RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 71 GURUN GOBI


__ADS_3

EPS 71 GURUN GOBI


Matahari begitu menyengat diatas hamparan padang pasir. Angin yang berhembus keras membawa butiran debu dan pasir kemana-mana. Menari bebas di ruang sunyi, tanpa pepohonan yang menghalangi geraknya. Karena tanpa air yang memadai, kehidupan lebih memilih pergi. Mencari tempat yang lebih nyaman untuk disinggahi.


Tidak ada yang mampu bertahan hidup di alam sekeras itu. Hanya ada beberapa pohon yang tumbuh. Kaktus adalah jenis tumbuhan yang mampu tumbuh dalam lingkungan sekeras apapun. Tubuhnya tidak berdaun karena daun hanya akan menghabiskan cadangan air didalam tubuhnya. Dalam kehidupan yang serba minimalis, Kaktus memilih kehidupan yang efektif alih-alih mengumbar keangkuhan. Walaupun dia tetap membiarkan bunganya yang indah tetap mekar, hanya untuk menarik kedatangan para kumbang.


‘Suit..suit…suit..’


Dari kejauhan terdengar suara orang bersiul. Menyanyikan irama lagu ‘Patience’ dari grup cadas Gun’s N Roses.


Shed a tear 'cause I'm missin' you


I'm still alright to smile


Girl, I think about you every day now


Was a time when I wasn't sure


But you set my mind at ease


There is no doubt


You're in my heart now


Said, woman, take it slow


It'll work itself out fine.


All we need is just a little patience


Said, sugar, make it slow


And we come together fine


All we need is just a little patience


(patience)


Seorang pemuda berwajah imut. Tubuhnya tinggi menjulang, berpakaian serba hitam. Menutupi mulut dan hidungnya dengan masker berwarna hitam juga, nampak melenggang santai menembus kerasnya alam padang pasir. Baju pelindung T-Shield 313216 yang dia pakai membuat suhu tubuhnya tetap stabil. Apalagi suhu panas di gurun ini masih dapat ditoleransi kulit manusia.

__ADS_1


Baju itu memang dirancang agar dia dapat hidup di alam sekeras apapun. Di daerah dingin dia kan memberikan kehangatan. Sebaliknya di daerah panas seperti yang sedang dia lalui sekarang, baju itu memberikan kesejukan. Bahkan di luar angkasa sekalipun, baju itu dapat menjaga komposisi oksigen di dalam butiran darahnya tetap terjaga. Makanya dia dapat tinggal di angkasa tanpa alat bantu pernafasan.


Little patience, mm yeah, mm yeah


need a little patience, yeah


Pranaja berjalan sendiri. Entah karena kesepian atau sedang memikirkan seseorang, bibirnya terus bersenandung. Menyanyikan lagu melangkoli grup band favoritnya itu. Sesekali dia melihat google map di ponsel canggihnya, memastikan dia tidak salah arah. Setelah turun dari pegunungan Allbush, lalu melewati pegunungan Altai, sekarang dia sedang melintasi gurun Gobi. Gurun pasir terluas kedua di dunia.



Gobi adalah kawasan gurun pasir yang menjadi perbatasan negeri tirai bambu dan Mongolia di sebelah selatan. Cekungan padang pasir ini dibatasi oleh pegunungan Altai serta padang rumput Mongolia disebelah Utara dan dataran tinggi Tibet disebelah Barat Daya. Dalam bahasa Mongolia, Gobi berarti ‘sangat besar dan sangat kering. Dalam sejarah Gobi tercatat bagian dari wilayah kekaisaran Mongol.



Langkahnya tenang menghampiri pohon-pohon kaktus itu. Di potongnya beberapa batang kaktus yang masih muda. Di kupas kulitnya, lalu di cucinya dengan debu padang pasir untuk menghilangkan lendirnya. Dia diamkan beberapa saat. Setelah lendirnya hilang, dia kupas lagi sampai kelihatan daging buahnya. Dia potong-potong lalu dipanaskan dibawah sinar matahari beberapa saat. Daging buah yang sudah panas itu ditaburi garam dan merica bubuk lalu dimakannya.


