RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 29 PROMOSI JABATAN


__ADS_3

PROMOSI JABATAN


Tubuh Agen 009 Kim Bryner dan anak buahnya langsung terkapar tak berdaya dengan luka yang cukup parah. Pranaja meremukkan tulang kaki mereka agar tidak bisa berlari kemana-mana.


“Lindungi M!” katanya kepada Miracle.


M langsung masuk kembali ke dalam mobil, lalu menghubungi pasukan keamanan yang berjaga di markas M16.


“Aku akan masuk ke dalam gedung membebaskan Tong Pi. Kau tetaplah disini!”


Miracle menganggukkan kepalanya. Dia memejamkan matanya, lalu mengangkat kedua tangannya. Mendadak mobil yang ditumpangi M ikut terangkat ke atas. Lalu melayang menjauhi gedung kecil menuju tempat yang lebih terlindung. Miracle melompat ‘terbang’mengikutinya.


Pranaja baru saja akan masuk ke dalam gedung ketika terdengar ledakan disertai asap tebal yang menghancurkan pintu masuk.


“Bum!”


Asap tebal itu terbang kemana-mana, menutupi pandangan dan sebagian terhirup oleh Pranaja. Mendadak dadanya merasa sesak. Rupanya penyerang gelap itu melemparkan bom asap beracun. Asap berwarna putih kekuningan seperti sulfur itu merasuk ke dalam jalan nafasnya. Menyumbat suplai oksigen ke dalam butiran-butiran darahnya.


Pranaja melompat ke belakang dengan bersalto tiga kali di udara. Kemudian duduk bersila, menutup jalan nafasnya. Membiarkan butir-butir darahnya menetralisir racun yang mencoba masuk ke dalamnya. Dengan sistem metabolisme tubuhnya yang unik, zat beracun itu dikeluarkan kembali melalui pori-porinya dalam bentuk cairan keringat.


Setelah merasa pulih Pranaja segera berdiri kembali. Menutup hidung dan mulutnya dengan selembar kain, lalu berlari menerabas asap beracun itu dan masuk ke dalam gedung.


“Heyaa!”


Tubuhnya melompat lalu bergulingan di lantai.


‘Tatatatatatatatatatatatatat!!!!’ suara ratusan peluru yang menghujaninya begitu dia masuk ke dalam.


Pranaja melompat ke atas. Kedua tangannya direntangkan ke belakang lalu diputar ke depan membentuk lingkaran.


‘Pukulan Dinding Bayangan!!”


Dinding angin' berbentuk lingkaran itu menyelubungi tubuhnya. Lalu membesar ke segala arah. Para penyerangnya langsung melompat ke tempat-tempat terlindung.


Pukulan dinding bayangan berhasil membuyarkan konsentrasi para penyerangnya. Tapi tidak dengan pelurunya. Ratusan peluru itu berhasil menembus kekuatan dinding angin dan terus menyasar tubuh Pranaja.


Pemuda itu terkesiap kaget, dia tak menyangka peluru-peluru itu berhasil menembus kekuatan dinding anginnya. Dan dia tak semat menghindar, membiarkan peluru-peluru itu sebentar lagi mengoyak tubuhnya.


Mendadak dia merasa ada tangan yang menyentuh punggungnya. Menyalurkan hawa sejuk yang melingkari tubuhnya. Membuatnya terasa begitu nyaman. Dan anehnya, peluru-peluru yang jaraknya tinggal duapuluh sentimeter dari tubuhnya itu langsung rontok ke bawah. Berjatuhan dan menggelinding kesana-kemari.


Cling! Cling! Cling! Cling! Cling! Cling!


Pranaja menengok ke belakang. Nampak Miracle berdiri tenang sambil memejamkan kedua matanya. Pasukan bala bantuan yang di hubungi M juga sudah tiba dan menyusul masuk. Mereka menodongkan senjatanya ke segala arah. Memaksa para pengkhianat itu untuk menyerahkan senjatanya.


“Lemparkan senjata kalian! Berdiri dengan tangan diangkat tinggi ke atas! Yang melakukan gerakan mencurigakan akan langsung kami eksekusi di tempat!” teriak komandan pasukan pengamanan markas M16.


Tidak ada jalan lain, satu persatu anak buah Agen 009 Kim Bryner itu keluar dari persembunyiannya dan menyerahkan diri. Sementara Miracle langsung berlari ke kamar kecil di sudut ruangan. Dia melihat Tong Pi dalam keadaan terikat dan tak sadarkan diri. Pranaja menyusul di belakangnya.


“Tong Pi!” teriak Miracle.

__ADS_1


Gadis itu bergegas menghampiri tubuh kecil tak berdaya itu. Melepaskan ikatannya kemudian memeluknya. Miracle memang sayang banget kepada agen kecil itu, seperti kepada adiknya sendiri.


“Tong Pi! Bangun! Banguun!” katanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh kecil itu.


“Tenang Miracle, sabar dong,” kata Pranaja.


