
EPS 121 BADAI KOSMIK
Bulan, berhentilah mengejarnya dan jadikan aku mataharimu.
Di tengah tanah lapang itu, di atas bibir kawah yang menyemburkan apinya, tubuh Pranaja dan Daj Jal sudah berdiri berhadap-hadapan. Keduanya saling bertatapan penuh kemarahan. Sama-sama saling menyalahkan atas kematian Amita, mereka bertekad untuk menuntaskan segala dendam dan kemarahannya saat ini juga.
“Aku tidak akan mengampunimu Penunggang Naga! Kau berhutang satu nyawa kepadaku,” ucap Abroha sambil menggeram. “Nyawa puteriku Amita. Dia mati karena pengaruh yang kau tanamkan di dalam benak puteriku.”
“Aku yang akan mengakhiri ambisimu Abroha. Kau bahkan berhutang ribuan nyawa manusia Bumi, termasuk Amita dan keluarganya,” bentak Pranaja tak kalah garang.”Kau tak lebih dari pecundang yang menggunakan segala cara untuk menuntaskan tugasmu!”
Haargh!
Abroha tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
“Tariklah nafas dalam-dalam Penunggang Naga! Karena itu akan menjadi nafas terakhirmu!” teriaknya.
Daj Jal melompat tinggi, tubuhnya berputar di udara, lalu turun dengan kecepatan super. Kedua tangannya tergenggam menjadi satu dan diangkat di atas kepalanya. Dengan seluruh kekuatannya robot gajah itu menghantam tubuh Pranaja yang berdiri tegak dengan pukulan Destroyer-nya. Pranaja menyambut pukulan Abroha dengan perisai naga yang dipegang dengan kedua tangannya.
Blar!
Dentuman hebat terdengar ketika kedua tangan Daj Jal membentur perisai sang Naga. Bumi bergoncang hebat, gunung-gunung berguguran, dan benda-benda beterbangan ke segala arah. Pengaruh benturan itu sungguh dahsyat. Kilatan cahaya menyilaukan mata, disusul kobaran api yang sangat panas. Tubuh Pranaja dan Daj Jal sama-sama mundur ke belakang.
Tidak membuang waktu, Daj Jal langsung berlari cepat menerjang tubuh Pranaja kembali. Lengan tangan kananya terlihat mengeluarkan cahaya merah membara, pertanda dia akan menghajar pemuda itu dengan pukulan Destroyer. Pranaja mempersiapkan dirinya. Tubuhnya berdiri tegak, sambil memejamkan mata.
“Kekuatan Geni Sawiji!” teriak Pranaja.
Blurr!
__ADS_1
Tubuh Pranaja terselubung api biru dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah itu kakinya menghentak terbang ke udara, berputar dua kali seolah meledek musuhnya. Serangan Daj Jal hanya mengenai tempat kosong. Meninggalkan jejak yang sangat mengerikan.
Bum!
Pukulan Destroyer menyebabkan lubang besar pada tanah dimana Pranaja tadi berpijak. Bukan hanya itu, tanah disekitar lubang itu berubah menjadi hitam seperti hangus terbakar.
“Uhui!” Pranaja malah tertawa. “Hahaha…!”
“Mau lari kemana kau pengecut!” teriak Abroha bertambah marah.
“Ayo kejar aku Raja Merkurius!”
Gumpalan api biru itu lalu melesat ke batas cakrawala, menembus lapisan atmosfer Bumi dan terus melesat menuju matahari sang raja surya.
Daj Jal langsung mengejar Pranaja dengan kecepatan super. Gumpalan api biru terus melesat ke arah matahari. Mendekati matahari pada jarak seratus ribu kilometer Pranaja berhenti. Pada jarak itu, Penunggang Naga itu bisa melihat langsung badai matahari di depan matanya. Merasakan panasnya, merasakan kekuatannya.
“Hrrmmm,” bibirnya seperti menggumam tanpa makna.
Perlahan tubuh Pranaja menjadi bersinar terang. Lalau cahaya itu merambat di lengan kanannya. Tangan Pranaja dari ujung telapak tangan sampai lengannya berubah mengeluarkan cahaya perak menyilaukan. Semakin lama sinarnya semakin terang, menerangi sebagian benda-benda langit disekitarnya. Inilah pukulan pamungkas terbaru yang dikuasai pendekar imut itu. Lalu dengan satu kali hentakan, Pranaja berteriak.
“Pukulan Badai Kosmik!”
