RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 38 ARTI KEKUATAN BESAR


__ADS_3

ARTI KEKUATAN BESAR


Didera rasa rindu Ana berlari cepat menuruni perbukitan. Kakinya yang jenjang begitu lincah menapak di jalan berbatu menuju rumahnya. Tangannya terkembang lebar lalu melompat ke arah tubuh ayahnya.


“Ayaah!”teriaknya.


Pramono tersenyum lebar. Kedua tangannya juga dibentangkan menyambut tubuh puterinya. Sekian lamanya meninggalkan puterinya sendirian di rumahnya yang besar, membuat rasa rindu membuncah di dadanya.


“Ana sayaang!” serunya.


Dipeluknya tubuh puterinya erat-erat. Menumpahkan rasa rindu kepada buah hatinya. Tidak ada cinta yang lebih besar daripada cinta ayah kepada puterinya. Lalu hidungnya seperti membaui sesuatu.


“Eh, anak ayah yang cantik kok bau amis sih?” katanya.


Ana segera melepaskan pelukannya. Wajahnya sedikit memerah karena malu.


“Iya. Ana habis memancing belut di telaga,” katanya.


Pramono mengernyitkan keningnya.


“Kenapa? Itu kan belut kesayanganmu?”


“Habis dia mau makan orang sih.”


“Hah? Makan orang? Siapa?”


“Kelihatannya anak yang tersesat di hutan. Namanya Pranaja.”


Hm, Pranaja? Rasanya baru pernah dengar nama itu, batin Pramono. Tapi bagaimana dia bisa tersesat di atas bukit itu?


“Sekarang dimana dia?”

__ADS_1


“Sudah pergi yah. Katanya ditunggu sama kakeknya.”


Pramono terdiam. Sebagai bos besar dalam permainan dunia hitam dia memang harus ekstra waspada. Hatinya selalu diliputi rasa curiga, manakala menengarai sesuatu yang menurut pemikirannya adalah hal yang tidak masuk akal. Aku harus menyelidikinya, batinnya.


“Baiklah cantik. Sekarang kamu mandi, bikin tubuhmu seharum mungkin. Nanti sore kita jalan-jalan cari makan di kota,” katanya.


Ana menganggukkan kepalanya.


“Baik ayah,” katanya lalu berjalan ke belakang rumahnya membawa daging belut itu untuk menjadi makanan buaya, hewan ganas peliharaannya yang lain.


Prmanono bergegas naik ke atas bukit, diikuti pengawal-pengawalnya. Dengan senjata terkokang mereka meneliti setiap sudut telaga atau sendang itu. Tapi hasilnya nihil, mereka tidak menemukan apapun kecuali sisik ikan dan tulang-tulangnya yang menghitam bekas terbakar.


“Tidak ada yang mencurigakan bos,” ujar Firman, kepala pengawalnya.


Pramono menganggukkan kepalanya sambil menerawang jauh ke sekitar perbukitan. Memang tidak ada yang perlu dicurigai. Mungkin cuma anak yang sedang mencari kayu bakar saja.


“Cuman aneh saja, ada daging bakar, tapi tidak ada ranting atau kayu yang terbakar. Dia membakarnya pakai apa?” sambung Firman.


***


Hati yang sejuk adalah tempat berkumpulnya berbagai mukjizat kehidupan. Karena kau hanya bisa merasakan kenikmatan saat kau menerima setiap pemberianNya dengan rasa gembira dan apa adanya.


“Assalaamu’alaikum Warokhmatulloh”, ucap Pranaja mengakhiri sholat Shubuh di dalam candi di atas bukit Wanayasa. Disampingnya, Panembahan juga khusyuk dengan doa-doa kitab Primbon Irodarsulasikinnya Sungguh, keindahan batin yang sempurna.


Matahari baru saja bertahta di ufuk timur. Sinarnya belum lagi memancarkan kehangatan, karena rasa dingin yang begitu menggumpal menggelayuti bukit Wanayasa.


“Dingin sekali disini kek” kata Pranaja sambil menggigil.


“Kau kan biasa hidup di luar negeri, masa di sini kau merasa kedinginan?” ledek sang Panembahan Mbah Iro.


Pranaja terdiam, tapi hatinya membenarkan kata-kata pemimpin trah Somawangi itu. Bisa-bisanya aku merasa kedinginan di tempat ini? batinnya. Padahal dia adalah Dewa Api.

__ADS_1


“Ujianmu baru saja dimulai Pranaja. Semakin besar kemampuanmu semakin berat ujianmu. Karena setiap kekuatan yang besar, menuntut tanggung jawab yang besar juga,” kata kakeknya, kali ini wajahnya terlihat serius.


