tapi mereka juga hancur sebelum mencapainya karena terbakar lidah api yang keluar dari mulut Spot.


Aargh! Arrgh! Arrgh!


Manusia-manusia android itu terjebak dalam panas lidah api Spot, sehingga meleleh. Lalu pasukan Terrakotara meluncurkan bom listrik berkekuatan sepuluhribu megawatt. Bom itu meledak, kilatan-kilatan api yang ditimbulkan daya listrik bermunculan. Seketika terjadi kekacauan karena manusia-manusia android itu tak mampu mengendalikan mesin yang menjadi sumber kekuatan mereka. Gerakan mereka menjadi tak terkendali, bahkan terjadi saling menembak diantara mereka sendiri.

__ADS_1


Melihat anak buahnya hancur semua Abroha tak bisa lagi menahan amarahnya.


“Hajar mereka dengan radiasi sinar beta Alahab.!” teriak Abroha.


Radiasi sinar beta akan membuat tubuh berpendar lalu meledak menjadi abu. Alahab menekan tombol berwarna hijau. Beberapa buah meriam sebesar batang pohon kelapa muncul dari moncong kapal itu. Lalu secara bersamaan menembakkan sinar beta ke arah pasukan Terrakotara. Mereka tak sempat menghindari serangan itu. Mendadak tubuh mereka bersinar terang lalu…blar! Meledak menjadi debu.


“Mampus! Sekarang tidak ada lagi yang menghalangi laju kapal kita Alahab. Luncurkan bom-bom plasma kembali,” kata Abroha.


Sesaat kemudian ribuan bom-bom plasma dijatuhkan ke permukaan Bumi. Begitu bom-bom itu mencapai permukaan bumi, mereka meledak, menyemburkan molekul nitrogen kemana-mana dan melumerkan apapun yang terciprat olehnya.


“Waktu kita hanya lima jam paduka, setelahnya pintu portal akan menutup kembali,” kata Alahab.


“Aku tahu Alahab! Sekarang turunkan seluruh pasukan kavaleri kita. Aku sendiri yang akan memimpin Bataliyon Pasukan Gajah untuk menghancurkan Bumi..”


Kapal induk maha raksasa itu mengapung di atas atmosfer Bumi. Lalu pasukan darat dirurunkan, prajurit-prajurit Abroha dan ratusan tank berbentuk Gajah. Batalyon tempur pasukan gajah android satu-satunya yang masih bertahan dari serangan itu. Begitu menginjakkan kakinya di bumi, pasukan Gajah itu bergerak perlahan menghancurkan setiap bukit dan gundukan tanah secara membabi buta. Menimbulkan kerusakan yang luar biasa.


Dibelakang mereka panglima Abroha bergerak teratur bersama pasukan gajahnya. Derap langkah mereka menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya.


“Breg! Breg! Breg!”


Langkah kaki pasukan gajah android begitu menggetarkan jiwa. Lalu Pranaja menunjuk peta permukaan bumi di layar ponselnya.


“Kita tunggu pergerakan pasukan Abroha


sampai di daerah ini Amita,” Kata Pranaja.


Daerah ini terdapat kawah-kawah yang sangat panas. Pasti pasukan gajah Android akan mengalami kesulitan.


“Siap melaksanakan tugas paduka,” kata Amita.


Pranaja menatap Amita heran.


“Kenapa kau memanggilku Paduka?”


“Karena kau yang akan menjadi raja di Bumi bersamaku,” ujar Amita sambil tersenyum. “Kita akan bersama-sama membangun kembali peradaban dunia yang baru.”


Pranaja hanya terdiam tak mengerti, lalu menggelengkan kepala. Hadewh, dasar Amita, suka memancing di air keruh.

__ADS_1


Hikhikhiks…


__ADS_2