
EPS 147 MAKHLUK TITISAN IBLIS
Tanpa ampun tubuh buronan paling dicari pemerintah kerajaan Inggris itu jatuh ke dalam jurang yang dipenuhi lebatnya pepohonan dan semak belukar. Pranaja langsung menghentikan langkahnya, menunggu kedatangan Lucra Venzi. Sementara tubuh besar Blade sudah hilang di telan kegelapan jurang perbukitan Kethileng. Hanya suara benturan dan teriak kesakitan yang tedengar menggema sebelum menghilang di telan kesunyian.
‘Dug! Prak! Bruk!’
“Aw! Auh! Adduh! Aaarhgh!”
Setelah itu suaranya langsung menghilang ditelan kesunyian malam. Hanya desah binatang-binatang malam yang sedikit terganggu dengan kehadiran tubuh Blade.
“Huh…huh…hah!”
Lucra menghempaskan nafasnya yang terengah. Pengejaran Blade sungguh menguras energi dan stamina agen cantik itu. Tapi tatapan matanya tertuju ke arah Pranaja yang masih berdiri tegak di bibir jurang. Dengan mata kepalanya sendiri Lucra tadi menyaksikan tubuh Pranaja berlari secepat angin saat mengejar Blade. Dan itu jelas bukan kemampuan manusia normal pada umumnya. Jadi siapa sih kamu, Pranaja? Batinnya penasaran.
“Maaf Lucra, aku tak berhasil menangkapnya,” kata Pranaja.
Matanya memandang Lucra sepintas, lalu fokus kembali menatap kegelapan jurang didepannya. Agen cantik itu hanya menggelengkan kepalanya. Rupanya dia masih mengatur nafasnya yang terengah.
“Huft! Tidak apa Pranaja. Awasi terus keadaan di dalam jurang. Aku akan kembali sebentar, menengok teman-teman kita yang terkena lemparan belati Blade,” ujar Lucra.
“Baik,” jawab Pranaja pendek.
Diam-diam dia mengaktifkan baju pelindung T-Shield 313216-nya. Perlahan terasa hawa sejuk merasuk ke dalam pori-pori kulitnya kemudian merasuk ke dalam urat-urat pembuluh kapiler daalam jaringan darahnya. Memberikan rasa nyaman dan meningkatkan kekuatan di dalam tubuhnya menjadi berlipat-lipat. Termasuk indera penglihatannya. Begitu Lucra berbalik dan kembali ke Megapolitan, Pranaja langsung turun ke dalam jurang.
“Hap! hap! hap!”
Tubuhnya nampak ringan melompat dari satu cerukan tanah ke cerukan lainnya. Jurang sedalam limpuluh meter yang sangat curam pun dapat ditaklukkannya dengan mudah. Sesamapai di dasar jarang dia langsung menebarkan pandangannya, mencari jejak keberadaan tubuh Blade. Namun jurang yang belum pernah di jamah manusia itu sangat menylitkan pencariannya.
__ADS_1
Perbukitan Kethileng memang sangat di keramatkan masyarakat sekitar selama ratusan tahun. Hutan ini sangat angker, karena dipercaya dihuni oleh seekor naga siluman. Naga berbentuk bayangan itu selalu terlihat marah sepanjang waktu. Sering orang mendengar suara kemarahannya yang mengaum memecahkan kesunyian malam. Dan jurang yang melingkari perbukitan itu dipenuhi semak belukar serta pepohonan kayu keras yang tumbuh tak beraturan.
Mendadak penglihatannya yang tajam menemukan ceceran darah di dasar jurang yang bercadas. Pemuda itu berjongkok sambil menajamkan pandangannya. Tetesan darah itu terlihat mengular menuju semak belukar yang lebih gelap. Pranaja sudah tersenyum saja, dia yakin sebentar lagi dapat menangkap Blade Muller. Tapi perhitungannya meleset. Pemuda belasan tahun itu belum mengenal Blade Muller, ahli strategi perang di darat, laut dan udara.
Setelah dia mengikuti ceceran darah itu dan menyibak pepohonan dan semak belukar dengan pedangnya, dia tidak menemukan siapapun. Hanya ada seekor ayam hutan yang sedang sekarat karena tidak kuat lagi berjalan akibat luka sayat dan luka tusuk yang cukup dalam. Huh, rupanya dia dikadalin. Tapi dimana Blade Muller? batinnya.
Saat hatinya sedang merutuki kebodohannya, mendadak cuaca berubah. Tiba-tiba angin beriup kencang, awan menjadi gelap, gemuruh petir dan kilatnya saling bersahut-sahtan.
