RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 102 PORTAL DUNIA LAIN


__ADS_3

EPS 102 PORTAL DUNIA LAIN


Orang-orang yang berlari-lari itu terlihat kelelahan. Mereka berhenti di bawah pohon palem di depan bungker. Nafas mereka terdengar memburu cepat. Setelah memastikan keadaan aman, tubuh mereka menggelosoh ke tanah.


“Damn! What happened?” tanya Tom.


Josh dan Keane hanya menggelengkan kepalanya.


“Bagaimana mungkin bola baseball kita berbalik dengan cepat dan menyerang kita sendiri?” tanya Tom lagi.


“Mungkin benar rumor itu bos?” ujar Josh.


“Hah?” Tom mengernyitkan keningnya. “Rumor apa?”


“Anak Asia itu mempunyai kekuatan setan,” sahut Josh.


Tom menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum sinis.


“Bisa jadi bos. Banyak yang mengatakan begitu, bahwa dia telah menjual jiwanya kepada Devil atau raja iblis sehingga memiliki kekuatan aneh,” kata Keane.


“Coba pikir saja secara logika.'Bola baseball yang telah disuntik bom cair itu mestinya meledak saat menyentuh benda keras lainnya. Tapi lihatlah, bola itu tidak meledak bahkan dilempar kembali oleh Pranaja kepada kita,” ujar Josh panjang lebar.


“Dilempar kembali? Memang kau melihat bola itu diempar kembali oleh Pranaja?” tanya Tom.


Josh menggelengkan kepalanya.


“Aku melihat bola itu berputar dan berbalik lagi ke arah kita tanpa disentuh oleh siapapun,” kata Keane. “Benar begitu kan Tom?”


Tom menganggukkan kepalanya.


“Hem, setahuku begitu juga.”


Jleg!


Tiba-tiba terdengar suara benda berat jatuh ke tanah. Mereka langsung menoleh. Betapa terkejutnya melihat Pranaja telah berdiri gagah di belakang mereka. Padahal tadi mereka melihat sendiri Pranaja dan teman-temannya sedang duduk santai di taman depan perpustakaan.


“It..itu set..setan boz?”ujar Keane.


Tom menoleh sejenak ke Keane dengan wajah kesal. Lalu menatap sosok yang baru datang itu. Pranaja tersenyum sinis.


“Ternyata kalian, sekelompok anak nakal. Mau bermain-main denganku?” tanya Pranaja..

__ADS_1


Tom, Jos dan Keane memang terkenal sebagai geng kampus yang suka membuat onar. Mereka selalu memusuhi para imigran yang datang dari Asia. Dan tindakan rasis mereka sering kelewatan. Mereka sering terlibat kasus pengeroyokan dan pelecehan terhadap mahasiswa-mahasiswa Asia yang belajar di sana. Kadang mereka melakukan penculikan, memaksa korbannya ikut dengan mereka ke suatu tempat untuk dipukuli lalu ditinggal pergi.


“Ternyata benar omongan orang-orang, kau memiliki ilmu setan!” ujar Tom.


“Dan kau sudah kelewatan, melemparkan bom ke arahku. Kau ingin membunuhku?” semprot Pranaja dengan wajah marah.


“Ah, banyak omong kau!” ujar Tom.


Lalu dia menyerang Pranaja dengan ganas dengan tongkat pemukul baseballnya.


Tung!


Tongkat itu mental kembali, padahal Pranaja tidak melakukan apa-apa. Hanya diam-diam dia menyelubungi dirinya dengan kekuatan Lembu Sekilan. Senjata apapun yang diarahkan kepadanya akan mental pada jarak limabelas sentimeter.


Tung! Tung!


Tom memukulkan tongkatnya kembali. Dan mental kembali. Hal yang membuat emosinya yang mudah terbakar langsung meledak. Bagikan hilang kendali, pemuda itu memukuli tubuh Pranaja dengan membabi buta ke sekujur tubuh Pranaja.


Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung!...


Dia melihat tubuh Pranaja melekuk kemana-mana. Tapi anehnya tidak ada darah yang mengalir dan mulutnya masih tersenyum.


Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung! Tung!


Buk!


Dia melayangkan tinjunya ke arah Tom.


Cur!


Darah langsung mengalir.


