RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 149 EFEK BERANTAI


__ADS_3

EPS 149 EFEK BERANTAI


Kekuatan Tirtanala yang baru saja di pergunakan Pranaja untuk menaklukkan siluman raksasa jelmaan Blade Muller ternyata memiliki efek berantai. Bukan saja berhasil menaklukkan arwah siluman Nyai Nagabadra, tapi juga membangunkan dua orang bidadari bumi yang sedang terlelap di tempat pertapaannya masing-masing, Miryam dan Ken Darsih. Dua orang manusia sakti yang bersemayam di tempat yang berbeda itu sama-sama merasakannya.



FLASHBACK ON…


Dandung masih berdiri termangu di tepi Sendang Kumitir. Hatinya begitu galau mendengar kata-kata permintaan Ken Darsih. Gadis itu meminta agar Dandung menenggelamkannya ke dasar Sendang.


“Dandung,” bisik Ken Darsih lagi, suaranya terdengar semakin lemah, “Kau tak mendengar kata-kataku?”


Dandung menghela nafas panjang.


“Aku mendengarmu Ken, tapi…apa yang akan terjadi denganmu?”


Ken Darsih tersenyum.


“Hm, kau mengkhawatirkan aku?”



Dandung terdiam, tak langsung menjawab pertanyaan Ken Darsih.


“Saat ini kau berada di Sendang Kumitir, di tengah Alas Kecipir. Ini adalah rumahku Dandung. Sendang ini adalah sumber kekuatanku. Airnya yang sejuk akan menyembuhkan rasa sakitku dan mengembalikan tenagaku seperti semula.”



Dandung menatap wajah yang putih memucat itu. Dia mulai paham sekarang. Ken Darsih bukanlah manusia biasa, dia manusia yang memiliki kekuatan supranatural. Sesuatu yang tidak dia pahami.



“Tapi berapa lama air sendang ini akan memulihkan tenagamu?”


“Aku tidak tahu Dandung. Yang jelas aku bukan hanya ingin menyembuhkan lukaku, tapi juga meningkatkan kekuatanku untuk bertarung dengan musuh bebuyutanku.”


“Apa yang akan kau lakukan?”


“Aku akan bertapa di dasar Sendang Kumitir selama lima purnama. Setelah aku mencapai kekuatan yang aku inginkan, aku akan kembali berpetualang lagi.”



Dandung diam termangu. Lima purnama? Itu artinya selama lima bulan Ken Darsih akan bertapa di dasar Sendang Kumitir. Dan selama itu pula dia tidak akan melihatnya.



“Dandung,” panggil Ken Darsih lagi, “Mengapa kau belum juga mengabulkan permintaanku?”


__ADS_1


Dandung tersadar dari lamunannya. Walaupun dengan berat hati, dia harus memenuhi permintaan gadis pujaannya itu. Lalu dengan menggendong Ken Darsih kakinya mulai melangkah masuk ke dalam danau. Semakin ke tengah semakin dalam, sampai air danau benar-benar menenggelamkan tubuh mereka.



Dandung menyelam ke dalam danau, menuju dasar yang paling dalam. Airnya yang jernih membuat matanya bisa menembus kedalaman. Lalu tubuh Ken Darsih didudukkan di atas batu datar. Satu per satu dia melepaskan setiap kain yang membungkus tubuh gadis itu, hingga tak bersisa sehelai benangpun.



Gadis itu menatapnya sambil tersenyum. Dandung mencium keningnya, lama sekali. Menumpahkan segala perasaannya yang campur aduk. Ken Darsih diam saja. Lalu tubuh pemuda itu naik ke permukaan lagi. Meninggalkan Ken Darsih yang mulai menata dirinya untuk bertapa di dasar Sendang Kumitir.



Namun baru satu purnama dia melakukan pertapaannya, tiba-tiba ada sesuatu yang mengusik perasaannya, kekuatan Tirtanala. Getaran akibat kekuatan penerus Trah Somawangi itu datang seperti gelombang elektromagnetik yang sambung menyambung. Menggoyangkan air danau yang tenang menjadi sedikit bergelombang. Matanya yang semerah darah langsung terbuka lebar.



“Hrrrggh” geramnya. “Miryam….pasti kau sedang mencariku. Tunggulah empat purnama lagi, pasti aku akan datang untuk menuntut balas kematian ibuku, Nyai Nagabadra.”



Setelah itu matanya kembali meredup. Lalu terpejam kembali. Jiwanya kembali melayang dalam pertapaan panjang untuk memulihkan tenaganya serta menyempurnakan kekuatannya.