Tangan kanan Pranaja meninju ke depan dengan kekuatan penuh. Segumpal cahaya ultra violet berbentuk bola raksasa melesat cepat menghantam tubuh Gajah Abroha yang sedang mengejarnya. Suaranya bergemuruh laksana badai raksasa yang sedang mengamuk, menggetarkan alam sekitarnya. Cahaya itu melesat menerangi ruang angkasa yang biasanya gelap gulita.
Sring!
Tapi itu tidak menggetarkan hati Abroha. Dengan penuh rasa percaya diri, raja Merkurius itu menyambut serangan Badai Kosmik. Tangan kanan Daj Jal yang berwarna merah menyala berputar cepat. Dia berniat menyambut pukulan Badai Kosmik dengan pukulan Destroyer-nya. Laju tubuhnya semakin cepat. Ambisi dan nafsunya telah menutup jalan pikirannya. Sehingga terlalu meremehkan kekuatan pemuda itu.
__ADS_1
BUMM!
Terdengar ledakan yang sangat keras disertai bias cahaya menerangi semesta. Di susul oleh gelombang besar elektromagnetik menggulung dan menghancurkan batu-batu meteor dalam radius satu kilometer persegi. Luluh lantak menjadi debu angkasa. Tubuh Daj Jal terpental jauh kembali ke belakang. Menghantam kumpulan batu meteorit yang melayang-layang tanpa tujuan. Sesaat terjadi kegaduhan.
Buk! Bum! Dug! Aargh!
Lalu hening. Asap yang mengepul mulai hilang. Nampak Pranaja gagah berdiri, sementara Daj Jal mencoba bangkit. Tubuhnya mengalami kerusakan hebat. Jaringan elektrik dan mekaniknya hancur walaupun tubuh luarnya masih nampak utuh. Dia berusaha menyeimbangkan tubuhnya, tapi tidak berhasil. Tubuh gajah transformer itu jatuh kembali dan terdiam mengapung di angkasa.
Bum!
Tubuh robot gajah transformer itu meledak begitu dahsyat bersama Abroha di dalamnya. Suara ledakannya menggetarkan jagad raya. Tubuh Daj Jal berubah menjadi serpihan-serpihan debu yang melayang-layang di angkasa.. Pranaja terdorong beberapa langkah ke belakang Ditengah debu dan asap yang mulai menipis, Pranaja menyaksikan akhir dari produk terakhir peradaban canggih manusia Merkurius.
Heyaaa!
Kepala pemuda itu ditengadahkan ke atas dengan tangan terkepal. Teriakannya mengguntur, menggetarkan jiwa siapa saja yang mendengarnya. Menghempaskan segala rasa tekanan yang menghimpit jiwanya. Kemudian tubuhnya menggelosoh, duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk!
Hukhukhuk!
Tubuhnya bergetar lembut. Terdengar isak tangis dari bibirnya. Dalam sekejap dia kehilangan sahabat-sahabat yang sangat disayanginya. Amita, Spot dan Wyona. Mereka semua rela mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan hidup pendekar muda itu.
***
Sementara itu pertempuran antara sisa-sisa pasukan gajah dengan pasukan burung Shamtek sudah mendekati detik-detik akhir. Pasukan andalan Abroha itu semakin limbung setelah kehilangan dua pimpinannya, Raja Abroha dan Panglima Alahab. Mereka menjadi bulan-bulanan dan sasaran empuk burung-burung gagak raksasa Shamtek yang terus menghujani mereka dengan kerikil-kerikil panas dari dalam kawah gunung berapi.
Blar! Blar! Blar! Blar! Blar! Blar! Blar!
Satu persatu gajah-gajah android itu meledak dan hancur menjadi debu. Tubuh-tubuh mereka meliuk-liuk seperti daun yang terbakar. Layu kemudian mengering sebelum jatuh ke bumi dan berubah mejadi debu. Sungguh tragis dan menyesakkan. Karya fenomenal peradaban Merkurius yang canggih itu harus berakhir dengan ending yang tidak seharusnya terjadi.
__ADS_1
Aark! Aark!Aark!
Teriakan kemenangan burung-burung Shamtek memberikan pertanda kalau pertempuran sudah usai. Mereka berputar-putar beberapa lama di udara sebelum menukik turun, menuju tempat dimana Shamtek masih berdiri tegak di atas sebuah bukit. Mereka terus menukik menuju ke balik bukit itu, tempat dimana mereka berasal. Karena hanya Shamtek yang bisa membangunkan dan menyuruh mereka tidur kembali. Dalam keabadian …..