
KEMBALI MUDA
Celoteh anak gembala adalah kegembiraan para pengembara, yang menemukan teman untuk berbagi cerita. Karena hati yang sendiri akan merasa sepi, lalu siapa yang tidak membutuhkan belahan hati?
Pada hari yang ketujuh sejak mengawali pertapaannya, Panembahan Somawangi bersemayam dengan tenang di dalam telaga. Roro Lawe memeriksanya setiap saat. Selama itu pula, Dewi Pengetahuan tidak pernah beranjak pergi dari tempat. Kadang ada adiknya Eyang Karangkobar yang menggantikannya sebentar, saat dia sedang ada keperluan.
“Ini hari terakhir Kang Soma di rendam di dalam sendang kak Lawe?”
Roro Lawe menganggukkan kepalanya.
“Kita tunggu nanti saat matahari tergelincir, masuk Sandyakala, yaitu pergantian waktu antara siang dan malam. Di titik puncak pergantian siang dan malam itulah puncak kekuatan sendang Edi Peni akan terjadi.”
Karangkobar jadi penasaran dan tidak sabar melihat pergatian wujud kakak laki-lakinya.
“Kak?”
“Hmh…”
“Seandainya nanti kak Soma kembali muda, boleh nggak aku ikut direndem dalam situ?” kata Karangkobar sambil menujuk dalam Sendang.
“Boleh.”
“Benarkah?”
“Hmm, iya.”
“Ada syaratnya?”
“Ada.”
“Apa?”
“Kau harus menunggu sampai tahun kembar berikutnya.”
Karangkobar mengernyitkan keningnya? Tahun kembar berikutnya? Ini tahun 1515, tahun kembar berikutnya 1616. Wah lama banget.
“Berarti harus menunggu seratus tahun dong?”
Roro Lawe mengangguk. Karangkobar menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Gak mau ah, kelamaan,” gumamnya sambil ngeloyor pergi.
Roro Lawe tersenyum geli sendiri.
__ADS_1
Mendadak sudut matanya melihat cahaya aneh dari dalam sendang. Cahaya itu berasal dari benda kecil yang dipakai di leher adiknya. Saat masuk ke dalam air. Roro Lawe tak begitu memperhatikan karena sekujur tubuh Panembahan tertutup tanah liat putih.
Cahaya itu begitu terang, hingga setiap sudut di dalam sendang yang tidak begitu besar itu kelihatan.
“Hm, itu pasti batu mustika,” pikirnya. Cahayanya berbeda dengan batu fosfor yang ada di dalam gua miliknya. “Batu jenis apa kok bisa seterang itu di dalam air?”
Roro Lawe semakin penasaran ingin meraih batu mustika itu. Untung matahari sudah mulai tergelincir. Sebentar lagi waktu Sandhyakala akan tiba. Artinya pertapaan Panembahan Somaangi telah selesai. Tinggal melihat hasil perubahannya, atau wujud barunya.
***
Perubahan adalah cara pandang kita terhadap sesuatu yang berbeda dari satu titik waktu ke titik berikutnya. Perubahan adalah proses yang harus di pelajari, bukan hasil akhir yang terkadang dirasa menipu harapan, hingga sering disesali.
Akhirnya waktu yang ditunggupun tiba. Titik pergeseran antara siang dan malam yang menggenapkan rentang waktu pertapaan Panembahan Somawangi selama tujuh hari tujuh malam. Proses regenerasi yang mengembalikan raga Panembahan dari keadaan sekarang kembali ke masa mudanya dahulu.
Pada puncak Sandhyakala itu, sendang Edi Peni semakin terang. Bias cahayanya bahkan ikut keluar menerangi lingkungan sekitar. Menembus rapatnya pohon-pohon besar dan kerimbunan dedaunan. Bahkan kalau dilihat dari kejauhan, puncak gunung mati seperti memancarkan cahaya bulan. putih kebiruan. Indah sekali.
“Wow! Cahaya apa ini kak Lawe? Kok terang sekali,”ujar Karangkobar.
“Cahaya ini berasal dari puncak kekuatan air sendang, tapi yang membuat cahayanya menembus kemana-mana adalah benda kecil yang dipakai kakakmu,” sahut Roro Lawe.
“Benda kecil?” tanya Karangkobar penuh rasa takjub.
“Itu batu mustika kak Lawe?
“Kita belum tahu pasti. Aku akan mengangkat tubuh kakakmu ke permukaan dulu. Pertapaannya sudah selesai.”
Roro Lawe duduk bersila, kedua telapak tangannya ditangkupkan didepan dadanya. Lalu bibirnya bergerak-gerak membaca doa. Perlahan kedua tangannya direntangkan ke kanan dan ke kiri. Lalu diangkat ke udara.
