
EPS 84 RYONG BAE
Taksi yang dinaiki Pranaja meluncur tenang di jalan satu arah. Setelah menanyakan tujuannya kepada penumpangnya itu, sopir taksi tidak berbicara lagi. Dia hanya menambah kecepatannya agar segera sampai ke tempat yang dituju penumpangnya. Namun beberapa detik kemudian terasa laju kendaraannya menjadi sangat lambat.
“Kenapa kau melambatkan laju kendaraanmu pak?” tanya Pranaja,
“Ada dua mobil box yang menghalangi jalan kita,” sahut sang sopir.
Dua buah mobil box berjalan beriringan di jalan yang sempit. Pranaja menebarkan pandangannya. Terlihat tebing batu yang cukup tinggi membatasi jalan itu di sebelah kanan dan kirinya. Sopir taksi tidak mungkin menyalipnya. Dia harus sabar mengekor di belakang dua mobil box itu. Namun begitu memasuki jalan yang tak bertebing, kedua mobil besar itu membuka, satu ke kanan dan satu ke kiri.
Indera keenam Pranaja memperingatkan ada bahaya yang mengancam. Dan benar saja, begitu kedua mobil itu berpisah, dalam jarak seratus meter nampak sebuah helikopter Apache buatan Amerika. Helikopter canggih itu menghadap tepat ke arah taksi. Pranaja langsung mempersiapkan dirinya.
“Pukulan Gajah Godham!” teriaknya sambil memukul atap mobil hingga terbuka.
BRAK! BUM!
Atap mobil taksi langsung terlempar ke udara karena kekuatan pukulan Gajah Godham. Lalu jatuh berdebum di jalan aspal. Menghentikan mobil-mobil dibelakangnya.
Helikopter itu mengapung tenang di udara, lalu melepaskan dua buah peluru kendali Patriot yang dilengkapi kamera dari obyek sasarannya. Tangan kanan Pranaja menarik tangan sopir taksi dan melemparkan tubuhnya tinggi ke udara. Lalu jatuh menyangkut pada sebatang pohon ara yang melintang di tengah jalan. Kedua rudal itu melesat cepat dan langsung menghancurkan mobil taksi itu hingga hancur berkeping-keping.
BLARR!
Prang! pyar! prek!
Terdengar bunyi ledakan yang sangat dahsyat. Diikuti kepingan-kepingan bodi mobil yang terlempar ke udara dan jatuh berserakan di tempat kejadian. Segumpal api biru keluar dari kepulan asap dan api yang membumbung tinggi. Lalu melesat mengejar helikopter Apache yang langsung melarikan diri begitu menganggap misinya telah selesai. Helikopter canggih itu melesat sangat cepat dan terbang rendah di atas pepohonan hutan.
Helikopter Apache adalah sebuah helikopter tempur yang fiti untuk segala kondisi cuaca, dan dikendalikan oleh dua awak dengan persenjataan utamanya adalah sebuah meriam rantai M230 30 mm yang terletak di bawah moncongnya. Helikopter ini juga bisa membawa kombinasi persenjataan lain pada pilon pangkal sayapnya. Seperti peluru kendali, roket dan bom berdaya ledak tinggi.
Apache adalah suku Indian yang tinggal di Arizona tengah dan Meksiko barat daya, mereka sering terlibat dalam pertempuran dengan Militer Amerika Serikat. Sekarang Suku Apache tinggal di Arizona, New Mexico, dan Oklahoma.Salah satu pimpinan suku Apache yang terkenal adalah Geronimo, yang terkenal karena keteguhan hatinya dalam melakukan perlawanan terhadap militer Amerika Serikat.
Keberadaan Pranaja tertangkap radar pesawat. Sang pilot segera menyadari kalau dirinya sedang di kejar cahaya ‘aneh.’
“Sinar apa itu, sepertinya mengikutiku terus?” batinnya.
Dia mempercepat laju helikopternya hingga batas maksimal. Tapi cahaya api biru itu selalu bisa mengimbanginya. Cahaya api biru yang sebenarnya tubuh Pranaja itu, melemparkan bulatan api biru ke arah helikopter. Segumpal api biru melesat mengenai ekor pesawat dan mulai membakarnya. Pilot Apache mejadi panik. Pesawatnya mulai oleng dan sulit untuk di kendalikan. Apalagi hampir seluruh ekor pesawat telah habis terbakar.
Blast!
