
MAK COMBLANG
Hari-hari terasa berkelebat begitu cepat, menggerogoti usia malam. Seperti waktu yang tadinya dirasa melambat dan membosankan. sekarang berbeda. Terasa berputar cepat dan penuh kegembiraan. Itu semua karena cinta yang memabukkan. Apalagi cinta yang datang setelah merasa tersakiti, jauh lebih indah dan penuh dengan romantika. Karena mereka selalu berusaha menjaga hubungan ini selalu indah sepanjang waktu.
Kisah drama percintaan antara seorang pengawal pribadi dengan junjungannya. Kisah klasik yang sering terjadi pada anak manusia walaupun dengan lekuk liku dan cerita yang berbeda. Karena cinta hanya mengenal hati, bukan siapa atau dimana tempatnya.
Tidak ada yang tahu kisah asmara Riyani-Somawangi. Apalagi kedekatan mereka tertutupi dengan status kedudukan Somawangi sebagai pengawal pribadi. Ketika mereka kemana-mana pergi bersama pun tidak ada yang curiga. Untunglah Riyani dan Somawangi pandai menjaga sikap sebagai orang-orang yang terhormat. Kecuali mbok Dal, karena Riyani tidak pernah bisa menyimpan rahasia apapun dari perempuan pengasuhnya itu.
“Adduh, yang lagi jatuh cinta, pagi-pagi sudah dapat kiriman bunga,” kata mbok Dal yang melihat Riyani sedang menata bunga di dalam wadah kecil yang terbuat dari tanah liat.
Riyani cuma tersenyum. Dia sudah terbiasa dengan keusilan simboknya, yang suka berceloteh kalau melihat sesuatu yang menurutnya tidak biasa dia lakukan.
“Kata ki Jogoboyo, urusan ayah di Kotaraja sudah selesai mbok. Besok ayah akan meninggalkan Kotaraja dan kembali ke Wanasepi,” ujar Riyani mengingatkan.
“Iya Den Ayu, simbok juga sudah mendengar berita itu,” sahut mbok Dal. “Berarti sekitar tujuh hari lagi Ki Demang sudah sampai di Kademangan lagi.”
“Iya. Doakan ya mbok agar perjalanan Ayah lancar dan selalu dalam lindungan-Nya,” kata Riyani lagi.
Lalu dia duduk di samping simboknya sambil senyum-senyum aneh.
“Ada apa Den Ayu senyum-senyum sambil melihat Simbok? Mau curhat ya?”
Riyani menganggukkan kepalanya. Tapi masih terdiam sambil tersenyum melihat wajah simboknya. Ada pancaran kebahagiaan dari kedua matanya. Mbok Dal bisa membaca pikiran junjungannya itu.
“Hm, pasti tentang kisah cinta antara Ken Arok dan Ken Dedes.”
“Kok Ken Arok si mbok? Dia kan perampok?”
Wajah Riyani sedikit protes.
“Lho Pangeranmu itu juga perampok yang telah mencuri hati Den Ayu,” ujar mbok Dal dengan ekspresi wajah lucu.
Riyani sampai terkekeh melihatnya,
“Simbok ada-ada saja, kkk..,” katanya.
Lalu terdiam lagi. Mbok Dal juga diam menunggu.
“Mulai hari ini Kakang Soma minta libur mbok. Selama sepuluh hari, dia akan pulang ke rumahnya,” kata Riyani kemudian.
Mbok Dal mengangguk-anggukkan kepalanya. Riyani melanjutkan kata-katanya.
“Dia akan kembali bersama keluarganya untuk melamarku mbok.”
“Hah?”
Wajah mbok Dal langsung tersenyum lebar. Nampak rona kebahagiaan langsung merayapi wajahnya. Dipeluknya tubuh Riyani erat sekali. Nampak matanya berkaca-kaca. Riyani membalas pelukannya, merasakan kasih sayang simboknya yang tiap hari memeluknya sejak dia lahir dari kandungan ibunya.
“Tapi mbok,…”
Riyani tidak melanjutkan kata-katanya, seperti ragu. Mbok Dal melepaskan pelukannya, memandang ajah junjungannya.
“Ada apa Den Ayu, ada masalah yang ingin kau katakan? Sikap ayahmu?”
__ADS_1
Riyani menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak mengkhawatirkan sikap Romo. Dia tidak pernah membeda-bedakan manusia darimanapun datangnya. Aku yakin Somawangi akan diterima dengan baik.”
“Lalu?”
“Aku memikirkan Eyang Karangkobar, teman ayah yang dulu melamarku.”
Wajah mbok Dal Nampak kesal.
“Dasar tua Bangka tidak tahu malu. Tidak usah dipikirkan Den Ayu.”
