RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA

RICH PRANAJA PEWARIS TIRTANALA
EPS 50 DIBUTAKAN CINTA


__ADS_3

DIBUTAKAN CINTA


Ada yang mengatakan salah satu cara membuatmu jatuh cinta adalah aku harus sering membuatmu tertawa. Tapi setiap kali kau tertawa, aku yang dibuatnya jatuh cinta.”


Catatan Romantisme Senja, Miracle.


...Miracle menutup buku diarinya. Lalu mematikan lampu dan merebahkan tubuhnya di kursi sudut yang ada di dalam kamarnya. Pandangannya menerawang jauh ke langit-langit kamar. Melukis wajah Pranaja di layar imajinya. Memutar balik slide demi slide gambar-gambar romantikanya sejak mengenal pemuda imut itu. Menandai setiap gambar sebagai sesuatu yang memiliki makna yang mendalam dan berarti dalam hidupnya....


Perlahan namun pasti kejahilan-kejahilan pemuda itu telah menjadi pandemi yang menyerang ulu hatinya. Menumbuhkan benih-benih cinta di setiap detak jantungnya. Melumpuhkan daya nalarnya, bahwa Pranaja hanya bersikap baik kepadanya, tanpa pernah mengungkap perasaan apapun kepadanya.


Genggaman tangannya yang lembut saat menuntun jalannya, merengkuh tubuhnya saat ada air mata membasahi pipinya, membuatnya terpingkal dengan kenakalan dan prank-prank kreatifnya. Benar-benar hatinya telah dibutakan oleh cinta.


“Pranajaa..I Love You So Much,” rintihnya.


Tak terasa matanya terpejam dan mengantarnya ke alam mimpi yang indah. Melihat Pranaja sedang berlari-lari menuruni bukit berbunga. Tubuhnya nampak ringan berlari di atas rerumputan, Menembus udara pagi yang dingin, seolah sedang menegaskan ketidak peduliannya dengan apapun kecuali dengan cintanya. Mengambil bunga yang diselipkan di kedua bibirnya, lalu mempersembahkan bunga itu untuknya.


Kreek! Kriyeet!


Miracle terkesiap kaget. Kedua matanya langsung terbuka. Seperti ada orang yang membuka pintu jendela. Jelas sekali suara gesekan-gesekan itu.


“Rupanya ada penyusup yang berusaha masuk kemari,” batinnya.


Dia bangkit berdiri, mengambil pistol yang tersimpan di dalam laci riasnya. Lalu berjongkok di dalam kegelapan. Menajamkan indera pendengarannya. Rupanya si penyusup sudah berhasil membuka jendela bagian luar. Sekarang nampak bayangan kepalanya menempel di kaca jendela yang buram.


Tangan kiri Miracle memencet tombol tombol ponselnya. Memberitahu Pranaja dia sedang kedatangan tamu yang tak diundang. Terlihat penyusup itu sudah berhasil menarik gerendel dan membuka daun jendela bagian dalam. Lalu di dorongnya lebar-lebar.


‘Kreeek! Kriyeet!’


Begitu jendela terbuka, Miracle segera menyalakan lampu kamarnya. Lalu tendangan kaki kanannya melayang ke arah kepala penyusup itu. Namun wajah Miracle terkesiap kaget. Terlihat wajah yang dikenalnya, menggigit setangkai mawar diantara kedua bibirnya. Persis yang ada dalam mimpinya barusan. Tapi itu bukan…


“Vladimir!” teriaknya.


Dan dia tak sempat menarik kembali tendangannya.


Buk!


Punggung telapak kaki kanannya bersarang tepat di dagunya dengan telak.

__ADS_1


“Wa..aaah!”


Vladimir berteriak kaget. Dia tak sempat menghindari serangan mendadak itu. Tubuhnya terdorong ke belakang, lalu jatuh bersama tangga yang dipakainya untuk naik ke kamar Miracle di lantai dua.


Bruk!


Tubuhnya terbanting keras.


Buk!


Disusul tangga yang dibawanya ikut jatuh menimpa tubuhnya.


“Hugh! Auwhg!’


Vladimir tak sempat mengaduh, Setangkai bunga yang digigitnya masuk ke dalam mulutnya, menyumpal mulutnya hingga tak bisa berkata-kata. Dadanya yang tertimpa tangga terasa sesak, mulutnya serasa ingin muntah. Dan yang paling parah adalah rasa malunya.


Secara reflek Miracle langsung memberikan perolongan. Tubuhnya melayang ringan dari lantai dua kamarnya, dan jatuh berdiri tegak di samping Vladimir. Memeriksa seluruh tubuh Vladimir dan memeriksa tanda-tanda vitalnya, nafas, nadi, dan detak jantung. Tidak ada luka serius, hanya kepalanya nampak lebam karena kejatuhan tangga.


