
TUMBAL PERJUANGAN?
Tidak ada yang bisa memperidiksi kapan kejahatan dan kebenaran akan berhenti memperebutkan posisi tertinggi dalam dunia peradaban. Karena ada batas yang begitu tipis antara persaingan dan pertaruhan harga diri. Hanya pejuang sejati yang akan mendapatkan medali kehormatan dan trophy kemenangan justru karena kekalahannya.
“Tugas kita sudah selesai Miracle. Menyelamatkan Tong Pi, melumpuhkan Pasukan Mawar Hitam dan memotong pergerakan Tentara Pemberontak Mongolia. Selebihnya biarlah itu menjada persoalan antara Jenderal Xialuai Khan dengan Otoritas Mongolia,” ujar Pranaja.
Dia menolak terlibat lebih jauh, karena sudah masuk dalam wilayah politik. Biarlah rakyat Mongolia yang memutuskan siapa penguasa sebenarnya negeri para pejuang hebat ini.
“Ini masalah kemanusiaan Cula. Kau tak lihat nyawa rakyat sipil dan kerusakan yang disebabkan oleh bom yang dilarang peggunaannya oleh komunitas internasional itu?” tanya Miracle.
Pranaja tercenung mendengarkan kata-kata Miracle. Si Bunting ini kadang-kadang otaknya encer juga, batinnya, hehehe. Tubuhnya melenting ke udara lalu mendarat di belakang Miracle yang sedang duduk bersila. Di bekapnya kepala Miracle dengan kedua tangannya dari belakang.
“Jadi penasaran, pengin lihat isi otakmu,” ucapnya sambil menggosok-gosok kepala si pirang itu dengan ujung dagunya.
“Haep!…mpff!..mpff!” teriak Miracle.
Dekapan tangan Pranaja yang kuat membuatnya tidak bisa bernafas. Suaranya juga tidak keluar. Miracle merasa paru-parunya mau meledak. Jemarinya yang lentik langsung bersarang di pinggang Pranaja. Tuiiit…Dicubitnya keras sekali.
“Mpffff!” teriak Miracle saking gemasnya.
“Wadhuuh biyuung!” teriak Pranaja.
Setelah itu tubuhnya langsung mengkerut, wajahnya menyeringai dan matanya merem. Kedua tangannya langsung mengusap-usap pinggangnya yang terlihat membara.
“Dasar Buntiiiiiing! Sakit banget tahu!”
Miracle mengibas-ngibaskan kepalanya. Seolah sedang merayakan kebebasannya dari dekapan Pranaja.
“Kenapa kau sakiti aku, Bunting?” teriak Pranaja.
Bibir Miracle tersenyum puas.
“Kau juga hampir membunuhku dengan racunmu.”
“Racun? Racun apa?”
“Racun dari bulu ketekmu itu, hampir menyumbat saluran nafas dan aliran darahku tahu!” balas teriakan Pranaja. “Sudah berapa hari nggak mandi!?”
Pranaja nyengir kuda. Ketiga jari tangan kanannya diacungkan ke udara.
“Oh, pantes bau banget! Aku mau mati rasanya.”
Wajah Miracle cemberut.
__ADS_1
“Namanya juga lagi perang, masa mikirin mandi,” gumam Pranaja.
“Gak usah cari alasan Culaaaa! Sana mandi!” teriak Miracle sambil melempar handuk ke kepala Pranaja.
Bagaikan kerbau dicocok hidungnya, Pranaja meraih handuk itu lalu berjalan ke kamar mandi. Baru sampai di pintu dia berbalik lagi.
“Sabun mandinya mana?”
“Sudah ada!”
“Sikat gigi dan odol?”
“Sudah ada!”
“Shampo?”
“Sudah ada dodool!”
“Pacar?”
“Sudah ada!”
“Ya, sudah aku cari yang lain.”
Pranaja lari masuk ke kamar mandi. Meninggalkan Miracle yang makin ngamuk-ngamuk dengan wajah merah jambu.
“Pranajaaaa! Culaaa!”
***
Dipimpin langsung Jenderal Xialuai Khan, lima belas anggota Pasukan Mawar Hitam terus merangsek maja. Gerakan mereka yang sangat cepat dan kekuatan mereka yang luar biasa membuat lankah mereka tak terbendung. Senjata apapun tak mampu menghentikan gerak mereka. Ratusan nyawa telah jatuh karena kekejaman mereka.
“Anakku! Jangan berdiri di tengah jalan!”teriak seorang ibu ketika melihat anaknya yang berusia enam tahun berdiri melongo di tengah jalan.
Rupanya anak itu tertarik dengan kepulan asap yang membubung tinggi. Desa yang mereka tempati sebentar lagi di lewati Pasukan Mawar Hitam yang sedang merangsek maju ke arah ibukota Mongolia, Ulan Bator. Pasukan pemerintah sudah beberapa saat yang lalu meninggalkan pos mereka di luar desa itu. Sungguh malang nasib mereka, sebentar lagi pasukan pemberontak akan membumihanguskan desa mereka.
