RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 19 MEMINANG PUTERI KI DEMANG


__ADS_3

MEMINANG PUTERI KI DEMANG


Bulan tak berkabut. Menggantung kokoh di angkasa raya. Seolah sedang menebarkan pesonanya sebagai raja di malam hari. Sinarnya yang terang menghapus kegelapan di muka bumi. Membantu para pengembara menemukan jalannya kembali agar tidak tersesat. Membuat anak-anak berkumpul untuk bermain di halaman rumah mereka yang luas.


Riyani memegang erat tangan ayahnya sambil duduk bersimpuh dibawahnya. Sedari tadi dia sedang menceriterakan tentang pengawal barunya, sambil duduk santai di ruang pendopo. Di alun-alun depan Kademangan ramai suara anak-anak yang bermain dolanan bocah. Mereka nampak gembira menyambut datangnya purnama.


Ki Demang juga tersenyum-senyum melihat puterinya begitu bersemangat menceriterakan pengawal barunya. Sebagai ayahnya, tentu dia sangat mengenal puterinya yang terlihat begitu berlebihan memuji seseorang.


“Riyani,’” kata Ki Demang tiba-tiba, memotong kalimatnya. “Apa kau menyukainya?”


Riyani terhenyak, tak menyangka Romonya akan menanyakan hal seperti itu. Wajahnya nampak tegang dan kepalanya di tundukkan.


“Ehm, maksud ayah, apa kau memilki perasaan lebih terhadapnya? Semacam perasaan sayang atau semacamnya?”


Riyani mejadi gelisah. Tubuhnya nampak sedikit gemetar. Tapi Ki Demang sudah tahu jawabannya walau Riyani belum berkata-kata.


“Apa dia juga menyukaimu?” Ki Demang bertanya lagi. “Lebih dari sekedar hubungan pekerjaan?”


Kali ini Riyani menganggukkan kepalanya. Tapi dia tak berani menatap wajah ayahnya.


“Apa dia sudah menyatakan perasaannya kepadamu?”


Riyani menganggukkan kepalanya kembali.


“Dan kalian berdua sudah bersepakat menjalin hubungan perasaan?”


Riyani tidak menjawab lagi. Ki Demang menarik nafas panjang.


“Ini bukan masalah ringan anakku. Mungkin kau masih terlalu muda untuk menimbang baik buruknya. Apalagi kalau sedang di mabuk cinta.”


Ki Demang bangkit berdiri. Pandangannya di lempar jauh ke depan. Seolah sedang menatap sesuatu yang masih tertutup kabut.


“Apakah salah jika aku punya keyakinan ayah?” ucap Riyani menyentuh hatinya.


Ki Demang membalikkan tubuhnya. Menatap wajah Riyani lagi.


“Tidak anakku.Tapi sangat sulit membedakan antara keyakinan dan keinginan yang membabi buta. Karena keduanya memiliki tujuan yang sama.”


“Apakah selama ini ayah memiliki keyakinan kepadaku?”


Ki Demang terhenyak, menatap wajah puterinya dalam-dalam. Dalam usianya yang masih remaja, Riyani bahkan memiliki pemikiran dan sikap yang begitu dewasa,

__ADS_1


“Hm, baiklah, untuk saat ini ayah percaya kepadamu,” kata Ki Demang akhirnya.


Mata Riyani berkaca-kaca. Ah, Ayah memang selalu percaya dengan keputusan-keputusannya selama ini.


“Apa kau juga sudah tahu asal usulnya? Ehm..maksud ayah bukan mempermasalahkan derajatnya. Tapi paling tidak ayah harus tahu dimana tempat tinggalnya dan keterangan lainnya,” ujar Ki Demang lagi. “Siapa namanya?”


“Namanya Somawangi,” jawab Riyani pendek.


“Apa?” Ki Demang sampai menegakkan tubuhnya karena kaget.


“Asalnya?”


“Tanah Perdikan Somawangi.”


Lagi-lagi wajah ki Demang terkesiap. Tidak mungkin, batinnya. Riyani tersenyum melihat wajah ayahnya yang penuh tanda tanya.


“Jangan khawatir ayah. Somawangi yang ini masih muda, usianya baru duapuluh lima tahun. Selisih tujuh tahun sama aku.”


Ki Demang mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ah, terasa ada sesuatu yang janggal. Di tanah perdikan yang namanya Somawangi ya cuma satu.


“Kalaupun Somawangi itu pemimpin tanah perdikan, ayah juga tidak akan mempermasalahkannya. Toh kau sudah menyatakan sanggup menjadi isterinya,” sahut Ki Demang. “Kecuali kau berniat membatalkannya, itu kewajiban ayah untuk melindungimu.”


Riyani mengangguk.


