RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 145 KECURIGAAN BLADE


__ADS_3

EPS 145 KECURIGAAN BLADE


Semua gerak-gerik Blade terus di awasi oleh Pranaja. Tubuhnya yang tinggi besar begitu sigap melangkah. Terlihat sekali kalau Blade begitu profesional dan terlatih. Matanya begitu tajam mengamati keadaan sekitar. Melihat mobil sport merah menyala yang terparkir di dalam kegelapan sekilas, lalu melihat keberadaan pasukan keamanan di setiap sudut halaman. Termasuk beberapa penembak jitu di atas atap gedung berlantai tiga ini.


Saat melihat Blade terlihat penasaran dengan keberadaan perempuan bule di kantor Megapolitan, pemuda imut tersenyum tipis. Diam-diam dia mengagumi insting tajam seorang Blade Muller, instruktur pasukan khusus tiga angkatan di militer kerajaan Inggris. Dia pasti sedang mencurigai keberadaan Lucra tengah malam begini. Instingnya memang dilatih untuk bersikap curiga dengan keadaan yang terlihat terlalu nyaman dan tenang.


“Pantas dia menjadi perwira tempur yang paling banyak mendapatkan medali kehormatan,” batinnya.


Blade Muller merupakan salah satu tentara terbaik Inggris. Dia mendapatkan banyak medali kehormatan baik dari pemerintah Inggris maupun negara lainnya. Bahkan dia mendapatkan bintang kehormatan dari Ratu Inggris. Untuk itu dia berhak memakai gelar kebangsawanan “Sir” di depan namanya.


Namun gelar itu terancam dicabut kalau dia terbukti terlibat tindak kejahatan di negara lain.


Beberapa saat Pranaja terdiam menunggu reaksi Blade selanjutnya.. Namun Blade nampak mengabaikan Lucra, dan meneruskan langkahnya kembali.



“Kau melihatnya Pranaja?” bisik Lucra lewat saluran telekomunikasi nya.


“Tentu Lucra. Rupanya dia mencurigai keberadaanmu.” jawab Pranaja.


Lucra malah tertawa.


“Bagus. Kita akan melihat seberapa licinnya dia menghadapi kita.”



Pranaja hanya tersenyum tipis, tanpa menanggapi kata-kata Lucra. Lalu dia memejamkan matanya. Seharian duduk di dalam mobil membuat tubuhnya terasa kaku dan lelah. Dia hanya keluar beberapa kali untuk melaksankan kewajibannya, setelah itu kembali ke mobil, melaksanakan tugas spionasenya. Setelah kedatangan Blade dia bias beristrahat sebentar. Tak berapa lama dia pun tertidur dengan nyenyaknya.



Sementara di basecamp Blade dan Darsono masih berbincang panjang. Tapi tatapan mata Blade tak lepas dari keberadaan mobil sport merah menyala dibawah pohon besar itu. Arahnya persis menghadap kea rah Helipad, tempat yang strategis untuk mengamati setiap orang yang datang dan pergi dengan leluasa.



“Mobil siapa yang terparkir di bawah pohon dan menghadapkan arahnya ke helipad?”


“Oh, itu mobilnya Laura?”


“Siapa orang yang duduk di belakangnya?”


“Tentu saja sopirnya.”



Blade mengangguk-angukkan kepalanya. Sementara Darsono menatapnya heran.


“Ada yang menarik perhatianmu Blade?”


Blade seperti tergagap.


“Apa? Oh, tidak ada apa-apa bro. Aku hanya berpikir, perempuan seperti Laura pasti agresif dan supirnya pasti seorang laki-laki muda.”

__ADS_1



Darsono terkekeh.


“Kamu tahu saja Blade. Supirnya memang masih muda. Namanya Rich Pranaja, dulu dia hanya supir truk. Aku yang menawarkannya ke Laura, dan dia setuju saja.”



Blade ikutan terkekeh. Mendengar penjelasan Darsono, rasa curiganya sedikit hilang. Kalau hanya seorang supir truk, rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.



“Oke brother. Aku pikir sebaiknya kau beristirahat sekarang,” saran Darsono. “Kelihatannya kau baru saja melewati hari-hari yang begitu berat.”



Blade tersenyum getir. Setelah Club Dark-O hancur, dan dia di kejar-kejar oleh aparat pemerintah dan kartel narkoba De Bonchoz, Megapolitan adalah tempat teraman baginya untuk berlindung. Namun begitu dia tetap harus waspada dengan agen-agen rahasia Inggris yang terkenal licin, khususnya agen-agen M16 yang sangat di segani. Bukan hal yang sulit bagi mereka menyusup kemari.