Perlahan tubuh Panembahan yang berada di dasar sendang ikut terangkat naik ke permukaan. Melewati lapisan pelagiknya, lalu melayang di udara. Dari pingggir sendang, Karangkobar menghentakkan tubuhnya, melesat kea rah tubuh Panembahan. Diatangkapnya tubuh itu lalu dibawa ke hadapan Roro Lawe.
Roro Lawe mmemandang tubuh adiknya yang terbujur kaku itu. Sebelum dimasukkan ke dalam air, Panembahan memang telah membekukan dirinya. Komposisi oksigen di dalam butiran darahnya tetap terjaga, sehingga dia bisa bertahan di dalam air begitu lama tanpa bernapas.
“Alirkan kekuatan panasmu Karangkobar, untuk membangunkan kakakmu,” ujarnya.
Karangkobar menyentuh kedua telapak kaki Panembahan yang sedingin es dengan kedua telapak tangannya. Menyalutkan kekuatan Geni Sawiji yang panas untuk membuyarkan kekuatan Tirtanala yang membekukan aliran darah dan urat syaraf kakaknya. Perlahan tubuh Panembahan mulai bergerak dari ujung kaki sampai ujung rambut.
“Bangunlah adikku,” ujar Lawe sambil menggoyangkan tubuh Panembahan.
“Huk! Huk!”
Terdengar suara batuk. Lalu tubuh yang sudah dihangatkan itu bangkit dari tidurnya.
“Bawa kakakmu ke bawah pancuran air hangat di sebelah sana , Karangkobar.”
Karangkobar dengan telaten menuntun tubuh Panembahan ke pancuran Banyu Anget, air terjun panas yang terletak di bawah pohon beringin. Panembahan berdiri dibawah pancuran sambil membersihkan tanah liat putih yang membungkus tubuhnya. Malam semakin gelap sehingga Karangkobar mengeluarkan api dari tangannya. Seketika suasana sekitar pancuran jadi terang benderang.
__ADS_1
Dan pandangan Karangkobar mendadak terkesima. Matanya melotot dan mulutnya terbuka. Nampak sosok pemuda gagah yang dikenalnya berpuluh-puluh tahun yang lalu. Sosok kakaknya sendiri, Panembahan Somawangi dengan wujudnya saat berusia duapuluh lima tahun!
Tubuhnya tegap berisi, tinggi menjulang, berkulit putih bersih, dengan mata kecil dan hidung seperti sudut bintang, jambang bagai hamparan rumput hitam, dan jenggot mungil yang menggantung meliuk seperti body gadis belasan tahun yang padat mempesona.
Somawangi siap membuat hati setiap gadis jatuh cinta begitu melihatnya. Fall in love in the first sight!
Somawangi melepaskan jubah kebesarannya. Dengan pakaian rakyat jelata dia akan memulai petualangannya ke Kademangan Wanasepi, untuk memikat puteri cantik ki Demang, Riyani Dyah Pitaloka. Celana pendek hitam sebatas dengkul dan baju lurik berlengan panjang, dia terlihat sederhana tapi tetap mempesona.
Roro Lawe dan Karangkobar tak henti-hentinya berdecak kagum melihat penampilan baru saudara laki-lakinya itu.
“Pergilah Somawangi. Jemput belahan jiwamu yang baru, dan lupakan cinta yang telah mengkhianatimu. Aku berharap besar padamu,” kata Roro Lawe.
“Iya kakak. Aku minta doa restumu,” kata Somawangi sebelum pergi.
Setelah memeluk Karangkobar, Somawangi segera berangkat menjalankan misinya, membawa puteri Wanasepi sebagai ratu di tanah Perdikan Somawangi.
***
Di perkebunan Kademangan Wanasepi, mandor Balun sedang sibuk mengatur anak buahnya, saat seorang pemuda menggamit bahunya.
“Permisi kang,” sapa pemuda itu.
Mandor Balun menengok, menatap pemuda itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sosoknya yang tinggi menjulang membuat sang mandor yang bertubuh pendek harus mendongakkan kepalanya.
“Ada apa?” sahutnya pendek.
“Maaf kang. Saya sedang butuh pekerjaan. Bolehkah saya melamar pekerjaan disini?” kata pemuda itu.
“Oh, disini adanya pekerjaan kasar. Apa kau mau membersihkan sampah-sampah di kebun dan mencabuti rumput?”
“Iya kang. Pekerjaan apapun akan saya lakukan yang penting saya bisa makan.”
“Baik. Kalau begitu kau bisa bekerja sekarang. Itu kau tanya Kasir apa yang harus kau kerjakan disini,” sahut Mandor sambil menunjuk temannya yang sedang sibuk bekerja.
Pemuda itu pamit diiringi tatapan aneh sang Mandor.
“Eh, anak muda. Siapa namamu?”
“Nama saya Soma,” sahut si pemuda. “Somawangi.”
__ADS_1