Diperiksanya jalan nafas dan tanda-tanda vital lainnya. Detak jantung, denyut nadi, suhu dan kelembaban, semua normal. Tidak ada masalah.


“Semua baik-bak saja. Dia hanya pingsan, mungkin karena pengaruh obat bius yang disuntikkan ke dalam tubuhnya,” ujar Pranaja.


Lalu beberapa tim rescue masuk. Memeriksa tubuh Tong Pi kemudian membawanya keluar kamar.


“Mau dibawa kemana dia?” tanya Miracle mencegah mereka.


“Biarkan mereka membawanya ke rumah sakit Miracle,” kata M yang tiba-tiba muncul di situ. “Mereka semua orang-orangku.”


Miracle menatap wajah M dalam-dalam. Bos M16 menganggukkan kepalanya, seolah sedang meyakinkan gadis itu bahwa Tong Pi berada di tangan yang benar. Perlahan Miracle melepaskan pegangannya, walaupun wajahnya jelas menyimpan keraguan.


***


Hari itu M nampak sumringah. Berkali-kali dia menebarkan senyum kepada orang-orang yang berpapasan dengannya. Sesuatu yang sangat aneh, karena tidak biasanya dia bersikap begitu. Kaku, dingin dan galak adalah citra yang selama ini melekat pada dirinya.


“Selamat pagi M!” sapa Q di pintu masuk ruangannya.


“Selamat pagi Q!” sahutnya sambil tersenyum. Lalu menoleh kepada sekretarisnya.” Selamat pagi Moneypenny!”


“Sel..sel..sell” ucapnya gagap.


“Dor!”


Seru Pranaja sambil menepuk bahunya dari belakang.


“SELAMAT PAGI M!” katanya keras sekali.


Semua orang menoleh kepadanya sekejap, lalu sibuk kembali dengan pekerjaannya masing-masing. Sakretaris M menoleh ke belakang, lalu tersenyum genit pada agen paling imut itu.


“Iih, Naja sayang, gak usah dikagetin, hatiku juga sudah jatuh,…….jatuh cinta padamu hehehe..” godanya.


Naja memegang satu tangan Moneypenny, lalu berlagak sok genit juga.


“Aduh tante, hatinya jangan dibiarkan jatuh nanti ilang, susah carinya lo?”


Miracle yang berdiri dibelakangnya langsung memegang tangan Pranaja dan menyeretnya dengan muka cemberut.


“Dadah tanteee,” kata Pranaja sambil memberikan kissbye.


Miracle tambah gemes. Dicubitnya lengan Pranaja keras-keras.


“Adduh! Kamu kok nyubit beneran?”

__ADS_1


“Uh! Dasar laki-laki ganjen!”


“Eh, kamu cemburu ya?” goda Pranaja. “Masa cemburu sama tante-tante?”


Wajah Miracle langsung merah jambu. Iih, kesel banget pengin ngremes mukanya Pranaja, batinnya gemes. Apaan si, malah senyum-senyum begitu.


“Pranaja dan Miracle. Kalian masuk!” panggil M dari dalam ruangannya.


Pranaja dan Miracle segera masuk dan duduk di depan meja besar M.


“Terimakasih atas keberanian kalian melawan para pengkhianat-pengkhianat itu. Kalian benar-benar menjadi pahlawan hari ini,” kata M.


Pranaja dan Miracle hanya diam mendengarkan.


“Ternyata jaringan 009 terkonek dengan jaringan James Gibron. Berkat kalian semuanya dapat terbngkar termasuk jaringan mereka di dalam. Ternyata bukan hanya Agen 009 tetapi juga Agen 008 ikut terlibat,” sambung M.


Pranaja dan Miracle saling berpandangan. Mereka terkejut dengan keterlibatan 008.


“Mereka telah aku berhentikan, pihak keamanan juga telah menangkap mereka. Untuk itu aku akan mempromosikan kalian berdua sebagai ganti agen 008 dan 009.”


Pranaja dan Miracle terdiam.


“Bagaimana?” Tanya M.


“Sorry M. Saat ini kami tidak memikirkannya. Kalau aku lebih berpikir secepatnya pulang ke Indonesia sebelum tahun baru,” sahut Pranaja.


“Aku juga. Sudah tiga tahun aku tidak merayakannya bersama keluargaku.”


M mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Baiklah. Kalian boleh pulang begitu misi kalian selesai,” kata M.


Pranaja mengepalkan kedua tangannya, Yes! Batinnya. Miracle juga nampak girang.


“Boleh aku membawa Shield, M”


M terseyum lebar.


“Tentu. Memang robot itu diciptakan khusus untkmu. “


Wow! Mata Pranaja langsung bebinar. Dia langsung mengajak Miracle keluar ruangan. Begit sampai di pintu. M memanggil Pranaja kembali.


“Pranaja!”


“Ya?”


“Kau juga mau mengantar Miracle pulang ke negerinya?”


Dan wajah mereka langsung merah jambu.

__ADS_1


__ADS_2