Hmmm…lumayan enak. Mungkin karena lapar atau karena tidak ada makanan lainnya. Yang jelas dagingnya mengandung air yang bisa menghilangkan dahaganya.


“Toloooonggg….air…air,”


Tiba-tiba terdengar suara yang begitu lemah tertangkap telinganya. Pranaja bangkit berdiri. Sejenak kepalanya berputar. Memastikan arah darimana suara rintihan itu berasal. Setelah yakin dia segera berlari, gerakannya gesit menuju sumber suara. Seorang laki-laki tua, tergeletak lemah diatas padang pasir.


“Aduh..tolong..aku haus,” suaranya nyaris hilang.


“Mungkin kakek ini habis dirampok,” batinnya.


Lalu diperiksanya lagi perlahan, semua tanda vitalnya masih baik. Nafas, denyut nadi, kepala bagian belakang, suhu tubuh masih normal. Mungkin dia hanya butuh asupan. Diperasnya kaktus yang dimasaknya tadi ke mulut orang itu. Lumayan, dapat beberapa tetes. Orang itu langsung terbatuk-batuk, lalu perlahan membuka matanya. Menatap wajah Pranaja cukup lama, sebelum bibirnya tersenyum.


“Terimakasih anak muda kau sudah menolongku,” kata orang itu.



Pranaja mengangguk sambil tersenyum.


“Ehm, sebentar ya kek, aku akan membuatkan obat untukmu.”



Tanpa menunggu jawaban dari si kakek, dia langsung berdiri dan kembali ke tempat pohon-pohon kaktus tadi. Diambilnya beberapa batangnya yang masih muda. Setelah itu dia kembali menghampiri tubuh kakek itu.

__ADS_1



“Tahan sedikit ya kek,” katanya sambil berjongkok.


Diambilnya ramuan obat dari dalam tasnya. Bubuk buah Tin kering yang dia beli dari tabib China sebelum melewati gurun Gobi. Bubuk itu dicampur dengan tetesan air kaktus. Lalu dibalurkan diatas luka. Tampak wajah orang tua itu menyeringai. Mungkin karena rasa perih. Namun, tak berapa lama kemudian, darahnya pun berhenti mengalir.


“Maaf ya kek. Aku akan menggendong kakek.”



Lalu dengan sekali angkat tubuh kakek itu ditaruh diatas pundaknya. Dia berjalan mencari tempat yang teduh. Sangat sulit mencari pohon besar atau kerimbunan semak belukar di tengah gurun ini. Hampir setengah hari, akhirnya dia menemukan pohon Akasia yang cukup rimbun.


Pranaja senang sekali. Akar pohon akasia menyimpan banyak kandungan air yang dapat diminumnya. Di taruhnya tubuh kakek itu dibawah pohon. Lalu dia mulai menggali. Setelah menemukan akar yang cukup besar, dipotongnya akar itu. Dibaliknya akar tanaman itu diatas buah labu kering, air pun mengalir masuk kedalamnya. Sisa air di dalam akar diberikannya kepada kakek itu.


“Minumlah sedikit demi sedikit kek,” katanya.


Orang tua itu mengambil akar akasia dari tangan Pranaja. Lalu meminum sisa airnya beberapa teguk. Selesai minum dia memandang wajah Pranaja. Tatapannya penuh rasa ucapan terimakasih.


“Siapakah kau anak muda. Kau begitu kuat dan pandai,” tanya kakek itu.


Rupanya dia memperhatikan apa yang dilakukan Pranaja.


“Namaku Pranja kek,” jawabnya singkat.



Kakek itu terperanjat. Rupanya dia ingat sesuatu.


“Jadi kau lah pemuda berjuluk si Segala Tahu itu?”



Pranaja tersenyum.


“Darimana kakek tahu?”


“Aku mendengarnya dari orang-orang dataran tinggi.”


Pranaja memberikan akar akasia berisi air itu kepada si kakek lagi.

__ADS_1


“Minum lagi kek. Habiskan semua, biar tubuhmu kembali kuat. Setelah itu biar ku rawat lukamu.”


Kakek itu benar-benar kagum dengan malaikat penolongnya itu. Luar biasa, katanya dalam hati. Masih semuda itu menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan.


__ADS_2