RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 14 KEKUATAN CINTA


__ADS_3

KEKUATAN CINTA


Jangan menunggu orang yang sempurna untuk dicintai. Cintai seseorang dan buat dia sempurna dengan kekuatan cintamu.


Daningrum dan suaminya Tusin kembali ke lembah Tidar dengan perasaan malu. Mereka tahu Eyang Sapujagad pasti akan marah besar karena mereka kembali dengan kekalahan. Suatu hal yang sangat dihindari karena menyangkut nama baik gurunya. Mereka juga menyesali kecerobohannya karena menganggap enteng kemampuan Panembahan Somawangi.


Didepan gurunya yang sedang duduk terpekur diatas batu besar di dalam gua mereka bersimpuh. Sambil menunggu eyang Sapujagad terbangun dari pertapaannya.


“Hm, rupanya kalian sudah kembali,” sapa Eyang Sapujagad setelah seharian mereka menunggu.


Tusin dan Daningrum hanya diam tertunduk. Mereka sama sekali tak berani mengangkat wajahnya.


“Kenapa kalian diam saja. Kalian tidak mau menyapaku?” ucap Sapujagad lagi.


Akhirnya Tusin memberanikan diri untuk berbicara.


“Maafkan kami Eyang Guru,” katanya terbata-bata.


Bibirnya nampak bergetar.


“Maaf? Memang kalian telah berbuat apa?”


“Kami telah mempermalukan Eyang Guru,” kali ini Daningrum yang berbicara.


Sapujagad nampak tidak berekasi. Bibirnya malah tersenyum.


“Mempermalukan aku?”


“Ka..kami berhasil dikalahkan oleh Panembahan Somawangi,” sambung Tusin.


Mendengar kata-kata Tusin, Eyang Sapujagad malah tertawa terbahak-bahak. Tusin dan Daningrum saling berpandangan tak mengerti.


“Hahaha...tentu saja kalian tak akan mampu mengalahkannya. Aku saja belum pernah menang melawan dia,” sahut Sapujagad. “Tapi dia juga belum pernah mengalahkan aku.”


Eyang Sapujagad bangkit dari duduknya, mengambil dua bilah pedang Rajawali. Lalu turun menghampiri Tusin dan Daningrum.


“Somawangi itu sahabatku. Saat masih berpetualang di dunia persilatan, kami sama-sama berjuang memberantas pendekar-pendekar aliran hitam yang ingin merongrong kekuasaan kanjeng Sultan Senopati Ing Alaga,” katanya sambil menyerahkan pedang itu kembali kepada Tusin dan Daningrum.


“Dia sudah bercerita kepadaku tentang kesalahannya di masa lalu kepadamu,” ucapnya sambil memandang Daningrum. “Dan dia menyesali semua perbuatannya.”


Wajah Daningrum nampak memerah karena marah.


“Tapi itu bukan urusanku. Aku tidak akan menyuruhmu memaafkan Somawangi. Hanya saja, kalau kau masih ingin membalas dendam kepadanya, kalian harus berlatih mengendalikan kemarahan kalian,” kata Sapujagad lagi.

__ADS_1


“Apa yang harus kami lakukan Eyang Guru?” tanya Daningrum.


“Cobalah kalian bertapa di gua Karang Bolong. Carilah Bunga Karang milik Dewi Suryakanthi, anak buah Nyi Loro Kidul. Makanlah bunga itu untuk menambah kekuatan kalian,” kata Sapujagad.


Tusin menatap wajah istrinya dalam-dalam. Nampak masih ada kemarahan yang membuncah. Di pegangnya tangan Daningrum erat-erat, seolah sedang menegaskan bahwa dia mendukung apapun keputusan isterinya. Hm, kekuatan cinta yang membutakan hati.


“Kalau begitu kami mohon pamit Eyang Guru,” kata Tusin. “Mohon doanya.”


Sapujagad menghela nafas panjang, tersirat kekecewaan di wajahnya.


“Pergilah kalian, aku akan mendoakan yang terbaik untuk kalian semua. Tapi ingatlah kata-kataku. Luka di hatimu aka cepat sembuh kalau kau mau memaafkannya,” ujarnya.


Setelah membungkukkan tubuhnya, kedua pendekar muda itu segera berangkat ke pantai selatan untuk bertapa di gua Karang Bolong.


***


Malam sudah larut, tapi langit di atas bukit Kethileng nampak terang benderang. Bola api sebesar gubug para petani tampak melintas pelan sebelum turun di tepi Sendang Kumitir. Sekejap gumpalan api kemudian mengecil sebelum padam dan berganti sosok manusia. Berpakaian putih-putih dan menutup matanya dengan kain merah, Eyang Karangkobar nampak menajamkan indera pendengarannya.


Rupanya dia masih penasaran dengan keberadaan Miryam dan Santika. Rasa dendamnya kepada Miryam yang telah membuat kakaknya menderita rupanya belum hilang dari dalam hatinya. Dan dia bertekad untuk mencari pasangan selingkuhan itu sampai ketemu. Dan malam ini dia ingin menjelajah bukit Kethileng.


