
EPS 127 . VIRUS CINTA
Didera rasa rindu Ana berlari cepat menuruni perbukitan. Kakinya yang jenjang begitu lincah menapak di jalan berbatu menuju rumahnya. Tangannya terkembang lebar lalu melompat ke arah tubuh ayahnya, Pramono Sutejo. Dia adalah pemilik perusahaan kontraktor jasa penebangan hutan dan pembersihan lahan untuk perusahaan-perusahaan properti besar.
Saat ini dia menjadi tangan kanan Subrata, pemilik Subrata’s Holding Company, perusahaan properti raksasa yang berpusat di negeri Paman Sam, Amerika Serikat, untuk menangani mega proyek yang paling prestisius, Megapolitan City. Sebuah kawasan hunian super elite yang diperuntukkan sebagai pusat transaksi bisnis dan keuangan digital dari seluruh dunia.
“Ayaah!”teriak gadis itu.
Pramono tersenyum lebar. Kedua tangannya juga dibentangkan menyambut tubuh puterinya. Sekian lamanya meninggalkan puterinya sendirian di rumahnya yang besar, membuat rasa rindu membuncah di dadanya. Sebagai single parent yang super sibuk, dia hanya menyerahkan tanggung jawab puterinya kepada pembantu-pembantu dan pengawal kepercayaannya.
“Ana sayaang!” serunya.
Dipeluknya tubuh puterinya erat-erat. Menumpahkan rasa rindu kepada buah hatinya. Tidak ada cinta yang lebih besar daripada cinta ayah kepada puterinya. Lalu hidungnya seperti membaui sesuatu.
“Eh, anak ayah yang cantik kok bau amis sih?” katanya.
Ana segera melepaskan pelukannya. Wajahnya sedikit memerah karena malu.
“Iya. Ana habis memancing belut di telaga,” katanya. Belut listrik raksasa.”
Pramono mengernyitkan keningnya, sedikit bingung.
“Kenapa? Itu kan belut kesayanganmu?”
“Habis dia mau makan orang sih.”
“Hah? Makan orang? Siapa?”
“Kelihatannya anak yang tersesat di hutan. Namanya Pranaja.”
Hm, Pranaja? Rasanya baru pernah dengar nama itu, batin Pramono. Tapi bagaimana dia bisa tersesat di atas bukit itu?
“Sekarang dimana dia?”
“Sudah pergi yah. Katanya ditunggu sama kakeknya.”
Pramono terdiam. Sebagai bos besar yang juga menguasai permainan dunia hitam dia memang harus ekstra waspada. Hatinya selalui diliputi rasa curiga, manakala menengarai sesuatu yang menurut pemikirannya adalah hal yang tidak masuk akal. Hutan di sekitar rumahnya adalah properti milik pribadi, tidak ada orang sekitar yang berani memasukinya. Berarti memang bukan penduduk sini.
‘Aku harus menyelidikinya,’ batinnya sambil memberi kode kepada anak buahnya.
“Baiklah cantik. Sekarang kamu mandi, bikin tubuhmu seharum mungkin. Nanti sore kita jalan-jalan cari makan di kota,” katanya.
Ana menganggukkan kepalanya.
“Baik ayah,” katanya lalu berjalan ke belakang rumahnya membawa daging belut itu untuk menjadi makanan buaya, hewan ganas peliharaannya yang lain.
__ADS_1
Sepeninggal puterinya, Pramono bergegas naik ke atas bukit, diikuti pengawal-pengawalnya. Dengan senjata terkokang mereka meneliti setiap sudut telaga atau sendang itu. Tapi hasilnya nihil, mereka tidak menemukan apapun kecuali sisik ikan dan tulang-tulangnya yang menghitam bekas terbakar.
“Tidak ada yang mencurigakan bos,” ujar Firman, kepala pengawalnya.
Pramono menganggukkan kepalanya sambil menerawang jauh ke sekitar perbukitan. Memang tidak ada yang perlu dicurigai. Mungkin benar anak itu hanya tersesat, atau cuma anak yang sedang mencari kayu bakar saja bersama kakeknya. Lalu dia melihat anak buahnya yang berjongkok sambil mengambil sesuatu.
“Apa yang kau temukan Firman?”
Firman menggelengkan kepalanya.
“Tidak ada Bos. Rupanya mereka habis bakar daging belut. Cuman aneh saja, ada daging bakar, tapi tidak ada ranting atau kayu yang terbakar. Dia membakarnya pakai apa?” sambung Firman.
Pramono memperhatikan kejanggalan itu. Benar, apa anak itu membawa pemanggang listrik? Ah, nggak mungkin banget, batinnya sambil berjalan kembali menuju rumahnya.
