
15 DESEMBER 1919
Penulis perjalanan berkelana ke tempat-tempat yang belum terjamah, melukis nuansa lewat tulisan. Yang dapat dinikmati oleh mereka yang selalu berpikir.
Malam sudah larut. Bulan purnama bersinar begitu terang dalam bentuknya yang bulat sempurna. Setelah sholat Isya, Pranaja duduk termangu memandang bulan. Hatinya merasa begitu rindu tapi entah kepada siapa.
“Apakah aku rindu kepada ayah dan ibu? Rasanya tidak. Mereka setiap pagi dan malam selalu menelponnya. Menanyakan keadaannya, sudah makan apa belum, makanannya keasinan atau kemanisan,” batinnya. “Jadi, kepada siapa rasa rindu ini harus aku labuhkan?”
Biasanya, setiap kali hatinya di landa kerinduan dia akan menumpahkannya kepada bulan. Dari balik jendela kamarnya di lantai tiga rumah persembunyiannya yang besar dia menikmati suasana purnama pada malam itu.
“Kamu belum tidur Pranaja?” tanya Bibi Marry, pengasuhnya.
“Belum Bi. Aku masih ingin menikmati wajah bulan,” sahut Pranaja..
Pandangannya sama sekali tak beralih. Dia terus memandang bulan sambil berharap ada sesuatu yang membalas kerinduannya. Tapi bulan tak pernah berubah. Dari waktu ke waktu wajahnya tetap sama. Begitu cantik dan menenangkan. Seolah tidak ada kesedihan yang diembannya.
“Baiklah. Tapi kau harus tidur secepatnya. Besok pagi Derektur M16 ingin bertemu denganmu,” kata bibi Marry sambil menutup pintu kamarnya.
Pranajai menganggukkan kepalanya. Lalu dia kembali melanjutkan lamunannya. Lama dia duduk dibalik jendela. Kepalanya disandarkan pada tembok dibelakangnya. Tanpa sadar dia jatuh ke alam mimpi.
Brug! Kakinya terperosok ke dalam tumpukan abu. Dia memandang sekelilingnya. Yang ada hanyalah lautan abu yang menghampar, kering dan berdebu. Di kejauhan nampak ada lubang-lubang dan kawah yang mengeluarkan panas. Tempat apa ini? Suhunya lebih tinggi daripada suhu bumi.
Tidak nampak ada pepohonan, bahkan rumputpun tidak mau tumbuh. Matahari terasa begitu dekat dan begitu besar. Mungkin tiga kali lipat matahari yang biasa dia lihat selama ini. Bersinar gagah menggantung di langit yang hitam, tanpa awan. Tidak ada siapapun atau makhluk apapun disekitarnya. Ah, tempat ini aneh tapi anehnya dia tidak merasa asing disini.
“Hai!” teriaknya. Berharap ada seseorang yang mendengar dan memberitahunya tempat apa ini.”Hai!” suaranya bergema dan memantul kearahnya lagi.
Perlahan Pranaja melangkahkan kakinya diatas tumpukan abu yang panas dan berdebu. Lalu seperti terdengar bisikan ditelinganya.
“Ini adalah rumahmu.”
Pranaja terloncat kaget. Dia menengok kesana kemari mencari orang yang berbisik kepadanya, tapi tidak ada siapapun. Lalu seperti ada tangan yang menggoyang pundaknya.
__ADS_1
“Bangunlah!”
Pranaja membuka mata. Tampak Miracle sedang membangunkannya.
“Naja! Bangunlah, sudah siang. Lihat langit sudah mulai terang. Pergilah ambil wudhlu lalu sholat shubuh.”
Naja mengusap-usap matanya. Ah, ternyata dia cuma mimpi. Entah sudah berapa kali dia mengalami mimpi yang sama. Sebuah tempat asing yang katanya merupakan rumahnya yang sebenarnya? Apa maksudnya?
“Setelah itu kamu mandi ya. Ingat kita ditunggu Direktur di markas satu jam lagi,” ujar Miracle membuyarkan lamunanya..
Pranaja menepuk dahinya. Baru ingat kalau mereka ada janji penting dengan Direktur M16. Selesai sholat Shubuh, segera dia menyambar handuk dan lari ke kamar mandi. Tidak sampai lima menit dia sudah keluar lagi dengan rambut yang masih basah. Dikeringkannya rambutnya dengan hair dryer. Kemudian memakai kemeja putih yang dipadu sweater navy dan blue jeans. Wajahnya nampak begitu imut setelah dia mengikat kuncir kecil di belakang kepalanya. Miracle sampai melongo melihat penampilan rekannya itu.
