RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 123 DASAR TONG PI !


__ADS_3

EPS 123 DASAR TONG PI


Manusia adalah makhluk paling sempurna. Dengan kemampuan akalnya manusia menciptakan berbagai macam perangkat untuk menyibak realitas alam semesta. Sains dan tekhnologi terus berkembang sebagai kekuatan pengetahuan untuk membangun peradaban yang lebih maju dan seimbang. Kebijakan dan nilai-nilai juga terus berubah, membentuk karakter manusia yang semakin rakus tapi dengan cara yang lebih halus,



Pranaja masih berdiri tegak di atas bukit. Sepeninggal kakek Shamtek yang telah moksa, hilang entah pergi kemana. Walaupun dalam hati kecilnya Pranaja meyakini, Shamtek Yang Agung telah kembali kepada hakikatnya sebagai cahaya, yang menerangi jalan manusia. Sekali lagi dia mengedarkan pandangannya. Ada pemandangan kontras yang menyentuh hati nuraninya yang paling dalam.



Jauh di depannya, tempat dimana pertempuran baru saja usai, terlihat kerusakan yang sangat parah. Permukaan Bumi porak-poranda. Bukit-bukit kecil, pepohonan, dan bebatuan luluh menjadi debu. Makhluk-makhluk android, robot-robot transformers, bangkai senjata dan peluru berserakan dimana-mana. Kawah panas yang menjadi kuburan pasukan gajah android pun penuh dengan rongsokan logam yang lumer dan menyatu dengan cairan lava di dalamnya.



Sementara jauh di belakangnya, manusia-manusia primitif genarasi baru sebagai hasil evolusi manusia, juga masih sibuk bertarung. Saling serang dengan kekuatan dan senjata dari batu, memperebutkan daging rusa yang baru saja mereka bunuh bersama. Mereka mulai membentuk kelompok-kelompok yang lebih terorganisir. Melakukan berbagai macam strategi untuk menunjukkan kelompok yang paling kuat diantara mereka sendiri.



Pranaja hanya tersenyum getir sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia masih ingat denga pertanyaan bernada protes dari malaikat kenapa Alloh menyerahkan pengelolaan bumi kepada manusia, dan menjadikannya khalifah. Padahal mereka adalah makhluk yang suka menumpahkan darah. Ternyata ada garis pengetahuan yang membatasi keingintahuan makhluk dengan kerahasiaan Tuhan.



Mungkin kalau Tuhan membuka semua rahasia-Nya, kehidupan tidak akan berjalan sebagaimana mestinya.



“Hiyaa!"



Pranaja berteriak sambil mengangkat ujung pedang Naganya ke angkasa. Sinar putih yang sangat menyilaukan terpancar deras membelah langit. Menciptakan pusaran angin yang semakin lama semakin cepat. Gumpalan awan hitam berarak menutupi bumi.



Jleger! Jleger!

__ADS_1


Langit semakin gelap tertutup awan gelap. Matahari, bulan dan bintang-bintang tertutup uap air berwarna putih tipis sekali. Gumpalan uap es seperti kapas putih itu berkumpul dan mulai berputar, semakin lama semakin cepat. Angin bertiup diikuti suara bergemuruh yang amat dahsyat. Lalu pusat putaran itu perlahan terbuka, membentuk sebuah lorong yang amat panjang, menuju permukaan Socrota.


“Hiyaa!” teriak Pranaja sekali lagi.


Lalu kakinya menghentak tanah. Tubuhnya langsung terbang melesat, menuju ke arah pintu portal yang telah terbuka lebar. Semakin mendekati lorong waktu, pedang Naga yang di pegangnya mulai terikis menjadi serpihan debu. Begitu tubuhnya masuk ke dalam lorong itu, pedang Naga pemberian Shamtek beserta perisainya pun ikut sirna. Bahkan tubuh gempalnya juga berubah, kembali menjadi cungkring.


Seperti kejadian sebelumnya, begitu melewati pintu portal lorong waktu, tubuhnya seperti melayang dan tersedot dalam lorong yang penuh warna. Hijau, Kuning, Kelabu, Merah muda dan Biru. Juga warna lain-lainnya. Tubuhnya terus laying cepat sebelum keluar dari pintu portal dan jatuh bergulingan di permukaan pulau Socrota.


Tubuhnya baru berhenti saat menubruk tubuh Miracle yang sedang teridur lelap, lalu ikut tertidur diatasnya. Miracle yang terkejut, langsung terbangun. Saat membuka matanya, dia lebih terkesiap lagi. Terlihat wajah Pranaja yang terpejam, begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan hembusan nafasnya pun begitu hangat menyapu wajahnya.


Untuk sesaat wajah Miracle terdiam, sebelum kemudian berubah menjadi merah merona. Bagaimana tidak, wajah mereka hampir bersentuhan, bahkan bibirnyapun hanya berjarak satu sentimeter dari bibir pemuda cungkring itu. Dan yang palng spektakuler, kedua tangan Pranaja memegang sepasang bukit kembar miliknya!


