RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 112 SIAPA GADIS INI?


__ADS_3

EPS 112 SIAPA GADIS INI?


Tok! Tok! Tok!


Terdengar langkah sepatu yang menggema di ruang istana Abroha. Seorang gadis cantik, memakai baju kulit berwarna merah tua dari kaki sampai lehernya berjalan lembut di atas sepatu high heels nya. Raja Abroha langsung menoleh sambil tertawa lebar. Di bentangkannya kedua tangannya lalu memeluk gadis itu.


“Selamat pagi ayah,” sapa gadis itu.


“Selamat pagi juga Amita, bidadari ayah yang paling cantik,” sahut Abroha.


Amita tersenyum. Ternyata Amita memang gadis yang sangat cantik. Rambutnya tebal pekat sedikit bergelombang dan hidungnya seperti sudut bintang yang berkerlip di langit malam. Ditatapnya wajah ayahnya dalam-dalam.


“Mengapa wajah ayah begitu tegang? Ada musuh yang mengganggu kita?”


Abroha menggelengkan kepalanya.


“Aku belum tahu pasti anakku. Pagi ini ada terdengar ledakan yang begitu dekat dan menggetarkan tanah Merkurius. Dan itu berasal dari manusia yang memiliki kekuatan super dahsyat,” kata Abroha.


Amita mengernyitkan keningnya. Sebenar dia tadi juga mendengar suara ledakan dan getaran itu. Tapi gadis itu tidak mengira ledakan itu berasal dari kekuatan seseorang di luar sana yang memiliki kemampuan di luar nalar manusia.


“Ayah sudah mengetahui siapa dia?”


Abroha menggelengkan kepalanya.


“Belum. Seluruh satelit dan pasukan mata-mata kita ikut musnah karena kekuatan ledakan tadi.”


“Apa?” Amita terkesiap kaget. “Kalau begitu, biarkan aku menyelidikinya ayah. Aku jadi penasaran dengan manusia ini.”


Walaupun Amita adalah puteri raja, tapi dia bukan gadis manja. Sebagi anak panglima perang, sejak kecil dia sudah dididik secara militer oleh ayahnya. Dia memiliki kemampuan beladiri sekelas pasukan khusus robot android, menguasai berbagai macam senjata dan pengetahuan akan strategi perang. Dan dia memang dipersiapkan Abroha untuk menggantikan posisinya suatu saat nanti.


“Tidak perlu! “ tegas Abroha. “Tugas ini terlalu berbahaya. Kita belum tahu siapa dia, dan berasal dari planet mana?”


“Lalu apa yang akan ayah lakukan?”

__ADS_1


“Jenderal Alahab sedang mempesiapkan satelit mata-mata baru untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”


Amita menggeleng cepat.


“Terlalu lama ayah. Kita bertaruh dengan waktu. Atau ayah ingin kehilangan informasi penting ini?”


Huft!


Abroha menghela nafas panjang. Rasanya sia-sia membantah kata-kata puterinya bila sedang ada maunya. Tapi benar juga kata Amita, mereka harus menghitung waktu dengan cermat. Jangan sampai kecolongan diserang musuh yang belum diketahui kekuatannya.


“Baiklah. Pergilah puteriku. Tapi ingat! Jangan membahayakan dirimu. Bila keadaan sudah tidak menguntungkan, kau harus cepat kembali. Hindari pertarungan yang tidak perlu,” pesan Abroha panjang lebar.


Dia mengenal betul karakter puterinya. Walaupun memiliki kemampuan hebat, tetapi Amita sering kehilangan emosinya. Dan akhirnya membuyarkan semua rencana yang sudah tersusun dengan baik.


“Tenang saja ayah,” sahut Amita sambil mencium pipi ayahnya. “Amita janji tidak akan ceroboh lagi. Swear!”


Abroha menganggukkan kepalanya sambil tertawa lebar.


Jagad raya adalah ruang kosong. Matahari, planet-planet, bulan, bintang, bebatuan dan debu angkasa hanyalah benda-benda kecil di dalam sebuah ruang yang luasnya tak terbatas. Mereka semua bergerak dalam gelap dan sepi. Ada yang berputar-putar sesuai garis orbitnya karena pengaruh matahari, seperti planet, bulan, komet dan asteroid. Ada juga yang melayang tak tentu arah dalam ruang jugad raya yang luasnya tak terbatas.


Tubuh Pranaja mengapung tenang di angkasa raya. Perlahan di kembali ke atmosfer bumi dimana Spot dan Wyona sedang menunggunya. Butuh waktu bertahun-tahun agar matahari kembali menunjukkan kekuatannya seperti semula. Namun paling tidak kekuatan api yang dia tembakkan ke arah matahari telah memberikan dampak yang signifikan.


