RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 78 DAYANA


__ADS_3

EPS 78 DAYANA


Ada satu hal yang tetap lebih penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan melebihi metode-metode cemerlang, yakni kemauan keras untuk menemukan kebenaran. Apaun yang kau hadapi.


Langit di atas Gurun Gobi begitu pekat dan sepi. Tidak ada yang bisa dilihat kecuali taburan bintang-bintang layaknya butiran ribuan permata yang digelar diatas karpet hitam. Di beberapa titik nampak juga awan antar bintang atau nebula yang menampilkan cahaya yang membias berwarna-warni. Indah sekali. Sungguh sebuah Mahakarya yang tidak ada duanya.


Kakek Zyed dan Alisher merebahkan tubuhnya diatas bebatuan di permukaan gurun pasir terluas kedua di dunia itu. Sungguh tidak di sangka, dibawah bebatuan dan kedalaman pasir itu ada kehidupan lain dengan dinamikanya sendiri.



“Assalamu’alaikum kakek! Hai Alisher!” suara Pranaja mengejutkan mereka.



Mereka segera menengok ke belakang. Kakek Zyed tersenyum lega.


“Bagaimana, apa kau berhasil menemukan jejak Cacing Maut?” tanya Alisher.


“Tentu saja. Tapi aku punya informasi yang pasti menarik perhatianmu.”


“Oh ya? Informasi apa?”


“Ternyata Cacing-Cacing Maut yang menyerang kita bukan makhluk biasa. Mereka adalah makhluk buatan yang dilakukan sebuah perusahaan senjata biokimia.”



Kakek Zyed mendengarkan dengan seksama. Mencoba memahami kata-kata Pranaja.



“Makhluk buatan? Maksudmu robot?”


“Bukan kek. Mereka sebenarnya adalah sekawanan kadal gurun yang mengalami mutasi gen tapi tidak sempurna. Sehingga tidak tumbuh kaki-kakinya.”


“Seperti binatang yang mengalami pertumbuhan tak sempurna alias cacat fisik? Itu bukan karena proses evolusinya?” tanya Alisher.



Pranaja menggelengkan kepalanya.


“Evolusi itu butuh waktu lama brother, tidak instan. Evolusi kan menyesuaikan dengan sifat alam yang membentuknya. Menurutku itu memang terjadi dari awal kelahirannya, bisa juga karena rekayasa genetika.”



“Rekayasa Genetika?”


“Pertumbuhan mereka yang cacat itu memang sengaja dibuat dengan merubah susunan DNA pada sel telur induknya kemudian menyilangkannya dengan DNA sel belut listrik. Itulah mengapa mereka memiliki kemampuan menyengat korbannya dengan sengatan listrik berdaya tinggi.”


“Lalu bagaimana caranya kadal gurun bisa memiliki tubuh sebesar itu?”


“Sejak lahir mereka di tempatkan dalam Aquarium raksasa dimana mereka mengalami terapi steroid sepanjang waktu. Akibatnya tubuh mereka mengalami pertumbuhan luar biasa seperti yang kita lihat.”


Alisher memandang wajah Pranaja seolah tak percaya.

__ADS_1


“Bagaimana kau bisa memiliki kesimpulan seperti itu, saudaraku?” tanya Alisher.


“Aku menjumpai kawanan kadal gurun di dalam laboratorium mereka,” sahut Pranaja.


Alisher terkesiap kaget. Kakek Zyed terlihat takjub mendengar kata-kata Pranaja.



“Apa!? Maksudmu kau menemukan tempat pembuatannya?” tanya Alisher.



Pranaja menganggukkan kepalanya.


“Jadi mereka sebenarnya kadal raksasa? Tapi apa tujuannya? Maksudku untuk apa mereka membuat hewan yang hanya membahayakan manusia?” tanya kakek tak mengerti.



Pranja menggelengkan kepalanya.



“Aku belum tahu kek. Dugaanku itu merupakan pesanan kakek. Mereka disiapkan menjadi senjata biologis untuk menyerang negara-negara di Timur Tengah yang berpasir.”


“Seperti virus yang saat ini menjadi pandemi di seluruh dunia?” tanya Alisher. “Itu juga merupakan senjata biologis yang bocor sebelum waktunya kan?”



“Lalu, apa yang harus kita lakukan brother?”


“Membongkar niat busuk dan motif jahat mereka yang merekayasa ini semua. Bagaimanapun sudah jatuh banyak korban jiwa. Dan mereka harus bertanggungjawab. Siapapun itu!”



Alisher terdiam. Memandang wajah Pranaja dalam-dalam. Apakah Pranaja juga manusia hasil rekayasa genetika? batinnya.


***


Alisher memutuskan untuk meneruskan perjalanan ke Samarkand, Uzbekhistan, karena khawatir dengan keselamatan kakeknya. Sementara Pranaja meneruskan penyelidikan. Dia mengamati setiap aktivitas di dalam perusahaan yang terlihat selalu sepi. Sesekali ada helikopter datang mengantarkan peralatan dan logistik bagi orang-orang yang bekerja disitu.