Sebelum terlambat, Pilot menekan tombol pelontar. Ruang kokpit terbuka, kursi yang didudukinya melesat terlontar ke udara. Sementara api biru yang sangat panas terus menyelubungi tubuh helikopter. Sebelum jatuh ke jurang dan meledak di kedalaman seratus meter dari permukaan bumi.
Dum! Bum!
__ADS_1
Kursi pelontar yang membawa tubuh pilot perlahan turun ke bumi. Sebuah parasut mengembang, mencegah kursi itu meluncur cepat ke bawah. Pranaja menyambutnya, tubuhnya mengapung turun mengikuti gerakan kursi pelontar itu. Wajah pilot itu terlihat sangat ketakutan. Seumur hidup dia baru pernah melihat manusia yang diselubungi api di sekujur tubuhnya.
Begitu menginjakkan kakinya ke tanah, Pranaja melepaskan kekuatan Geni Sawijinya. Seluruh api biru yang tadi menyelubungi tubuhnya mendadak lenyap tak berbekas.
“Ap..apa? K..Kau bukan hantu kk…kan?”
Pilot Apache berusaha melepaskan seatbelt yang membelit tubuhnya. Namun karena gugup dan rasa takut, membuatnya kesulitan membuka sabuk pengamannya itu. Lalu Pranaja berjongkok untuk membantunya. Setelah itu memegang kedua lengan pilot itu dan mengangkatnya hingga bisa berdiri tegak.
“Buka helm-mu,” kata Pranaja.
Pilot itu membuka helm yang menutupi seluruh kepalanya. Hm, ternyata masih sangat muda. Mungkin usia dua puluh lima-an.
“Siapa namamu?” tanya Pranaja lagi.
“K..Kau hantu apa manusia?” pilot itu malah mengulangi pertanyaannya.
Pranaja menganggukkan kepalanya.
“Kau benar. Aku adalah hantu yang akan menghantui hidupmu dan hidup keluargamu selama aku masih bernafas,” katanya.
Tubuh pilot Apache langsung bergetar hebat.
Pranaja terdiam sejenak. Menatap tajam wajah pilot itu yang hanya tertunduk ketakutan.
“Aku hanya ingin kau berkata jujur siapa yang telah membayarmu untuk membunuhku,” kata Pranaja.
Pilot itu menganggukkan kepalanya.
“Baiklah aku akan menceriterakan semua yang aku tahu kepadamu,” katanya.
Pranaja mengajak lelaki muda itu duduk di bawah sebuah batu besar yang tersembunyi. Dia tahu banyak bahaya yang mengancam dan sewaktu-waktu bisa menebar maut kepada mereka.
“Okay, sekarang sebutkan namamu?”
“Ryong Bae.”
“Asal?”
“Korea Utara.”
“Umur?”
__ADS_1
“Delapan belas tahun.”
“Hah?”
Pranaja terperanjat. Usianya bahkan sama denganku, tapi mengapa wajahnya terlihat lebih tua ya? Batin Pranaja.
“Kau tidak bohong kan?”
Ryong Bae menggelengkan kepalanya.
“Usiaku memang delapan belas tahun. Wajahku terlihat childish?”
Pranaja malah terkekeh.
“Childish apaan. Justru itu aku tanyakan, soalnya wajahmu terlihat terlalu tua untuk pemuda seusiamu.”
Ryong Bae nyengir kuda.
“Aku juga tidak tahu. Mungkin karena beban hidup, kali. Kau tahu kan negaraku?”
Pranaja menganggukkan kepalanya. Korea Utara adalah Negara tirani yang sangat ketat. Tidak ada demokrasi disana. Jangankan internet, televisi saja di larang. Mungkin karena itu rakyatnya terlihat lebih tua daripada usia sebenarnya.
“Eh, kamu sudah tidak marah kepadaku?” tanya Ryong Bae.
“Hah? Kenapa kau berkata begitu?”
“Emm,..kau tertawa begitu bahagia.”
Pranaja menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kau tidak pernah melihat orang tertawa? Apa di Korut tertawa juga dilarang?”
“Korut? Apaan tuh?”
“Itu singkatan dari Korea Utara, jadi Korut. Sama Kim Jong Un dilarang juga?”
Ryong Bae menganggukkan kepalanya. Menyingkat nama negara adalah kejahatan besar di Korea Utara. Pelakunya bisa dihukum mati.
“Semua warga Korea Utara harus menghormati lambang dan simbol-simbol negara. Wajib hapal Lagu Kebangsaan dan Dasar Negara, Atau mereka menghadapi hukuman mati.”
Pranaja menghela nafas panjang.
__ADS_1