Dia yakin dengan pulihnya kekuatan yang raja Surya, kehidupan di tata surya akan kembali, menggantikan kehidupan lama yang sudah musnah tersedot kekuatan lubang hitam. Mungkin akan muncul makhluk-makhluk baru sebagai hasil dari sebuah evolusi. Dan itu adalah sebuah keniscayaan, manakala makhluk hidup berubah karena pola adaptasinya dengan lingkungan yang baru.


Di limit atmosfir bumi dia berhenti. Berdiri gagah menatap tajam ke arah matahari. Bola matahari yang tadinya terlihat hitam dari bumi, sekarang sudah mulai memerah walaupun masih samar. Pranaja tersenyum tipis, ada rasa bahagia di dalam hatinya. Teringat generasi manusia yang terus ada menjadi penghuni planet bumi karena sebentar lagi lapisan es yang menutupinya akan mencair.


Mendadak wajahnya seperti menegang. Rupanya ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Di titik yang begitu jauh di kegelapan luar angkasa, pemuda itu melihat ada lampu yang berkedip-kedip seperti bintang yang sangat kecil yang terombang-ambing diantara gugusan batu-batu asteroid.


Pranaja langsung berdiri. Sinar itu semakin besar dan mendekat ke arahnya. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang terjadi. Dia mengaktifkan baju T-Shield 313216 nya. Terasa ada hawa sejuk yang memasuki pori-porinya, dan langsung masuk ke dalam pembuluh darahnya dan seluruh sel di dalam tubuhnya. Memberinya energi yang berlipat, juga dengan kekuatan inderanya.


Dengan kekuatan matanya dia dapat membesarkan obyek yang kecil menjadi sepuluh kali lipat lebih besar. Rupanya titik sinar itu berasal dari sebuah pesawat luar angkasa yang tersesat dan terhempas kesana kemari.


“Aku harus cepat-cepat menolongnya,” katanya dalam hati.

__ADS_1


Pranaja melesat mengejar pesawat yang terjebak di antara gugusan Asteroid. Semakin dekat semakin jelas kalau pesawat itu bergoyang-goyang kesana kemari terbentur kerasnya bebatuan angkasa. Tapi aneh, cahaya ekornya semakin meredup.


“Kelihatannya pesawat luar angkasa itu kehabisan bahan bakar,” batinnya.


Wuasss!


Pranaja terbang sejajar dengan pesawat itu, lalu berusaha mengubungi pesawat itu.


“Hai! Apakah ada orang didalam pesawat?”


Lampu pesawat asing itu langsung menyala berkedip-kedip.


“Tolong! Selamatkan aku!” teriak sesorang dari dalam pesawat.


“Hah? Ada orang yang berteriak di dalamnya. Aku harus menolongnya,” kata Pranaja.


Pranaja segera bersiap masuk ke dalam gugusan Asteroid itu. Semakin dekat, ternyata batuan asteroid itu besar-besar sekali. Rata-rata sebesar rumahnya, bahkan ada yang sebesar bukit. Dia harus menghancurkan batu-batu besar itu sebelum menghimpit pesawat itu dan menghancurkannya menjadi sampah angkasa.


“Anugerah Mata Dewa!”


Pranaja mengeluarkan kekuatan pamungkas yang jarang di gunakan olehnya.


Wus! Wus! Wus!


Dari kedua matanya keluar dua larik sinar berwarna biru muda. Begitu larikan sinar itu menyentuh batu batu besar itu, terdengar ledakan dahsyat yang menghancurkan mereka menjadi debu.


Blar! Blar! Blar!


Setelah itu dia menjadi leluasa mendekati pesawat itu. Dia menarik ekornya dari tengah gugusan asteroid menuju tempat yang aman. Kemudian dia membuka pintu kockpit pesawat. Dia masuk ke dalam dan memeriksanya. Tidak ada siapapun disana kecuali seorang gadis yang tergeletak di lantai kabin.


Pranaja berjongkok memandangnya. Diperiksanya semua tanda-tanda vitalnya. Nadi, napas jantung dan suhu tubuhnya. Semuanya normal. Napasnya terdengar mengalun lembut secara teratur. Ah rupanya gadis itu pingsan. Pranaja jadi heran, bisa-bisanya gadis itu terjebak di luar angkasa sendirian. Apalagi dia belum menemukan tanda-tanda ada kehidupan di sekitarnya.


Siapa gadis ini sebenarnya…?

__ADS_1


__ADS_2