“Masalahnya aku sudah menyanggupi untuk menerima lamarannya.”
“Perjanjian itu harus di dasari dua kepentingan, bukan karena ancaman. Perjanjian macam itu berarti batal Den Ayu, alias tidak berlaku.”
Riyani menganggukkan kepalanya. Ah, mbok Dal terkadang pinter juga.
“Lagian dia melamar buat kakaknya. Kalau kakaknya tidak mau, berarti batal,” sambung mbok Dal, seolah sedang menguatkan keyakinan Den Ayunya.
“Kalau dia marah?”
“Biar simbok yang menghadapinya.”
“Simbok mau dibakar?”
“Ya tidak Den Ayu.”
“Ya, simbok siram pakai air seember.”
Hahaha…
***
Roro Lawe menyambut kepulangannya dengan suka cita. Dipeluknya tubuh panembahan Somawangi sambil dielus kepalanya. Apalagi melihat wajah adiknya yang begit bersemangat. Tatapan matanya begitu hidup dan penuh cinta. Dewi Pengetahuam atau si segala tahu bisa memahami apa yang sedang dirasakan adiknya saat ini.
Malamnya dia menceritakan pengalamannya selama berada di Kademangan Wanasepi. Dari menjadi pekerja perkebunan, penggembala sapi hingga menjadi pengawal pribadi puteri ki Demang. Hingga akhirnya dia benar-benar jatuh cinta dengan sang puteri, Riyani Dyah Pitaloka. Dan Den Ayunya itu juga menyambut cintanya.
“Rasanya bahagia sekali mendapatkan cinta seorang gadis yang datang dari lubuk hatinya. Bukan karena ancaman atau karena tidak ada pilihan,” ucapnya, teringat isteri pertamanya dulu yang mau menikah dengan dirinya, karena tidak ada pilihan. Setelah kekasihnya mundur karena takut dengan nama besarnya.
Ow, Roro Lawe jadi ikut terbawa suasana. Dipandanginya wajah yang sedang kasmaran itu, betapa adiknya itu telah mendaur ulang dirinya sendiri setelah dicampakkan secara menyakitkan oleh Miryam. Somawangi berubah menjadi manusia baru yang tidak dia kenal sebelumnya.
“Terus apa rencanamu Soma?”
__ADS_1
Somawangi terdiam. Ditatapnya wajah kakaknya dalam-dalam, seolah sedang mencari kata yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya.
“Aku akan melamarnya, mbakyu. Aku akan melamar puteri Ki Demang menjadi isteriku,” katanya. “Aku tidak mau kehilangan dia.”
Mata Roro Lawe berkaca-kaca melihat bibir Somawangi yang bergetar saat mengucapkan kata-kata itu. Cinta bisa membuat lelaki sekuat apapun menjadi lemah dan merasa takut kehilangan.
“Ya. Kakak setuju. Kita akan membicarakannya bersama,” katanya. “Kau tahu Soma, kakak juga nerasa bahagia sekali.”
Brak!
Terdengar orang menendang sesuatu di luar pendopo. Lalu suara Karangkobar yang mengumpat dan marah-marah. Namun saat masuk ke dalam wajahnya langsung berubah.
“Kak Soma? Kau sudah pulang?” katanya dengan senyum lebar.
Ditepuknya tubuh kakaknya keras-keras, lalu tertawa terbahak-bahak. Somawangi dan Roro Lawe hanya tersenyum melihat tingkah adik ‘tuanya’ itu.
“Darimana kamu. Pergi seharian tidak bilang, pulang malam marah-marah,”Tanya Roro Lawe.
Karangkobar nyengir kuda. Setelah menceritakan tentang petualangannya mencari Miryam dan Santika.
“Tapi tidak ketemu. Katanya mereka sembunyi di Jalatunda, tetapi tak dapat dilihat karena tubuh mereka diselubungi kekuatan cinta. Keparat macam apa itu?” sungutnya.
“Kau masih saja mengurusi Miryam dan Santika?” tanya Somawangi. “Lupakanlah mereka. Aku sudah bilang berkali-kali, kalau akulah yang salah, bukan mereka.”
Karagkobar mendengarkan Somawangi dengan wajah heran. Apakah kakaknya benar-benar sudah move on?
“Biarlah mereka menikmati cintanya sendiri Kobar. Jangan ganggu mereka lagi, karena kakakmu Soma sudah menemukan cinta yang baru. Dan dia berniat melamarnya.”
Senyum di wajah Karangkobar semakin lebar, wajahnya begitu bersemangat. Dia nampak senang sekali. Kedua tangannya diangkat tinggi sambil berteriak.
__ADS_1
“Horee! Akhirnya aku berhasil menjadi Mak Comblang!”