Jleger!
‘Aarrgh!!”
Terdengan auman mengerikan seekor binatang buas, lebih seram daripada auman Singa. Auman kemarahan makhluk misterius yang pernah dia dengar di alas hutan Kecipir. Lalu terdenngar kegaduhan di arah yang berlawanan dengan dirinya, disusl dentuman benda meledak serta lingkaran api yang membubung di angkasa.
Dengan kecepatan super, sang superhero kita itu langsung melesat menembus kegelapan.
***
Tubuh Blade langsung meluncur deras menghantam bebatuan dan batang-batang pohon sebelum terhempas diatas permukaan bercadas. Aduh! Badannya seperti remuk redam. Terasa lemas dan tidak bisa digerakkan rupanya beberapa ruas kakinya mengalami pergesaran dislokasi tulang. Dengan sisa kekuatan yang ada, dia bergerak menarik tubuhnya semakin jauh menuju kegelapan.
“Uh, sakit sekali,” bisiknya dalam hati.
Dia tahu agen-agen terbaik M16 dari Dinas Intelijen Rahasia Inggis pasti akan memburunya. Terutama Lucra Venzi dan Pranaja. Dia tak menyangka, gerakan Lucra sangat cepat dan kuat. Dia juga heran dengan tubuh Agen muda M16 itu, tubuhnya begitu ringan bahkan seperti terbang saat mengejarnya, padahal sudah tertinggal jauh. Entah ilmu apa yang dimiliki anak itu, rutuknya.
Luka tubuhnya yang sangat parah dan ketakutannya akan tertangkap agen-agen M16 membuat Blade mulai berpikir di luar nalarnya. Memang selama berpetualang di dunia kekerasan, baru kali ini dia melihat banyak kekuatan supranatural yang dimiliki penduduk negeri ini. Mulai dari pohon keramat, Ken Darsih, Miryam, Kyai Badrussalam hingga Pranaja. Semua memiliki kekuatan aneh yang dia yakini mereka dapatkan dari makhluk yang kasat mata.
__ADS_1
“Hai para penghuni kegelapan, tolonglah aku, masuklah ke dalam tubuhku agar aku memiliki kekuatan kembali,” ujarnya tanpa berpikir panjang.
Tiba-tiba angin beriup kencang, awan menjadi gelap, gemuruh petir dan kilatnya saling bersahut-sahtan.
Jleger!
‘Aarrgh!!”
Terdengan auman mengerikan seekor binatang buas, lebih seram daripada auman Singa. Itulah raungan Nyai Badranaya yang menyambut undangan Blade saat dia mengudangya.
Lalu sukma Nyai Badranaya itu melayang-layang dan berputar. Tak lama kemudian meluncur turun dan masuk ke dalam tubuh Blade Muller!
Blar!! Jleger!
Tiba-tiba Blade bangkit berdiri. Nampak tubuhnya berubah semakin membesar dan berkembang seperti makhluk raksasa. Bahkan tingginya menyamai tinggi jurang saat dia jatuh ke dalamnya. Mulutnya semakin monyong dan keluar taring dari kedua sisinya. Tubuhnya melompat naik ke atas lagi, lalu meraung dengan sangat keras.
Aargh!!
Matanya merah menyala, dari jari-jarinya muncul cakar-cakar runcing dan tajam. Lalu pandangannya berputar, mencari musuh-musuhnya. Sinar beracun berwarna abu-abu, menyebar kesana kemari dalam bentuk sebaran pita yang menyebarkan kematian bagi siapapun yang terpesona oleh kehadirannya.
Deretan mobil-mobil angkutan barang milik Megapoitan yang terparkir di lapangan dihancurkan dengan ganas. Gedung-gedung yang baru di bangun pun tak luput dari amukannya. hancur luluh diterjang kekuatan tubuhnya. Korban jiwa mulai berjatuhan. Namun tidak ada yang mampu menghadangnya. Dan pandangan makhluk titisan iblis itu tertuju kepada Lucra yang berdiri menghadang dengan senapan tempur yang terkokang.
Tatatatata!
Senapan serbu M16 kebanggaan Amerika itu memuntahkan ratusan peluru tajam yang sangat mematikan. Tapi kekuatan peluru tidak berarti apapun bagi makhluk jelmaan Blade itu.
Di saat yang genting itu, tiba-tiba dari dalam kegelapan jurang melesat sosok tinggi tegap. Sambil melompat dia berteriak keras sekali.
“Kekuatan Tirtanala!”
__ADS_1