RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 94 RASA CINTA


__ADS_3

EPS 94 RASA CINTA


Kakek Kim menyerahkan Yeonghon-Ui Sijag atau pedang perasuk sukma kepada Pranaja. Terasa ada desiran halus yang menggetarkan begitu kulit tangannya menyentuh pedang itu. Hm, pedang yang luar biasa. Pembuatnya pasti pendekar nomor satu pada jamannya, hingga jiwa dan kekuatannya pun masih bersemayam di dalam benda pusaka itu.



“Boleh aku membukanya kakek?” tanya Pranaja.


Kakek Kim mengangguk tegas. Rupanya dia sangat percaya dengan kemampuan pendekar muda itu. Perlahan, Pranaja menarik pedang itu dari sarungnya.



“Sreeng!”



Sinar merah menyilaukan langsung terpancar dari pedang itu. Auranya begitu kuat terasa sampai tubuh Ryong merasa merinding. Tanpa sadar di melangkah ke belakang dengan posisi siaga. Kakek Kim masih diam, tapi bibirnya tetap menyunggingkan senyum. Di belakang pundaknya Ren menyembunyikan dirinya. Tapi separuh matanya menatap Pranaja dengan wajah cemas.



Tubuh Pranaja bergetar hebat, seperti memegang aliran listrik berdaya tinggi. Nampak ada kilatan-kilatan cahaya keluar dari tubuhnya. Kekuatan dahsyat dari pedang itu perlahan merasuki tubuhnya. Menguasai tubuhnya dan menempatkan jiwanya hanya di dalam jantungnya. Dan Pranaja membiarkannya.



“Heyaaa!” teriak Pranaja dengan lantang.



Wajahnya di tengadahkan ke atas. Nampak dua larik cahaya merah keluar dari matanya. Saat dia menghadap ke depan lagi, matanya sudah berubah, seperi lampu kecil bercahaya merah. Begitu menggidikkan. Dari tubuhnya muncul kilatan-kilatan cahaya putih.



“Hrrrgh!” bibir Pranaja menyeringai mengeluarkan suara menggeram bagaikan singa.



Cahaya Merah Pedang Perasuk Sukma di tangannya semakin kuat. Lalu dia mengangkatnya ke atas. Cahaya merah itu berpendar, hingga seluruh ruangan sembahyang itu juga bercahaya merah. Lalu tubuhnya melenting tinggi ke atas.



“Hiya!”



Tiba-tiba tubuh kakek Kim berkelebat menyusul tubuh Pranaja. Di tangannya memegang pedang pusaka miliknya yang mengeluarkan cahaya emas, SEONGNAN YONG, atau amukan naga. Ryong dan Ren bahkan tak melihat kapan Kakek Kim bergerak. Tahu-tahu dia sudah berada di depan tubuh Pranaja.



“Hrrrghh!” Pranaja menggeram kembali.



Wajahnya terlihat marah melihat kemunculan kakek Kim. Tanpa basa basi dia langsung menyerangnya dengan pedang perasuk sukmanya.



“Heyaa!”



Kakek Kim langsung menyambut serangan itu dengan Seongnan Yong nya. Pedang amukan naga itu mengeluarkan cahaya emas dan suara mendengung seperti badai yang sedang mengamuk.



TRANG!


__ADS_1


Pijaran cahaya merah dan emas berpendar ke setiap sudut ruangan. Terasa ada gelombang elektromagnetik yang menggulung dan bergerak ke seluruh ruangan. Lampu ruangan langsung pecah, meledak terkena sapuan gelombang itu, Saat mengenai dinding batu terdengar benturan hebat, Dinding batu alam yang sangat keras itu mendadak retak, dan pecahannya menggelinding ke bawah.



Dum! Prol!



Baju Ryong dan Ren nampak berkibar-kibar. Tubuh mereka terdorong ke belakang beberapa langkah.



Heya!



Hiya!



Trang! Trang! Trang!



Bum! Brum! Prol!



Teriakan Pranaja dan kakek Kim bercampur dengan suara beradunya kedua benda pusaka lalu diikuti suara ledakan dan benda-benda yang hancur membuat ruangan itu menjadi berantakan. Tubuh Pranaja dan kakek Kim sudah tak terlihat lagi. Hanya sebaran sinar merah dan emas bagikan pita warna-warni yang menebarkan maut dan meneror perasaan takut. Dan Ren tak tahan lagi.



“Pranaja!” teriak Ren dengan suara parau.



Seketika kekuatan di dalam tubuh Pranaja melakukan perlawanan, mendesak kekuatan pedang Perasuk Sukma kembali ke tempatnya. Cahaya merah di mata Pranaja langsung hilang, tubuhnya yang sedang melayang, langsung terjatuh.