***
FLASBACK OFF…
Pranaja dan Ana masih duduk santai di sudut ruang tunggu bandara terbesar di Indonesia itu, tenggelam dalam perbincangan yang panjang. Derai tawa gadis cantik itu terdengar renyah setiap Pranaja mengatakan sesuatu yang lucu. Walaupun mereka hanya bertemu satu kali, tapi cerita merekaa terus saja mengalir sambung menyambung.
“Pranaja, siapa yang kau tunggu. Perasaan dari kita kita ngobrol, tidak terlihat ada orang menghampirimu?” Tanya Ana.
“Kata siapa? Dari tadi ada kok orang yang datang menghampiriku,” sahut Pranaja.
“Mana? Aku tidak melihatnya?”
“Bagaimana mungkin kau melihatnya. Kau terlalu asik ngobrol denganku. Makanya tidak melihat ada gadis cantik menghampiriku.”
Bibir Ana setengah terbuka, sambil memandang Pranaja seperti orang bingung. Pemuda itu malah membalasnya dengan senyuman menggoda.
“Hah?” perlahan Ana mulai sadar siapa yang dimaksud Pranaja. “Maksudmu gadis itu…”
“Iya. Gadis cantik yang sekarang duduk di depanku,” kata pemuda itu sambil tetawa.
“Hahaha... sudah paham kan?”
Wajah Ana menjadi merah jambu. Sambil terseyum malu dia mencubit pinggang Pranaja.
“Adduh!” Pranaja mengaduh kesakitan, Ana malah tersenyum senang.
“Rasain! Itu hadiah buat cowok yang suka nggombal.”
Lalu mereka tertawa kembali.
“Heh Ana, ingatanmu tajam juga ya?” ujar Pranaja.
Ana mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
“Apa maksudmu?”
“Tadi kau langsung mengenaliku, begitu melihatku. Padahal pertemuan kita sudah lama sekali kan?”
Ana terdiam sambil tersenyum. Ditatapnya wajah pemuda imut itu dalam-dalam.
“Berapa banyak gadis yang kau kenal Pranaja?” Ana malah balik bertanya.
Pranaja terdiam. Walaupun pertanyaan Ana terdengar aneh, tapi Pranaja tetap berusaha untuk menjawabnya.
“Aku banyak mengenal gadis-gadis belakangan ini. Mereka semua baik dan,..emh sayang juga denganku.”
Ana tersenyum.
“Pasti mereka semua jatuh cinta kepadamu kan?”
Kali ini giliran Pranaja yang terdiam. Lalu menatap mata gadis itu, mencoba menebak arah pembicaraannya.
Ana menghela nafas panjang. Tiba-tiba dia meraih tangan Pranaja dan menggenggamnya.
“Bukan hal yang mudah untuk melupakanmu Pranaja,” ucapnya pelan, hampir berbisik.
Pranaja masih terdiam. Pandangannya beralih pada jari lembut Ana yang sedang menggenggam tangannya. Terasa ada desiran halus yang merambat, menyejukkan ruang hatinya.
“Kau adalah virus, yang menaburkan bibit cinta di setiap hati gadis yang kau singgahi. Tapi kau tidak pernah menyadarinya.”
Pranaja mengangkat tangannya perlahan, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ma..maaf Ana, ap..apa kau juga..” Pranaja tidak melanjutkan kalimat pertanyaannya.
Dia takut gadis itu tersinggung. Tapi gadis cantik itu malah tertawa ngakak. Dipukulnya kepala Pranaja dengan sepatu kulit buayanya.
“Plak!”
“Adduh! Kenapa kau memukulku Ana?” katanya sambil mengelus dahinya yang benjol.
“Hahaha..kau pikir aku juga jatuh cinta padamu? Hai! Hallaouw! Aku bukan gadis bodoh yang mudah jatuh cinta tahu!”
Huh! Pranaja malah tersenyum sambil menarik nafas lega.
“Alhamdulillah.”
“Heh, kenapa kamu tersenyum senang. Aku terlalu jelek ya buatmu?”
Pranaja menggelengkan kepalanya.
“Aku hanya tidak bisa membayangkan laki-laki yang menjadi kekasihmu. Pasti wajah tampannya akan hilang karena benjol di sana sini. Haha…” gantian Pranaja yang tergelak puas.
‘Huh! Dasar konyol, bagaimana aku bisa melupakanmu?’ batin Ana.
“Eh, kamu belum jawab pertanyaanku tadi Pranaja. Kalau kau sedang tidak menunggu seseorang, apa yang sedang kau lakukan disini?”
“Aku? .. Ehm..I’m just looking for a job. Sudah lama menganggur jadi bingung.”
Ana menatap heran. Dipandangnya tubuh Pranaja dari ujung rambut sampai ujung kaki. Hm, penampilam Pranaja tidak menunjukkan kalau dia adalah seorang pengangguran Pasti pemuda itu berasal dari keluarga kaya. Mainnya saja ke Bandara.
__ADS_1
“Oke. Nanti akan aku promosikan kamu kepada ayahku.”