Pranaja memperhatikan dengan seksama. Di badan pesawat itu ada tulisan kecil tapi mudah dibaca, SUBRATA’S HOLDING COMPANY.” Pranaja terkejut, Subrata adalah konglomerat dunia yang berasal dari Indonesia. Apakah dia juga ada keterkaitan dengan bisnis pembuatan senjata biologis illegal?



“Nampaknya aku harus masuk ke dalam,” batinnya.



Pranaja turun perlahan dari atas awan. Tubuhnya mengapung pelan, sebelum menapakkan kakinya ke bumi. Dia melihat enam orang pekerja yang sedang membongkar beberapa kotak kayu dari dalam helikopter. Lalu membawa kotak-kotak bertuliskan FOOD itu masuk ke dalam gedung limas. Pranaja segera mengikutinya.


__ADS_1


Slap! Slap! Slap!



Tubuhnya bergerak sangat cepat dari satu tempat tersembunyi ke tempat lainnya. Mengikuti langkah kaki para pekerja. Sambil menggotong barang yang terlihat cukup berat itu, mereka masuk ke dalam lift. Kemudian lift itu turun cepat ke bawah.



“Hm, rupanya ada ruang bawah tanah. Sebaiknya aku tunggu mereka muncul lagi,” batinnya.



Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka kembali. Para pekerja itu keluat dan berjalan menuju helikopter itu untuk mengambil kotak makanan lainnya. Pranaja menunggu waktu yang tepat. Ketika orang-orang itu melewatinya, diam-diam di melompat lalu menotok syaraf di belakang kepala pekerja yang berjalan paling belakang. Tubuh pekerja itu langsung kaku tidak bisa digerakkan sama sekali.



Pranaja menyeretnya ke ruang tersembunyi.


“Tenang saja kawan, dalam waktu dua jam, tubuhmu akan kembali bugar seperti sedia kala,” katanya sambil nyengir kuda.



Setelah itu dia berjalan cepat meyusul mereka. Pranaja dan ketiga temannya mendapatkan kotak terakhir. Lalu mereka mengangkatnya bersama dan melangkah kembali mnuju ruang bawah. Namun karena tubuh Pranaja terlalu tnggi, kotak itu pun jadi miring ke depan. Memberatkan dua orang karyawan yang berjalan di depan.



“Woi, kenapa kotak ini menjadi begitu berat?”teriaknya kepada temannya.


Lelaki gempal bertinggi sedang itu jadi mengeluh. Pranaja mengubah posisi. Dia berjalan membungkuk, biar tinggi kotak itu merata. Barulah mereka berjalan menuju lift. Lelaki gempal itu memencet tombol down menuju basement. Lift itu meluncur turun dengan cepat. Begitu sampai di basement, pintu lift terbuka lagi.


Dan Pranaja terkesiap kaget. Ratusan orang terlihat hilir mudik dalam ruangan besar layaknya hanggar pesawat. Namun begitu suasana tetap hening. Mereka bekerja tanpa saling berbicara. Ada sebuah bangku dan meja panjang tempat mereka bekerja. Diatasnya ada peralatan laboratorium untuk kotak pipet, gelas kimia, mikroskop, inkubator mikrobiologi dan peralatan lainnya.


Pranaja dan ketiga ‘kawannya’ terus berjalan membawa kotak makanan itu menuju ke dapur. Setelah meletakkan kotak itu di dalam ruang pendingan, Pranaja pura-pura berjalan menuju toilet. Dari sana dia membobol langit-langit toilet dan keluar ruangan. Dia berjalan mengendap-endap lagi. Kedua matanya terus berputar kesetiap sudut ruangan. Tajuannya hanya satu, dia ingin masuk ke dalam laboratorium utama.


Dan diujung gedung dia menemukan pintu besi yang terkunci dengan kuat.


“Kenapa pintu besi ini dikunci?” batinnya. “Nampaknya ada yang disembunyikan.”


Pranaja berpikir keras. Mencari cara supaya bisa masuk ke dalam. Masya Alloh, bagaimana ini? Batinnya.


“Ceklek! Sreeg!”


Terdengar bunyi kunci pintu dibuka dan di dorong. Seorang gadis berpakaian putih-putih keluar dari dalam ruangan. Wajahnya sangat cantik, mengingatkannya pada wajah gadis yang sedang viral di medis sosial


“Dayana?” ucapnya setengah sadar.


Rupanya bisikannya terdengar oleh gadis itu. Dia segera berbalik menatap Pranaja sambil tersenyum manis. Melepas anak panah dewa amor yang langsung menembus ulu hatinya.


Prul!


Jantung Pranaja kali ini benar-benar rontok.


.

__ADS_1


__ADS_2