
EPS 98 WADUH M?
Pranaja yang berdiri paling depan mengalami luka yang paling parah. Ratusan serpihan-serpihan baja yang berasal dari dua buah rudal yang meledak bersamaan menembus tubuhnya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Darah langsung mengalir dari lubang-lubang kecil yang terbentuk secara bersamaan pula.
“Ren!” teriaknya kembali.
Dia tidak mempedulikan lukanya sendiri, meskipun luka-luka itu telah melemahkan kekuatannya. Perlahan api biru yang menyelubunginya mulai meredup, berganti dengan api merah. Bahkan nyala api di kepalanya yang penuh darah sudah menghilang. Namun, tangannya terus menggapai untuk menangkap kursi kopilot yang diduduki gadis itu.
“Ren!” teriaknya kembali.
Ren masih tersenyum, tanpa kata-kata. Wajahnya begitu pucat, memandang sayu wajah Pranaja. Tangannya terkulai lemas, menggantung di kedua sisi tubuhnya. Parasut yang mengikat kursi kopilotnya melayang-layang tak terkendali. Dan sebentar lagi jatuh menghempas ke permukaan gugusan karang yang bermunculan di semenanjung Korea.
Sementara Ryong duduk membeku di kursi pilotnya pada jarak yang cukup jauh. Darah membanjiri sekujur tubuhnya. Tidak ada gerakan atau tanda-tanda kehidupan dari tubuh sahabatnya itu. Parasutnya juga melayang-layang tak terkendali. Beruntung arah jatuhnya menuju ke garis pantai.
“Heyaa!” teriak Pranaja.
Dia menggunakan kekuatan terakhirnya. Kekuatan Geni Sawiji yang sudah meredup itu, dia hentakkan sekuat tenaga. Tubuhnya melesat mendekati, kursi copilot yang di duduki Ren, dan mendorongnya agar jatuh ke arah garis pantai. Parasutnya meliuk-liuk dan menghempas dengan cepat, lalu jatuh di atas gundukan pasir di tepi pantai.
“Bug!
“Huk!”
Tubuh Ren terlempar dari kursinya dan melayang di udara, Dengan sigap Pranaja menangkapnya di udara, kemudian jatuh ke gundukan pasir. Tubuh Pranaja berada di bawah, sambil memeluk erat tubuh Ren. Lalu tubuh keduanya jatuh berguling-guling ke bawah. Sampai kakinya menyentuh air laut barulah mereka berhenti.
“Ren,” bisik Pranaja.
Gadis itu tak bereaksi. Walaupun senyum lembutnya tetap terpancang. Mata sayunya tetap terpancar. Tapi gadis itu tak memberikan respon apapun.
“Ren!” teriaknya lebih keras, memcoba menyadarkan gadis itu.
__ADS_1
Dibaringkannya tubuh gadis itu di atas pasir. Lalu dia memeriksa tanda-tanda vitalnya, detak jantung, nafas, denyut nadi dan suhu tubuhnya. Telinganya di dekatkan ke mulut dan hidung Ren, untuk merasakan desah nafasnya. Matanya memandang ke arah dada memastikan paru-parunya masih bekerja. Tidak ada tanda nafas.
Pranaja memeriksa tulang leher, tidak ada yang cedera, Hanya kepalanya berdarah karena terserempet serpihan baja. Tapi sekujur tubuh Ren juga penuh dengan lubang-lubang yang mengalirkan darah. Pranaja berusaha tetap tenang. Dia periksa denyut nadi karotis yang terletak di leher, karena kedua tangan Ren penuh luka. Pranaja terhenyak.
“Hah? Denyut nadinya masih ada,” batinnya.
Ditekannya nadi karotis itu selama limabelas detik. Nadinya hanya berdenyut lima kali. Itu berarti dalam satu menit hanya berdenyut dua puluh kali. Lemah sekali. Nadi manusia rata-rata berdenyut 60 sampai 100 kali permenit. Suhu tubuhnya juga sangat dingin. Pranaja segera berlari dan merobek kain parasutnya, lalu di selimutkan ke tubuh Ren.
“Ryong!” teriaknya kemudian.
Dia melihat tubuh Ryong tergeletak di atas pasir, tidak jauh dari posisinya. Dengan susah payah, Pranaja mengangkat tubuh Ren dan membawanya mendekati Ryong. Napasnya terdengar memburu, tenaganya juga hampir habis. Begitu mendekati tubuh Ryong, Pranaja terjatuh. Tubuh Ren juga terguling di dekat tubuh Ryong.
“Kekuatan Tirtanala!” bisiknya.
Kedua tangannya menyentuh ujung kepala Ryong Bae dan Ryung Nae, menyalurkan kekuatan Tirtanala yang menyejukkan dan menyembuhkan. Mengalirkan hawa sejuk yang mengalir lewat ubun-ubun kepala keduanya. Perlahan hawa sejuk itu merasuk ke dalam saluran darah kemudian meresap ke dalam urat-urat nadi dan syarafnya. Memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak.
