RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 83 TERDUGA PELAKU TERORI


__ADS_3

EPS 83 TERDUGA PELAKU TEROR


“WUUUIIIII…! WUUUIIIII…! WUUUIII…!


Sirine mobil-mobil polisi berbunyi memecahkan keheningan malam. Beberapa kendaraan yang sedang berlalu lalang, langsung meminggirkan kendaraannya. Di pusat kota, asap tebal dan api yang berkobar terlihat dari sebuah hotel terbesar di Astana, tempat dimana Pranaja menginap. Suasana malam di kota yang lengang dan sepi itu terasa sedikit menghangat.


“Terjadi ledakan hebat dan kebakaran di hotel L’home di pusat kota Astana satu jam yang lalu. Pelakunya diduga seorang laki-laki muda yang memesan kamar dan menginap di sana lima jam sebelumnya. Sampai saat ini polisi masih mencari terduga pelaku peledakan dan belum ditemukan. Kepada seluruh masyarakat yang mengetahui keberadaan pemuda ini , untuk melaporkannya kepada pihak kepolisian,” demikian bunyi berita-berita yang disiarkan secara berulang-ulang oleh seluruh stasiun radio dan televisi.


Pranaja berjalan cepat berlawanan arus dengan orang-orang yang beranai-ramai berjalan ke arah hotel, Rupanya mereka ingin melihat langsung peristiwa yang menghebohkan itu di lokasi kejadian. Dengan pakaian serba hitam serta masker yang menutupi sebagian wajahnya, dia dapat lolos dari pengamatan polisi yang berjaga di setiap sudut kota.


“Damn! Media bodoh! Mereka benar-benar telah memutar balikkan fakta, Menuduhku yang menjadi pelaku serangan bom di hotel L’home.” batinnya. “Para kapitalis itu pasti sudah menyelusup ke dalam setiap media untuk membuat opini hitam tentang diriku dan menutupi pelaku sebenarnya.”


Setelah berjalan hampir dua jam, Pranaja menghentikan langkahnya di sebuah Kafé di pinggir kota. Belum ada pengunjung lainnya, mungkin dia yang pertama. Pemiliknya masih sibuk menata dan membersihkan meja , kursi dan seluruh ruangan.


“Assalamu’alaikum!” Pranaja mengucapkan salam.


Lebih dari tujuhpuluh persen orang Kazakhstan adalah muslim. Sisanya adalah pemeluk berbagai agama. Tapi mereka bisa hidup berdampingan dengan damai. Jarang sekali terdengar ada konflik keagamaan yang terjadi di negeri ini.


“Wa’alaikum salam,” sahut si pemilik Kafe.


Menatap Pranaja dengan wajah ramah. Lalu menyodorkan buku menu kepadanya. Pranaja memperhatikan dengan seksama. Ada sepuluh macam kuliner khas Kazakhstan yang mejadi hidangan andalan di kafé ini. Dan uniknya sebagian besar dari mereka menggunakan daging kuda sebagai bahan utamanya.


“Aku pesan Beshbarmak,” katanya singkat.


Berbeda dengan negeri-negeri lainnya yang lebih mengutamakan daging domba atau kambing sebagai bahan utamanya. Orang Kazakh menggunakan daging kuda yang telah direbus lama sehingga dagingnya empuk. Di sajikan bersama beberapa butir kentang dan pasta tipis yang telah direbus. Lalu di siram kaldu bening daging kuda disebut sorpa yang telah dibumbui sehingga rasanya kaya akan rempah-rempah.


Bashbermak disajikan dalam piring khusus disebut seje. Makanan ini juga sering disebut sebagai makanan lima jari, karena harus dimakan dengan jari-jari tangan. Tidak boleh menggunakan sendok atau garpu.


“Minumnya?”


“Black Coffee dan Kumiss,” sahutnya lagi.


Kumiss adalah minuman khas Kazakhstan yang terbuat dari susu unta yang di fermentasi. Proses fermentasi membuang laktosa dari dalam susu, menjadikannya alternative minuman yang sehat untuk dikonsumsi.


“Silahkan dinikmati tuan,” ujar pemilik kafe sambil menghidangkan makanan dan minuman yang dipesan tamu asingnya itu.

__ADS_1


Pranaja melepaskan masker yang menutupi mulutnya dan mulai menikmati hidangannya. Hm, ternyata lezat juga hidangan daging kuda ini. Dagingnya terasa lembut dan rasa kaldunya begitu meleleh di tenggorokannya. Selesai menghabiskan makanan dan minuman Kumissnya, pemuda itu mulai menyeruput kopi hitamnya. Serombongan gadis yang sedang naik sepeda melambai-lambaikan tangannya menyapa Pranaja.


“Hai, Ganteng!” sapa mereka.


