
EPS 125 IS IT YOU?
Ruang besar dan dingin itu menyimpan kekakuan yang mendalam. Tubuh Pranaja terasa membeku di bawah tatapan mata perempuan paling tangguh di dunia, bos Secret Intelligent Service (SIS) atau Dinas Rahasia Inggris atau juga lebh dikenal M16. Tempat berkumpulnya agen-agen terbaik dunia. Tidak ada yang tahu siapa nama sebenarnya, tapi dia lebih suka dipanggil M.
Pranaja mengulurkan tangannya, menerima tumpukan berkas tentang profil Blade Muller, dari Curriculum vitai, karir hingga keberadaannya yang terakhir berdasarkan pemindaian foto citra satelit. Laki-laki yang terbentuk keras, kasar, kuat, berani mengambil keputusan dan rela melakukan segala cara untuk mencapai tujuan. Termasuk cara-cara licik dan pengkhianatan. No probem, bukan masalah baginya, yang penting upahnya sepadan.
“Itu adalah daftar orang-orangnya Blade yang masuk ke Indonesia dua bulan yang lalu. Di situ ada nama kolonel Blade Muller mantan anggota SAS. Jabatan terakhir adalah komandan pasukan elit gabungan tiga angkatan. Dia ahli strategi perang udara, darat dan laut.“
Pranaja membaca dengan seksama dokumen yang diberikan M.
“Blade memutuskan pensiun awal dari kedinasan karena tergiur dengan keuntungan finansial menjadi tentara bayaran. Dengan keahliannya, Blade bahkan bisa membangun bisnis tentara bayaran sendiri yang digunakan oleh hampir seluruh negara-negara di dunia,” kata M lagi. “Khususnya negara-negara yang sedang dilanda konflik perpecahan.”
Pranaja menyimak dengan seksama.
“Tapi dalam catatan imigrasi, dia masuk ke Indonesia secara legal karena ada kontrak pekerjaan dengan Subrata’s Holding Company, perusahaan property terbesar dunia yang dimiliki taipan dari Indonesia, Subrata,”ujarnya.
M. menganggukkan kepalanya.
“Ya, konglomerat yang masuk sepuluh orang terkaya dunia versi majalah Forbes,” sahut M. “Coba kau periksa surat kontraknya, disitu tercantum kontraknya berakhir sebulan yang lalu. Harusnya mereka sudah kembali ke negeranya masing-masing, tapi di kantor Imigrasi Indonesia tidak ada datanya. Setelah menyelesaikan kontraknya, mereka menghilang. Dugaan Imigrasi, dia masih ada di wilayah hukum Indonesia.”
Pranaja mengangguk-angguk, dalam hati dia mengagumi kelihaian Blade.
“Apa reaksi pemerinta pusat M?”
“Sejak terindikasi masuk dalam kisaran perdagangan narkotika, Pemerintah Kerajaan Inggris telah menetapkan dia sebagai buronan Negara dan wajib untuk di tangkap.”
“Karena itulah M16 mengirim agen 004 untuk menyelidiki keberadaannya?”
“Ya, Sekretaris Menteri Pertahanan telah mengirm surat perintah agar kita menangani kasus ini. Dan kita sudah mengirim tim untuk mencari keberadaan Blade dan anak buahnya.”
“Bagaimana dengan pihak keamanan Indonesia.”
__ADS_1
“Kita sudah melakukan koordinasi dengan Markas Besar Kepolisian Indonesia,” jelas M, “Mereka telah membentuk Tim Khusus yang dikoordinasi oleh Kolonel Simson Hutapea, komandan Detasemen Khusus Anti Narkoba.”
Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun pandangan matanya begitu fokus pada setiap data yang dia baca dari berkas ditangannya. Menurut hasil penyelidikan sementara, Blade masuk menjadi pengawal Kartel baru yang bernama Club Dark-O pimpinan Ivan Draco. Mereka mengedarkan narkoba jenis baru dalam bentuk gel yaitu Exqua Y-Blue.
Pranaja lantas menunjukkan kertas faksimil yang ternyata berisi foto-foto club DARK-O dan pemiliknya Ivan Draco kepada M. Perempuan itu melihatnya sekilas.
“Dalam catatan menyebut kartel narkoba Club Dark-O. Club ini berdiri satu bulan yang lalu. Ini lokasinya dan ini foto pemiliknya. Apa kau mengenalnya?” tanya Pranaja
M menggelengkan kepalanya.
