
KEKUATAN KEDUA
Hidup hanyalah jalan menapak menuju satu tujuan. Dengan bunga-bunga yang terangkai di kiri kanannya yang menggoda kita berhenti sejenak untuk sekedar menikmatinya atau memetiknya atau terbuai dalam rayuannya. Kalau sudah begitu maka langkahmu tak lagi ringan, karena kau telah terbebani dengan keinginan, dan merasa kebahagiaan dunia adalah yang terpenting dalam perjalananmu. Naif!
Pranaja terus melangkahkan kakinya perlahan, menembus kabut abu yang tebal. Lalu dia melompat saat mendapati kawah panas yang cukup lebar.
Bush!
Kedua kakinya terperosok ke dalam tumpukan abu monokromatik. Sesaat dia tidak dapat menguasai keseimbangannya. Lalu jatuh dan tenggelam dalam tumpukan abu panas itu. Dia berusaha berdiri sambil mengibas-ngibaskan tangan dan kakinya. Seketika kabut abu yang menggantung di udara kembali menghujani tubuhnya.
“Uh, Aku tidak bisa melihat. Seluruh tubuhku tertutup abu,” seru Pranaja takjub.
Mendadak tubuh Pranaja bergetar lembut, rupanya sistem pertahanan tubuhnya yang unik sedang membersihkan sendiri abu yang menempel di tubuhnya. Getarannya semakin hebat membersihkan tumpukan abu yang masih membandel menempel di sekujur tubuhnya. Ajaib! Seketika tubuhnya bersih kembali.
Setelah itu, kedua kakinya melangkah perlahan menembus kabut abu yang tebal. Lalu melompat saat mendapati kawah panas yang cukup lebar. Setelah itu dia berhenti. Rupanya ini adalah tempat yang dia lihat dalam mimpinya kemarin. Tempat yang disebut sebagai istana miliknya dahulu. Dan dia tersenyum senang melihatnya kembali.
Sementara, dari atas batu besar di depan air terjun, Panembahan Mbah Iro memandang takjub wajah Pranaja. Wajah pemuda itu nampak bercahaya. Ada aura berwarna putih berkilauan membias menyelubungi wajahnya. Panembahan sampai kehabisan kata-kata melihat pemandangan itu. Oh Hyang Jagad Dewa Batara, ini benar-benar Ksatria Piningit.
Dibawah sinar purnama yang menembus lewat air terjun, wajah imut Pranaja semakin mempesona. Ada sinar putih berkilauan yang mengelilingi tubuhnya, dan butiran-butiran air yang terpental kesana kemari membiaskan cahaya putih itu menjadi spektrum warna ungu, merah, biru, kuning dan warna lainnya. Indah sekali.
“Kau berhasil cucuku. Aku melihat senyum disaat pertapaanmu. Itu tandanya ajian Tirtanala telah menyatu di dalam dirimu,” batin Panembahan.
Saat purnama mencapai puncaknya, keajaiban itu terjadi. Perlahan, air terjun Curug Plethuk berubah menjadi es. Lalu semuanya berhenti. Tidak ada lagi air yang mengalir, tidak ada lagi suara debur air yang bergejolak. Semua diam. Begitu dingin dan membeku. Mengurung tubuh Pranaja didalamnya.
Bahkan kekuatan api yang dimilikinya ikut keluar dan membeku, membentuk puluhan lidah-lidah api yang berwarna merah kebiruan. Wow! Menakjubkan. Pranaja tidak sadar kalau kekuatan Tirtanala telah menyatu dalam tubuhnya, dan membuat air terjun Curug Plethuk berhenti mengalir.
Dalam keadaan duduk Panembahan Somawangi terbang mendekati tubuh Pranaja. Menyentuh air terjun yang membeku itu hingga mengalir kembali. Lalu disentuhnya bahu calon pemimpin Trah Somawangi itu perlahan.
“Bangunlah cucuku. Kekuatan Tirtanala sudah bersemayam di dalam tubuhmu,” ujarnya.
Pranaja membuka matanya. Melihat tubuh Panembahan yang duduk bersila di luar air terjun dihadapannya.
“Berdirilah Pranaja, keluarlah dari air terjun. Perjalananmu sudah selesai.”
“Apa yang terjadi kakek? Kenapa kau membangunkan pertapaanku?”
Panembahan tersenyum.
“Pertapaanmu sudah selesai. Purnama sudah melewati puncaknya. Dan kau berhasil membangkitkan kekuatan Tirtanala di dalam tubuhmu.”
Pranaja bangkit berdiri. Keluar dari air terjun, lalu membalikkan tubuhnya. Dimasukannya kembali kedua tangannya ke dalam air terjun. Lalu matanya dipejamkan, jaringan urat syaraf dan butir-butir darahnya mulai menyalurkan kekuatan inti air yang membekukan sekaligus menghancurkan. Sesaat kemudian air terjun itu kembali membeku.