Pranaja langsung menebarkan pesonanya. Mengerlingkan mata sambil memberikan kissbye kepada mereka.


“Hai, cantiiik!” sahutnya. “Mmmuahh…!”


“Wow!”


“What!”


“Who..a!”


“Brak! Brak! Brug!”


Mereka begitu heboh sehingga lupa berbelok dan menabrak trotoar di depannya. Pranaja membalikkan tubuhnya. Menghampiri pemilik Kafe yang terlihat sedang asyik mengikuti berita di televisi.


“Berapa yang harus aku bayar untuk semua makanan dan minuman itu, pak?”


“Berapa semuanya pak?” tanya Pranaja lagi.


Pemilik Kafe menggelengkan kepalanya. Wajahnya nampak begitu tegang.


“Tid,..tidak usah bay..yar. Gratis!..ya benar, hari ini gratis!” ! ucapnya terbata-bata.


Wajahnya nampak jelas. Ingin tamunya pergi secepatnya dari kafenya.


“Gratis? Apa maksudmu? “ tanya Pranaja.


Dahinya nampak berkerut, heran kenapa wajah pemilik kafe seperti ketakutan melihatnya? Tapi setelah melirik berita di televisi sekejap, dia jadi sadar kenapa si pemilik kafe tiba-tiba berubah pikiran.


Pranaja berdiri dan mengangkat kedua tangannya.


“Tenang pak. Berita itu bohong, bukan aku pelakunya. Kamu percaya padaku kan?”

__ADS_1


Si pemilik kafe mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Sekarang jauhkan tanganmu dari ponsel dan jangan menghubungi siapapun. Okey?”


Si pemilik kafe mengangguk-anggukkan kepalanya kembali.


“Baik..baik..aku tidak akan memberitahu siapapun,” ucapnya dengan bibir bergetar.


“Terimakasih. Ini uang untuk membayar makananku,” katanya sambil meletakkan beberapa lembar uang di hadapan lelaki tua itu.


Pranaja memesan taksi. Lalu berbalik pergi meninggalkan kafe. Begitu sampai di pinggir jalan, taksi pesanannya datang menghampirinya. Lalu melesat dengan kecepatan tinggi pergi membawa tubuh Pranaja menuju batas kota. Begitu taksi itu hilang dari pandangan, pemilik kafe langsung menghubungi polisi. Menceriterakan keberadaan pemuda yang mirip terduga pelaku pengeboman di hotel L’home.


Dalam sekejap halaman kafe itu dipenuhi mobil-mobil polisi dari satuan anti terror. Mereka memasang garis polisi dan melakukan pemeriksaan. Beberapa polisi penjinak bom menyisir tiap sudut kafe dengan detonator khusus, untuk mencari kemungkinan keberadaan bahan peledak di tempat itu.


***


Pagi itu sangat cerah. Matahari begitu terang menyinari bumi, memberi kehangatan setiap hati yang bangun dengan semangat baru untuk membuka hari. Karena panggilan suara ringkik kuda dan rengekan para domba yang membutuhkan sentuhan manusia saat bangun dari tidurnya, adalah kewajiban yang harus dipenuhi para pemiliknya.


Taksi yang dinaiki Pranaja meluncur tenang di jalan satu arah. Dengan jumlah penduduknya yang hanya satu juta orang, Astana menjadi ibukota yang paling lengang di dunia. Hanya ada beberapa mobil yang melintas, itu pun kebanyakan mobil pembawa barang.


“Mau kemana kita tuan?” tanya sopir Taksi.


“Bawa aku ke perbatasan kota,” kata Pranaja.


Sopir taksi tidak berkata lagi. Dia hanya menambah kecepatannya agar segera sampai ke tempat yang dituju penumpangnya. Lalu beberapa detik kemudian melambatkan laju kendaraannya.


“Kenapa kau melambatkan laju kendaraanmu pak?” tanya Pranaja,


“Ada dua mobil box yang menghalangi jalan kita,” sahut sang sopir.


Dua buah mobil box berjalan beriringan di jalan yang kanan dan kirinya di batasi oleh tebing batu. Mereka tidak mungkin menyalipnya. Namun begitu memasuki jalan yang tak bertebing, kedua mobil besar itu membuka, satu ke kanan dan satu ke kiri.


Dan Pranaja terkesiap kaget. Dalam jarak seratus meter nampak sebuah helikopter Apache buatan Amerika. Helikopter itu mengapung tenang di udara, lalu melepaskan dua buah peluru kendali Patriot yang dilengkapi kamera dari obyek sasarannya. Kedua rudal itu melesat cepat dan langsung menghancurkan mobil taksi berisi Pranaja dan supir taksi hingga hancur berkeping-keping.


BLARR!

__ADS_1


__ADS_2