“Sepengetahuanku dia bukanlah seorang pemain di bisnis obat terlarang, Dia adalah seorang pekerja professional yang di kontrak oleh Pramono, orang kepercayaan Subrata untuk membersihkan hutan, dan persiapan lahan baru untuk bisnis properti. Entah kenapa dia kemudian terjun ke bisnis narkoba, bahkan menjadi pemain utama.”
Pranaja mengamati foto itu dengan seksama.
“Kalau melihat raut wajahnya seperti orang Eropa Timur.”
M menganggukkan kepalanya.
“Ya. Dia berasal dari Cekoslowakia. Namanya Ivan Draco. Menurut pihak imigrasi, dia masuk Indonesia kira-kira dua bulan yang lalu. Seorang profesional di bidang penebangan hutan. Menguasai beladiri karateka ban hitam, menguasai empat bahasa, dan mahir menggunakan segala jenis senjata. Dia juga seorang ahli strategi perang.”
“Kemungkinan lewat jalur darat Papua Nugini.”
Pranaja memandang wajah M dalam-dalam. Begitu bayak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya, tapi dia merasa belum saatnya menanyakannya sekarang.
“Baik M. Aku akan pelajari lebih lanjut dokumen ini,” ucapnya sambil melangkah pergi.
Namun di depan pintu keluar dia berbalik lagi.
“Ada lagi yang harus aku tanyakan M.”
M hanya menatapnya, menunggu kata-katanya.
“Kenapa perusahaan properti besar macam Subrata sampai harus menyewa tentara bayaran asing untuk mengamankan asetnya, Padahal Indonesia bukan Negara konflik, dan keamanan bisnis di sana sangat terjamin?”
“Ya, itu satu hal lain yang mesti kau selidiki,” sahut M.
__ADS_1
Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya kembali. Hm, dia mencium sesuatu yang lebih besar dari proyek konglomerasi itu.
***
Siang itu suasana di bandara Soekarno Hatta begitu sibuk. Pesawat-pesawat besar silih berganti landing dan take off dari dalam dan luar negeri. Bandara Soekarno Hatta merupakan bandara terbesar sekaligus tersibuk yang ada di Indonesia. Bagaimana tidak, lokasinya yang ada di dekat ibukota negara menjadikan bandara ini selalu ramai pengunjung.
Pranaja menemukan dirinya malah kesepian di sudut ruang tunggu atau dikenal dengan sebutan Airport Lounge. Ruangan tersebut didesain dengan sangat nyaman dan dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung seperti free WiFi serta berbagai makanan dalam sistem buffet ataupun all you can eat.
Di amatinya orang-orang yang berlalu lalang di depannya. Seperti mesin yang bergerak dengan alur yang tidak beraturan, mereka menyibukkan dirinya tanpa kata-kata. Tidak ada saling tegur dan menebar senyum, layaknya keramahan orang Indonesia saat saling bertemu di jalanan. Yang tidak hilir mudikpun hanya duduk diam sambil memainkan jari-jenarinya diatas papan ponselnya.
Pranaja sengaja tidak memberitahu siapapun tentang kepulangannya. Dia ingin memberikan kejutan kepada ayah dan ibu di rumah.
“Ayah dan ibu pasti terkejut begitu melihat wajahku di depan pintu,” batinnya.
Bibirnya jadi tersenyum sendiri. Menarik perhatian seorang gadis yang sedang sibuk mencari tempat duduk di ruang tunggu itu. Nampaknya gadis itu mengenal Pranaja.
“Hai!” sapa gadis itu sambil tersenyum ramah.
Pranaja langsung mendongak, lalu menatap wajah gadis itu dari balik kaca mata hitamnya. Lalu balas tersenyum, menyajikan pesona wajah imutnya.
“Hai!” balasnya.
Pranaja balas menatap wajah gadis itu. Samar dia seperti pernah bertemu gadis ini.
“Apa kau mengenalku?” tanya Pranaja.
Gadis itu tersenyum. Melepas kaca mata hitamnya, lalu duduk di depan pemuda itu.
Owh, perlahan dia menemukan wajah gadis itu dalam arsip memori otaknya.Dan Pranaja langsung tersentak kaget. Senyumnya berkembang, dan wajahnya menunjukkan kegembiraan.
Diamatinya tubuh gadis cantik itu dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Memakai celana pendek, kaos serta rompi dari kulit harimau dan sepatu dari kulit buaya. Rambutnya sebahu di kepang dua, ada poninya juga. Tubuhnya tidak tinggi tapi juga tidak pendek. Dan wajahnya cantik seberti rembul…eh bukan seperti berlian, batinnya.
“Ana? Is it you? Ana Pramono?”
__ADS_1
Hahaha..
Dan mereka tertawa bersama dalam ruang dan waktu yang tidak pernah mereka duga.