***


Menjelang subuh, mobil sport warna merah menyala itu baru keluar dari area Megapolitan. Pranaja mengantarkan kembali Lucra ke villa kecilnya di Karangtengah Regency. Wajah cantiknya terlihat tetap cerah walaupun dia belum tidur semalaman.



“Kamu seharian duduk di dalam mobil, tidak makan dan minum. Kamu tidak lapar Pranaja?” tanya Lucra.


Pranaja tersenyum.


Lucra mengernyitkan keningnya.


“Berpuasa? Apa itu?”


“Berpuasa itu menahan diri tidak makan dan minum, serta tidak melakukan hubngan suami isteri dari waktu fajar sampai matahari tenggelam atau Maghrib.”



Lucra memandang Pranaja tak mengerti. Seharian tidak makan, tidak minum dan no playing sex? Ow, itu hal sangat berat baginya. Agen cantik itu hanya memandang Pranaja dengan rasa kagum. Pemuda itu memang masih polos, pantas dia kuat melakukannya.



“Dan yang aku lakukan hari ini disebut puasa Arafah, karena berkaitan dengan kegiatan wukuf para jamaah haji di padang Arafah,” sambung Pranaja.



Keluar dari area Megapolitan mulai terdengar suara takbir bersahut-sahutan. Suara yang bergema di dalam relung hati, begitu menyejukkan dan menentramkan. Setelah mengantarkan Lucra di villanya Pranaja memarkirkan mobilnya di atas sebuah bukit. Lalu pemuda imut itu mengeluarkan ponselnya. Yang pertama dihubungi adalah ayahnya.



“Assalaamu’alaikum Ayah.”


“Wa’alaikum salam. Lagi dimana anak ayah yang ganteng?”

__ADS_1


“Di Megapolitan ayah. Maaf Pranaja tidak bias merayakan Idul Adha bersama ayah.”


“Tidak apa Pranaja. Aku dan ibumu tahu kesibukanmu. Yang penting kamu sehat, ayah dan ibu sudah bahagia.”


“Terimakasih Ayah, selalu mendoakan yang terbaik buatku. Ibu dimana Yah?”


“Ibumu sudah tidur. Dia baru saja pulang dari masjid untuk takbiran tadi.”



Pranaja menganggukkan kepalanya. Hatinya sedikit terharu mengingat saat-saat kecil dulu. Dia selalu melaksankan takbir di masjid bersama teman-teman dan paginya pergi sholat Id bersama ayah dan ibu di tanah lapang dekat rumahnya.



“Kalau begitu, ayah juga istirahat ya? Selalu jaga kesehatan. Begitu tugasku selesai, aku pasti pulang menemui ayah dan ibu,” ucapnya. “Sudah Yah, Assalaamu’alaikum!”



Lalu dia menutup telponnya dan menghubungi kakak sulungnya, kak Keysa yang menjadi dokter bedah plastic di Korea.


“Assalaamu’alaikum Kak Keysa.”


“Walaikumsalam. Pranaja? Waduh, kakak baru saja mau telpon kamu.”



Pranaja tertawa. Senang rasanya mendegar suara kakaknya yang sudah hampir tiga tahun tak ketemu.


“Kakak kapan pulang? Nggak kangen sama aku?”


“Kamu itu ngomong apa? Tentu saja kakak kangen sama kamu. Rasanya pengin terbang aja ke Jakarta.”


“Memang kakak nggak ada libur?”


“Ada. Tiga bulan lagi kontrak kakak selesai. Insya Alloh kakak akan pulang ke Jakarta dan sementara tinggal di Indonesia.”



Mata Pranaja langsung berbinar penuh rasa senang. Mereka lalu tenggelam dalam perbincangan panjang, sampai terdengar azan subuh. Pranaja pun menutup ponselnya. Setelah ini dia akan mengunjungi kak Iben. Dia akan melaksanakan sholat Id di alun-alun Purbalingga bersama kakaknya yang menjadi perwira polisi. Kebetulan pagi ini kak Iben berjaga di sana.



Sebelum pergi dia menyalakan lampu mobilnya ke angkasa, lalu menempelkan kertas di atasnya. Seketika tulisan itu terpampang di langit malam yang menaungi bukit itu.


“KERENDAHAN HATI (TAWADHU’) DAN KEIKHLASAN MENJADI ARTI QURBAN YANG SESUNGGUHNYA.


DENGAN SEGALA KERENDAHAN HATI PRANAJA HATURKAN


MOHON MAAF LAHIR BATIN


ATAS SEGALA KEKHILAFAN DAN KESALAHAN

__ADS_1


SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1422H


__ADS_2