Bug! Bug!


Dua pukulan lagi bersarang di rahang.


Aargh!


Tom langsung terkapar dan tak sadarkan diri.


***

__ADS_1


“Bungker apa ini Pranaja?” tanya Miracle.


“Terlihat seperti bungker militer peninggalan Perang Dunia kedua,” katanya.


Bungker seperti gua itu tidak begitu besar. Pintunya di tertutup rapat dan terkunci. Pranaja merusak kunci yang sudah karatan itu. Sekali pukul kunci itu langsung hancur berantakan. Begitu dibuka lorong dalam bungker itu terlihat begitu gelap.


“Ayo kita masuk,” ujar Pranaja.


Ketiga remaja itu langsung masuk ke dalamnya. Begitu ketiganya masuk ke dalam. Bungker itu mendadak hilang bersama para penghuninya. Ternyata bungker itu hanyalah tipuan. Dia adalah sebuah pintu portal menuju dunia gaib. Karena mereka memang menginginkannya.


Tubuh Pranaja. Miracle dan Tong Pi seperti melayang di dalam ruang penuh warna. Tubuh mereka seperti tersedot ke depan. Dan Pranaja tidak menggunakan kekuatan apapun. Dia hanya turut saja kemana lorong itu akan membawanya. Beda dengan Miracle dan Tong Pi yang terlihat panik.


Aaakh!


Bug!


Mereka jatuh di dalam sebuah ruang penuh dengan jerami gandum di tengah lahan pertanian kosong yang ditinggal penghuninya. Begitu jatuh mereka langsung tertidur pulas, karena saat itu adalah tengah malam.


Pranaja bangun lebih awal di pagi hari. Matahari belum menampakkan sinarnya, tapi hawa di pagi itu terasa panas. Angin bertiup tidak beraturan, menggoyangkan ranting-ranting kesana kemari.


Binatang-binatang pun nampak gelisah. Mereka menegakkan leher dan telinganya, seakan sedang mencari tahu apa yang akan mereka hadapi saat itu. Tong Pi juga mendadak terbangun.


“Kau merasakan sesuatu Tong Pi?” tanya Pranaja pada sahabat kesayangannya.


“Aku tidak tahu,” Tong Pi hanya menggaruk-garuk kepalanya berkali-kali.


“Kau juga nampak gelisah. Apa kau merasakan adanya ancaman?”


Mendadak Tong Pi berdiri, tangannya menunjuk ke angkasa. Nampak ada titik hitam melaju begitu cepat jatuh ke bumi. Semakin lama semakin jelas bahwa benda itu menuju ke arah mereka.


‘Bum!’


Terdengar suara ledakan yang begitu keras saat benda itu menyentuh permukaan bumi. Getarannya bahkan mampu melontarkan tubuh mereka ke belakangan. Benda itu jatuh tidak jauh dari Pranaja dan Tong Pi berdiri, sementara Miracle masih terlelap.


Pranaja yang sudah siap, langsung melenting ke udara. Ditariknya tubuh Ton Pi dalam dekapannya. Tubuhnya berputar dua kali diudara sebelum mendarat dengan tenang diatas dahan pohon timun raksasa. Sikapnya penuh kewaspadaan.


Matanya tajam menatap debu yang masih mengepul. Rupanya benturan benda angkasa itu menyebabkan kerusakan yang cukup parah. Terlihat lubang besar berwarna hitam.Ledakan itu juga membuat pepohonan dan rumput terbakar dalam jarak seratus meter persegi.


“Hm, benda apa itu Tong Pi?” gumamnya penasaran.


Dia tidak dapat memastikan benda yang baru saja jatuh dari angkasa itu. Namun firasat Pranaja mengatakan agar dia menyelamatkan benda itu. Ditaruhnya tubuh kecil Tong Pi di salah satu dahan mentimun. Setelah memotong salah satu rantingnya, kemudian dia melompat dengan sigap.

__ADS_1


“Hap!” tubuhnya melayang ringan dan mendarat dengan tenang di bibir lubang bekas ledakan tadi . Diperiksanya lubang ledakan itu dengan seksama. Tidak ada apapun di sana. Padahal jelas sekali dia melihatnya tadi.


“Kemana benda yang jatuh tadi?” gumamnya.


__ADS_2