
EPS 104 SPOT
“Hii…” seru Miracle sambil menyeringai ketakutan.
Gadis itu terkejut sekaligus merasa jijik melihat naga kecil, gendut, lucu dan imut tiba-tiba melahap seekor tikus begitu saja. Dia langsung memegang bahu Pranaja.
“Kita tidak sedang bermimpi kan Cula?”
Pranaja hanya diam. Melayangkan pandangannya ke sekitarnya sekali lagi. Merasakan keterasingan dan keanehan itu kembali. Hatinya juga dilanda kebingungan karena semuanya terjadi begitu tiba-tiba dan di luar nalar mereka.
“Aku juga tidak tahu Miracle,” ujar Pranaja sambil menggelengkan kepalanya. “Mudah-mudahan kita memang sedang bermimpi dan segera bangun.”
Qiuuk! Qiuuk! Qiuuk!
Naga kecil itu mengiuk lantang memekakkan telinga seolah mengingatkan Pranaja bahwa mereka tidak berada di dunia mimpi, tetapi di dunia nyata.
“Ayo kita jelajahi pulau ini. Pasti ada kunci untuk mengungkap rahasia pulau aneh ini, Juga mengungkapkan misteri keberadaan kita di sini,” ujar Pranaja.
Tong Pi menganggukkan kepalanya. Miracle juga tersenyum pertanda setuju.
Qiuuk! Qiuuk! Qiuuk!
Naga gendut itu mengiuk sambil menggesek-gesekkan kepalanya di kaki Pranaja. Rupanya dia tidak mau ditinggal begitu saja. Pranaja dan sahabat-sahabatnya langsung tertawa melihatnya.
“Kau juga mau ikut berpetualang?” tanya Miracle.
Qiuuk! Qiuuk! Qiuuk!
Si naga merunduk, lalu kedua kaki depannya menggaruk-garuk tanah dengan gerakan yang sangat lucu. Kepala digoyang-goyang, dan perutnya yang gedut nampak bergetar.
“Hahaha…!”
Pranaja dan kedua sahabatnya tertawa tergelak-gelak. Tong Pi bahkan berjingkrak-jingkrak saking senangnya.
“Eh, Pranaja! Naga kita kan belum memiliki nama,” ujar Miracle.
Pranaja mengangguk sambil tertawa.
“Oh, ya kau benar Miracle. Mau kita beri nama apa?”
“Kita namakan saja Qiuk sesuai suaranya,” ujar Tong Pi.
Qiuuuuuuk!
Sang naga mengiuk panjang sambil meggeleng-gelengkan kepalanya. Pranaja dan yang lainnya kembali tertawa.
__ADS_1
“Hahaha…!”
“Eh dia mengerti apa yang kau ucapkan Tong Pi. Dan dia tidak mau diberi nama Qiuk,” ujar Miracle.
“Bagaimana kalau Tom!” ujar Pranaja.
Qiuuuuuuk!
Sang naga kembali mengiuk panjang sambil meggeleng-gelengkan kepalanya.
“Jerry!” sahut Miracle.
Masih menggeleng juga.
“Dragon!”
‘Cula!”
“Bunting!”
Sang naga terus menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Nama panggilanmu apa Tong Pi?” tanya Pranaja.
Tong Pi terdiam, berpikir sejenak.
Qiuuuuuuk!
Sang naga mengiuk panjang sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka langsung terhenyak. Mulut-mulut mereka terbuka sambil berpandang-pandangan.
“Hah? Kau mau diberi nama Spot?” tanya Tong Pi.
Sang naga melompat-lompat sambil mengepakkan sayapnya. Tawa mereka pun meledak lagi.
“Hahaha…”
Pranaja melemparkan ranting pohon mentimun raksasa ke tempat yang jauh.
“Spot! Ambilkan ranting itu dan bawa kembali kepadaku!” teriak Pranaja.
Qiuuk!
Sambil mengiuk panjang, sang naga langsung melompat panjang lalu berlari cepat sambil mengepakkan sayapnya. Tak lama kemudian dia sudah kembali sambil membawa ranting itu di mulutnya.
Hahaha…!
__ADS_1
Seperti mendapat mainan baru, mereka bisa tertawa lepas sambil berjalan menjelajahi pulau itu. Sepanjang perjalanan, Spot selalu memberikan hiburan yang menyenangkan. Dia juga sering pamer dengan kebolehannya mengejar mangsanya untuk dimakan. Sekali lompat dia langsung dapat menangkap mangsanya walaupun bersembunyi di semak belukar.
“Penciumannya sangat tajam,” ujar Pranaja.
“Tenaganya juga sangat kuat. Lihat gigi taringnya juga sangat tajam. Pantaslah mangsanya langsung tak berdaya begitu terkena gigitannya,” sahut Miracle.