“Vladimir! Apa yang kau lakukan?” tanya Miracle.


“Vladimir! Kenapa kau tak mengetuk pintuku saja? Masuk lewat jendela kaya maling!” kata Miracle ketus, nadanya betul-betul marah.


“Maafkan aku Miracle. Tadinya aku mau menemuimu, tapi kulihat kamarmu sudah gelap. Jadi aku berniat memberi kejutan menyelipkan bunga di daun jendela,” kata Kapten Angkatan Udara Rusia itu.


“Menyelipkan bunga di daun jendela? Apa maksudmu?” tanya Miracle lagi.


“Agar saat kau membuka jendela di esok pagi, kau akan melihat bunga persembahan dariku, sebagai keindahan yang kau nikmati pertama kali setelah kau bangun tidur.”


Uhuk! Uhuk!


Pranaja sampai terbatuk-batuk mendengar kata-kata Vladimir. Co cuiiit..eh so sweet maksudku, batin Pranaja sambil tertawa tergelak. Sementara wajah Miracle nampak merah jambu. Tapi dia masih tetap marah.


“Hahaha.. ada yang sedang jatuh cinta nih!” teriaknya.


Lalu dia menari bak artis India sambil bernyanyi.


“Tum Hi Ho, Abe Tum Hi Ho..Sin Degi…Abe Tum Hi Ho."

__ADS_1


Suaranya ber vibrator, kepalanya berlenggok-lenggok seperti ular Kobra. Miracle yang sedang marah tak kuasa menahan ketawanya.


“Prnajaaa!” teriaknya, “Sebel! Sebel!”


Dikejarnya tubuh cungkring itu, tapi Pranaja sudah keburu lari menjauh. Miracle pun mengejarnya, meninggalkan Vladimir duduk sendiri menyesali nasibnya.


Namun diantara kegelapan, nampak sepasang mata Viktor menyaksikan semuanya, Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, tubuh Miracle melayang ringan dari lantai dua. Lalu mendarat mulus tanpa mengalami cedera apa-apa.


“Hm, siapa sebenarnya gadis itu? Kenapa dia begitu akrab dengan pilot baru itu? Teman lama atau sahabat karib? Apa TTM, Teman Tapi Mesra?”


Viktor menggeleng-gelengkan kepalanya. Perlahan dia keluar dari persembunyian, lalu memapah tubuh Kaptennya kembali ke kamarnya.


***


Paginya Viktor menemui Kolonel Jzadi Kurk di markas Angkatan Udara. Dia menceriterakan perihal kecurigaannya terhadap Pranaja dan Miracle. Tapi sang Kolonel malah tertawa.


“Miracle dan Pranaja memang ahli bela diri. Mereka pernah menempuh pendidikan bersama sekolah pilot tempur di Kanada dan Jepang. Jadi mereka adalah teman dekat. “ kata sang Kolonel. ‘Benar kata-katamu Letnan.”


Viktor mengernyitkan keningnya. Mengapa segala sesuatunya seperti sudah dipersiapkan? Nalurinya sebagai perwira militer membuatnya menaruh kecurigaan.


“Sudah Letnan, tidak usah kau pikirkan. Yang perlu kau pikirkan adalah kesembuhan luka sahabatmu, Vladimir. Aku tidak mau dia sakit saat terjadi gerakan 14 Februari.”


Kolonel mempersilahkan Viktor untuk meninggalkan ruangannya. Seolah sedang menegaskan sikapnya bahwa semua berjalan baik-baik saja. Dan meminta Viktor dan Vladimir untuk fokus kepada tugasnya daripada memikirkan hal-hal yang tidak penting.


“Rupanya aku harus membutikannya sendiri,” batin Viktor.


Dia lalu kembali ke kamar Vladimir untuk mengobati lukanya. Sepanjang perjalanan dia terus berpikir keras. Dia tidak mau kehadirannya bersama sang Kapten hanyalah omong kosong yang tidak ada artinya. Karena itu dia harus mengambil langkah antisipasif agar gerakan 14 Februari berhasil mencapai tujuannya.


Namun di sebuah lorong sempit, dia melihat sosok sahabatnya menghadangnya di tengah jalan. Tampak sebuah revolver diacungkan tepat ke kepalanya.


“Jangan kau coba merebut Miracle dariku Viktor!” katanya.


Lalu dengan yakin dia menarik pelatuknya.


Dor!


Tubuh Viktor rebah dengan luka tembak tepat diantara dua matanya, dan tembus ke otaknya. Nyawanya melayang sebelum dia berhasil membuktikan kecurigaannya terhadap Pranaja dan Miracle. Dan pembunuhnya adalah sahabatnya sendiri yang sedang dibutakan oleh cinta.

__ADS_1


__ADS_2