RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 70 SIAPA NAMAKU?


__ADS_3

EPS 70 SIAPA NAMAKU?


Hujan rindu menetes dalam diam. Memeluk punggungmu saat gejolak hati tak mampu lagi aku bendung. Karena bermain dengan sepi hanya melahirkan perih. Saat cinta tak mampu kuungkapkan dengan kata-kata.



Tubuh Pranaja membeku dalam pelukan lembut seorang gadis. Bahkan detak jantungnya terdengar lebih tegas dibanding desah nafasnya. Karena sepi yang melahirkan gelisah, tak pernah bisa membendung gejolak hati yang begitu membuncah.



“De..Dewi Salju..ap ..apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganmu,” ucapnya dengan suara bergetar.



Dewi Salju malah semakin mempererat pelukannya. Wajah Pranaja terlihat bingung, tak tahu harus berbuat apa.



“Dewi Salju, ja..jangan kau lakukan ini padaku,” ucapnya lagi.


“Kenapa?”


“Nanti aku bisa lupa diri.”



Dewi Salju tersenyum.


“Lupakanlah dirimu selamanya. Aku malah senang.”


“Ta..tapi..”


“Tapi apa?”


“Aku akan dilebur menjadi debu.”



Dewi Salju terhenyak mendengar kata-kata Pranaja, tapi tidak melepaskan pelukannya.



“Siapa yang akan meleburmu menjadi debu? Biar aku hancurkan dia.”


“Ayahku.”


“Apa?”



“Kata ayah, aku hanya boleh menyentuh gadis yang telah kuikat dalam pernikahan suci. Kalau aku melanggarnya, aku akan dihancurkan menjadi debu.”



“Hm…”


Dewi Salju menghela nafas panjang.


“Kenapa Dew?”


“Kalau itu ayahmu, aku juga tidak berani melawannya.”



“Kenapa kau masih memelukku?”


“Aku akan melepaskannya, tapi ada syaratnya.”


“Syarat? Apa?”


“Panggil namaku dengan benar.”


“Apa? Namamu Dewi Salju kan?”


“Itu kan julukanku koplak. Aku kan punya nama.”



Pranaja mulai berpikir, mengingat karakter animasi yang sering dia lihat di comictoon.



“Frozen?”


“Bukan.”


“Snow White?”


“Bukan.”

__ADS_1


“Elsa?”


“Bukan.”


“Rapunzel?”


“Bukan.”


“Cinderella?”


“Bukaaan!”


“Siapa si? Mak Lampir?”


“Apa?”



Dewi Salju melepaskan pelukannya. Pranaja langsung membalikkan tubuhnya. Melihat wajah gadis cantik itu cemberut lagi. Marah lagi. Bibirnya manyun lagi.



“Aku nggak salah kan?”


“Apa?”


“Tuh wajahmu merengut, bibirmu manyun, persiiisss mak Lampir.”


“Pranajaaa…”



Dewi Salju tambah kesal. Tubuh cungkring Pranaja menjadi sasaran cubitan-cubitannya.



“Aw! Aw! Aw! Aw!”



Pranaja meloncat-loncat karena geli dan sakit. Sebentar saja bagian-bagian tubuhnya menjadi merah bekas cubitan.



“Ampun!”




“Dewi Salju!” teriaknya. “Kau belum memberitahu siapa namamu?”



Dewi Salju terus berjalan. Rupanya dia benar-benar marah. Masa aku disamaain Mak Lampir, Huh, gak ada cantik-cantiknya!



Tubuh Pranaja meloncat tinggi, melesat mendahului Dewi Salju. Lalu berdiri menghadang jalannya.



“Baiklah, Aku minta maaf,” katanya sambil mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. “Aku punya hadiah untukmu.”



Dewi Salju berhenti. Menatap wajah imut itu dalam-dalam. Beberapa hari ini wajah imut itu selalu hadir dalam mimpi-mimpinya. Tapi pemuda itu malah lebih asyik tenggelam dalam dunianya. Pranajaaa…kenapa aku harus jatuh cinta sama kamuuu, batinnya.



“Kamu mau nge-prank lagi”


Pranaja menggelengkan kepalanya,


“Kejutaan!” seru Pranaja.



Pranaja berjongkok. Kedua tangannya mempersembahkan seikat bunga Edelweis untuk sang Dewi. Wajah gadis itu seketika berbinar. Senyumnya berkembang begitu lebar.



“Edelweis!”


“Apa?” Dewi Salju diam mematung. Mulutnya terbuka tapi tak bisa berkata-kata. Nampak ada titik air di sudut matanya.


?


“Pranajaa! Kau lah satu-satunya orang yang berhasil menebak namaku,” katanya.

__ADS_1


Tanpa diduga dia memeluk tubuh Pranaja kembali. Kali ini dari depan. Pranaja malah melongo. Hah? Maksudnya nama Dewi Salju itu Edelweis?