Ki Demang menghela nafas panjang. Bagaimanapun puterinya berhak mendapatkan kebahagiannya sendiri. Dia akan memanggil Ki Jogoboyo untuk mempersiapkan penyambutan kedatangan keluarga Somawangi ‘Muda’ sekaligus mempersiapkan keamanan Kademangan untuk menghadapi kemarahan keluarga Somawangi ‘Tua’


***


Hari yang ditunggu pun tiba. Kemarin ada utusan dari tanah perdikan yang menyampaikan bahwa keluarga Panembahan Somawangi akan datang untuk melamar Riyani esok hari. Mereka akan datang secara besar-besaran dengan membawa berbagai macam seserahan yang di arak prajurit-prajurit tanah Perdikan.



Tentu saja berita ini menggemparkan situasai Kademangan Wanasepi. Ki Jogoboya segera menyiagakan seluruh kekuatan pengawal Kademangan. Seluruh rakyat juga berkumpul di alun-alun siap untuk berperang. Riyani sejak pagi tidak keluar dari kamarnya, tidak tahu harus berbuat apa. Hanya Ki Demang Wanasepi yang masih kelihatan tenang. Dia sama sekali tak terusik dengan keributan yang terjadi disekitarnya.



Dia bahkan memerintahkan mbok Dal untuk menyiapkan makanan yang paling enak dan pesta yang meriah untuk menyambut kedatangan keluarga Panembahan Somawangi.



“Mereka adalah tamu-tamuku. Kewajiban kita semua untuk memuliakannya. Apalagi mereka datang dengan niat baik untuk meminang puteriku satu-satunya,” ujarnya.

__ADS_1



Tidak ada yang berani menentang perintahnya, walaupun bisik-bisik tetap terdengar dari dapur Kademangan, tempat para ibu-ibu berkumpul untuk memasak sambil membentuk komunitas rumpi Kademangan Wanasepi.



“Tentu saja Ki Demang lebih memilih keluarga Panembahan, yang memilki bibit, bobot, bebet yang jelas dibandingkan pemuda miskin yang tidak jelas asal-usulnya,” ujar nyi Surati.



“Wajarlah sebagai orang tua bersikap begitu. Tentu dia tak ingin Riyani hidup menderita bersama pemuda yang tidak jelas masa depannya,” sahut ni Rombel.



“Walaupun miskin, tapi pemuda itu sangat tampan dan sangat kuat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya mengalami malam pertama dengan pemuda sekuat itu,” sambung Yu Kimah, janda muda yang ditinggal mati suaminya di malam pertamanya.



“Huu,” terikan cemoohan itu langsung keluar bersama tanpa di komando. “Pantas suamimu nggak kuat dan mati di tempat tidur.”



Hahaha…suara mereka terdengar sampai kamar Riyani. Gadis itu begitu gelisah, dalam ketidak pastian. Mengapa keluarga kakang Somawangi tidak mengirimkan untusannya kepada ayah? Apa yang terjadi? Apakah kakang Somawangi lupa dengan janjinya?



Pertanyaan-pertanyaan itu begitu menghunjam ulu hatinya dan mengantarkannya diujung kegelisahan. Dia takut akan kehilangan cinta untuk kedua kalinya. Yang jelas dia tidak akan keluar dari kamar kalau yang datang adalah keluarga Panembahan Somawangi.



Dan benar saja, begitu matahari mendekati puncaknya rombongan kelurga dari tanah perdikan Somawangi memasuki gerbang Kademangan. Seperti parade yang sudah dipersiapkan lama, rombongan dari Somawangi datang dalam beberapa gelombang. Gelombang pertama dipimpin oleh Eyang Karang Kobar. Di awali bunyi genderang dari satu kompi pasukan berseragam hijau-hijau, diikuti serombongan penabuh gamelan dan para penarinya.



Gelombang kedua dipimpin oleh Roro Lawe dengan pasukan berseragam merah-merah. Membawa pager ayu, barisan seratus orang gadis muda yang cantik sambil membawa nampan-nampan berisi seserahan. Ada tumpukan emas, intan, berlian, platina, mutiara dan perhiasan lainnya dalam berbagai bentuk dan modelnya.



Rombongan ketiga dipimpin langsung Panembahan Somawangi bersama satu batalyon tempur prajurit-prajurit pengawal tanah perdikan bersenjata lengkap. Mereka berjalan dalam barisan yang teratur. Tanpa suara, hanya derap kaki mereka yang serempak menapak ke bumi menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya.


__ADS_1


Penduduk Kademangan Wanasepi bediri berjejer di pinggir jalan. Mereka penasaran ingin melihat langsung sosok pemimpin tanah perdikan yang begitu di takuti. Namun mereka harus kecewa, karena kepala Panembahan diselubungi kain hitam dan memakai topeng di wajahnya.


__ADS_2