“Harrgghh!” auman mereka menggetarkan warga desa yang tak sempat lari.
Bruuuggh! Gerbang batu itu langsung hancur berantakan begitu mereka masuk desa. Mereka terus bergerak sambil menyebarkan maut dan kehancuran. Pada jarak seratus meter dari anak kecil itu berdiri, salah satu anak buah Jenderal Xialuai Khan sudah melompat. Pedangnya diacungkan ke udara, siap menebas anak kecil tak berdosa itu. Ibunya sudah berteriak histeris karena takut dan panik.
Tiba-tiba ada sosok bayangan hitam melesat diudara lalu mendarat tepat di depan gadis kecil itu. Kedua tangannya direntangkan ke kanan dan ke kiri. Setelah itu dtengkupkan dengan kuat sehingga menimbulkan bunyi dua benda bertumbukan.
“Dinding Bayangan!” teriaknya.
__ADS_1
Dinding angin setebal satu meter bergerak ke depan dengan cepat. Melabrak anggota Pasukan Mawar Hitam yang sedang melesat cepat ke arahnya.
“Bruggh!” terdengar suara benturan hebat.
Tubuh raksasa yang melesat cepat itu seperti menabrak lapisan karet yang tebal. Kemudian dilontarkan kembali dengan kecepatan dua kali lipatnya. Tubuh itu mental kembali ke belakang. Teman-temannya langsung menghindar, lalu melihat tubuh itu terus melesat menabrak bukit kecil di jauh di belakang mereka.
“BUM!”
Terdengar ledakan hebat disertai jerit kematian. Bukit keil itu runtuh bersama potongan-potongan tubuh salah satu manusia raksasa yang langsung hancur begitu menubruknya.
“Aaarggh!”
Jerit kematian rekannya itu terdengar jelas di telinga Jenderal Xialuai Khan dan anak buahnya. Membakar amarah sekaligus tanda tanya, kekuatan apa yang telah membunuh rekannya itu. Untuk sesaat mereka terdiam, menunggu perintah sang Pemimpin Tertinggi.
Jenderal Xialuai Khan menatap tajam tubuh tinggi kurus berpakaian serba hitam itu. Rasanya dia pernah melihat sosok manusia itu. Tapi wajahnya yang juga terutup masker hitam membuat dia tidak bisa mengingatnya.
“Siapa kau, pengecut yang bersembunyi dibalik topeng?”
Suaranya terdengar berat, datar dan menggetarkan. Pranaja yang belum dapat dikenali oleh Xialuai Khan itu tidak menjawab pertanyaannya secara langsung.
“Tidak penting juga kau tahu namaku. Toh sebentar lagi diantara kita akan ada yang hilang dari peredaran bumi. Aku atau kau?”
Jenderal Khan tertawa dingin.
“Heheheh…punya nyali juga kau berani meramal kekalahanku.”
Pranaja tersenyum sinis.
“Hanya orang tolol yang masih berbicara tentang kemenangan. Memangnya apa yang akan kau rayakan jenderal? Kematian satu batalyon tempur Pasukan Mawar Hitam mu, atau kematian ribuan rakyat Mongolia yang sedang kau perjuangkan?”
Bibir Xialuai bergetar hebat karena api amarah yang membakar dendam di dalam hatinya. Kata-kata orang bertopeng itu seperti menohok ulu hatinya. Tanpa sadar sudut matanya mengerling ke arah mayat-mayat yang bergelimpangan di tanah dalam wujud yang tidak utuh lagi. Dan itu semua adalah tumbal perjuangan?
“Para pengkhianat berhak mati demi negara,” katanya dengan bibir bergetar.
“Kalau kau menyebut rakyat kecil itu sebagai pengkhianat, kau sendiri menganggap dirimu apa? Superhero kesiangan? Siapa yang akan menghormatimu sebagai pahlawan? Rakyat Mongolia yang keluarganya telah kau bunuh itu?”
Xialuai semakin tersudut.
“Jangan berpikir kau bisa sejajar dengan para legenda Mongolia. Mereka tidak pernah membunuh rakyatnya sendiri. Kau hanyalah pecundang diantara debu dan kotoran orang Mongolia, Jenderal Xialuai Khan!”
Amarah sang Pemimpin Tertinggi Tentara Pembebasan Mongolia itu mencapai puncaknya. Dia membalikkan tubuhnya, menatap tajam sisa-sisa anak buahnya yang masih hidup dan setia mengikutinya.
“Pergilah kalian semua! Aku sendiri yang akan menghadapi manusia bertopeng itu. Biar Maut yang menentukan siapa yang memiliki kebenaran disini!” teriaknya membelah angkasa…
__ADS_1