Pranaja tercenung mendengar kata-kata bijak itu. Kekuatan besar berarti tanggung jawab yang besar juga? Camkan itu di dalam hatimu Pranaja!


“Pagi ini kita akan memulai perjalanan suci, mendaki Dataran Tinggi Dieng, negeri para Dewa, menuju ke tempat pemandian suci Curug Plethuk. Tubuhmu akan disucikan untuk membangkitkan kekuatan Tirtanala yang sudah tertanam di dalam tubuhmu,” sambung Panembahan.


Pranaja menganggukkan kepalanya. Panembahan merasa jiwa Pranaja semakin matang setelah beberapa hari melakukan perjalanan sunyi bersamanya. Tingkat kebeningan pikirnya mulai menapak naik, terlihat dari cara bersikap dan berkata-kata.


“Tetapkan hatimu dalam Dharma. Abdikan semua yang kau miliki hanya untuk kebaikan dan kebaikan. Karena itulah inti daripada perjalanan Sunyi,” katanya.


Mereka mulai berjalan meninggalkan bukit Wanayasa, bukit terakhir sebelum meneruskan pendakian ke Dataran Tinggi Dieng, Negeri Seribu Candi. Tempat bersemayamnya para Dewa kebijaksanaan. Karena mereka terbentuk dari manusia-manusia yang sudak lama ‘moksa’ dari kehidupan dunia dan memilih bersemayam di jalan sunyi.


Setelah berjalan melintasi dataran tinggi Dieng sampailah mereka di kaki gunung Kemulan. Gunung ini nampak begitu keramat. Terletak di dataran paling utara diantara deretan gunung-gunung mati yang ada di Dieng, gunung Kemulan begitu cantik dan mempesona. Menggambarkan kemolekan Dewi Ke Mulan, isteri sang Begawan Wanayasa.


Melewati jalan tanah licin yang dipenuhi bebatuan tua, menembus pepohonan hutan yang begitu rapat dan gelap, menempuh perjalanan yang penuh luka dan memeras keringat, akhirnya sampailah mereka di kaki gunung. Seperti tumbuhan rambat yang mengular ke atas, aliran air terjun Curug Plethuk begitu cantik untuk dilihat dan dikagumi. Sampai-sampai mata bulat Pranaja terus melotot menikmati keindahannya.


Sampai dibawah air terjun, Pranaja masih berdecak kagum. Curug Plethuk adalah air terjun bertingkat tujuh yang tidak begitu tinggi. Tapi suara gemuruhnya begitu kentara terdengar dari kejauhan. Pranaja yang sudah tidak sabar segera berlari untuk menikmati kesegarannya. Tapi begitu kakinya menyentuh air, dia langsung terloncat lagi ke belakang. Tidak seperti air terjun pada umumnya yang airnya hangat dan menyegarkan, di Curug Plethuk rasa dinginnya terasa menyengat sampai ke sumsum tulangnya..


“Sekarang bukalah seluruh pakaianmu, jangan ada yang tertinggal menutupi tubuhmu,” ujar Panembahan.


Pranaja memandang wajah kakeknya.


“Seperti kemaren kek, telanjang lagi?”


Panembahan menganggukkan kepalanya. Lalu dia mengambil tempat duduk di sebuah batu besar yang berhadapan langsung dengan air terjun Curug Plethuk. Matanya terpejam dan bibirnya komat-kamit membaca doa-doa.


Pranaja menanggalkan bajunya satu persatu. Tanpa selembar benangpun yang menutupi tubuhnya, dia berjalan kembali masuk ke dalam air. Dinginnya air langsung merasuk ke dalam pori-porinya dan menyelusup jauh ke dalam tulang-tulangnya. Awalnya dia merasa kedinginan, namun dia melawannya dengan kekuatan apinya. Suhu tubuhnya pun kembali normal.


Pemuda berwajah imut itu kemudian berdiri tepat dibawah air terjun. Ternyata dibalik air terjun itu ada sebuah batu gepeng, seperti tempat para pertapa. Pranaja duduk diatasnya. Dinginnya air terjun yang jatuh tepat diatas kepalanya betul-betul terasa menyiksanya. Terjadi pertarungan kekuatan dalam dirinya, hawa panas yang berasal dari kekuatan Geni Sawiji dalam dirinya melawan hawa super dingin air terjun Curug Plethuk.


Malam pun menjelang. Bulan purnama bersinar begitu terang dalam bentuknya yang bulat sempurna. Pranaja duduk terpekur diatas pertapaannya. Diantara guyuran air terjun yang begitu dingin, dia menjadi lupa dengan dirinya.

__ADS_1


Dan mimpi yang sama terjadi lagi untuk kesekian lamanya. Dia tersesat ke tempat asing yang penuh dengan abu, kawah-kawah, dan tubuh matahari yang begitu besar.


__ADS_2