Bibirnya tersenyum. Lalu dia menarik kedua tangannya perlahan keluar dari air terjun beku itu. Dan air terjun itupun kembali mengalir. Nampak wajahnya begitu gembira, matanya berbinar cerah. Kemudian berbalik, menengok Panembahan Mbah Iro.
__ADS_1
“Aku berhasil kakek! Aku berhasil!” teriaknya.
Wajahnya seperti tak percaya, tapi Panembahan menganggukkan kepalanya. Seoalh memastikan bahwa kekuatan Tirtanala memang sudah bisa digunakan olehnya.Mendadak bibirnya tersenyum lebar, rupanya dia ingin bersenang-senang.
“Uhuiii!” teriaknya.
Tubuhnya melenting tinggi ke atas permukaan air. Kedua tangannya ditangkupkan, lalu diangkat diatas kepalanya. Begitu tubuhnya turun mendekati permukaan air, kedua tangannya diayunkan kebawah sambil berteriak.
“Pukulan Gajah Godham!”
Dia gunakan seluruh kekuatannya. Akibatnya sangat dahsyat. Kekuatan pukulannya membuat permukaan sendang tersibak tinggi ke udara, seperti membentuk dinding air yang membelah sendang menjadi dua. Lalu dia berteriak kembali, menyalurkan kekuatan Tirtanala ke dalam air itu. Kedua tangannya terbentang masuk ke dalam kedua dinding air yang berhadapan itu.
“Kekuatan Tirtanala!” teriaknya.
Sungguh menakjubkan. Kedua dinding air setinggi lima meter yang membelah sendang itu seketika menjadi beku. Seperti dinding es, yang menjadi batas jalan setapak di tengahnya.
“Wow!!”
Pranaja berjingkrak sendiri. Kagum dengan hasil karyanya, sementar wajah Panembahan Mbah Iro ikut terpesona. Selama hidupnya dia baru pernah menyaksikan kekuatan Tirtanala secara langsung. Dan itu betul-betul menggetarkan hati dan jiwanya.
***
Pranaja dan Panembahan menghabiskan sisa waktu malam itu, di atas batu besar sambil menikmati gemuruhnya air terjun Curug Plethuk. Pranaja berbaring sementara Panembahan duduk bersila. Pemuda itu membuat api unggun yang sangat besar. Sinarnya berpendar menerangi setiap sudut di area air terjun itu. Hatinya masih diliputi rasa gembira setelah menguasai Tirtanala, sebagai kekuatan kedua setelah sebelumnya menguasai kekuatan inti api Geni Sawiji.
“Besok kita sudah bisa kembali Pranaja. Tapi tugasku belum selesai,” kata Panembahan.
“Aku masih harus memandikanmu di telaga Edi Peni untuk menyempurnakan kekuatanmu,” kata Panembahan.
Pranaja bangkit dari tidurnya, kemudian duduk sambil memandang wajah Panembahan.
“Kekuatan apa lagi? Aku sudah punya kekuatan inti api dan inti air?” ujarnya.
Panembahan Mbah Iro menggelengkan kepalanya.
“Kau belum mengenal dunia persilatan cucuku. Jangan pernah merasa hebat dengan apa yang kau miliki, karena di atas langit masih ada langit.”
Pranaja menyimak kata-kata Panembahan.
__ADS_1
“Waktu terus berputar, dunia terus berubah, ilmu pengetahuan juga terus berkembang. Suatu saat kau pasti akan menemukan lawan yang seimbang, atau bahkan lebih kuat darimu.”
Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya. Dirinya tidak hanya memiliki kekuatan supranatural, tapi juga kekuatan dari hasil rekayasa tekhnologi lewat baju pelindungnya T-Shield 313216 serta robot androidnya, Shield.
Tapi dari dulu kehidupan selalu menorehkan kisah yang selalu sama, tentang kejahatan dan kebaikan yang selalu seimbang. Tidak ada yang lebih kuat diantara keduanya.
“Kau benar kakek. Semakin canggih penegak hukumnya, semakin pintar juga penjahat mengakalinya,” sahutnya.
Panembahan hanya tersenyum mendengar perumpamaan Pranaja yang nggak nyambung itu.
“Eh, kakek, ngomong-ngomong, besok pulangnya boleh naik kendaraan tidak?”
“Boleh.”
“Kakek mau naik kendaraan atau jalan kaki lagi?”
“Tidak. Aku mau naik bis.”
“Hm, bagaimana kalau kakek naik kendaraanku saja. Biar kita bisa pulang bersama.”
“Kendaraan apa?”
Panembahan memandang wajah Pranaja agak khawatir. Anak muda itu seperti mengigau, masa di tengah hutan, di kaki gunung pula kok bawa kendaraan.
“Shield! Kemarilah!” kata Pranaja.
Jleg!
Robot Android setinggi limabelas meter itu tiba-tiba sudah berdiri tegak dihadapan Panembahan Mbah Iro.
__ADS_1
“ASTAGANAGA!!!” jeritnya.