Hap!



Pranaja berdiri tegak di atas tanah. Di susul tubuh kakek Kim. Ren langsung berlari dan memeluk tubuh pemuda cungkring itu. Dibenamkannya wajahnya di dada Pranaja.



“Ren!” Pranaja terkesiap.



Kakek Kim dan Ryong juga memandang tak mengerti. Ren menangis sesenggukkan dalam pelukan Pranaja. Tentu saja tingkah gadis itu membingungkan semua orang. Tapi Pranaja membiarkannya. Beberapa saat setelah tangis Ren mereda barulah dia bertanya.



“Ada apa Ren?”


Ren hanya menggelengkan kepalanya.


“Aku takut,” bisiknya lirih. “Kau kehilangan dirimu.”



Pranaja memandang wajah kakek Kim sambil tersenyum.


“Tidak Ren. Kau salah paham. Aku memang sengaja membiarkan kekuatan pedang ini merasuki diriku, karena aku ingin mengetahui kekuatannya,” kata Pranaja lagi. “Dan aku masih bisa mengendalikannya.”


__ADS_1


“Tadi kau menggeram dan matamu menjadi merah. Aku takut,” bisik Ren lagi.



Kakek Kim menggamit tangan Ryong dan mengajaknya pergi. Meninggalkan dua sejoli itu terjebak dalam suasana romantis.



“Ssshh..” bibir Pranaja mendesis menenangkan hati Ren. Dengan tangan bergetar dia membelai-belai rambut lebat gadis itu. “Tenang Ren, aku baik-baik saja.”



Wajah Ren semakin dalam menunduk dalam rengkuhan tangan Pranaja. Begitu nyaman dan damai. Bersama Pranaja, rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.


Di luar ruangan Ryong dan kakek Kim duduk termenung. Diam membeku dengan pikirannya masing-masing.


“Ehm, mengapa kakek mengajakku pergi meninggalkan mereka?” tanya Ryong.


Kakek Kim masih terdiam. Dia juga bingung mengapa dia mengajak Ryong meninggalkan Pranaja dan Ren di dalam ruangan Ah, mungkin karena dia sudah tua atau mungkin juga karena khawatir jiwa jomblo dalam diri Ryong akan meronta-ronta, batinnya.


***


Malamnya semua sudah siap untuk berangkat. Ryong dan Ren akan naik ke dalam pesawat tempur Thunderbolt, sementara Pranaja akan mengendalikan kendaran lapis baja Sd-Kfj 234. Kakek Kim tetap pada pendiriannya, dia akan mempertahankan rumahnya sampai titik darah penghabisan.



“Berhati-hati lah kalian semua. Aku hanya bisa mendoakan kalian,” kata kakek Kim. “Ryong lindungi adikmu, sayangi dia dengan segenap jiwa ragamu.”



Ryong menganggukkan kepalanya. Sementara Ren masih tidak mau lepas dari pelukan kakek.


“Pergilah kalian. Songsonglah hidup yang baru, kalian berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” sambung kakek lagi.



“Iya kek, Aku janji akan datang kesini lagi menengok kakek,” ujar Ryong.


Kakek Kim menggelengkan kepalanya.


“Jangan mudah mengucapkan janji yang sulit kau tepati. Jangan pernah kalian bermimpi untuk kembali. Berdoalah agar kalian mendapatkan masa depan yang lebih baik.”



Kemudian Ryong menggamit tubuh Ren agar melepaskan pelukannya dari tubuh kakek Kim.


“Hapus air matamu Ren. Aku ingin mengingatmu saat kau tersenyum.”


Kata-kata Kakek begitu menyentuh. Ren pun memaksakan senyumannya.



Pranaja maju ke depan, lalu memeluk kakek Kim.


“Aku pamit kakek. Terimakasih dan maaf telah merepotkanmu.”


Kakek Kim memandang Pranaja dengan mata penuh kekaguman.


“Merupakan kehormtan bagiku kedatangan tamu sepertimu Pranaja. Akulah yang seharusnya berterima kasih kepadamu,” katanya.



Pranaja menganggukkan kepalanya.


“Aku serahkan tanggung jawab untuk menjaga keselamatan mereka berdua kepadamu,” sambung kakek lagi.


__ADS_1


Pranaja masih menganggukkan kepalanya. Ditatapnya pendekar hebat itu dalam-dalam. Ah, dia banyak belajar dari kakek Kim. Tentang rasa cinta terhadap tanah air dan perjuangannya yang tidak pernah berhenti. Juga prinsip hidupnya yang tidak mau tunduk pada tirani kekuasaan dan memilih bersembunyi dan menikmati hidup dengan caranya sendiri.


__ADS_2