Mereka sering terkagum-kagum dan tertawa melihat tingkah Spot. Tanpa terasa mereka telah berjalan seharian menjelajahi pulau itu. Banyak keanehan-keanehan yang mereka jumpai di tempat itu. Pohon-pohon yang batangnya berbentuk seperti palem botol, dengan daunnya yang panjang dan menjuntai ke bawah. Anehnya di antara sela-sela daunnya tumbuh bunga berwarna merah yang bentuknya persis bunga mawar.
“Ini namanya Mawar Palem Botol,” ujar Pranaja sambil tertawa.
Miracle dan Tong Pi ikut tertawa.
“Kita istirahat di sana ya,” kata Pranaja sambil menunjuk pohon aneh lainnya yang cukup besar.
Pohon itu seperti pohon beringin terbalik. Daunnya begitu rimbun tumbuh di atas permukaan tanah. Batangnya besar tinggi menjulang dengan akarnya berkumpul menjadi satu. Saling terkait di udara, membentuk payung teduh yang terlindung dari sengatan matahari. Mereka langsung merebahkan diri di atas dedaunan yang terhampar di permukaan tanah.
Spot masih saja sibuk mencari makanan. Dia melompat kesana kemari memakan hewan-hewan pengerat dan hewan melata lainnya.
“Kau merasakan ada keanehan dengan Spot Miracle?” tanya Pranaja.
Miracle menggelengkan kepalanya. Tong Pi mengernyitkan keningnya, benar kata Pranaja, ada sesuatu yang aneh dengan Spot. Tapi apa ya?
“Tadi pagi saat baru menetas tubuh Spot hanya sebesar Kelinci, tapi coba kalian perhatikan sore ini. Tubuhnya sudah sebesar kambing,” ujar Pranaja.
Miracle dan Tong Pi nampak tercengang sambil berpandang-pandangan. Benar kata Pranaja. Mereka baru menyadari ternyata perkembangan tubuh bayi naga itu begitu cepat. Pantaslah dia selalu makan setiap waktu, tanpa mengenal rasa kenyang.
***
Spot tumbuh dengan cepat. Badannya yang saat lahir hanya sebesar kelinci sekarang sudah sama besarnya dengan naga seperti dalam kisah animasi hanya dalam tujuh hari. Tubuhnya tumbuh meraksasa dengan kemampuan terbang yang mengagumkan. Setiap pagi dia terbang meliuk-liuk diangkasa sambil mencari mangsa di bawah. Berbeda dengan bangsa ular pada umumnya, Spot memiliki tanduk, sayap dan surai di wajahnya. Mirip kumis.
Kulitnya hitam mengkilat dengan ukiran warna api menyala di tiap sisiknya. Tanduknya melengkung indah, seperti bison. Sayapnya berwarna-warni, hijau, biru hitam, merah, ungu, dibingkai garis-garis keemasan yang berkilau saat terkena sinar matahari. Kakinya kuat berotot, dengan kuku-kukunya yang berwarna putih seperti gading gajah. Ekornya panjang dan lancip diujungnya seperti mata tombak dewa Siwa.
Spot sangat rajin mencarikan makanan buat Pranaja dan kawan-kawannya. Dia menancapkan kedua tanduknya ke dalam tanah, kemudian mendorongnya ke depan sehingga tanahnya terbalik. Ternyata banyak umbi-umbian gurih dan lezat yang bisa dijadikan bahan makanan yang tersimpan di dalamnya.
Pulau itu tidak begitu subur. Permukaannya berbatu dan berpasir, hanya ada sedikit tanah di atasnya. Di samping ubi dan mentimun raksasa, Pranaja dan kedua sahabatnya juga suka sekali memakan Mawar Palem Botol. Mawar berwarna sangat cerah itu ternyata rasanya sangat lezat walau dimakan mentah-mentah. Bukan saja terlihat indah, tapi daun-daun mawar itu bisa menjadi makanan cadangan saat bosan makan ubi.
“ Hai, Spot makanlah mawar ini,” kata Pranaja sambil mengulurkan sekuntum mawar merah jambu kepadanya.
“Oak!” seru Spot sambil memalingkan mukanya. Tentu saja dia tidak suka makan bunga.
Miracle tertawa. Tong Pi berjingkrak karena gembira sekali melihat kelucuan Spot. Lalu dia ikut memakan bunga mawar itu.
“Lihat Spot! Aku juga menyukainya. Kau pasti akan suka kalau kau sudah mencobanya,” bujuk Tong Pi penuh harap.
Spot malah terbang menjauh ke balik bukit. Tak lama kemudian hewan raksasa itu kembali sambil membawa seekor kambing di mulutnya. Dilemparkannya tubuh kambing yang masih hidup itu ke depan Pranaja. Setelah itu dia menjulur-julurkannya lidahnya seolah sedang mengatakan daging kambing lebih enak daripada bunga mawar.
__ADS_1
“Hahaha…!”
Lagi-lagi mereka tertawa di buatnya.