Perlahan jaringan kulit dan uratnya yang sobek menutup kembali. Darah yang mengalir pun berhenti dan terhisap ke dalam tubuh lagi. Luka-lukanya menghilang,, lubang-lubang di sekujur tubuhnya menutup rapat, semuanya kembali normal. Dan keajaiban Tirtanala terlihat kembali, tubuh kakak beradik itu kembali mulus tanpa ada sedikitpun bekas luka. Sembuh total.
Tapi Pranaja masih sempat melihat seragam tentara itu,
“Kita berhasil Ryong,” bisiknya sebelum kegelapan menyelubunginya.
Ternyata yang datang adalah satu Batalyon pasukan perbatasan Korea Selatan. Mereka merupakan pasukan gabungan yang terdiri atas Angkatan Darat (ROKA), Angkatan Laut (ROKN) dan Korps marinir (ROKMC). Pasukan penjaga perbatasan ini sebagian besar berkonsentrasi di daerah perbatasan Zona Demiliterisasi Korea.
***
Ruangan besar bercat putih itu sangat sejuk. Tidak ada satu orang pun berada di sana, kecuali tubuh Pranaja yang masih terbaring di atas ranjang perawatan. Tubuhnya masih terus melakukan proses pemulihan sehingga kekuatannya kembali normal.
“Hehhh…”
__ADS_1
Perlahan dia menghembuskan nafas panjang. Rupanya kesadarannya mulai pulih kembali. Sesaat kemudian pemuda itu mulai membuka matanya. Mencoba mengidentifikasi tempat dimana dia sekarang berada. Pranaja mengernyitkan keningnya. Rasanya dia sangat mengenali tempat ini.
Krekeet.
Terdengar suara pintu di buka. Pranaja langsung bangkit dari tidurnya dan duduk. Di copotnya semua selang infus yang menggantung di tangannya. Dia tidak memerlukannya, bahkan dia juga tidak membutuhkan pertolongan dokter. Karena kemampuan tubuhnya untuk menyembuhkan dirinya sendiri saat terluka.
Tiga orang berpakaian serba putih dan bermasker masuk ke dalam ruangan. Dan Pranaja terkesiap kaget.
“M?” ucapnya dengan bibir bergetar.
Dia benar-benar ingat sekarang. Ruangan dimana tubuhnya terbaring adalah ruangan milik rumah sakit M16 sendiri. Makanya dia melihat M bos dinas rahasia Inggris memasuki ruangannya. M berhenti lalu berdiri tegak, wajahnya begitu dingin dan angkuh. Terlihat dia menjaga jarak dari ranjang Pranaja.
“M?” kata Pranaja lagi. “Apa yang terjadi?”
Rupanya ingatannya belum pulih seratus persen.
“Kau pingsan dan di temukan oleh pasukan perbatasan Korea Selatan. Misi Diplomatik telah menyelamatkanmu dari tuduhan penyusupan. Dan karena pelanggaran hukum internasional yang kau lakukan, kau dianggap sebagai buronan pemerintah kerajaan Inggris,” sahut M dingin.
“Korea Selatan?” gumam Pranaja.
Mendadak matanya terbelalak, wajahnya terlihat galau. Dimana Ryong dan Ren?
“Teman-temanmu pembelot Korea Utara ada dalam pengawasan otoritas militer Korea Selatan. Mereka sedang melakukan proses investigasi terhadap teman-temanmu,” sambung M seperti bisa membaca pikiran Pranaja.
Pranaja seolah tak mendengarkan penjelasan M. Dia bergegas turun dari ranjang dan memakai pakaiannya kembali. Dia mencari-cari baju pelindung T-Shield 313216 nya tapi tak bisa ditemukan. Dia langsung menengok ke arah M, dan menatapnya dalam-dalam.
“Dimana baju pelindungku M?” tanya pemuda itu.
“Sejak kau menyatakan niatmu untuk keluar dari Dinas Rahasia Inggris, semua fasilitasmu sebagai agen 009 telah dicabut. Robot Android 313216 termasuk baju pelindungmu telah diambil kembali dan disimpan di Gudang milik Q.”
__ADS_1
Pranaja membelalakkan matanya. Dia berjalan mendekati M. Namun ternyata ada kaca penyekat yang membatasi mereka. Ternyata Pranaja dikurung dalam ruang tertutup kaca fiber yang cukup tebal dan sangat rapat. Tanpa oksigen tanpa gravitasi. Dan dalam ruangan tertutup itu Pranaja tidak bisa menyerap energi apapun, termasuk energi panas maupun dingin. Artinya Pranaja tidak bisa matek Tirtanala maupun Geni Sawiji. Waduh M?