Edelweis memeluk tubuhnya erat sekali. Dan sepasang benda kenyal itu kembali menempel di tubuh Pranaja. Begitu lembut dan hangat. Mata pemuda imut itu langsung merem melek. Merasakan kembali sensasi luar biasa yang tiba-tiba bangkit dari alam bawah sadarnya. Auwwhh… ampuni aku ayah.


***


Usai sudah petualangan Rich Pranaja di negeri perdu. Seluruh desa di sepanjang dataran tinggi Allbush sudah kembali normal. Kehidupan sudah berjalan seperti biasanya. Desa Okunumenda menjadi desa yang paling besar dan menjadi tempat persinggahan para pedagang dan pelancong dari negeri-negeri lain. Satu-satunya desa yang selamat dari pembantaian pasukan Istana Es milik penyihir Sarju itu kini menjadi pusat perdagangan.



Warga desa juga mengakui Edelweis sebagai ratu dan pelindung masyarakat dataran tinggi Allbush dan Pranaja sebagai tuntunan mereka. Banyak peraturan baru yang diterapkan oleh Pranaja yang harus diikuti oleh seluruh warga kerajaan Istana Es. Termasuk ikatan pernikahan pemuda dan gadis sebelum mereka melakukan aktivitas ‘bercocok tanam.’



“Hari ini adalah hari terakhir keberadaanku di negeri perdu ini Kepala Desa. Aku akan melanjutkan perjalanku pulang kembali ke negeriku, bumi Nusantara,” ucapnya dengan wajah penuh kesedihan. “Untuk itu aku mohon pamit kepada kalian semua.”



Warga desa yang duduk bersimpuh dihadapannya langsung bertangis-tangisan. Yang paling keras tentu saja sepuluh gadis cantik puteri kepala desa dari isteri yang berbeda-beda. Harapan mereka untuk bersanding dengan Pranaja, pujaan hati mereka, telah kandas. Mreka memeluk tubuh ayahnya, memohon agar dia bisa membatalkan niat Pranaja. Tapi Kepala desa hanya menggelengkan kepalanya.



“Sudahlah anak-anakku. Mungkin Tuan Pranaja bukan jodoh kalian. Bersabarlah, kalian pasti akan mendapat gantinya,” ucapnya mencoba menghibur mereka.


‘Tidak mungkin ayah,” sahut Mey, puteri sulungnya, sambil mengusap air matanya. “Pemuda gunung disini tidak ada yang setampan mas Prana..huuu”



Warga desa lainnya juga menangisi kepergian pemuda yang mereka anggap meiliki kekuatan Dewa itu.


“Kau penyelamat hidup kami. Bagaimana kehidupan kami selanjutnya,” kata mereka.



Pranaja pun membesarkan hati mereka dengan mengatakan dia akan kembali ke puncak Allbush, menemui mereka kembali.


Pada akhirnya memang mereka harus merelakan kepergian sang pujaan mereka.


Karena cinta datang secara tiba-tiba dan pergi tanpa ngasih aba-aba.



Di Istana Es, Ratu Edelweis tak bisa menyembunykan rasa sedihnya. Dia yang sudah menyerahkan hatinya harus bersiap mengalami patah hati untuk pertama dalan hidupnya. Tapi dia tidak menyalahkan Pranaja.


Karena cinta hanya mengenal hati. Dia akan singgah di setiap hati tanpa memandang status dan kedudukannya.Pranaja memeluk tubuh Edelweis dengan penuh kasih sayang.


“Jagalah rakyatmu baik-baik Ratu Edelweis. Mereka adalah tanggung jawabmu.”



Edelweis menggelengkan kepalanya.


“Aku hanyalah seorang ratu Pranaja. Dan selamanya ratu tidak akan pernah menjadi raja. Kaulah raja yang sesungguhnya, karena kau telah duduk diatas singgasanaku,” ucap Edelweis. “Aku titipkan istanaku di dalam hatimu, kekasihku.”



Pranaja menatap wajah sebening es itu dalam-dalam. Dikecupnya kepala Edelweis. Gadis itu memejamkan matanya.



“Kau tidak takut dimarahi ayahmu?” ucapnya sambil tersenyum.


Pranaja menggelengkan kepalanya.


“Aku tahu batasanku. Lagipula aku sudah meminta izin ayahku.”


“Hah? Kapan?”



“Tadi malam, aku kirimkan fotomu kepadanya. Dan dia mengangguk setuju,” katanya sambil menunjukkan ponselnya. “Rupanya dia juga menyukaimu.”



‘Dan ayahmu mengizinkan kau mencium kepalaku?”


Pranaja menganggukkan kepalanya.


“Tidak lebih?”


Pranaja menggelengkan kepalanya.



“Bagaimana jika kau melanggar ijinnya?”


“Aku akan dihancurkannya menjadi debu.”


__ADS_1


Edelweis menatap wajah imut itu dalam-dalam. Rasa cintanya kepada Pranaja semakin dalam. Kau memang bukan pangeran yang tergambar dalam layar imajiku Pranaja. Lebih dari itu, kau adalah Raja yang telah menyelamatkan banyak kehidupan di negeri perdu. Termasuk hatiku…(Akan aku catat dalam buku diariku nanti malam), batinnya.


__ADS_2