“Naja, makan pagi sudah siap,” kata bibi Marry sambil membawa roti kesukaannya.
Pranaja mencium pipi bibi Marry.
“Terimakasih bibi sayang.”
Bibi Marry tertawa melihat tingkahnya. Dia belum lama mengenal Pranaja, tapi sudah hapal dengan selera makannya. Anak itu memiliki kekuatan yang luar biasa, diatas rata-rata anak seusiaya. Kemampuan makannya pun hampir tiga kali lipat orang dewasa. Tak heran tubuhnya pun tumbuh tinggi melebihi teman-temannya, walaupun tak seimbang dengan berat tubuhnya sehingga kelihatan kurus. Teman sekampusnya malah menjulukinya cungkring. Walau begitu Pranaja juga terkenal sangat tampan dan ramah
“Naja pergi menemui Direktur dulu ya bi,” ujar Pranaja.
Di depan ruang rahasia yang disebut ‘Markas’ Direktur M16 itu telah menunggunya. Dialah perempuan yang membawa dia dan dua temannya. Miracle dan Tong Pi datang kemari. Pranaja tidak tahu dimana dia sekarang berada. Tidak ada yang mau bercerita kepadanya. Kecuali mereka hanya menceritakan kisah-kisah aneh yang tidak masuk akal.
Mereka bertiga mendapat beasiswa dari Pemerintah Inggris untuk belajar di universitas ternama di negeri ratu Elizaeth ini. Tapi sebenarnya, Dinas Rahasia Inggrislah yang telah mengatur semuanya. Mereka kuliah sesuai dengan apa yang diimpikannya, tapi mereka ditempatkan bersama dalam sebuah rumah besar di pulau tak berpenghuni di tengah laut Atlantik. Di tempat ini mereka ditempa setiap hari untuk meningkatkan kemampuan oleh para pelatih khusus yang professional.
Mereka telah diamati oleh M16 sejak masih bayi, karena dianggap memiliki kemampuan diatas normalnya manusia. Miracle dapat membaca dan mengendalikan pikiran manusia, Tong Pi memiliki kemampuan berpindah tempat dengan cepat seperti kemampuan teleportasi yang bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya. Sedangkan dia dianggap memilii kekuatan dan kecepatan super. Dan mampu bernapas di dalam air.
“ Selamat pagi M!” sapa Pranaja.
“Selamat pagi Pranaja! “jawab M-16. “Kau terlambat lagi.”
__ADS_1
Pranaja tersenyum malu.
“Maaf M, soalnya kebiasaan di kampung kalau tidur bangunnya kesiangan.”
“Kesiangan? Kau pasti tidur kemalaman,” tebak Direktur .
Pranaja menggukkan kepalanya. M mengajak mereka masuk ke dalam. Setelah duduk di kursi sudut yang melingkar, M menatap Pranaja kembali.
“Kenapa? Ada yang membuatku gelisah?"
“Setiap kali aku memandang bulan purnama, entah kenapa hatiku tiba-tiba merasa rindu. Begitu rindu. Tapi entah kepada siapa.”
“Hmm..Lalu?”
“Aku merasa bulan dan bintang-bintang itu sedang mengamatiku. Ada banyak makhluk asing menunggu kedatanganku. Aku merasa ada kehidupan diantara bintang-bintang itu”
Pranaja menghentikan ucapannya. Mendadak dia merasa malu telah mengatakan hal ini. Curhat masalah mimpi? Hm, kayak anak gadis abege saja.
“Ya mungkin juga ada banyak makhluk di angkasa yang memata-mataimu. Aku bisa memahami apa yang kau rasakan.”
“Hmm…apa maksudmu M?” tanya Pranaja tak mengerti.
M menarik nafas panjang.
“Inilah hal yang ingn aku bicarakan denganmu. Sebuah rahasia besar tentang dirimu.”
“Rahasia besar? Apa itu M?”
“Saatnya, kau mengetahui semuanya. Saat kau bisa mengambil bulanmu sendiri,”
Pranaja mengernyitkan dahinya. Ini saatnya aku mengambil bulanku? Apa maksud Direktur M16 ini? Katanya dalam hati. Hmm, M kadang seperti malam yang selalu menghadirkan misteri. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di dalam kegelapannya.
__ADS_1