“Cu..Cula …maafkan aku,” batinnya sambil menatap wajah pemuda idamannya itu penuh cinta. “Rupanya kau diam-diam menginginkannya.”


“Heehhh….,” Miracle mendesah sendiri.


Merasakan desiran-desiran halus yang terasa lembut mulai merasuki tubuhnya. Seluruh bulu kuduknya langsung berdiri, kulit tubuhnya merinding dan tubuhnya bergetar hebat. Pandangan matanya menjadi layu dan mulutnya setengah terbuka. Perlahan kepalanya berayun ke kanan dan ke kiri, menahan sensasi yang luar biasa. Bahkan jeritan-jeritan kecil mulai terdengar dari mulutnya.


“Auh..hufts..ssshhh…enaks…”


Perjalanan mimpi Pranaja jadi terganggu, saat merasakan ‘alas’ tidurnya bergerak sendiri. Perlahan dia membuka matanya. Penampakan pertama tentu saja wajah bule cantik berambut blonde yang sedang mendesah-desah. Kepalanya berlenggok ke kanan dan ke kiri sambil menahan rasa. Sesekali lidahnya keluar masuk seperti ular. Dan jaraknya begitu dekat dengan wajahnya.


Saat menyadari kalau tubuhnya ternyata tertidur beralaskan tubuh Miracle, apalagi kedua tangannya mencengkeram kencang bukit kembarnya, Pranaja langsung terperanjat.


“Ups!”


Tubuhnya langsung diangkat, lalu berguling ke samping. Miracle yang sudah ‘on’ tidak mau kalah. Dia ikut berguling dan memeluk pemuda itu. Lalu meninding tubuh cungkring itu. Dengan nakal matanya mengerling, dan wajahnya yang sudah memerah karena gairah itu langsung menggodanya.


“Apa kau benar-benar menginginkanku Cula? Kenapa malu-malu?” ujarnya,


Pranaja tergagap. Kesadarannya sudah pulih seratus persen.


“Ap..apa yang katakan Miracle?”


“Rupanya kau benar-benar kura-kura dalam perahu karet, pura-pura tidak mau padahal …mau bangeet..hikhikhik..”

__ADS_1


Miracle langsung merebahkan tubuhnya diatas tubuh cungkring itu. Bahkan membenamkan wajah pemuda imut ke dalam belahan dadanya. Tentu saja Pranaja gelagapan karena tidak bias bernafas.


“Apdfff..yangff..kaufff..lakukanfff.” ucapnya sambil mengerakkan hidungnya mencari ruang untuk bernafas.


Gerakan hidung Pranaja di ruang sensitifnya itu terasa begitu menggelitik dan semakin membangkitkan gairah gadis blonde itu.


“Auh…ssshhh..ssshhh..emmhh..”


Mata Miracle semakin merem melek. Tubuhnya semakin menekan kebawah. Tak mempedulikan kedua tangan Pranaja yang menggapai-gapai ke udara karena merasa sesak. Kedua kakinya juga menendang-nendang apa saja asal menimbulkan keributan. Tujuannya hanya satu, membangunkan Tong Pi. Hanya itu satu-satunya jalan yang bias membebaskannya dari himpitan terong belanda itu.


“Tong Piff…Tolofff,” teriaknya.


Segala kegaduhan itu akhirnya berhasil membangunkan Tong Pi. Sejenak dia terduduk sambil menyaksikan pergulatan kedua sahabatnya itu sambil tertawa-tawa. Kemudian dia berdiri, lalu dengan santainya di berjalan menghampiri mereka. Mengambil kitab Irodarsulasikin yang masih terbuka, setelah itu menyentuh kedua sahabatnya.


Ting!


Sekejap mata saja mereka langsung menghilang. Tong Pi langsung mengirim pulang mereka kembali ke kampus. Dan lagi-lagi Tong Pi melakukan kesalahan yang selalu berulang-ulang. Dia tidak memperhitungkan dimana mereka sebaiknya berpindah.


“Jleg!”


Tubuh mereka muncul di dalam ruang perkuliahan, di bawah bangku paling belakang.


“Bak! Duk! Krek!”


“Pff..tolofff.. !”


“Auh!..mmehh!..asshh!”


Suara benturan dan bangku jatuh, dipadu teriakan minta tolong dan desah kenikmatan, menarik perhatian dosen dan mahasiswa. Perkuliahan pun berhenti. Mereka langsung beranjak ke belakang dan melihat pemandangan yang menakjubkan.


“Wow! Miracle? Pranaja?” ujar Khang Ryu sambil tersenyum nakal.


“Huh! Kalian benar-benar tidak punya malu!” gumam Sarah Lee.


Miracle segera beralih dari tubuh Pranaja. Lalu menjerit sekuatnya.

__ADS_1


“Tong Piiiiiiiii!!”


Hahaha…! Dasar Tong Pi!


__ADS_2