“Aargghh!:


Tiba-tiba terdengar suara auman binatang buas yang lebih mengerikan dari auman singa. Rupanya sukma Nyai Nagabadra tidak suka kedamaian bukit Kethileng terganggu dengan kedatangan tamu tak di undang. Apalagi disitu ada tubuh Ken Darsih yang sedang mengalami ‘hibernasi’, tidur panjang bangsa ular di dalam tanah yang tersembunyi.


“Aaargh!”


“Berisik! Siluman sudah modar saja bikin ulah! Aku tidak punya urusan denganmu!”


Tapi Nyai Nagabadra tidak mau tahu. Dia langsung saja menyerang tubuh Karangkobar dengan ganas. Mungkin dia bermaksud untuk megusir Karangkobar. Sayang sekali, tubuh wadagnya sudah dihancurkan oleh Miryam, sehingga dia tidak lagi punya racun sebagai senjata andalan. Dia hanya mampu menyerang dengan energi elektromagnetik yang kasat mata.


Eyang Karangkobar merasakan ada kekuatan kasat mata cukup besar yang mendorongnya. Tubuhnya terlihat sedikit bergetar dan bajunya nampak berkibar-kibar. Namun Eyang Karangkobar bukan manusia biasa. Menghadapi serangan sukma Nyai Nagabadra itu, dia hanya tersenyum sinis. Bahkan walaupun matanya tertutup, dia dapat melihat dimana sukma Nyai Nagabadra berada.


Ketika Nyai Nagabadra menyerangnya lagi dengan kekuatan astralnya, dia melompat tinggi, mengeluarkan kekuatan api yang menyelubungi seluruh tubuhnya, dia melesat ke arah sukma siluman naga itu.


“Hiyah! Wush!”


Tubuh apinya melesat dengan kecepatan cahaya. Sukma Nyai Nagabadra seperti terkesiap. Dia tidak menyangka manusia yang menutupi matanya itu bisa mengetahui keberadaanya. Dia tak sempat mengelak.


Bud!


Tangan api Karangkobar memegang ekor Nagabdra.


Aarrggh!

__ADS_1


Sukma Nagabadra meraung keras. Rasa panas yang luar biasa tiba-tiba merambat ke seluruh sukmanya. Tubuhnya meronta dan melintir kesana kemari menahan sakit, tapi Karngkobar tak mau melepaskan pegangannya. Sampai akhirnya sukma itu kehabisan dan terpuruk tak berdaya, barulah Karangkobar melepaskannya.


Karangkobar duduk bersila, lalu mulutnya bergerak-gerak membaca doa. Sesaat kemudian, sukmanya keluar dari tubuhnya dan menemui sukma Nyai Nagbadra. Dengan begitu dia bias bercakap-cakap dengannya.


“Siapa kau?” tanya Nagabadra.


“Aku Karangkobar,” sahut si Manusia Api.


“Mengapa kau kemari?”


“Aku mencari seseorang, barangkali kau tahu.”


“Hrrrmm, siapa namanya?”


“Miryam dan Santika.”


Mendengar Karangkobar menyebut nama Miryam, mata siluman naga itu terbuka.


“Apa urusannya perempuan keparat itu denganmu?”


“Dia telah melukai jiwa dan raga kakakku. Dan aku ingin membunuhnya.”


Mata Nagabadra terbuka semakin lebar. Rupanya dia ikut bersemangat.


“Bagus kalau kau membunuhnya. Aku juga punya dendam kepadanya.”


Karangkobar mengernyitkan keningnya.


“Apa yang dia lakukan padamu?”


“Purnama yang lalu dia datang kesini dan bertarung denganku. Aku kalah dan dia menghancurkan ragaku.”


Karngkobar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang dia paham kenapa siluman naga itu juga memiliki dendam dengan Miryam. Dia juga senang, paling tidak ada titik terang keberadaan perempuan yang memiliki kekuatan Tirtanala, Geni Sawiji dan Kekuatan Pengetahuan warisan Roro Lawe itu.


“Apakah kau tahu keberadaan perempuan itu sekarang?”


Nagabadra terdiam sejenak. Kedua matanya dipejamkan. Dia telah bertanya kepada seluruh setan, siluman yang berada di sekitar Jalatunda tentang keberadaan Miryam.


“Aku mencium keberadaannya di Jalatunda. Tapi tubuhnya diselubungi kekuatan yang sangat sulit untuk ditembus. Bahkan mata silumanku tidak mampu melakukannya.”


“Kekuatan macam apa yang menyelubungi tubuh Miryam dan Santika hingga siluman tangguh seperti kau saja tak mampu menembusnya?”


Karangkobar nampak begitu penasaran. Dan Nyai nagabadra hanya menjawab pendek.

__ADS_1


“Kekuatan Cinta.”


Karangkobar terhenyak. Kekuatan Cinta? Bullshit!


__ADS_2