***


FLASHBACK ON…


“Maafkan aku Fitri, telah menjadi batu kerikil dalam hubunganmu dengan Andika,” kata Miryam. “Apakah kau masih menyimpan kemarahan kepadaku?”



Fitri tesrsenyum tipis.


“Iya. Miryam, aku akan selalu marah kepadamu. Tapi aku memahamimu. Kau hanya perduli dengan jantung dan mata Santika yang ada di dalam tubuh Andika. Dan aku selalu memaafkanmu.”



“Aku berjanji akan menjaga jantung Santika tetap berdegup demi kau dan Andika. Percayalah padaku nona cantik, aku tidak akan merebut Andikamu.”


“Terimakasih, Miryam. Aku percaya padamu.”



Fitri memeluk tubuh Miryam dengan erat. Tak ada lagi kemarahan yang terpendam di hatinya. Dia melihat ketulusan di mata Miryam. Apalagi perempuan bidadari itu telah dua kali menyelamatkan hidupnya dan menyelamatkan nyawa kekasihnya. Dan dia yakin dengan cintanya, dia akan mendapatkan Andikanya kembali suatu saat kelak.



Dan setelah semuanya siap, berangkatlah rombongan Kyai Badrussalam kembali ke pesantren Kesatriyan Santri. Di tempat inilah Miryam akan di tempa jiwanya oleh Kyai Badrussalam untuk memahami kekuatan kehidupan yang hakiki. Bahwa tidak ada cinta yang terbaik kecuali cinta dari Tuhannya.


__ADS_1


“Tidak ada takdir yang kejam Miryam, yang ada adalah keinginan yang tak tersampaikan dan angan yang terlalu berlebihan. Itulah yang menyiksamu,” ujar Kyai Badrussalam.



“Setidaknya aku berhak merasakan hidup bahagia dengan kakang Santika, walau pada satu titik waktu,” sahut Miryam.



Kyai Badrussalam menganggukkan kepalanya.


“Tentu anakku. Yakinlah kamu akan mendapatkan kebahagiaan itu pada titik waktu yang telah ditentukan Tuhanmu. Tapi bagaimana caranya, tidak ada yang tahu. Karena itu semua adalah misteri yang jawabannya hanya ada pada sisi Tuhanmu.”



Miryam tersenyum sinis.


“Lalu mengapa Tuhan selalu bermain dengan misteri? Apakah Dia membutuhkan kesenangan juga? Haus akan hiburan?”



“Hanya Dia yang bisa menjawab pertanyaanmu. Yang jelas, Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk umatnya. Dia memberi sesuatu yang kita butuhkan, bukan sesuatu yang kita inginkan.”



Miryam terdiam. Dia tercenung mendengar kata-kata bijak itu. Perlahan keyakinan itu mulai tumbuh. Kesadarannya akan kasih sayang Tuhannya mulai menepikan sikap skeptisnya akan keadilan Sang Maha Penentu itu. Seperti nyala api lilin di malam sunyi, memberi cahaya di kegelapannya yang penuh dengan misteri.



Dan malam itu dia merasakan suatu misteri lainnya. Di tengah malam yang sunyi tiba-tiba dia terjaga. Jabang bayi yang berada di dalam kandungannya terasa bergerak dan meronta. Kedua tangan dan kakinya menendang-nendang dinding rahimnya. Membuatnya tubuhnya terhuyung kesana kemari. Lalu kekuatan Tirtanala itu datang seperti gelombang elektromagnetik yang bergulung susul menyusul.



“Huft..tenanglah anakku,” bisiknya.



Di usap-usapnya perutnya yang mulai membuncit itu, agar jabang bayinya tertidur tenang. Wajahnya di penuhi tanda tanya, siapa yang telah menggunakan kekuatan Tirtanala. Sepengetahuannya hanya Panembahan Somawangi dan dirinya sendiri yang memiliki kekuatan itu. Tidak ada orang lainnya.



“Kakang Panembahan? Apakah kau masih hidup? Apakah kau masih mengejar-ngejar cintaku setelah limaratus tahun?” batinnya.



Miryam memejamkan matanya kembali, mencoba mengusir rasa gelisah yang tiba-tiba menyelubungi hatinya. Walaupun dia yakin, Kyai Badrussalam pasti merasakan kekuatan itu juga. Dan dia yakin Kyai yang mumpuni itu akan mampu menjaganya dari gangguan siapapun, termasuk pemilik sejati kekuatan Tirtanala, Panembahan Somawangi.


La ilaha Illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin (Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dholim.)


Ucapnya menirukan para santri yang sering menyelipkan kata kata itu dalam setiap doa doa mereka.

__ADS_1


__ADS_2